
Claire kembali terdiam, setelah itu berkata, "Aku bisa saja memafkanmu, tapi aku tidak bisa kembali lagi padamu, Sean."
Wajah Sean langsung menegang dan tubuhnya menjadi kaku seketika setelah mendengar perkataan Claire.
"Kenapa?" tanya Sean setelah terdiam beberapa saat.
Claire menatap berani bola mata Sean yang memancarkan aura dingin. "Aku tidak suka dibohongi. Hubungan yang diawali dengan suatu kebohongan dan ketidakjujuran hanya akan berakhir menyakitkan nantinya. Dari kebohongan satu akan ditutupi dengan kebohongan lainnya dan aku tidak mau ada kebohongan lain lagi," ucap Claire.
"Sean, aku sudah bicara dengan kakek. Dia tidak akan memaksa kita lagi untuk mempertahankan hubungan ini jika memang tidak ada cinta di dalamnya. Kau tidak perlu khawatir mengenai kakek lagi."
Wajah Sean berubah menjadi dingin. Dia menatap Claire dengan tatapan tidak terbaca. "Claire, aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Apa?" Claire memberanikan menatap langsung iris Sean.
"Saat kita pergi ke pulau F. Kebersamaan yang kita lalui di sana, semua perlakuanmu dan kata-kata yang kau ucapkan padaku, apa hanya sandiwara belaka untuk menipuku dan membuatku terlihat seperti orang bodoh atau itu berasal dari dasar hatimu?"
Mata hazel Claire terus bergerak ke segala arah saat ditatap lekat oleh Sean. "Kalau aku bilang, aku melakukannya atas dorongan dari hatiku, apa kau akan percaya?"
"Percaya. Aku akan percaya padamu," jawab Sean cepat, masih dengan menatap lekat mata hazel Claire, "kalau jawabanmu memang itu, maka, aku akan tetap pada pendirianku. Aku tidak mau berpisah denganmu."
"Sean, kenapa kau bersikeras mempertahankan pernikahan ini? Bukankah lebih baik kalau kita...."
"Kalau kau masih tetap ingin bercerai denganku, silahkan gugat aku. Coba saja lawan aku dipersidang nanti kalau kau bisa, tapi satu hal yang harus kau tahu, kau tidak akan akan bisa menang melawanku, Claire," ujar Sean dengan wajah arogan.
"Katakan padaku, apa alasanmu tidak mau bercerai denganku? Bukankah kau tidak mencintaiku?" tanya Claire dengan wajah berani.
"Kata siapa aku tidak mencintaimu?" tanya Sean dengan wajah datar dan sorot mata tajam.
Claire bungkam dan bisa menjawab pertanyaan Sean.
"Kau ingat waktu Wild ke kantorku? Waktu itu, aku bilang padanya kalau mencintaimu. Saat kita pergi ke pulau F, aku juga pernah mengatakan kalau aku mencintaimu. Kata-kata cinta yang pernah aku ucapkan padamu, tidak ada kebohongan di dalamnya. Saat aku mengatakan aku mencintaimu, itu memang benar adanya. Saat aku melakukannya denganmu, itu karena yang aku inginkan memang dirimu. Saat aku bilang tidak menyesal menikah denganmu, aku memang tidak pernah menyesal menikah denganmu, aku berkata yang sebenarnya. Dari awal kita menikah, kaulah yang pernah bilang menyesal menikah denganku, aku tidak pernah sekalipun mengatakan itu. Aku sudah mencintaimu dari awal kita bertemu. Kaulah yang tidak pernah mencintaiku," ujar Sean dengan suara berat.
"Kalau kau memang mencintaiku dari awal, kenapa kau menolak keras pernikahan kita waktu itu?"
"Karena aku tidak mau kau menikah denganku karena terpaksa. Aku ingin kau menikah denganku karena kau memang mencintaiku. Aku ingin pernikahan kita dilandasi dengan cinta, bukan keterpaksaan."
Jawaban Sean diluar dugaanku Claire. "Tapi kau terlihat sangat membenciku dari awal kita bertemu. Kau selalu bersikap sangat dingin padaku dan selalu menyakitiku dengan kata-katamu."
"Itu karena aku marah padamu. Kau terlihat tidak peduli padaku. Kau bersikap acuh tak acuh padaku dan mengabaikan aku. Kau terus-terusan bilang terpaksa menikah denganku dan bilang tidak pernah mencintaiku. Itu membuat hatiku sakit. Aku berbicara tanpa berpikir lagi, yang ada di kepalaku hanya bagaimana kau merasakan sakit juga, sama seperti yang aku rasakan, maka dari itu, kata-kata yang keluar dari mulut selalu menyakitimu," ungkap Sean.
"Dari awal kita bertemu di kota A, aku sudah menyukaimu, tapi tidak denganmu. Aku sudah menolongmu, tapi kau malah meninggalku sendirian di hotel tanpa kata-kata. Saat kita bertemu lagi di rumahku, kau bersikap acuh tak acuh padaku dan memintaku untuk melupakan yang terjadi di kota A, seolah pertemuan kita waktu di kota A tidak berkesan untukmu. Kau tidak merasa bersalah sedikitpun karena sudah menghilang begitu saja, padahal kau sudah mengacaukan hatiku setelah pertemuan pertama kita," lanjut Sean lagi.
"Aku juga marah karena tidak bisa mendapatkan hatimu padahal kau adalah istriku. Aku marah melihatmu baik-baik saja tanpa aku, sementara kau sudah mengacaukan hidupku. Aku marah saat mengetahui kau masih mencintai mantan kekasihmu. Aku semakin marah dan gelisah saat mendengar mantan kekasihmu ingin kembali lagi padamu, padahal dia sudah tahu kau sudah menikah. Aku frustasi karena kau bisa pergi dari hidupku kapan saja tanpa memikirkan bagaimana sakitnya aku nanti."
__ADS_1
Claire mengerjap matanya beberapa kali karena tidak menyangka Sean akan mengatakan itu. "Melihatmu semakin mengabaikan aku, aku berusaha untuk mengubah sikapku, tapi setiap kali, aku ingin mengatakan sesuatu untuk memperbaiki hubungan kita, justru kata lain yang keluar dari mulutku," sambung Sean.
Claire masih terperangah mendengar ungkapan hati Sean. Dia tidak bisa berkata-kata dalam waktu yang lama. Dia hanya terdiam dengan wajah terkejut.
"Sean, aku...."
"Aku mohon berikan aku kesempatan satu kali lagi. Mungkin aku terdengar tidak tahu malu, tapi aku akan melakukan apapun yang kau suruh asalkan kau mau kembali padaku."
Melihat Claire masih terdiam, Sean berkata lagi, "Kalau kau mau menggugat aku, silahkan saja. Selama kita belum resmi bercerai, aku akan tinggal di sini. Aku masih suamimu, aku berhak atas dirimu. Aku akan berusaha meluluhkan hatimu." Sean lalu mengecup kening Claire, "istirahatlah. Aku masih ada urusan. Aku akan pulang sore hari. Dan mulai malam ini, aku akan tidur di kamar ini bersamamu."
Belum sempat Claire bereaksi, Sean sudah lebih dulu keluar dari kamarnya. Baru saja keluar dari kamar Claire, Sean melihat kakeknya ada di depan pintu. "Kakek, sampai kapan kau akan mengawasiku? Aku ini bukan anak kecil lagi," ujar Sean dengan wajah kesal.
Kakek Sean terlihat acuh tak acuh. "Kakek hanya tidak mau kalau sampai kau bertindak bodoh. Aku tidak mau kehilangan cucu menantuku." Terutama cicitku yang berharga.
Sean menghela napas dengan wajah pasrah. "Kakek, aku juga tidak mau kehilangan istriku. Kalau begitu, tolong bantu aku membujuknya."
Kakek Sam mendengus. "Itu salahmu. Kau harus berusaha sendiri. Jangan melibatkan kakek. Kakek tidak akan membantumu lagi."
"Baiklah, aku akan berusaha sendiri. Kakek lihat saja nanti, aku pasti berhasil mendapatkan istriku lagi."
Selesai bicara, Sean langsung berjalan meninggalkan kakeknya. Setelah Sean tidak terlihat lagi, kakek Sam masuk ke dalam kamar Claire.
"Kakek, ayo duduk." Claire mengarahkan kakek Sam pada sofa yang ada di kamarnya.
Claire mengangguk. "Iyaa, Kakek."
"Jadi, kau sudah memutuskan untuk kembali padanya lagi, kan?"
"Iyaa, Kakek," jawab Claire dengan wajah malu, "tapi aku tidak bisa melakukan apa yang Kakek minta."
"Kenapa?"
"Aku tidak tega dengannya, Kakek. Selama ini, dia juga sudah menderita. Aku merasa kasihan padanya."
"Biarkan saja. Berikan dia sedikit pelajaran agar dia lebih berhati-hati ke depannya. Kakek ingin melihat bagaimana perjuangannya untuk mendapatkanmu kembali, jadi bilang saja padanya kalau kau belum bisa menerimanya."
Claire nampak berpikir kembali. Melihat wajah kecewa Sean tadi, dia merasa tidak tega padanya.
"Biarkan dia tersiksa untuk sementara waktu. Dia memang harus diberikan pelajaran agar tidak mengabaikanmu lagi."
"Kakek, masalah kehamilanku, bagaimana? Apa tidak sebaiknya aku memberitahunya sekarang?"
"Nanti saja, setelah kau sudah yakin dengannya. Sementara ini, biarkan saja dulu. Anggap saja itu sebagai hadiah saat kalian kembali berbaikan nanti. Dia pasti akan sangat senang saat mengetahui kau sedang mengandung anaknya."
__ADS_1
******
Nicko berdecak kesal ketika melihat Kenz berdiri di dekat pintu kedatangan bandara. "Di mana dia?" Nicko menyampirkan jas di bahunya sambil menghampiri Kenz.
"Ada di mobil, Tuan," jawab Kenz dengan sopan. Kenz baru saja tiba di kota A tadi pagi setelah Sean menelponnya kemarin malam untuk memintanya menyusul ke kota A karena Sean memintanya membawakan sesuatu untuknya.
"Alexander sialan!" umpat Nicko, "bukannya menyambutku di sini, dia malah menunggu di mobil seperti raja," gerutu Nicko dengan wajah kesal.
Kenz mengabaikan kekesalan Nicko dan mengarahkan tangannya ke depan. "Mari, Tuan Nicko." Kenz mempersilahkan Nicko untuk berjalan lebih dulu.
Nicko menoleh pada Kenz dengan wajah kesal. "Kau dan bosmu itu sama dinginnya. Membuatku kesal saja." Nicko lalu berjalan menuju parkiran mobil diikuti oleh Kenz dari belakang.
Baru saja duduk di kursi belakang, Nicko sudah meluapkan kekesalannya pada Sean. "Tuan Sean Alexander Louris yang terhormat, aku sudah jauh-jauh datang ke sini saat kau panggil seharusnya kau menyambut kedatanganku. Bukannya malah menunggu di sini. Kau kira aku babumu, bisa kau panggil seenaknya!"
"Kenz, jalan." Sean mengabaikan Nicko dengan wajah acuh tak acuh.
"Baik, Tuan Muda."
"Heey, tunggu dulu! Kita mau ke mana? Setidaknya aku harus tahu ke mana tujuan kita. Kau ini, selalu seenakmu sendiri," gerutu Nicko sambil melepaskan kaca mata hitamnya.
"Temani aku minum," jawab Sean tanpa menoleh pada Kenz.
Mendengar itu, kekesalan Nicko bertambah dua kali lipat. Dia memutar sedikit tubuhnya menghadap Sean. "Kau menyuruh jauh-jauh datang ke sini hanya untuk menemanimu minum? Apa kau sudah tidak waras!" Nicko berkata dengan nada tinggi, "aku membatalkan rapat penting hari ini dan langsung terbang ke sini saat kau menelponku karena aku pikir terjadi sesuatu denganmu. Dan ternyata kau hanya ingin ditemani minum?" ujar Nicko dengan wajah kesal.
"Aku akan memberikan proyek kota H padamu."
Wajah Nicko langsung berbinar dan senyum merekah terlihat di wajah tampannya. "Itu baru benar. Kalau begini, aku tidak sia-sia datang ke sini." Nicko kembali duduk dengan benar dane menyandarkan tubuhnya dengan santai.
Setibanya di bar salah satu hotel ternama di kota A, mereka langsung duduk di depan meja bertender. "Katakan padaku, kali ini, masalah apa lagi yang membuatmu begini?"
Nicko sangat mengerti kalau Sean memanggilnya ke sana, pasti ada sesuatu yang terjadi padanya.
"Dia tidak mau kembali padaku," ucap Sean sambil menggoyangkan gelas yang sudah terisi wine putih.
Nicko menyesap minumannya lalu menoleh pada Sean. "Kalau kau memang mencintainya, perjuangan dia. Rubahlah sedikit sifat dingin dan acuh tak acuhmu itu."
Sean kembali menuangkan minuman setelah minuman di gelasnya habis. "Aku tidak tahu bagaimana membuatnya kembali padaku. Dia memiliki segalanya. Tidak ada yang tidak dia punya. Semuanya sudah ada padanya. Tidak ada yang dia butuhkan dariku. Satu-satunya cara yang terpikirkan olehku untuk menahannya adalah segera membuatnya hamil, tapi ternyata usahaku gagal. Kini, aku tidak tahu lagi bagaimana mempertahankan rumah tanggaku."
Nicko menghela napas. "Sehebat apapun wanita, dia pasti akan tetap membutuhkan seorang pria untuk melengkapi hidupnya. Kau jangan menyerah dulu."
"Tapi dia bisa mendapatkan pria manapun yang dia mau. Ada Wild yang sangat mencintainya. Ada begitu banyak pria yang dia bisa pilih jika dia tidak kembali padaku."
Wajah Sean terlihat muram. Semenjak menikah dengan Claire, Nicko mulai sering melihat wajah seperti itu. Dia tidak menyangka kalau wanita yang dia nikahi karena perjodohan mampu mengacaukan hidup Sean.
__ADS_1
Bersambung....