
"Claire, ada apa?"
Ibu Sean menoleh pada menantunya ketika berada dalam perjalanan udara menuju kota L. Selama dalam perjalanan dari rumah menuju bandara, Claire terlihat banyak diam dan temenung. Padahal semalam dia masih baik-baik saja.
Lamunan Claire seketika menjadi buyar. "Aku tidak apa-apa, Ibu," jawab Claire sambil menoleh pada ibu mertuanya.
"Apa kau bertengkar dengan Sean?" tanya Ibu Sean dengan hati-hati. Selama menjadi istri Sean, baru kali ini dia melihat Claire melamun. Dulu, meskipun Sean mengabaikannya, Claire terlihat tidak terlalu perduli.
"Tidak Ibu. Kami baik-baik saja."
Ibu Sean nampak tidak sepenuhnya percaya dengan ucapan menantunya, tapi meskipun begitu, dia tidak ingin memaksa Claire untuk untuk berbicara yang sebenarnya. Setelah terdiam beberapa saat, Claire akhirnya bertanya pada ibu mertuanya.
"Ibu, bolehkah aku bertanya sesuatu pada Ibu tentang Sean?"
Ibu Sean tidak langsung menjawab, melainkan dia terdiam selama 3 detik. "Iya, apa yang ingin kau tanyakan pada ibu?"
Claire merubah sedikit posisi duduknya menghadap ibu mertuanya. "Casandra, apakah itu wanita yang ibu maksud yang waktu itu?"
Ibu Sean nampak berpikir dengan dahi berkerut. "Wanita yang bisa mengandung anak Sean selain aku, apakah Casandra?"
Kerutan di dahi Ibu Sean seketika menghilang setelah itu, dia menjawab dengan tenang. "Dari mana kau tahu namanya?"
"Aku pernah mendengar namanya disebut oleh reporter saat melakukan wawancara dengan Sean."
Merasa bersalah karena pernah membahas Casandra, Ibu Sean menampilkan wajah bersalah. Ibu Sean kemudian meraih tangan Claire lalu menggenggam tangan dengan lembut.
__ADS_1
"Claire, itu hanya masa lalu Sean. Ibu tidak bermaksud untuk membuatmu terluka atau sakit hati. Ibu hanya ingin kau lebih berhati-hati dalam menjaga keutuhan rumah tanggamu dari wanita yang pernah sangat dekat dengannya. Wanita itu pernah hampir menikah dengan Sean, jika saja...."
"Jika saja .. apa Ibu?" tanya Claire ketika tidak kunjung mendapatkan. Dia menatap ibu mertuanya sambil memiringan wajahnya.
Ibu Sean kembali menoleh pada Claire kemudian tersenyum paksa. "Masa lalu tidak baik jika mengungkitnya. Itu hanya akan membuat jarak antara kau dan Sean nantinya. Kau adalah istrinya sekarang. Posisimu secara hukum lebih kuat darinya."
"Tapi aku tidak bisa menggatikan posisi wanita itu di dalam hati Sean, Ibu. Sean tidak pernah menganggap aku istrinya."
Ibu Sean menghela napas pelan. "Cobalah untuk lebih memperhatikannya dan segera berikan dia keturunan. Mungkin jika kau sedang hamil, dia akan berubah mencintaimu."
Claire termenung sejenak. "Ibu, sejujur dari awal aku menerima perjodohan ini, aku memang tidak mencintai Sean, tapi aku berusaha untuk menerima takdirku dan menjalani kehidupan rumah tanggaku seperti orang lain. Aku tidak pernah berpikir untuk berpisah dengannya jika Sean bisa menerimaku, tapi kalau seandainya kehadiranku sudah merusak kebahagiaannya dengan Casandra, aku bisa mundur," ungkap Claire.
"Sean begitu membenciku. Dari awal aku sangat penasaran kenapa dia sangat membenciku dan selalu bersikap dingin padaku, tapi sekarang aku sudah tahu jawabannya. Dia seperti itu karena aku sudah mengahancurkan impiannya untuk menikah dengan wanita pilihannya. wajar saja kalau dia sangat membenciku," lanjut Claire lagi.
Meskipun Sean beberapa kali bersikap lembut padanya, tapi itu hanya dia lakukan saat Sean menyentuhnya. Sean juga menyentuhnya karena untuk memenuhi kebutuhannya, bukan karena dia memang menginginkannya.
"Claire, kau tidak boleh berkata seperti itu. Selama ini, di keluarga Louris, tidak ada namanya perceraiaan. Kau harus tetap mempertahankan Sean sebagai suamimu. Tidak mudah memang, tapi ibu yakin kau pasti bisa meluluhkan hatinya. Ibu akan mendukungmu."
*******
Setibanya di kota L, Claire dan ibu Sean menginap di hotel tempat acara pesta akan berlangsung. Karena acara di malam hari, Claire meminta ijin pada ibu mertuanya untuk berjalan-jalan di kota L. Claire pergi mengunjungi salah satu tempat yang paling terkenal di kota L.
Ada sebuah jembatan yang membelah dua bagian kota dengan pemandangan yang indah. Sungainya sangat bersih dan biasanya jika sedaang musim panas, banyak orang yang akan piknik bersama di pinggir sungai itu untuk menikmati musim panas.
Tidak hanya itu, di sana juga ada sebuah retoran mengapung yang berdiri di tepi sungai tersebut. Selain itu juga, kita bisa menaiki kapal pesiar untuk menelusi sungai tersebut. Udara sejuk dan pemandangan kota yang cantik akan memanjakan kita selama menaiki kapal tersebut.
__ADS_1
Kota L sudah tidak asing lagi bagi Claire. Dia sudah beberapa kali pergi ke kota L. Ayah dan ibunya juga sering mengajaknya ke kota itu untuk berwisata dan bertemu dengan teman ayahnya. Karena itu, Claire mengenal kota itu dan tidak takut tersesat.
Saat sedang menikmati pemandangan sungai di depannya dari atas jembatan, seseorang berdiri di sampingnya kemudian berbicara padanya. "Apa kau masih ingat tempat ini?"
Claire langsung menoleh ke sebelah kanan saat orang yang berdiri di sebelahnya mengajaknya bicara. "Di sinilah pertama kalinya aku menyatakan cintaku padamu." Wild menoleh sambil tersenyum lembut pada Claire. Meskipun tersenyum, nampak kesedihan dalam sorot matanya.
Banyak sekali kenangan mereka berdua di kota L saat mereka masih menjadi sepasang kekasih. Selain dengan keluarganya, Claire memang sering ke kota L bersama dengan Wild untuk berlibur. Kota L menyimpan banyak sekali kenangan indah bersama dengan Wild dan itu membuat sisi emosional Claire sedikit terpancing ketika Wild kembali membahas masa lalu mereka berdua.
"Malam itu, saat kita sedang menikmati pemandangan kembang api di langit, aku mengungkapkan perasaanku dan memintamu untuk menjadi kekasihku," lanjut Wild lagi sambil memandang ke atas langit seperti sedang membayangkan kejadian malam itu.
Claire masih terdiam sambil menatap Wild dari samping dan mendengarkan kata demi kata yang keluar dari mulut Wild. "Aku sangat merindukan masa itu. Andai aku bisa mengulang hari itu. Aku... aku tidak akan pulang lebih dulu ke kota A jika tahu Gloria akan menjebakku."
Mata Claire nampak berkilau dan ada perasaa tidak nyaman di hatinya saat melihat raut penyesalan di wajaha mantan kekasihnya. "Apa kau tahu? Saat kau menerima cintaku, aku merasa menjadi orang paling beruntung sekaligus paling bahagia dia dunia ini."
Wild kemudian menatap ke bawah sejenak setelah itu menoleh pada Claire. "Aku kira, aku akan memilikimu suatu saat nanti. Tidak pernah terbayangkan olehku, kau akan menjadi istri orang lain, Erin."
Seketika dada Wild terasa sesak ketika kembali teringat kalau Claire sudah menjadi istri milik orang lain. "Wild, semua sudah terjadi. Maafkan aku. Seharusnya aku mencari tahu dulu kebenarannya. Aku minta maaf karena sudah tidak mempercayaimu waktu itu," ucap Claire dengan raut wajah sedih.
"Claire, meskipun begitu, aku tidak akan menyerah. Aku masih mau memperjuangankanmu," ucap Wild dengan senyum yang dipaksakan.
Claire menampilkan wajah tidak berdaya melihat sikap keras kepala mantan kekasinya itu. "Wild, aku mohon jangan begini. Aku tidak bisa meninggalkan suamiku. Aku tidak bisa kembali padamu lagi. Carilah wanita lain, jangan menungguku."
Wild menarik pandangannya dari wajah Claire kemudian menatap ke depan. "Jika kau bisa bahagia dengan pernikahanmu, mungkin aku bisa merelakanmu, tapi dia tidak mencintaimu, Claire. Ada wanita lain, di hidupnya selain kau. Aku tidak bisa melepasmu untuk pria yang bahkan tidak mengakuimu sebagai istrinya. Menurutmu, kenapa dia menyembunyikan pernikahan kalian dari publik?"
Wild menatap sejenak pada Claire, kemudian menatap ke depan lagi, "dia sengaja menyembunyikannya agar wanita yang dicintainya tidak tahu kalau dia sudah menikah. Pria yang mencintai istrinya, tidak mungkin menyembunyikan istri serta pernikahannya dari orang lain."
__ADS_1
Bersambung...