
"Sayang, kau kenapa?" tanya Sean saat melihat wajah istrinya nampak meringis, menahan sakit.
"Perutku sakit, Sean." Claire berjalan pelan menuju tempat tidur sambil memegang perut besarnya.
Sean yang baru saja selesai mandi, segera menghampiri istrinya yang nampak sedang menahan sakit. "Apa anak kita sudah mau keluar?" tanya Sean seraya menatap wajah istrinya yang terlihat mulai mengeluarkn keringat dingin di dahinya.
Sudah seminggu ini Claire selalu merasakan kontraksi palsu yaitu perut keram dan mengencang. Usia kandungannya sudah memasuki 9 bulan. Dokter memperkirakan Claire akan melahirkan seminggu lagi, tapi Claire sudah merasakan kontraksi semakin sering dan kuat semenjak tadi pagi. Dia juga sudah merasakan sakit di perut dan punggung bawahnya.
"Sean, sakit sekali." Claire mencengram kuat lengan suaminya yang sedang berjongkok di depannya.
"Apa kau masih bisa menahannya?" Sean bertanya dengan wajah panik dan cemas.
Claire hanya menggeleng lemah tanpa berkata apapun. Cengkramannya di lengan Sean semakin mengencang ketika dia merasakan sakit yang luar biasa di bagian perut bawahnya.
"Sakiit." Bulir keringat terus keluar dari dahi Claire.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Mungkin saja kau akan melahirkan. Kau tunggu di sini dulu. Aku akan memanggil ibu."
Sean bangun lalu berjalan ke arah pintu. Dia berteriak memanggil ibunya dengan suara keras dan wajah panik. Tidak lama kemudian Sean kembali masuk dan diikuti oleh bibi Mey dan ibunya.
"Claire, apa kau rasakan?" Ibu Sean menghampiri menantunya dengan wajah panik.
"Perutku sakit sekali, Ibu."
Ibu Sean menatap ke bawah dan melihat cairan bening merebes dari pangkal paha menantunya. Ibu Sean kemudian menoleh pada anaknya. "Sean, Claire akan melahirkan. Ketubannya sudah pecah. Kita harus membawanya ke rumah sakit sekarang."
Sean semakin panik. "Baiklah. Kita pergi sekarang."
Ibu Sean menoleh pada bibi Mey. "Bibi Mey, tolong bantu aku siapkan pakaian Claire dan perlengkapan bayinya."
"Sakit, Sean." Claire kembali merintih seraya memegang perut besarnya.
Melihat istrinya nampak kesakitan, Sean membungkuk lalu mengangkat tubuh istrinya. "Ibu cepatlah. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan istri dan anakku." Sean tidak tega mendengar Claire yang sudah beberapa kali merintih kesakitan.
Ibu Sean seketika menoleh setelah selesai mengemasi barang yang akan dibawa ke rumah sakit. "Sean, kau mau ke mana?" Ibu Sean segera menyusul anaknya yang sudah melangkah keluar kamar.
Sean menghentikan langkah kakinya lalu menoleh pada ibunya. "Tentu saja ke rumah sakit. Kenapa Ibu masih bertanya?" Sean nampak kesal karena ibunya justru menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya.
__ADS_1
"Pakai dulu bajumu. Kau ingin ke rumah sakit hanya mengenakan handuk? Kau ingin membuat satu rumah sakit heboh karena melihat tubuhmu itu."
Claire yang berada di gendongan Sean seketika ikut menatap ke tubuh suaminya. Rasa sakit yang semula dia rasakan menghilang sejenak ketika melihat suaminya hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia terlihat menahan senyum sekaligus menahan sakit perutnya.
Sehabis mandi tadi, Sean memang belum sempat mengenakan pakaiannya karena Claire sudah lebih dulu mengeluh sakit pada perutnya. Karena terlalu panik sehingga Sean lupa kalau dia belum memakai pakaian.
"Maaf Ibu, aku lupa," ucap Sean setelah dia menunduk menatap tubuhnya.
Sean kembali masuk ke kamarnya dan meletakkan istrinya kembali di tempat tidur, setelah itu, dia meraih baju dengan asal dan memakainya di kamar mandi. Setelah berpakaian, Sean kembali menggendong istrinya turun ke bawah dan menyuruh Kenz untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Di dalam mobil yang dikendari Sean hanya ada Claire, Sean dan Kenz, sementara Ibu Sean dan kakeknya berada di mobil belakang yang dibawa oleh Paul. Selama dalam perjalanan, Sean nampak berusaha menenangkan Claire, tetapi sebenarnya, dia sendiri yang terlihat lebih panik dibandingkan Claire sendiri.
"Sayang, tahan yaa, sebentar lagi kita akan sampai." Sean sebentar menatap pada istrinya, sebentar menatap ke arah jalan yang ada di depan.
"Kenz, apa kau tidak bisa lebih cepat lagi? kau tidak medengar istriku sedari tadi merintih kesakitan?"
Kenz tidak menoleh, tetapi tetap menjawab pertanyaan bosnya dengan wajah tenang, meskipun sedari tadi, bosnya itu menggangguku konsentrasinya saat menyetir.
"Maaf Tuan Muda, ini sudah mencapai batas maksimal kecepatan berkendara yang diperbolehkan di negara kita, kalau aku menaikkan kecepatannya lagi, kita akan ditilang bahkan bisa dikerjar petugas."
Sean berdecak kesal. "Kenapa mereka membangun rumah sakit yang sangat jauh? Bagaimana kalau istriku melahirkan di mobil? Apa mereka akan bertanggung jawab kalau terjadi apa-apa dengan istriku? Bagaimana bisa penerus keluarga Louris lahir di dalam mobil." Sean terus menggerutu seraya mengucapkan kata-kata konyolnya.
Claire sedari tadi hanya bisa merintih dengan suara pelan agar suaminya tidak semakin panik. Setibanya di rumah sakit, Claire langsung dimasukkan ke ruang bersalin, sementara Sean berdiri di depan ruang bersalin bersama dengan kakek, ibunya, dan Kenz.
"Sean, kenapa kau tidak menemani istrimu di dalam? Dia pasti ingin ditemani olehmu," ucap Ibu Sean saat melihat anaknya berjongkok seraya menunduk di depan ruang bersalin.
"Aku tidak bisa, Ibu. Aku tidak bisa melihatnya merasakan sakit saat sedang berjuang melahirkan anakku. Aku takut hilang kendali dan justru membuat gaduh di dalam," ucap Sean sambil mendongakkan kepalanya menatap ibunya.
Yang dikatakan anaknya ada benarnya. Jika Sean masuk ke dalam, dia hanya akan membuat panik Dokter dan Perawatnya.
"Tapi Claire butuh kau, Sean. Dia pasti butuh semangat dan dukungan darimu."
Sean tentu saja tahu saat Claire sedang berjuang melahirkan anaknya, sama dengan Claure sedang mempertaruhkan nyawanya.
Sean kembali menunduk dengan wajah cemas.
"Aku tidak sanggup melihatnya kesakitan Ibu," jawab Sean dengan suara lemah.
__ADS_1
Akhirnya Ibu Sean tidak memakasanya lagi. Dia kembali duduk di tempat duduk yang tidak jauh dari ruangan bersalin. Di sana sudah ada kakek Sam yang sedari tadi hanya diam dengan wajah cemas, sementara Kenz, berdiri tidak jauh dari Sean.
Saat semua orang sedang menanti dengan kecemasan, Felix datang dengan terburu-buru dengan wajah panik juga. "Apakah bayinya belum keluar?" tanya Felix pada Ibu Sean.
"Belum," jawab Ibu Sean.
Felix menoleh ke arah Sean yang memeras rambut bagian belakangnya dengan kepala yang terduduk ke bawah. "Bibi, kenapa Sean tidak masuk ke dalam menemani istrinya?"
Ibu Sean menoleh sejenak pada anaknya kemudian beralih menatap Felix. "Dia tidak sanggup melihat istrinya kesakitan."
Felix hanya bisa menghela napas kemudian duduk di samping bibinya. "Aku rasa dia bisa pingsan kalau melihat langsung bagaimana perjuangan Claire melahirkan anaknya," ucap Felix lagi seraya melirik sekilas pada sepupunya.
"Iyaa. Bibi rasa juga begitu. Dia tidak hentinya gemetar sedari tadi. Tangannya saja sangat dingin saat bibi menenangkannya tadk. Kau tahu bukan, dia masih terauma. Bibi rasa dia masih takut. Kejadian dulu masih membekas di ingatannya. Wajar saja kalau, dia takut terjadi apa-apa dengan istrinya."
Kejadian yang dimaksud oleh ibu Sean adalah ketika ayahnya meninggal saat sedang menjalani operasi. Saat itu Sean ikut ibunya menunggu depan ruang operasi dan ketika operasi sudah selesai, ternyata ayahnya tidak bisa diselamatkan. Sean melihat sendiri bagaimana ayahnya di dorong keluar dari ruangan operasi dengan keadaan sudah tidak bernyawa.
"Iyaaa. Kita juga tidak bisa memaksanya. Claire adalah wanita yang kuat. Aku rasa dia bisa melewatinya sendirian."
Sudah satu jam berlalu tetapi belum juga ada suara tangisan bayi. Sean semakin cemas. Dia beberapa kali berjalan bolak-balik di depan pintu ruang bersalin seraya terus menatap ke arah pintu dengan wajah menegang. Saat Sean sedang mengusap kasar wajahnya, pintu ruang bersalin tiba-tiba terbuka dan seorang perawat keluar dari ruangan itu.
"Siapa di sini yang suaminya, Nyonya Claire?" tanya Perawat itu seraya menatap Kenz, Felix dan Sean secara bergantian.
Felix maju lebih dulu. "Apa terjadi sesuatu dengannya?"
"Tidak. Dia baik-baik saja hanya tubuhnya semakin lemah. Bayinya tidak mau keluar dan Nyonya Claire terlihat sudah kelelahan dan tidak memiliki tenaga lagi." Perawat itu kemudian bertanya pada Felix. "Apa Anda suaminya?"
"Aku suaminya," ucap Sean seraya menggeser tubuh Felix dengan cepat.
Perawat itu menoleh pada Sean. "Istri Anda meminta ditemani di dalam. Dia sedari tadi memanggil nama Anda. Anda harus menemaninya. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, jika tidak akan membahayakan bayi dan ibunya."
Mendengar itu, wajah Sean semakin menegang dan jantungnya berdebar sangat kencang. "Baiklah. Aku akan masuk."
Saat akan melangkah masuk, Felix meraih lengan Sean. "Sean, jangan panik. Claire akan baik-baik saja. Kau harus tenang saat di dalam."
Sean menoleh lalu berkata, "Aku tahu. Aku masuk dulu."
Meskipun Sean berusaha untuk terlihat tenang, tapi raut wajahnya terlihat sangat tegang dan Felix menangkap ada ketakutan dalam sorot matanya.
__ADS_1
Bersambung ....