Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Hukuman


__ADS_3

Setibanya di rumah, mereka semua langsung disambut oleh ibu Sean. "Claire, kau sudah pulang?" Ibu Sean tersenyum lembut sambil menghampiri menantunya. Dia sudah tahu masalah yang terjadi antara anaknya dan menantunya.


"Iyaa, Ibu." Claire tersenyum canggung pada ibu Sean karena merasa malu sudah pergi begitu saja.


"Ibu, biarkan Claire istirahat dulu. Kita berbincang lagi nanti," sela Sean.


Ibu Sean tersenyum sambil mengangguk. "Baiklah. Kalian pasti lelah, istirahatlah."


Setibanya di kamar, Sean langsung masuk ke dalam kamar mandi dan keluar setelah lima menit kemudian. "Mandilah. Aku sudah siapkan air hangat untuk kau berendam."


Claire sempat tercengang mendengar perkataan Sean. "Kenapa kau melamun?" Sean kembali menoleh pada istrinya ketika Claire belum beranjak juga dari tempatnya


"Tidak apa-apa. Aku akan mandi."


Malam harinya, setelah makan malam, Claire langsung kembali ke kamar, sementara Sean sibuk di ruang kerjanya karena banyak sekali pekerjaan yang harus dia cek. Setelah 3 jam lamanya berada di ruang kerja, dia akhirnya kembali ke kamar.


Saat memasuki kamar, Sean menghampiri Claire yang sedang duduk bersandar di tempat tidur. "Claire, besok aku akan menemui Casandra."


Claire yang sedari tadi sedang fokus dengan ponselnya, seketika mendongakkan kepalanya setelah mendengar ucapan suaminya. "Untuk apa?"


"Aku ingin memperingatkan dia untuk terakhir kalinya untuk menjauhiku. Aku harus menekannya agar dia tidak mengganggumu lagi."


Claire meletakkan ponsel di atas pangkuannya lalu berkata, "Aku ingin ikut denganmu. Aku tidak mau kau bertemu dengannya sendirian."


Mendengar itu, ada rasa senang di hati Sean. "Aku menemuinya bersama Nicko. Aku tidak sendirian."


"Ada yang ingin aku bicarakan juga dengannya," ucap Claire lagi.


Sean terlihat ragu. "Claire, ada Helena juga di sana nanti." Sean hanya takut kalau Helena dan Casandra mencari masalah dengan istrinya saat mereka bertemu.


"Tidak masalah. Aku tetap ingin ikut denganmu."


Sean berpikir sejenak kemudian berkata, "Baiklah. Sekarang tidurlah. Sudah malam."


Claire mengangguk lalu mematikan lampu kamar dan menyisakan lampu tidur, setelah itu berbaring. Baru saja akan memejamkan matanya, sebuah tangan melingkar di perut dan menarik tubuhnya ke belakang. "Sean, ap...."


"Biarkan begini," bisik Sean sambil memeluk erat Claire dari belakang, "aku hanya ingin tidur sambil memelukmu."


Claire akhirnya membiarkan Sean memeluknya. Sejujurnya dia merasa nyaman berada di pelukan suaminya. "Aku perhatikan belakangan ini selera makanmu sangat baik. Makanmu sangat banyak. Perutmu sedikit membuncit karenanya," ucap Sean sambil mengusap lembut perut Claire.


Ketika tangan Sean menyentuh perutnya, tubuhnya langsung menegang selama beberapa detik, tapi terasa nyaman setelahnya. "Apa kau tidak suka aku makan banyak?"


"Suka. Aku suka apapun hal yang berkaitan denganmu."


Claire hanya diam. Sentuhan lembut Sean di perutnya membuat Claire merasa mengantuk dan tidak lama kemudian tertidur.


******


Sean menatap heran pada istrinya saat melihatnya sedang merias diri di depan cermin. Dia menatapnya dengan cermat dari tempat duduknya di sofa. "Kau mau ke mana?" Sean tidak tahan untuk bertanya pada istrinya saat melihat penampilan istrinya yang sangat cantik dan menarik.


"Tentu saja ikut denganmu." Claire menoleh sejenak pada Sean lalu melanjutkan merias dirinya.


Sean masih menatap ke arah istrinya melalui pantulan cermin dengan wajah tidak senang. "Kenapa kau berdandan sangat cantik hari ini? Kau ingin menarik perhatian siapa?"

__ADS_1


Claire menoleh sejenak pada suaminya sambil tersenyum. "Menarik perhatian pria lajang di luar sana."


Setelah mendengar itu, rahang Sean seketika mengeras dan sorot matanya berubah menjadi dingin. "Apa kau serius dengan perkataanmu?"


Claire meletakkan lipstik yang baru saja dia pakai di atas meja lalu berjalan mendekati Sean. "Aku hanya bercanda," jawab Claire dengan senyum manisnya.


"Tidak usah ikut denganku."


"Kenapa?" Claire menatap heran pada suaminya dengan wajah polos.


"Aku tidak akan lama," ujar Sean sambil berdiri.


"Jangan-jangan kau ingin bertemu dengannya berdua saja?" tuduh Claire.


"Aku tidak akan menyembunyikan apapun darimu," ucap Sean dengan wajah tenang.


"Lalu kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Claire sambil menatap Sean dengan tatapan menyelidik.


Sean terdiam selama beberapa detik karena tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya. "Ganti baju dan riasanmu jika ingin ikut denganku."


"Kenapa?"


"Di luar dingin. Jangan kenakan baju tipis dan terbuka seperti itu."


Claire menunduk dan menatap dress yang dia kenakan. "Bukankah kita akan bertemu dengan mereka di restoran? Ruangan di sana pasti hangat. Lagi pula, tidak ada yang salah dengan bajuku." Claire kembali mengangkat kepalanya dan hendak berjalan menuju meja rias, tapi lengan kanannya ditangkap oleh Sean.


"Kau sungguh ingin keluar mengenakan baju itu?"


Claire menoleh dan mengangguk dengan yakin. "Tentu saja. Cepatlah." Claire meraih tasnya lalu berjalan ke arah pintu. "Kenapa diam saja?" tanya Claire lagi sambil menatap ke arah Sean yang terlihat masih diam di tempatnya.


Di dalam perjalanan, Sean nampak sibuk dengan ponselnya, berbeda dengan Claire yang nampak memalingkan wajahnya ke jendel luar menatap jalanan yang mereka lewati. Setibanya di depan restoran, Sean menghubungi Nicko untuk menanyakan apakah dia sudah sampai atau belum.


"Ayo turun, mereka sudah di dalam." Ketika Sean hendak membuka pintu mobil belakang, Claire menghentikannya. "Sean, tunggu dulu."


Sean menarik tangannya dari pintu mobil lalu berbalik menghadap Claire. "Ada apa?"


Claire memegang kedua bahu suaminya lalu mencondongkan tubuh Sean ke arahnya kemudian menempel bibirnya pada leher suaminya dan menye-sapnya dengan kuat selama beberapa detik setelah itu menjauhkan tubuhnya dari suaminya sambil tersenyum lebar.


"Warnanya sangat terang. Aku suka melihatnya."


Sean terdiam selama beberapa detik, setelah itu memegang lehernya, tepat di mana Claire menye-sapnya tadi. "Sebagai tanda kalau kau adalah milikku. Agar dua rubah di dalam sana sadar kalau kau itu sudah ada yang memiliki." Claire kemudian berbalik dan membuka pintu.


"Tunggu dulu!" Sean memegang lengan istrinya lalu menarik Claire ke arahnya. "Seharusnya kau lakukan ini di depan mereka agar lebih meyakinkan."


Tiba-tiba Sean menempelkan bibir mereka bedua kemudian melu-mat bibir istrinya dengan dengan lembut seraya memejamkan matanya. Suasana menjadi hening seketika. Sean tidak memperdulikan lagi keberadaan Kenz di dalam mobil itu dan juga tidak memperdulikan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat ketika bibir mereka saling beradu.


Sean menahan kepala belakang istrinya dan menekan bibirnya semakin dalam dan menye-sap bibir istrinya dengan lembut namun kuat kemudian berhenti ketika napas istrinya mulai tidak beraturan. Entah mengapa, Sean selalu merasakan sensasi aneh setiap kali mencium bibir istrinya.


"Maaf sudah merusak warna lipstikmu. Lain kali, jangan memakai warna terang karena itu sama saja kau memancingku untuk mencium bibirmu." Sean mengusap lembut bibir istrinya sambil tersenyum tipis ketika melihat istrinya tersipu malu dengan warna pipi yang merona.


"Seharusnya aku lakukan di dalam saja," lanjut Sean lagi, "ayo cepat turun, jika tidak, aku akan melanjutkannya lagi dan menyuruh Kenz untuk memutar mobilnya kembali ke rumah."


"Aku akan turun."

__ADS_1


Claire segera membuka pintu mobil lalu mengikuti langkah Sean masuk ke dalam restoran sambil memegang lengannya. Sebelum mencapai ruangan VIP, Claire meminta ijin pada Sean untuk pergi ke toilet untuk merapihkan rambut dan lipstiknya yang sudah memudar warnanya akibat ulah Sean.


Akhirnya Sean masuk lebih dulu. "Sean, kau sudah datang?" Casandra terlihat sangat senang ketika melihat kedatangan Sean. Di dalam ruangan VIP itu, hanya nampak Nicko dan Casandra saja, tidak ada Helena di dalam sana.


"Ya." Sean duduk dengan malas di samping Nicko, sementara Casandra berhadapan dengan Sean.


"Sean, ada apa dengan lehermu?" Nicko bertanya seolah tidak tahu, padahal dia tahu dengan jelas, tanda apa yang ada di leher sebelah kiri Sean. Dia bisa langsung bisa melihatnya karena dia duduk di samping kiri Sean.


Casandra yang tidak menyadarinya, seketika ikut menatap ke arah leher Sean. "Oh ini," ucap Sean sambil memegang lehernya, "istriku yang membuatnya semalam," jawab Sean dengan santai.


Mendengar itu, wajah Casandra berubah menjadi merah padam. Dia menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangannya diam-diam. Sementara Sean, tidak ada raut wajah malu ataupun canggung saat dia membicarakan tanda merah itu. Siapapun yang mendengar ucapan Sean, pasti sudah bisa menebak apa yang sudah suami-istri itu lakukan semalam.


"Istrimu hebat juga. Kau memang pintar memilih istri," ucap Nicko sambil tersenyum.


"Tentu saja. Istriku hebat dalam segala hal."


"Sean, apa istrimu sengaja melakukan itu untuk membuatku cemburu?" Mata Casandra terlihat berapi-api.


Sean melirik Casandra sekilas kemudian menuangkan minuman ke dalam gelasnya dengan wajah dinginya. "Casandra, sepertinya aku terlalu lembut denganmu selama ini sehingga kau berani mengabaikan peringatanku waktu itu." Sean mengangkat kepalanya, setelah itu melayangkan tatapan tajam pada Casandra.


"Ap-apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


Sean menggoyangkan gelasnya dengan perlahan lalu menyunggingkan salah satu sudut bibirnya. "Sudah aku bilang jangan berani mengganggu kehidupanku lagi. Hubungan kita sudah berakhir ketika kau menghianatiku. Aku sudah peringatkan kau untuk tidak mencari masalah dengan istriku, tapi kau malah berani bilang pada istriku kalau kita masih memiliki hubungan, bahkan kau bilang sedang mengandung anakku."


Wajah Casandra seketika menjadi pucat pasi. Seluruh tubuhnya menegang seketika.


"Bagaimana bisa kau mengandung anakku, sementara aku tidak pernah menyentuhmu." Suara Sean menjadi berat dan sorot matanya sangat mengerikan, bahkan tubuhnya mengeluarkan aura yang sangat dingin.


"Sean, ak-aku ... Aku ti-tidak pernah mengatakan itu. Claire pasti sudah berbohong padamu," sanggah Casandra dengan terbata-bata.


Sean meletakkan gelas di atas meja dengan marah sehingga menimbulkan suara dentingan yang cukup keras. "Casandra, siapa yang ingin kau bohongi di sini? Kau seharusnya tahu kalau aku ingin menyelidiki kebenarannya, kau tidak akan bisa lolos dariku."


Nicko hanya diam sambil mendengarkan dengan wajah santai. "Apa kau pikir ucapanku hanya angin lalu? Kau ingin aku menghancurkan keluargamu dulu baru kau mau mendengarku?"


Casandra langsung panik mendengar itu. "Sean, aku mengaku salah. Jangan melibatkan keluargaku dengan masalah ini. Aku melakukan itu karena aku masih mencintaimu. Aku dengar kau menikah dengannya karena perjodohan, jadi aku pikir dia pasti tidak mencintaimu."


Tatapan Sean semakin tajam. "Sudah aku bilang, aku sangat mencintainya. Kau seharusnya sudah tahu apa artinya itu. Aku hampir saja kehilangannya. Kesalahanmu kali ini tidak bisa aku maafkan. Kau akan menjadi gadis biasa mulai sekarang. Hidup nyamanmu, berhenti sampai di sini. Kau harus merasakan akibat dari perbuatanmu."


"Apa maksudmu?" Bersamaan dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Casandra, ponselnya pun berbunyi. Awalnya hanya berbunyi sekali lalu mati, kemudian berbunyi lagi.


Sean mengarah pandangannya ke arah ponsel Casandra yang berada dia atas meja. "Angkatlah, mungkin saja itu telpon penting," ucap Sean dengan wajah datarnya.


Mendengar ponselnya terus berbunyi, Casandra akhirnya meraih ponselnya dan melihat siapa menelpon, setelah itu mengangkatnya. Sean dengan wajah acuh tak acuh meminum wine di gelasnya hingga habis lalu menampilkan senyuman misterius.


Berbeda dengan Sean yang acuh tak acuh, Nicko justru sangat penasaran dengan orang yang menelpon Casandra saat melihat wajahnya berubah seperti mayat hidup. Warna wajahnya berubah putih pucat seolah aliran darahnya berhenti mengalir.


"Siapa yang berani melakukannya?"


Setelah panggilan telpon berakhir, Casandra langsung mengecek sesuatu diponselnya. Matanya terlihat membelalak dan tubuhnya langsung lemas dan bersamaan dengan itu, ponselnya terjatuh di lantai. "Sean, bagaimana bisa kau setega ini padaku? Kenapa kau mengancurkan hidupku hanya karena kesalahan kecilku?" tanya Casandra tatapan kosong.


Sean memajukan tubuhnya ke arah Casandra lalu berkata, "Sudah aku bilang kalau Istriku adalah segalanya bagiku. Jadi, jangan coba-coba menantang kesabaranku. Aku sudah pernah memperingatkanmu. Jangan pernah mengganggu istriku, tapi kau mengabaikanku. Kau justru berusaha menghancurkan rumah tanggaku, jadi kubuat kau kehilangan segalanya," ucap Sean dengan wajah dinginnya.


"Setelah ini, jangan muncul lagi di hadapanku. Hiduplah dengan damai dengan Mattew di pinggiran kota Richmond. Hanya itu satu-satunya cara agar kau bisa tetap hidup nyaman. Aku masih berbaik hati padamu karena aku masih memandang Mattew, jika tidak, hidupmu bisa lebih menderita lagi dari pada ini."

__ADS_1


Tubuh Casandra langsung lunglai seketika dengan wajah pucat. "Sean, bagaimana bisa kau memberikanku hukuman sebesar ini, padahal dulu kau pernah mencintaiku?"


Bersambung...


__ADS_2