
Setibanya di kediaman utama, Sean dan Claire lansung masuk ke dalam rumah dan ternyata semuanya sudah menunggu mereka di ruangan keluarga. Claire memang hanya menginap di rumah sakit selama 2 hari dan sudah diperbolehkan pulang setelah memastikan kalau bayi dalam kandungannya baik-baik saja dan tidak hal serius yang terjadi dengan janinnya.
"Claire, akhirnya kamu pulang." Ibu Sean menyambut Claire dengan senyum lebarnya sambil merentangkan keduan tangan lalu memeluk menantunya dengan kasih sayang.
"Iyaa Ibu. Dokter sudah memperbolehkanku untuk pulang hari ini."
"Duduklah." Ibu Sean menarik tangan Claire dengan lembut dan mengarahkannya untuk di duduk di sampingnya, sementara Sean duduk bersebelahan dengan Felix yang sedari tadi sudah lebih dulu duduk.
"Bagaimana keadaan cucu ibu, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Ibu Sean sambil memegang perut Claire dengan wajah bahagia.
"Semuanya baik-baik saja, Ibu. Dia sangat sehat kata Dokter," jawab Claire dengan lembut.
Mendengar keadaan calon cicitnya baik-baik saja, Kakek Sam merasa lega sekaligus senang. "Bagus sekali. Ini adalah sebuah berkah untuk keluarga kita bisa mendapatkan penerus dalam waktu singkat."
Sulitnya mendapatkan keturunan, terutama laki-laki, membuat keluarga Louruis sangat ketat dalam memilih pasangan hidup untuk anak-anak mereka. Bahkan ayah Sean sebelum menikahi ibunya, harus menjalankan beberapa tes untuk mengetahui tingkat kesuburan serta untuk memastikan tidak memiliki masalah untuk hamil dan melahirkan. Semua keluarga Louris bahkan melakukan program kehamilan diawal mereka menikah agar bisa segera memiliki keturunan.
"Benar Ayah. Aku bahkan sempat putus asa karena progran bayi tabung kami selalu gagal. Beruntung saat program kehamilan Sean berhasil."
Felix ikut menimpalinya. "Aku tidak menyangka Sean, ternyata kau ahli juga. Bisa membuat Claire segera hamil anakmu. Aku kira kau tidak ingin memiliki anak dalam waktu dekat." Felix menoleh pada Sean dengan senyum tipisnya lalu mendekatkan tubuhnya pada Sean, "atau jangan-jangan kau takut aku merebutnya sehingga kau segera menanam benihmu di rahimnya?"
Sean melirik dengan malas pada Felix. "Claire bahkan tidak akan melirikmu, meskipun dia tidak menikah denganku, jadi untuk apa aku takut denganmu," cibir Sean dengan wajah datarnya.
"Ciiih, lalu kenapa kau selalu mengawasinya saat dia bekerja di kantorku, bukankah karena kau takut dia jatuh cinta padaku?" Felix menyandarkan tubuhnya dengan santai setelah mengatakan itu.
Sean mendengus kasar. "Felix, akui saja kekalahanmu. Awalnya dia memang dijodohkan denganmu, tapi pada akhirnya dia adalah jodoh sejatiku."
Felix menatap kesal pada Sean lalu menggerutu. "Karena kau sudah merebut calon istriku, jadi kau harus mencarikan aku wanita lain. Aku juga ingin menikah."
__ADS_1
Sean melirik dengan enggan pada Felix. "Bagaimana kalau kujodohkan dengan Helena?" tawar Sean dengan wajah santai.
"Tidak, aku tidak suka dengannya. Dia terlalu keras kepala. Sama sepertimu," tolak Felix cepat.
Dia dan Helena sudah mengenal dari mereka kecil, tentu saja Felix sangat tahu sifat Helena.
Dengan wajah acuh tak acuh lalu berkata, "Kalau begitu, terima saja perjodohan yang diatur oleh ibumu. Bukankah ibumu baru saja mengatur kencan buta dengan anak bungsu pemilik RK Group?"
Felix mendengus. "Aku tidak suka dengan gadis yang manja, terlebih yang selalu bergantung dengan kekayaan keluarganya."
Claire tersenyum saat melihat wajah kesal Felix. "Kalau begitu, terima saja nasib burukmu. Jalani saja kesendirianmu sampai kau tua hingga anak-anakku semuanya menikah."
"Sial, kau menyumpahiku tidak laku selamanya!" umpat Felix dengan wajah kesal.
Sean tidak terpengaruh sedikit pun dengan kekesalan Felix, dia justru berdiri dengan wajah acuh tak acuh. "Ayo, Sayang kita ke kamar. Kau pasti lelah." Sean menghampiri istrinya seraya mengulurkan tangannya kirinya untuk membantu istrinya berdiri.
"Iyaa, Claire. Malam nanti, ibu akan memasak makanan kesukaanmu," timpal Ibu Sean.
Claire menoleh sejenak pada ibu mertuanya dengan wajah sungkan. "Ibu, jangan repot. Minta saja bibi Mey yang memasak. Aku tidak terlalu pemilih."
Ibu Sean tersenyum lalu berdiri menghampiri manantunya. "Tidak repot. Selama kau hamil, ibu akan memasak khusus untukmu agar cucu ibu bisa merasakan masakan neneknya sejak dalam kandungan."
Claire tidak menolak lagi dan hanya bisa mengangguk dengan patuh. "Baiklah, terima kasih, Ibu."
Setibanya di kamar, Sean dan Claire membersikan tubuh mereka setelah itu duduk bersandar di atas tempat tidur. Claire duduk bersandar di dada suaminya sambil memakan potongan buah yang baru saja diantar oleh bibi Mey.
"Sayang, mulai sekarang kau tidak boleh bekerja. Aku tidak mau kau kelelahan. Kau tidak boleh melakukan hal yang menguras tenagamu. Kau harus menjaga anak kita dengan baik," ucap Sean sambil melingkar tangan kirinya di perut istrinya.
__ADS_1
Claire menoleh sejenak seraya memasukkan buah berry ke dalam mulut suaminya. Sampai sekarang Sean masih merasakan mual di pagi hari dan menyukai buah yang rasanya asam. Itu sebabnya setiap hari Sean meminta bibi menyiapkan buah-buahan segar yang rasanya asam untuk dirinya.
"Sean, aku akan bosan jika tidak bekerja. Aku tidak bisa berdiam diri saja di rumah tanpa melakukan apapun. Lagi pula, kehamilanku ini tidak merepotkan. Tubuhku sangat bugar dan sehat. Aku tidak merasakan apapun saat hamil anakmu ini, jadi tolong ijinkan aku untuk bekerja. Aku janji tidak akan melakukan pekerjaan berat. Boleh ya?" bujuk Claire dengan manja.
Selama ini, Claire sudah terbiasa bekerja, jika dia diam saja dan tidak melakukan apapun, dia tidak akan betah.
"Tidak boleh, Sayang. Aku tidak mau mengambil resiko apapun jika berhubungan dengan anakku. Jika kau bosan, kau bisa mengunjungiku setiap hari di kantor, menemaniku bekerja. Bagaimana?"
Claire mencebikkan bibirnya tanda keberatan. "Hanya untuk sementara, Sayang. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan anak kita. Kau boleh boleh bekerja lagi setelah anak kita berumur 5 tahun."
Claire langsung bangun dan menatap suaminya dengan pupil mata yang membesar. "Apa? 5 tahun?" pekik Claire.
Sean meraih tubuh istrinya lagi lalu menyandarkannya di dadanya. "Ini demi anak kita, Sayang. Dia membutuhlan kasih sayang penuh darimu. Aku ingin anakku mendapatkan kasih sayang melimpah di masa emasnya. Tidak hanya kau, aku juga akan memberikan perhatian lebih padanya setelah dia lahir, Sayang."
Masa Golden Age adalah merupakan periode emas perkembangan anak. Periode usia di bawah lima tahun sebagai periode emas bagi tumbuh kembang anak, karena dalam usia tersebut masa perkembangan anak sangat pesat Di masa lima tahun itu, anak membutuhkan perhatian khusus dari orang tuanya agar mereka bisa memantau tumbuh kembang anak mereka dengan baik.
"Iyaaa, aku tahu, tapi tidak harus menunggu sampai 5 tahun. Dua tahun juga sudah cukup, Sean. Aku janji akan memberikan waktu lebih untuk memperhatikan anak kita nanti. Aku tidak akan mengabaikan tugasku sebagai seorang istri dan ibu."
Sean mengusap rambut istrinya dengan lembut sambil memeluknya dengan tangan kanannya. "Kita lihat nanti. Semua tergantung padamu. Untuk saat ini, kau belum bisa bekerja, Sayang. Tolong mengertilah. Anak ini sangat berharga bagiku dan bagi keluarga Louris."
"Jadi hanya anak ini saja yang berharga, aku tidak?" ujar Claire seraya mencebikkan bibirnya.
Sean tertawa kecil mendengar ucapan istrinya. "Bukan seperti itu maksudku, Sayaang. Tentu saja kau juga berharga bagiku. Claire, kau tahu bukan kalau anak ini yang mengikat kita berdua. Kalau bukan karena kau sedang hamil anakku waktu itu, mungkin kau sudah meninggalkan aku dan tidak akan kembali padaku lagi. Aku sangat bersyukur dengan kehadiran anak ini. Kau harus tahu kalau aku sangat menyayangi kalian berdua."
Claire terdiam. Tidak mencoba untuk membantah ucapan suaminya lagi. Mungkin dia memang harus mengalah dan mengurangi egonya demi anak mereka. "Baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu."
"Terima kasih, Sayang."
__ADS_1
Bersambung....