
Claire membuka matanya ketika mendengar suara ketukan pintu dari luar. "Maaf, mengganggu Nyonya Muda." Bibi Mey masuk ke dalam kamar Claire setelah mendengar sahutan dari dalam.
"Ada apa, Bibi Mey?" tanya Claire dengan suara serak. Claire terlihat bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar di sandaran kepala tempat tidur.
"Nyonya dan tuan besar sudah menunggu di bawah untuk sarapan."
Claire melirik jam pada ponselnya sekilas kemudian kembali menatap pada bibi Mey. "Bibi Mey, tolong sampaikan pada ibu dan kakek kalau aku akan sarapan nanti. Aku merasa sedikit tidak enak badan."
Bibi Mey berjalan mendekati Claire dengan wajah khawatir saat melihat wajah pucatnya. "Apa perlu saya panggilkan Dokter, Nyonya Muda?"
"Tidak perlu, Bibi Mey. Aku hanya kurang tidur. Tolong buatkan aku teh hangat yang dicampur dengan jahe. Sepertinya aku masuk angin."
Semalam, Sean membuatnya tidak tidur hingga pukul 3 pagi dan mem*ndikannya setelahnya. Itulah sebabnya dia merasa tubuhnya tidak enak sehingga dia bangun kesiangan dan tidak memiliki tenaga saat bangun di pagi hari.
"Baik, Nyonya Muda. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu sebentar lagi."
Claire kemudian teringat sesuatu. "Sean di mana, Bibi Mey?"
"Tuan Muda sudah berangkat satu jam lalu, Nyonya Muda."
"Kenapa tidak membangunkan aku?" Claire nampak sedikit kecewa karena Sean pergi tanpa berpamitan dengannya.
"Tuan muda tidak mau mengganggu tidurmu, Nyonya Muda."
Ciiiih, tidak mau mengganggu tidurku bagaimana? Dia yang sudah membuatku kelelahan dan bangun kesiangan hari ini.
Selesai mandi dan bersiap, Claire turun dan berjalan menuju ruang makan. Ternyata di sana masih ada ibu mertua dan kakek Sam. "Kakek, Ibu, maaf karena aku turun terlambat."
Claire duduk setelah salah seorang pelayan menarik kursi untuknya. "Apa kau sedang sakit?" Ibu Sean bertanya pada Claire saat melihat wajahnya nampak lesu.
"Tidak Ibu. Aku hanya kurang tidur dan sedikit pusing," jawab Claire lembut.
"Tapi kenapa wajahmu terlihat pucat?" timpal Kakek Sam.
"Aku tidak apa-apa, Kakek."
Ibu Sean memicingkan matanya pada Claire dengan dahi berkerut. "Apa kau yakin karena kau kurang tidur?"
__ADS_1
Claire menampilkan wajah bingungnya sesaat kemudian tersenyum. "Benar ibu. Aku hanya kelelahan."
Kakek Sam menggerutu. "Apa Sean yang sudah membuatmu seperti ini? Apa dia membuatmu tidak tidur semalaman?" tebak Kakek Sam.
Claire tersenyum kaku. "Tidak Kakek. Belakangan ini aku sedang banyak pekerjaan. Jadi mudah lelah."
"Jangan terlalu lelah dalam bekerja. Kau sudah menikah dengan Sean. Sebaiknya kau berheti bekerja. Kau fokus saja untuk mengurusi suamimu. Untuk apa suami istri bekerja semua. Kalian tidak akan kekurangan uang meskipun kau tidak bekerja. Kakek sudah tua, ingin segera menimang cucu," ucap Kakek Sam dengan suara rendah.
"Benar. Penerus keluarga Louris bergantung padamu. Sebaiknya kalian melakukan program kehamilan agar kau cepat hamil. Sean butuh penerus, Claire. Jangan sampai ada wanita dari luar dan datang kemari dengan membawa be*nih anakku. Pria tentu mendambakan seorang anak juga."
Kakek Sam kemudian menoleh pada menantunya. "Kate, jangan bicara seperti itu."
"Ayah ... Aku hanya tidak ingin ada masalah nantinya. Kau tahu bukan, masih ada satu wanita yang mungkin bisa mengandung anak Sean. Bagaimana kalau ...."
"Kate, kenapa tiba-tiba membahas wanita lain di depan menantumu. Kau bisa menyikiti hatinya."
Claire terlihat terdiam dan memikirkan ucapan ibu mertuanya. Ada perasaan tidak jelas yang tiba-tiba ia rasakan setelah mendengar perkataan ibu mertuanya. Ibu Sean kemudian beralih menatap menantunya.
"Claire, sebagai istrinya, kau harus menjaga Sean baik-baik. Jangan sampai wanita itu berhasil masuk keluarga ini dan mendepakmu."
Kakek Sean terlihat frustasi mendemgar ucapan menantunya. "Sudahlah. Jangan membahas ini lagi, Kate."
Perkataan ibu Sean ada benarnya. "Ibu, terima kasih atas nasehatmu. Aku akan mengingatnya," ucap Calire sambil tersenyum lembut pada ibu mertuanya.
Claire nampak senang karena merasa ibu mertuanya memperhatikannya. Secara tidak langsung, ibu Sean berada di pihaknya, jika tidak, dia tidak akan memperdulikan dirinya.
"Sean pergi pagi-pagi sekali. Dia ke mana?" tanya Ibu Sean pada Claire.
"Ada urusan kantor di negara K. Ada apa Ibu?"
"Akan ada acara lelang nanti malam. Tadinya, aku akan menyuruhmu untuk datang bersamanya, tetapi karena dia tidak ada, maka kau temani saja ibu ke sana. Apa kau bisa?"
Claire langsung mengangguk cepat. "Bisa Ibu. Aku akan pulang cepat hari ini." Ini adalah kesematan baginya untuk lebih dekat dengan ibu mertuanya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Malam harinya, selesai bersiap. Claire turun ke bawah untuk menemui ibu mertuanya. "Kau sudah siap?"
Claire tersenyum sambil mengangguk. "Sudah Ibu."
__ADS_1
"Baiklah. Kita pergi sekarang."
Mereka berdua pergi diantar oleh Kenz. Acara lelang itu adalah acara lelang terbesar yang pernah diadakan. Banyak sekali barang langka yang akan dilelang di sana. Ada juga perhiasan yang sangat diinginkan oleh Ibu Sean.
Setibanya disana. Semua kursi terlihat sudah banyak terisi. Karena tahu keluarga Louris akan hadir, pihak penyelenggara secara khusus memberikan kursi di bagian paling depan. Saat ibu Sean dan Claire akan melangkah menuju depan, ada orang wanita menghampiri mereka.
"Bibi Kate."
Ibu Sean dan Claire menoleh. "Helena, Aletha ... Kalian datang juga?" Ibu Sean sangat dekat dengan Helena. Itulah sebabnya dia merasa senang karena bisa bertemu dengannya di sana.
Helena tersenyum manis kemudian berkata dengan lembut setelah melirik sekilas pada Calire. "Iya, Bibi Kate. Seharusnya Bibi mengabarku jika ingin datang kemari. Kita bisa pergi bersama."
"Tidak perlu. Takut merepotkanmu. Lagi pula, sudah ada Claire yang bisa menemaniku."
Aletha dan Helena melirik sejenak pada Claire dengan wajah masam. "Bibi Kate, setidaknya kau mengajakku. Aku adalah keponakanmu, sementara dia ...." Aletha kembali melirik Claire dengan sinis. Dia memang tidak bisa menyembunyikan wajah tidak sukanya pada Claire.
"Sudahlah. Lebih baik kita duduk. Jangan meributkan hal yang tidak penting. Jangan sampai mengundang perhatian orang lain."
Claire mengikuti langkah ibu mertuanya dan mengabaikan wajah tidak suka Aletha dan Helena. Mereka berempat duduk di kursi yang bersebelahan. Sebelum acara dimulai, Helena terlihat mengobrol dengan ibu Sean. Sementara Claire hanya duduk diam seraya menggenggam ponselnya.
"Claire. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" Pertanyaan ibu Sean membuyarkan lamunan Claire.
"Tidak ada apa-apa, Ibu," jawab Claire dengan senyum yang dipaksakan. Sampai malam hari, Sean belum juga membalas pesannya. Pesannya pun belum terkirim dan ponselnya tidak bisa dihubungi. Perasaannya menjadi gelisah sejak tadi pagi.
"Ibu, aku pergi ke toilet sebentar."
"Iyaa."
Selesai mencuci tangannya di depan wastafel. Claire menghubungi seseorang. "Kenz, apakah Sean sudah mengabarimu?"
"Belum Nyonya Muda. Kemungkinan tuan muda masih di pesawat. Apakah ada hal penting yang ingin Nyonya Muda sampaikan pada tuan muda?" Kenz menjawab dari sebrang sana.
"Tidak. Aku hanya ingin tahu dia sudah sampai atau belum."
"Nona Muda tidak perlu khawatir. Tuan muda pasti akan mengabari Nyonya Muda jika dia sudah sampai di negara K."
Selesai menelpon, Claire hendak keluar, tetapi dihadang oleh Helena. "Claire ... Sebentar lagi, Sean pasti akan membuangmu." Selesai mengatakan itu, Helena berjalan pergi dengan wajah angkuhnya.
__ADS_1
Bersambung....