
Sean menatap Felix dengan wajah serius lalu berkata, "Aku ingin tahu siapa nama wanita yang kau sukai itu?"
Felix terdiam beberapa saat, menunduk sejenak lalu mengangkat kepalanya menatap ke arah Sean lalu tersenyum. "Aku memilih dare."
Semua yang sedari tadi sedang menungunggu jawaban Felix dengan wajah penasaran, seketika merasa kecewa. Mereka sangat penasaran dengan nama wanita yang disukai olehnya. Selama ini, Felix cukup tertutup mengenai wanita yang dia sukai.
Rahang Sean mengetat, kelopak matanya mengencang dan salah satu alisnya naik. "Ada apa Felix? Kenapa kau tidak berani menyebutkannya? Apa orang yang kau maksud itu ada di sini?" Sean mencibir dengan dingin dan berkata penuh penekanan di setiap kata-katanya.
Suasana menjadi hening dan beberapa pasang mata diam-diam menatap Sean kemudian berpindah pada Felix secara bergantian. Sesuatu pasti sudah terjadi di antara mereka berdua karena Sean dan Felix tidak pernah berdebat atau bersitegang sebelumnya.
Bukannya terpancing dengan provokasi Sean, Felix justru tersenyum lebar ke arahnya. "Satu pertanyaan untuk satu kesempatan Sean dan kesempatanmu sudah habis. Aku sudah memilih dare." Setelah mengatakan itu, Felix meraih gelas dan langsung menenguknya hingga habis.
"Claire, sekarang giliranmu," ucap Felix setelah dia meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja.
"Baik." Claire memegang botol lalu memutarnya dan ternyata mengarah pada Sean. "Siapa wanita yang paling kau cintai saat ini?"
Raut wajah Sean seketika berubah setelah mendengar pertanyaan Claire. Sean terlihat menatap Claire dengan dahi yang berkerut untuk sesaat, setelah itu dengan cepat dia merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
Semua terlihat menunggu jawaban dari Sean. Pertanyaan itu juga sebenarnya ingin ditanyakan oleh Felix dan Helena jika nanti mendapatkan giliran, tapi ternyata Claire sudah menanyakannya lebih dulu.
"Aku pilih dare." Claire yang sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari Sean, seketika tersenyum miring.
"Baiklah."
Sean meraih gelas yang sudah diisi oleh Felix lalu menghabiskannya. "Sekarang giliranku." Aletha mengambil alih botol dan memutarnya dan tertuju pada Claire.
"Pertanyaan untukmu adalah pernikahanmu dengan Kak Sean karena perjodohan, jika seandainya kalian tidak dijodohkan. Dengan siapa kau akan menikah?"
Sepertinya Aletha sengaja mengatakan itu untuk membuat percikan api antara dirinya dan Sean. "Aku pilih dare." Claire tidak bisa menjawab atau semuanya akan terbongkar nanti.
Aletha langsung berdecak kesal saat Claire tidak mau berkata dengan jujur. Claire tidak menyadari kalau tatapan Sean berubah menjadi dingin.
Dengan wajah pasrah, Claire meraih gelas lalu meminumnya dengan mata terpejam sambil mengernyit. Cukup lama Claire menghabiskannya karena dia memang tidak begitu pandai meminum minuman alkohol, apalagi dalam jumlah banyak.
Setelah Claire menghabiskannya, Helena memutar botolnya dan jatuh pada Aletha. "Aletha, diantara Claire dan aku, siapa yang akan kau pilih menjadi kakak iparmu?"
__ADS_1
Claire mendesis dalam hati. Bagaimana bisa Helena bertanya seperti itu?
"Tentu saja aku akan memilihmu," jawab Aletha lantang sambil melemparkan senyum manisnya pada Helena.
Giliran Felix yang memutar dan ternyata mengarah pada Sean. "Jika kau dihadapkan dengan 2 pilihan, antara wanita dari masa lalumu dengan wanita yang saat ini bersamamu, siapa yang akan kau pilih?"
Bulu mata Sean terangkat dengan cepat dan tatapannya menjadi tajam. Felix salah satunya orang yang tahu bagaimana masa lalunya. Tiba-tiba mengungkitnya, Sean berpikir kalau dia sengaja ingin membalasnya. "Aku pilih dare."
Felix tersenyum sinis. Dia sudah menduga kalau Sean tidak akan mau menjawabnya, terlebih ada Helena dan Claire di sana. Setelah Sean menghabiskan minumannya, dia memutar botol dan jatuh pada Felix.
"Seandainya kakek tidak menjodohkan Claire denganku, apa kau akan menerima perjodohanmu dengan Claire yang sudah diatur oleh kakek sebelumnya?"
Dua pria itu saling menatap. Entah apa yang ada di benak mereka saat ini, tapi suasana terasa sedikit menegangkan.
"Dari awal aku tidak pernah menolak perjodohan itu. Kakeklah yang tiba-tiba merubahnya tanpa memberitahuku. Aku pun terkejut ketika mengetahui kalau dia dijodohkan denganmu."
"Itu artinya kalian tidak berjodoh." Sean menyandarkan punggungnya di kursi dan menarik salah satu sudut bibirnya sambil menatap Felix.
Felix pun ikut menyadarkan punggungnya di kursi lalu berkata, "Mungkin saja, iya. Mungkin juga tidak. Jodoh adalah sebuah misteri yang tidak bisa ditebak. Menikah dengan seseorang, bukan berarti berjodoh. Bisa saja kedepannya berpisah. Ada begitu banyak kemungkinan yang ada."
Permainan terus berlanjut dan terhenti pada pukul 9 malam. Claire terlihat sangat mabuk karena dia sudah meminum 5 gelas. Dia mulai bertingkah konyol dan terus meracau. Itulah kebiasaan buruk Claire jika sudah mabuk. Dia tidak akan bisa mengontrol dirinya dan berbicara sembarangan. Pada akhirnya mereka menyudahi acaranya dan kembali ke kamar masing-masing.
Karena Claire nampak begitu mabuk, Sean membantu memegang kedua bahunya agar dia tidak jatuh setelah mereka keluar dari lift di lantai atas. "Lepaskan aku, bodoh!" pekik Claire pada Sean. "Jangan memegangku sembarangan. Pergi sana! Jangan dekat-dekat denganku."
Claire mendorong tubuh Sean hingga tangan Sean terlepas darinya kemudian dia berjalan terhuyung-huyung ke arah depan.
Dia berjalan tidak seimbang hingga beberapa kali akan tersandung kakinya sendiri. "Claire, jalan yang benar." Sean kembali memegang bahu Claire sambil menuntunnya.
"Aku bisa berjalan sendiri. Lepaskan aku! Jangan dekat-dekat. Aku sudah menikah, bodoh!" Claire berteriak pada Sean sambil melepaskan tangan Sean darinya.
Bibi Mey yang sedang mengikuti mereka dari belakang hanya bisa menghela napasnya saat melihat tingkah Claire. "Tuan Muda, biarkan aku saja yang membawa Nyonya Muda ke kamar," ucap Bibi Mey sambil mendekati Claire.
"Tidak perlu. Biar aku saja. Bibi Mey, kau boleh kembali ke kamarmu."
Claire memiringkan wajahnya dengan wajah bingung dan linglung. "Bibi, usir pria bodoh ini dari sini sebelum Sean tahu. Nanti dia bisa marah jika ada orang asing di sini. Sean sangat mengerikan jika sudah marah." Tiba-tiba saja Claire bergidik tanpa alasan yang jelas.
__ADS_1
Mendengar itu, Sean menghela napas. Ingin marah, namun saat ini Claire sedang mabuk.
"Nyonya Muda, dia itu bukan orang asing, tapi Tuan Muda," jelas Bibi Mey dengan wajah cemas.
Bagaimana bisa Claire mengatakan suaminya sendiri sebagai pria bodoh. Selama ini bahkan tidak ada yang pernah berani berteriak padanya apalagi mengatakannya bodoh.
Claire tidak memperdulikan ucapan bibi Mey dan justru berjalan terus dengan terhuyung-huyung menuju sebuah kamar sebelah kanan. Melihat itu, Sean buru-buru menghampiri Claire.
"Kau mau ke mana? Itu bukan kamar kita." Sean menghentikan Claire saat dia akan membuka pintu kamar tersebut.
Claire menoleh pada Sean dengan wajah kesal. "Ini kamarku. Jangan mengikutiku terus. Aku tidak tertarik denganmu."
Tidak lama kemudian pintu itu terbuka dan menampilkan wajah heran seorang pria. "Sedang apa kalian di sini?" Felix mengerutkan kening ketika melihat Sean dan Claire berada di depan kamarnya.
"Dia mabuk dan lupa di mana kamar kami. Kau masuk saja. Aku akan membawanya," jelas Sean sambil memegang lengan Claire.
"Lepas!" Claire kembali melepaskan tangan Sean lalu menatap bingung pada Felix. "Bagaimana bisa ada pria tampan di kamarku?" Claire perlahan berjalan mendekati Felix.
Melihat tingkah konyol Claire, Felix tersenyum penuh arti. "Adik kecil, apa kau ingin tidur di sini bersama Kakak?" goda Felix sambil mengerlingkan matanya pada Claire.
"Apa kau mengenalku?" tanya Claire sambil menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjuknya.
"Tentu saja. Aku adalah suamimu. Apa kau lupa denganku?" tanya Felix dengan wajah santai.
Sean maju lalu memegang lengan Claire. "Felix, jangan coba-coba memancingku." Wajah Sean mengeras dan sorot matanya menajam.
Felix memasukkan kedua tanganya ke dalam saku dengan wajah santai lalu berkata, "Aku hanya bercanda. Kenapa kau serius sekali?"
"Aku tidak memiliki waktu untuk bercanda denganmu." Sean lalu beralih pada Claire. "Ayo pergi. Ini bukan kamar kita." Tanpa menunggu jawaban dari Claire, Sean meraih tubuh Claire lalu membopongnya dan berjalan ke arah kamarnya.
"Lepaskan aku! Aku mau turun!" Claire memukul dada Sean beberapa kali agar menurunkannya, tetapi Sean mengabaikannya dan terus berjalan hingga tiba di kamarnya.
Karena kesal, Claire pun memukul Sean setelah menurunkannya. "Dasar pria mesum! Pergi kau dari sini!"
Sean mulai hilang kesabaran, dia menangkap pergelangan tangan istrinya lalu berkata, "Claire, kau jangan membuatku kesal. Jika tidak, aku akan menghukummu malam ini."
__ADS_1
Bersambung...