Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Hukuman Casandra


__ADS_3

Ketika pintu ruangan IGD dibuka, Ibu Sean dan kakeknya terlihat menghampiri Dokter yang menangani Claire tadi, sementara Sean hanya berdiri dengan tubuh menegang sambil menatap ke arah mereka. Entah kenapa dia merasa takut mendengar kabar buruk dari Dokter.


"Bagaimana keadaan menantu dan bayi dalam kandunganya, Dokter?" tanya Ibu Sean dengan wajah khawatir.


Dokter menatap ke arah ibu Sean. "Ibu dan bayinya baik-baik saja. Beruntung pasien dibawa dengan cepat ke rumah sakit, jadi bayi dalam kandunganya masih bisa diselamatkan. Silahkan urus untuk pemindahan pasien ke kamar perawatan."


Mendengar itu, semuanya langsung merasa lega dan merasa senang. Tubuh Sean bahkan langsung merosot dan terduduk di kursi yang ada di belakangnya karena merasa lega. Dia merasa seperti sebuah batu besar baru saja diangkat dari pundaknya.


"Baik Dokter, terima kasih." Dokter itu mengangguk lalu kembali masuk ke dalam ruangan IGD.


Sean masih terlihat terdiam dia tempatnya. Dia terlihat masih terguncang setelah tadi mengetahui janin dalam kandungan istrinya dalam bahaya.


"Sean, masuklah, ibu akan mengurus administrasinya dulu," ucap Ibu Sean sambil menghampiri anaknya.


Kakek Sean pun ikut duduk di samping Sean. "Claire pasti mencarimu, masuklah. Semuanya sudah baik-baik saja." Kakek Sam memegang bahu cucunya yang terlihat masih menatap ke bawah.


Setelah terdiam beberapa saat, Sean akhirnya melangkah masuk ke dalam ruangan IGD dengan langkah yang sangat pelan. Meskipun dia sudah mendengar kalau Claire dan bayinya baik-baik saja, masih ada rasa takut di hatinya. Takut tiba-tiba kehilangan mereka berdua. Sean sudah pernah merasakan hampir kehilangan Claire sekali dan itu masih membekas di ingatannya.


Setibanya di ranjang istrinya, Sean hanya berdiri dan menatap Claire yang sedang memejamkan matanya. Tangannya terulur, lalu memegang tangan istrinya. Sentuhan tangan Sean pada tangan istrinya, membuat Claire membuka seketika matan dan menoleh pada suaminya.


"Sean, maafka ...."


Sebelum ucapan Claire selesai, Sean sudah membungkuk dan memeluk erat istrinya. "Maafkan aku, Claire, maafkan aku karena sudah membuatmu dan bayi kita dalam bahaya. Aku sangat takut terjadi apa-apa denganmu dan bayi kita."


Claire melingkarkan tangan kanannya di punggung Sean dan menepuknya dengan lembut. "Sean, ini bukan salahmu, kau tidak perlu merasa bersalah. Kami baik-baik saja, ini semua berkat Helena, dia yang sudah menyelamatkan anak kita."


Sean melepaskan pelukannya kemudian berdiri sambil menatap istrinya. "Aku akan berterima kasih padanya nanti," ucap Sean dengan suara rendah.


"Memangnya dia ke mana?" tanya Claire dengan suara lemah.


"Dia sudah pergi karena ada urusan pekerjaan," jawab Sean.


"Kalau begitu, aku akan menemuinya setelah keluar dari rumah sakit."


Sean mengangguk. "Ada ibu dan kakek di luar, mereka juga sangat mengkhawatirkanmu."


"Benarkah?"


"Iyaa, tapi Ibu sedang mengurus administrasi. Sebentar lagi kau akan di pindahkan ke ruang perawatan."


Setelah semuanya selesai diurus, Claire akhirnya dipindahkan ke ruangan perawatan. Setelah perawat keluar dari ruangan Claire, Sean lalu duduk di kursi samping tempat tidur istrinya, sementara Kakek dan ibunya duduk di sofa karena ingin memberikan waktu untuk Sean berbicara dengan istrinya lebih dulu.

__ADS_1


"Sean, maafkan aku karena sudah merahasiakan tentang bayi kita padamu. Aku berencana memberikan kejutan padamu nanti malam, tapi justru terjadi hal di luar dugaan."


Sean meraih jemari tangan istrinya lalu menggenggamnya. "Aku tidak suka kejutan ini. Lain kali, jangan mengejutkan aku seperti tadi."


Claire tersenyum saat melihat wajah khawatir suaminya. "Iyaa. Maafkan aku. Aku akan lebih berhati-hati lagi ke depannya," ucap Claire dengan suara pelan, "apa kau tidak ingin menyapa anakmu?"


Mendengar kata anak, seketika mata Sean beralih pada perut Claire yang masih terlihat rata dari luar karena tertutup dengan pakaian rumah sakit yang dikenakan oleh istrinya. "Aku ....."


Karena Sean masih diam dan tidak bergerak sama sekali, Claire meraih tangan Sean lalu memasukkan ke dalam pakaiannya kemudian menempelkan tangan Sean di perutnya.


"Sean, maafkan aku. Kau pasti sangat terkejut sekali tadi. Apa kau marah padaku karena aku membahayakan anak kita?" ujar Claire lagi saat melihat Sean masih diam saja.


Sean mengalihkan pandangannya dari perut Claire ke arah wajah istrinya. "Aku hanya takut terjadi apa-apa dengan kalian," jawab Sean akhirnya.


Sean mulai mengusap lembut perut istrinya dan itu membuat Claire merasa sangat nayaman. "Sepertinya dia lebih kuat dari dugaanku. Dokter mengatakan kalau janin dalam kandunganku tidak apa-apa."


Sean akhirnya bisa tersenyum tipis. "Sepertinya tekadnya untuk lahir ke dunia sangat kuat."


"Tentu saja, dia itu anakmu. Dia tidak mungkin selemah itu. Penerus keluarga Louris memang harus kuat. Tidak ada yang bisa menggertaknya, meskipun dia masih dalam kandungan."


Sean menarik tangannya dari perut Claire. "Istirahatlah, kau pasti lelah, aku ada urusan sebentar. Ibu akan menjagamu di sini. Aku akan menempatkan pengawal untuk berjaga di depan ruanganmu."


"Aku yang harus aku urus, aku tidak akan lama." Sean lalu mengecup dahi istrinya, "jangan memikirkan apapun lagi. Kau tidak boleh setres." Sean mengusap perut Claire sebentar. "Ayah pergi dulu, jaga ibumu."


Setelah meminta ibunya untuk menjaga Claire sementara, Sean mengantarkan kakeknya pulang ke rumah, setelah itu dia kembali ke perusahaan.


"Mereka belum menemukannya juga?" Sean bertanya pada Kenz yang sedang berdiri di depan meja kerjanya.


"Mereka sedang mengejar nona Casandra. Dia berhasil kabur ke kota N. Mobilnya sudah terlacak berada di pinggir kota N."


Meskipun Sean nampak terlihat tenang, tapi aura yang dipancarkan oleh tubuhnya sangat mengerikan dan itu membuat Kenz tidak berani bernapas dengan leluasa.


"Hukum semua orang yang aku tugaskan untuk membawa Casandra pulang ke negaranya. Beraninya mereka mengabaikan perintahku dan membiarkan Casandra berkeliaran di sekitar istriku, padahal aku sudah menyuruh mereka untuk langsung membawanya."


"Baik, Tuan Muda."


*******


"Sayang, kau mau makan apa?" Sean bertanya ketika dia baru saja selesai mandi.


"Aku sudah makan tadi sebelum ibu pulang," jawab Claire lembut.

__ADS_1


Setelah memakai pakaian, Sean duduk di kursi samping istrinya. "Apa tidak ada yang ingin kau makan?"


Claire yang sedang duduk bersandar di atas ranjang pasien seketika menggeleng. "Tidak, aku sudah kenyang, kau saja yang makan."


"Sebelum ke sini, aku juga sudah makan."


Sean membungkuk, menyingkap pakaian istrinya lalu memberikan kecupan lembut di perutnya. "Aku sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir."


Claire tersenyum lebar mendengar itu. "Kau harus bersabar karena itu masih lama."


Tiba-tiba ponsel Sean berbunyi. "Sayang, aku angkat telpon dulu," ucap Sean sambil meraih telponnya yang berada di atas meja.


Claire mengangguk. "Iya."


Sean mengangkat telponnya seraya menjauhkan diri dari istrinya. "Benarkah? Apa kau sudah memastikan ada dia dalam mobil tersebut?"


Sean mendengarkan penjelasan dari si penelpon dengan cermat. "Baiklah, minta orang untuk mengurusnya besok."


Terdengar jawaban dari penelpon. "Baiklah, biar aku yang mengatakan pada Mattew nanti."


Sean mengakhiri panggilan telponnya lalu berjalan ke arah ranjang istrinya. "Ada apa?" tanya Claire setelah Sean meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Ayo berbaringlah, kau tidak boleh lelah."


Sean menurunkan posisi sandaran ranjangnya lalu membenahi bantal istrinya dan meminta untuk berbaring lurus.


"Katakan dulu ada apa?" desak Claire.


Sean naik ke tempat tidur lalu menarik tubuh istirnya agar berbaring di sebelahnya. "Casandra, mobilnya masuk ke jurang saat menghindari mobil di depannya."


Mata Claire langsung membelalak. "Bagaimana bisa?"


Sean berbaring miring ke kanan, menghadap istrinya sambil mengusap perutnya. "Dia berencana kabur lewat bandara, tetapi aku sudah menempatkan orang di sana, jadi dia kabur lewat jalan darat mengendarai mobil. Dia kabur ke kota N dan anak buahku mengejarnya. Dia berkendara dengan kecepatan tinggi ditikungan tajam pinggir kota N dan dan hampir menabrak mobil dari arah berlawanan. Dia berusaha menghindari mobil di depannya, tetapi justru mobilnya menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang," terang Claire.


Meskipun dia merasa marah pada Casandra, tetapi dia juga merasa kasihan padanya. "Lalu bagaiman keadaannya?" tanya Claire sambil menatap serius suaminya.


"Karena sudah malam, jadi mobilnya akan dievakuasi besok. Kemungkinan dia tidak akan selamat. Jurang di pinggir kota N sangat curam. Sudah sering terjadi kecelakaan di sana dan tidak ada satu ornag pun yang selamat selama ini setelah terjatuh di jurang itu," terang Sean lagi.


"Itu adalah hukum atas perbuatan jahat yang sudah dia lakukan. Aku bahkan belum melakukan apa-apa, tapi dia sudah menerima karmanya sendiri."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2