
Meskipun heran, Claire tetap melangkah ke arah Sean dan saat dia menoleh ke arah pria itu, dia terkejut saat melihat siapa yang sedang bersama dengan Sean. "Wild, sedang apa kau di sini?"
Wild tersenyum tipis saat melihat Claire. "Erin, bagaimana kabarmu?"
Erin? Tanpa sadar Sean mengerutkan keningnya, detik kemudian dia mendengus lalu menaikkan salah satu sudut bibirnya dengan wajah dingin.
"Ba-baik." Claire nampak salah tingkah saat Wild menyapanya dengan akrab.
"Sayang, duduklah." Sean meraih tangan Claire yang sedang berdiri di sampingnya lalu menariknya lembut hingga terduduk di sebelahnya.
"Sean, ini makan siang untukmu." Claire meletakkan tumpukan kotak makanan yang berada dalam tas belanja di atas meja.
"Kau memasaknya sendiri?" tanya Sean sambil menatap ke arah kotak makanan tersebut.
Wajah Claire terlihat bingung dan sedikit linglung mendengar pertanyaan Sean. "Iyaa. Bibi Mey juga membantuku, tapi aku tidak tahu apakah cocok dengan seleramu atau tidak."
Wild hanya diam sambil menatap ke arah Sean yang terlihat sedari tadi melingkarkan tangannya di pinggang Claire. "Aku akan memakan apapun yang istriku buat."
Sean tersenyum manis Claire lalu menoleh pada Wild. "Tuan Jeferson, bagaimana kalau kau ikut makan siang bersama kami, setelah itu kita baru bicara? Istriku sudah bersusag payah memasak untukku. Dia akan merasa senang jika kau ikut makan bersama kami. Kau juga pasti belum pernah merasakan masakan istriku, bukan?"
Sean menampilkan senyum tipisnya, sangat tipis hingga orang lain tidak menyadari kalau itu adalah senyum mengejek.
"Pernah. Dia pernah memasak untukku dan itu terjadi jauh sebelum kau mengenalnya. Kau baru mau mencoba masakannya, sementara aku sudah lebih dulu merasakan masakannya."
Claire menutup mata sejenak. Wild sepertinya sengaja mengatakan itu untuk memancing kemarahan Sean.
"Tidak masalah. Aku bisa merasakan masakannya setiap hari mulai sekarang, tetapi tidak denganmu." Sean masih terlihat duduk dengan tenang.
Wild terdiam beberapa saat. "Tuan Sean, bukankah kau menikahi Claire karena perjodohan? Kau tidak perlu berpura-pura di depanku. Aku sudah tahu semuanya. Lepaskanlah dia, aku tahu kau tidak mencintainya."
Claire langsung menoleh pada Wild dengan wajah tidak berdaya. "Tuan Jeferson, sepertinya kau salah paham terhadapku. Aku memang menikahinya karena perjodohan dan terpaksa menerimanya sebagai istriku karena dipaksa oleh kakekku, tapi dari awal aku sudah mencintainya."
Dahi Claire dan Wild berkerut bersamaan. "Aku tidak mengerti, apa maksudmu? Kau bilang terpaksa menikahinya, tapi kau sudah mencintainya dari awal? Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?"
Sean tersenyum miring sambil menyandarkan punggungnya di sofa. "Aku tidak akan menjelaskan maksud dari perkataanku padamu. Kau pikirkan saja ucapanku. Tapi, yang harus kau tahu kalau aku memang mencintainya. Percaya atau tidak, itu terserah padamu."
Wild menatap Sean sejenak dengan tatapan rumit. "Jadi, kau tidak mau melepasnya?"
__ADS_1
"Tidak. Dia sudah menjadi istriku. Selamanya akan tetap menjadi istriku." Dua orang saling menatap dengan dingin.
"Kau tidak ingin melepasnya, aku pun tidak mau melepasnya. Kalau begitu, kita lihat, pada akhirnya, siapa yang akan memenangkan hatinya."
Raut wajah Sean semakin dingin, tapi dia tidak berkata apa-apa. Claire ingin menengahi mereka berdua, tapi dia takut Sean akan salah paham padanya dan mengira dia membela Wild.
"Tuan Sean, tujuanku ke sini untuk bertemu dengan Claire. Bisakah kau membiarkan aku bicara dengannya berdua saja?"
Sean mengetukkan jemari tangannya di sandaran tangan sofa sambil berpikir sejenak. "Aku beri waktu 10 menit untuk bicara dengannya. Setelah itu, kau tidak boleh menemuinya lagi."
Sean kemudian berjalan keluar ruangan dan menutup pintunya. Dia pergi ke ruangan tunggu VIP bersama dengan Kenz dan menghubungi seseorang. "Ya, benar. Semua terserah pada Anda. Aku tidak akan ikut campur lagi." Sambungan telpon terputus.
Sean kembali ke ruangan setelah 10 menit berlalu. "Waktumu sudah habis."
Mata Claire nampak memerah dan Wild terlihat menatap Claire dengan tatapan memohon. "Kami belum selesai bicara," ucap Wild setelah melihat Sean kembali duduk di samping Claire.
Sean merangkul pinggang istrinya lalu menatap santai pada Wild. "Aku tidak peduli. Jika kau masih ingin berbicara dengannya, bicara saja di depanku."
Wild menatap lurus pada Sean dengan tatapan tajam. "Baiklah kalau itu mau, tapi jangan ikut campur saat aku berbicara dengan Claire."
"Iyaa, meskipun begitu, aku tidak bisa kembali padamu, Wild. Aku sudah menikah."
"Kau memutuskan hubungan kita dengan sepihak dan aku belum setuju dengan keputusanmu waktu itu. Aku tidak terima kau mengakhiri hubungan kita tanpa mendengar penjelasanku lebih dulu."
Pegangan tangan Sean di pinggang Claire mengencang. "Wild, jangan begini. Sudah aku katakan, aku tidak bisa kembali lagi padamu."
"Erin, aku akan menunggu ... menunggu sampai kau mau kembali padaku. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Kita hampir saja menikah jika bukan karena Gloria. Aku tidak akan menyia-nyiakan perjuangan yang sudah kita lalui 3 tahun ini." Wild berdiri, kemudian menoleh pada Claire, "Aku akan menemuimu lagi nanti. Aku pergi dulu."
Wajah Claire nampak frustasi. Dia ingin mengejar Wild, tapi tidak berani karena takut Sean akan marah. Setelah kepergian Wild, Sean berdiri dan berjalan keluar tanpa mengatakan apapun. Claire tidak berani bertanya maupun menyusulnya. Dia hanya berdiam diri di dalam ruangan Sean, menunggunya sampai dia kembali.
Di ruangan lain, Sean baru saja keluar dari ruangan yang dia masuki tadi. "Bersihkan semuanya."
"Baik, Tuan Muda."
Sean kemudian berjalan menuju ruangannya kembali setelah berbicara dengan Lea. "Sean, kau dari mana?" Claire berdiri ketika melihat Sean memasuki ruangan.
Sean kembali duduk di sebelah Claire. "Pergi menemui Kenz," jawab Sean tanpa menoleh pada Claire.
__ADS_1
"Sean, Wild kenapa dia...."
"Dia menghubungiku dan mengatakan ingin berbicara hal penting."
Sean kemudian menoleh pada istrinya. "Claire, aku akan pergi keluar negeri selama beberapa hari. Jangan pernah berani menemuinya selama aku pergi."
"Iyaaa. Kau mau ke mana?"
"Ada sesuatu yang harus aku urus di negara K."
"Urusan kantor?"
"Ya," jawab Sean singkat.
********
"Kenz, kau tidak perlu ikut denganku. Kau di sini saja. Awasi Claire. Jika dia atau keluargaku bertanya, bilang saja aku ke sana untuk urusan bisnis."
"Baik, Tuan Muda."
"Pesankan saja hotel di tempat biasa aku menginap."
"Untuk berapa lama, Tuan Muda?"
"Seminggu."
"Tuan Muda, apa tidak sebaiknya saya ikut? Bagaimana kalau nanti nyonya muda tahu dan menjadi marah?"
"Tidak. Dia juga tidak akan peduli denganku. Biarkan saja dia mau berpikir apapun nanti. Yang pasti, jika dia bertanya, bilang saja kalau aku pergi untuk urusan bisnis."
"Baiklah. Penerbangan Anda pukul 9 besok pagi."
"Heeeemm." Sean menoleh setelah selesai memandangi pemandangan kota di luar. "Felix, juga tidak boleh tahu mengenai hal ini."
"Baik, Tuan Muda."
Bersambung....
__ADS_1