Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Tindakan Kakek Sean


__ADS_3

Sean keluar dari kamar mandi lalu berjalan ke arah tempat tidur sambil mengeringkannya rambutnya. Claire terlihat mengabaikan Sean yang sedang duduk di tepi tempat tidur sambil menatap ke arahnya.


"Claire, ambilkan bajuku."


Claire yang sedang mengoleskan sesuatu pada lehernya, seketika menatap Sean melalui pantulan cermin. Tidak biasanya Sean mau meminta dirinya untuk melakukan sesuatu untuknya. Sean terbiasa melakukan apapun sendiri. Itulah sebabnya Claire merasa kalau sikap Sean sedikit aneh.


Tadi pagi, memintanya untuk menyiapkan air hangat, sekarang pakaian. Padahal, selama ini Sean tidak suka kalau dirinya melakukan tugasnya sebagai seorang istri. "Tunggu sebentar." Meskipun heran, Claire tetap harus menuruti permintaan suaminya karena itu memang tugasnya.


Setelah menutup semua bekas di lehernya, Claire berjalan ke arah walk in closet mengambil baju rumah. Karena Sean tidak bekerja hari ini, jadi Claire mengambilkan kaos polos berwarna hitam serta celana hitam pendek untuknya.


"Tunggu! Kenapa kau berganti di sini?" tanya Claire dengan wajah menegang saat melihat Sean berniat untuk melepas handuk yang melilit dipinggangnya.


Tangan Sean yang tadi akan menarik handuknya, seketika berhenti. "Apa masalahnya?" tanya Sean dengan wajah acuh tak acuh. Dia nampak tidak begitu peduli dengan keberadaan Claire di sana.


Claire membalik tubuhnya karena takut kalau Sean tiba-tiba melepas handuknya. "Kau tidak malu berganti di sini?"


Tanpa Claire tahu kalau Sean sedang melepas handuknya dan memakai celana saat dia sudah berbalik. "Kenapa harus malu?" Sean kemudian berjalan ke arah meja rias sambil memakai bajunya.


Claire nampak terkejut saat Sean sudah memakai celananya. Astaga, dia sungguh tidak punya malu. Untung saja aku tidak segera membalik tubuhku tadi.


Sebelum tubuh Sean tertutup oleh baju, Claire melihat punggung Sean memerah. "Tunggu dulu." Claire menghampiri Sean dan berdiri di belakangnya.


"Punggungmu kenapa?"


Pertanyaan Claire membuatnya ingin tertawa. Sean berbalik lalu mendesis. "Kau lupa? Kau yang sudah melukai punggungku semalam." Sean lalu menunjukkan lengannya yang memerah. "Kau juga menggigitku hingga berdarah."


Claire menutupi wajahnya sambil memejamkan matanya saat dia teringat kejadian semalam. "Maafkan aku." Dia tanpa sadar mencakar punggung Sean dan menggigit lengannya saat dia melakukan penyatuan pertama kali dengan kasar.


Sean hanya diam, menatap Claire sejenak lalu berjalan ke arah meja rias untuk menyisir rambutnya, setelah itu berjalan ke arah pintu. "Ayo turun. Semua pasti sudah menunggu."


Sean lebih dulu keluar dari kamar. Saat melihat Claire terlihat berjalan dengan sangat pelan, dia kemudian berkata, "Kita pakai lift saja."


Claire hanya mengangguk. Saat akan memasuki lift, Felix datang dari arah belakang. "Pagi Claire," sapa Felix dengan senyum manisnya. Sean nampak acuh tak acuh.


"Selamat pagi, Felix," jawab Claire dengan wajah canggung.


"Kau kenapa?"

__ADS_1


Felix bertanya karena merasa heran saat melihat Claire nampak meringis saat berjalan memasuki lift. Sedari tadi Claire berusaha untuk berjalan normal seperti biasanya, tetapi dia masih merasakan sedikit sakit.


"Tidak apa-apa. Aku terpeleset di kamar mandi tadi sehingga kakiku sedikit sakit jika digerakkan." Terpaksa dia berbohong pada Felix.


"Lain kali hati-hati. Sudah sebesar ini masih saja terpeleset," ucap Felix.


Sean melirik sekilas pada Claire dan Felix yang sedang berdiri di samping kirinya dengan wajah datarnya. Saat Sean mengangkat tangannya untuk melihat jam, Felix tidak sengaja melihat ke arah lengannya. "Lenganmu kenapa?"


"Digigit macam betina."


Felix melirik sejenak pada Claire yang sedang tertunduk dengan wajah yang memerah, kemudian beralih pada Sean. Muncul emosi tidak terbaca di dalam sorot matanya. Saat pintu lift terbuka, Sean berjalan lebih dulu dengan wajah acuh tak acuh.


Di ruang makan, semuanya sudah berkumpul. "Claire, apa kau sakit?" tanya Tuan Sam ketika melihat wajah Claire yang nampak kelelahan.


Cucumu sudah menyiksaku semalam. Kata itu hanya bisa diucapkan Claire dalam hati. "Tidak kakek. Aku hanya tidak bisa tidur semalam."


Aletha menatap sinis pada Claire. "Wajar saja Kakek. Dia adalah gadis miskin. Tidak pernah tidur di kamar yang mewah sebelumnya, jadi dia masih terkejut," cibir Aletha.


"Aletha, jaga bicaramu," tegur Felix pada adiknya.


Diam-diam Sean menarik salah satu sudut bibirnya. Ini kedua kalinya Felix membela istrinya di depannya. "Aku hanya mengatakan kenyataan yang ada. Dia memang gadis miskin. Jika bukan karena menikah dengan Kak Sean. Mungkin saja dia masih hidup miskin saat ini."


Aletha tidak mengerti maksud dari pertanyaan Sean dan hanya menjawab dengan asal. "Dia gadis miskin yang menikah denganmu."


Tatapan Sean semakin tajam. "Aku tanya sekali lagi. Siapa dia di keluarga ini?" tanya Sean dengan suara berat dan penuh penekanan. Semua yang ada di ruangan itu seketika melirik ke arah Sean dan Aletha secara diam-diam.


"Dia adalah istrimu, Kak." Aletha terlihat takut saat melihat tatapan Sean. Ini pertama kalinya, dia menatapnya seperti itu.


"Jadi kau harus memanggilnya apa?"


Semua yang ada di ruangan itu tidak ada yang berani bersuara. "Claire," jawab Aletha pelan.


Meriana yang duduk di samping Aletha menghela napas karena ketidakpekaan anaknya dalam menjawab pertanyaan Sean.


"Siapa? Coba ulangi lagi."


Meriana akhirnya menyenggol lengan anaknya dan memberikan kode pada anaknya perempuannya. "Kakak Ipar."

__ADS_1


Sean berkata dengan suara datar. "Panggil dia dengan benar mulai sekarang."


Diam-diam Claire menarik sudut bibirnya hingga terbentuk senyum tipis di wajahnya. Kali ini dia tidak perlu repot-repot untuk membalas Aletha karena sudah ada Sean yang melakukannya.


Karena tidak mau suasana semakin memanas, tuan Sam langsung berkata, "Lebih baik kita sarapan sekarang. Jangan berdebat lagi."


Selesai sarapan, Sean pergi menemui kakeknya di kamar. Sementara Claire kembali ke kamarnya untuk beristirahat. "Kakek, insiden di hotel waktu itu, kamukah yang melakukannya?" tanya Sean dengan tatapan menyelidik.


Kakek Sean yang sedang duduk di kursi pijat, berusaha menghindari tatapan Sean yang sedari tadi sedang menatapnya seolah sedang membaca pikirannya. "Kakek tidak mengerti maksudmu."


Sean memasukkan satu tangannya ke dalam saku celananya. "Tidak ditemukan jejak apapun di sana setelah insiden itu. Rekaman CCTV pun tidak ada. Hal serapi ini, selain Kakek, tidak ada yang bisa melalukannya."


Sean kembali bertanya ketika melihat kakeknya nampak diam. "Masih tidak mau mengaku?"


"Iyaa ... Iyaaa ... Kakek mengaku salah. Maafkan kakek."


Kakek Sean sudah menduga kalau Sean pasti akan menyelidiki kejadian malam itu. Maka dari itu, dia menyingkirkan semua bukti-bukti yang ada. Dia tidak menyangka kalau Sean bisa menebaknya secara akurat.


"Maaf untuk apa?" Sean nampak belum puas dengan permintaan maaf kakeknya.


Kakek Sean turun dari kursi pijatnya lalu berjalan ke arah sofa dan duduk di sana. "Tentu saja insiden di hotel itu, memangnya apalagi?"


Sean mengikuti kakeknya untuk duduk di sofa berhadapan dengannya. "Foto-fotoku bersama dengan Claire saat di hotel kota A yang tersebar di internet, Kakek juga yang menyebarkannya, kan?"


Mata kakek Sean sedikit membesar, tetapi dengan cepat dia normalkan kembali. "Itu karena kalian sama-sama menolak untuk menikah. Kakek terpaksa melakukannya," jelas Kakek Sean.


Sean terlihat duduk dengan malas di depan kakeknya. "Kedepannya jangan campuri urusanku lagi."


Kakeknya berdecak kesal. "Jangan campuri apa? Kalau bukan karena kakek, kau tidak akan bisa mendapatkannya."


Sean menampilkan wajah malasnya sambil menyandarkan punggungnya di sofa. "Sean, Kakek memang yang memaksamu untuk menikahinya, tapi kalau kau tidak bahagia, kakek bisa apa? Kau bisa menceraikannya sekarang juga."


Mendengar hal itu, rahang Sean mengeras dan sorot matanya menjadi dingin. "Kakek, kau ingin mengacaukan hidupku seperti apa lagi?"


Kakek Sean berkata dengan pelan. "Kakek sudah tidak mau memaksamu. Kini, semua terserah padamu," ucap Kakek Sean dengan wajah pasrah, "Sean, terkadang sesuatu yang dianggap tidak bernilai oleh seseorang, bisa jadi sangat bernilai di mata orang lain. Pikirkan itu."


Sean berdiri dengan wajah acuh tak acuh. "Kakek, rumah tanggaku, aku bisa mengurusnya sendiri. Kamu, jaga kesehatanmu saja sampai cicitmu lahir." Sean kemudian keluar dari kamar kakeknya.

__ADS_1


Kakek Sean mendengus kesal setelah kepergian cucunya. "Cicit apa? Jika aku tidak bertindak, sampai mati pun, aku tidak akan bisa melihatnya."


Bersambung....


__ADS_2