Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Menjemput Claire


__ADS_3

Ibu Sean berjalan dengan cepat ketika melihat anaknya berjalan ke arah pintu utama. "Sean, tunggu. Kau mau ke mana lagi?" Dia baru saja tiba tadi siang, sekarang sudah mau pergi lagi. Dia bahkan belum menjelaskan apapun mengenai masalahnya dengan Claire.


Sean menghentikan langkahnya lalu memutar tubuh ke arah ibunya. "Pergi ke kota A. Aku akan menjemput istriku."


Ibu Sean memandang wajah anaknya yang sedikit pucat. "Makanlah dulu. Kau belum makan apapun dari pagi, bukan?"


"Aku akan makan di pesawat. Aku harus segera pergi, Ibu." Sean memegang bahu ibunya lalu mengusapnya dengan pelan, "aku pergi dulu."


Ibu Sean hanya bisa menghembuskan napas pelan setelah melihat kepergian anaknya.


*******


Sean pergi ke kota A bersama dengan Kenz. Mereka tiba di kota pukul 9 malam. Sean langsung menuju kediaman orang tua Claire setibanya di kota A. Ini pertama kalinya Sean bertemu dengan orang tua Claire. Dia bahkan meminta Kenz untuk mencari tahu mengenai orang tua Claire sebelum mereka tiba di kota A.


Setibanya di sana, Sean langsung disambut oleh orang tua Claire. Mereka seolah sudah tahu kalau Sean akan datang ke kediamannya. "Selamat malam, Ayah, Ibu," sapa Sean dengan sopan sambil membungkuk sejenak. Ini kali pertamanya Sean membungkuk di hadapan orang lain.


Ibu Claire dan ayahnya tersenyum lebar. "Malam. Ayo, masuklah."


Sean mengangguk dan mengikuti langkah kaki orang tua Claire menuju ruang tamu bersama dengab Kenz. "Duduklah." Ayah Claire mengarahkan tangannya ke sofa panjang yang ada di depannya.


Sean mengangguk. "Ayah, maksud kedatanganku ke sini untuk menjemput Claire. Aku ingin membawanya pulang." Tidak ada basa-basi, langsung pada intinya, itulah Sean.


Ayah Claire menghela napas panjang sebelun berbicara. "Claire, tidak ada di sini, Sean. Dia tidak pernah berkunjung ke sini setelah dia menikah denganmu."


Sean terlihat masih belum percaya dengan ucapan ayah mertuanya. "Ayah, dia pergi meninggalkan aku tanpa mengatakan apapun. Dia pasti kembali ke sini, ini adalah rumahnya."


"Ini bukan lagi rumahnya, Sean. Setelah menikah denganmu, Kaulah yang menjadi rumahnya sekarang."


Sean terdiam, tatapan matanya menjadi dalam. "Sean, Claire sungguh tidak ada di sini. Kau bisa memeriksa rumah ini jika tidak percaya pada kami," sahut Ibu Claire dengan suara lembut.


Sean terdiam dengan ekpresi tidak terbaca.


"Apa kalian bertengkar sebelumnya?" tanya Ayah Claire.


"Tidak," jawab Sean cepat.


"Ayah tidak akan memaksamu bercerita tentang permasalahan kalian kalau kau tidak ingin membahasnya. Setiap rumah tangga memiliki masalah tersendiri. Ayah harap kau bisa menyelesaikannya dengan baik-baik. Ayah sungguh tidak tahu dia di mana sekarang. Terakhir kali dia menghubungi ayah 5 hari yang lalu," lanjut ayah Claire lagi.


Sean masih terdiam sambil termenung. "Claire ingin bercerai denganku. Dia sudah mengirimkan surat gugatan ke kantorku." Akhirnya Sean berkata dengan jujur kepada mertuanya.


"Apaa?? Cerai?" Ibu Claire nampak sangat terkejut mendengarnya, sementara ayah Claire terlihat hanya menghela napas panjang.


"Apa alasannya ingin bercerai denganmu?" tanya Ayah Claire dengan wajah tenangnya.


"Aku tidak tahu. Dia tidak memberitahukan padaku alasannya. Sebelumnya hubungan kami baik-baik saja. Kami bahkan pergi berbulan madu, tapi tiba-tiba dia menghilang," terang Sean dengan wajah kalut.


"Anak itu, benar-benar... Apa sebenarnya yang ada dipikirannya sampai berulah seperti ini? Pernikahan kalian bahkan belum genap satu tahun, tapi dia sudah meminta cerai." Ibu Claire terlihat mulai kesal dengan kelakuan putrinya.

__ADS_1


"Sean, pola pikir Claire belum dewasa. Ayah mohon maafkan dia. Mungkin ini salah ayah karena memaksanya menikah denganmu sehingga jadi seperti ini."


"Benar. Dia memang sulit diatur dan agak keras kepala, tapi sebenarnya dia anak yang baik. Jadi, tolong bersabarlah."


"Aku mengerti, Ibu." Sean beralih menatap ayah Claire, "Ayah, bisakah kau membatuku menemukan, Claire? Aku tidak ingin bercerai dengannya."


"Baiklah. Ayah akan mengerahkan orang untuk mencarinya."


"Terima kasih, Ayah. Kalau begitu, aku permisi dulu," ucap Sean sambil berdiri.


"Menginaplah di sini. Ini sudah malam," ucap Ayah Claire sebelum Sean melangkah.


"Benar. Menginaplah di sini. Kau bisa menempati kamar, Claire."


Sean berpikir sejenak kemudian menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Ayah, Ibu."


"Jangan sungkan seperti itu. Kita adalah keluarga. Rumah ini juga sudah menjadi rumahmu. Kau sudah menjadi bagian dari keluarga kami juga," ucap Ayah Claire sambil tersenyum.


"Kau tunggu di sini sebentar. Ibu akan menyuruh bibi Dalia untuk membersihkan kamarnya lebih dulu."


Sean mengangguk. Dia tidak menyangka kalau orang tua Claire akan menyambutnya dengan hangat dan tidak menyalahkannya sama sekali.


Setelah kamar Claire dibersihkan, bibi Dalia mengantarkan Sean ke kamar Claire, sementara Kenz diantar ke kamar tamu.


"Ternyata, begini kamarmu," ucap Sean sambil mengedarkan pandangan ke seluruh kamar Claire


Sean kemudian berjalan ke arah tembok di mana beberapa foto Claire nampak terpajang dengan rapi. Tanpa sadar Sean tersenyum ketika melihat salah satu foto Claire ketika dia masih remaja. Wajah Claire terlihat sangat polos dan manis.


Puas memandang foto istrinya, Sean berjalan menuju meja rias. Dia mengambil salah satu parfum yang ada di sana dan menyemprotkannya pada baju yang dia ambil tadi lalu mengedus wangi yang menempel di baju itu.


"Meskipun tidak terlalu mirip dengan wangi tubuhmu, tapi ini cukup mengobati kerinduanku."


Sean berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Matanya tertuju pada figura kecil yang ada di atas meja nakas di sebelah tempat tidur. Tangannya terulur mengambil figura itu lalu memandangnya. Itu adalah foto Claire ketika dia memakai jas dokternya.


"Istriku memang cantik."


Sean tersenyum dengan bodoh, setelah itu, naik ke tempat tidur dan merebahkan tubuhnya kemudian memejamkan matanya.


********


"Sean, apa kau akan langsung pulang setelah ini?" Ayah Claire bertanya pada Sean setelah mereka selesai sarapan pagi.


"Tidak Ayah. Masih ada sesuatu yang aku ingin urus di sini."


"Kalau begitu kau bisa tinggal selama beberapa hari lagi di sini," sahut Ibu Claire dengan wajah senang.


"Terima kasih, Ibu."

__ADS_1


"Jangan sungkan, Sean. Sudah kami bilang, ini juga rumahmu."


Selesai berbincang dengan orang tua Claire, Sean pergi ke suatu tempat bersama dengan Kenz. "Tidak kusangka kau akan ke tempatku, Tuan Sean Alexander Louris." Wild tersenyum remeh saat melihat Sean memasuki ruangan kantornya.


"Di mana kau sembunyikan istriku?" Sean menghampiri Wild yang sedang berdiri di depan meja kerja lalu meraih kerah kemejanya dengan tatapan menyala.


Wild tertawa mengejek melihat Sean hilang kendali. "Kenapa kau bertanya padaku? Kau bilang dia istrimu. Kenapa mencarinya di sini?"


Sean mencengkram lebih kuat lagi kerah baju Wild lalu berkata, "Di mana istriku?" Sean bertanya lagi. Suaranya penuh penekanan serta tatapannya berkilat.


"Aku tidak tahu," jawab Wild enteng sambil tersenyum.


"Aku tahu, kau ada hubungannya dengan kepergian Claire. Aku akan menghancurkanmu jika kau berani merebutnya dariku."


Bukannya takut, Wild justru tersenyum sinis. "Kau sendiri yang mengabaikannya. Kenapa sekarang kau menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri?"


Sean mengerutkan keningnya mendengar perkataan Wild. "Kau tidak berhak ikut campur urusan rumah tanggaku. Aku ke sini untuk memperingatkanmu, Tuan Wild Jeferson."


*******


Sean mengajak Kenz untuk berbicara di taman belakang rumah Claire pada hari ketiga di kota A. "Apa kau sudah menemukan kelemahan Wild dan keluarganya?" tanya Sean sambil berdiri menghadap ke arah kolam renang.


"Sudah, Tuan Muda."


"Kalau begitu, hancurkan hingga ke akarnya. Jangan ada yang tersisa. Kalau perlu minta bantuan Nicko. Jangan sampai dia bisa bangkit lagi. Aku yakin, Claire akan muncul untuk melihat kehancuran mantan kekasihnya secara langsung."


"Maaf Tuan Muda. Seperti kau harus memikirkan ulang rencana ini."


Sean langsung menoleh ke belakang dengan wajah tidak senang. "Kenapa?"


"Saya rasa tuan Wild memang tidak ada hubungannya dengan kepergian nyonya muda serta keinganannya untuk bercerai."


Mendengar itu, Sean segera berbalik menghadap Kenz. "Kenapa kau bisa berkata seperti itu?"


"Sepertinya ini ada hubungannya dengan nona Casandra."


Mata Sean langsung membulat. "Casandra? Bagaimana bisa?"


"Saya rasa penyebab nyonya muda meminta cerai karena dia tahu kalau Tuan Muda bertemu dengan Nona Casandra."


Sean langsung terdiam. "Ada seseorang mengawasi Anda. Orang tersebut berasal dari kota A. Sepertinya orang suruhan dari nyonya muda."


Sean memejamkan matanya sejenak kemudian terdiam dengan ekspresi tidak terbaca selama 5 detik. "Jadi, dia pergi karena kesalahanku?"


Kenz tidak menjawab dan hanya bisa diam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2