
Hari ini, sebelum terbang ke kota A, Sean lebih dulu merapihkan penampilannya. Dia memotong rambut, kumis tipisnya serta janggut yang mulai tumbuh karena tidak pernah ia cukur. Dia ingin menujukkan penampilan terbaiknya saat bertemu dengan Claire nanti.
Selesai dengan semua urusan di kota S, Sean langsung berangkat ke kota A setelah berpamitan dengan ibunya. Karena Kenz harus mengurus perusahaan, Sean akhirnya pergi sendiri. Dalam perjalanam menuju kota A, Sean sudah memikirkan kemungkinan terburuk jika Claire tidak mau memaafkannya.
Bagaimana pun Sean sudah siap menghadapi segala kemungkinan yang ada. Dia akan tetap berusaha untuk meluluhkan hati, Claire. Kalaupun nanti, setelah dia berusaha keras tapi, pada akhirnya Claire masih tidak mau kembali padanya lagi, dia akan berusaha untuk menerimanya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam lamanya, akhirnya Sean tiba di kota A pada pukul 9 malam. Mendadak dia dilanda rasa gugup yang luar biasa ketika mobilnya sudah berhenti tepat di depan kediaman orang tua, Claire. Dia berdiam diri di dalam mobil sampai 10 menit, setelah itu dia baru turun dari mobil.
Setelah dipersilahkan masuk, seorang pelayan memintanya untuk duduk di ruang tamu. Sean menunggu selama 5 menit dan kemudian muncul ibu Claire dari dalam rumah.
"Sean, kenapa tidak mengabari lebih dulu jika ingin ke sini agar ada yang bisa menjemputmu di bandara?" Ibu Claire terkejut melihat kedatangan Sean yang tiba-tiba.
Sean berdiri dan menyapa ibu Claire dengan sopan. "Aku tidak ingin merepotkan, Ibu."
"Mana mungkin repot. Duduklah," ucap Ibu Claire dengan lembut.
Sean mengangguk lalu duduk dengan sedikit rasa canggung. "Ibu, kedatanganku ke sini untuk bertemu dengan Claire."
Senyum di wajah ibu Claire mendadak hilang dari wajahnya. "Dia baru saja tidur. Dia sedang tidak enak badan, Sean."
Wajah Sean nampak kecewa, padahal berharap bisa langsung menjelaskan semuanya, setibanya di rumah Claire. "Baik, aku akan datang besok lagi," ucap Sean sambil berdiri.
Ibu Claire segera mendongakkan kepalanya. "Kau mau ke mana?"
"Aku akan menginap di hotel," jawab Sean.
Ibu Claire seketika ikut berdiri. "Kenapa harus menginap di hotel? Ini juga rumahmu. Menginap saja di sini. Lagi pula, kakekmu masih ada di sini. Dia sedang pergi keluar bersama dengan ayah Claire dan belum pulang sampai saat ini. Kau tunggu saja, sebentar lagi mereka akan pulang."
__ADS_1
Sean akhirnya setuju dan mengangguk, setelah itu kembali duduk. Dan benar saja, tidak lama setelah itu, ayah Claire dan kakeknya pulang. Saat kakek Sam nelihat cucunya ada di sana, seketika dia menjadi marah dan kesal.
"Dasar bocah tengik. Beraninya kau datang ke sini setelah menyakiti hati istrimu." Kakek Sean mengayunkan tongkat pada cucunya, tapi berhasil dihindari oleh Sean dengan cepat.
"Tuan Besar, jangan terlalu keras padanya. Kasihan dia," sahut Ayah Claire saat melihat kemarahan kakek Sam pada cucunya.
Kakek Sam menarik kembali tongkatnya. "Dia memang pantas mendapatkannya. Hampir saja aku kehilangan cicitku yang berharga ...." Menyadari kesalahannya, kakek Sean langsung berkata lagi, "maksudku, cucu menantuku yang berharga," ralat Kakek Sean cepat, masih dengan wajah kesalnya.
Sedari tadi, Sean hanya bisa diam dan menerima amarah dari kakeknya. Sepertinya, Sean tidak menyadari ucapan salah kakeknya. "Terkadang anak muda seusianya masih suka membuat kesalahan. Maklumi saja. Asalkan dia menyadari kesahalannya itu lebih dari cukup," kata Ayah Claire lagi.
Kakek Sam mengarahkan ujung tongkatnya pada Sean yang masih duduk diam. "Dia bukan anak muda lagi, dia sudah mau jadi seorang ay ...." Kakek Sam langsung berhenti ketika hampir saja dia kelepasan bicara lagi.
"Sudahlah. Lebih baik aku kembali ke kamar. Hanya melihat wajahnya saja, sudah membuatku marah," ujar Kakek Sam sambil menatap kesal pada cucunya setelah itu pergi dari sana.
"Sean, maksud kakekmu baik. Dia tidak ingin kau membuat kesalahan lagi ke depannya," ucap Ayah Claire setelah kakek Sam pergi.
Dia sudah terbiasa dengan sikap kakeknya yang seperti itu, jadi dia memakluminya. Lagi pula, itu memang salahnya, jadi dia hanya bisa diam tanpa membela diri.
"Lebih baik kau istirahat di kamar Claire. Ini sudah malam. Kita bicara lagi besok," usul Ayah Claire.
"Aku akan tidur di kamar tamu saja, Ayah. Aku tidak mau mengganggu tidurnya." Sean hanya takut kalau Claire akan marah saat melihatnya ada di kamarnya ketika dia terbangun nanti.
"Mana boleh tidur terpisah seperti itu. Kalian masih suami istrinya. Tidak seharusnya tidur terpisah," sahut Ibu Claire lembut.
"Benar. Tidurlah di kamar, istrimu. Ayah akan memarahi Claire kalau sampai dia mengusirmu dari kamarnya."
Setelah berpikir sejenak, Sean akhirnya setuju dan pergi ke kamar Claire yang berada di lantai 2. Sean membuka pintu secara perlahan dan masuk ke dalam dengan langkah pelan setelah menutup pintunya. Dia melihat Claire sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Sean kemudian melangkah ke tempat tidur dan duduk di menyerong ke samping sambil menatap wajah istrinya. Dia memandang wajah Claire selama 10 menit, setelah itu dia memajukan wajahnya dan memberikan kecupan di kening istrinya lalu turun pada bibirnya.
Tiba-tiba Claire bergerak dan seketika itu juga Sean langsung panik dan ingin berdiri. Dia mengira Claire akan bangun, ternyata dia hanya merubah posisi tidurnya menyamping ke arah kiri. Sean menjadi lega melihatnya. Sean kemudian sedikit membungkuk dan membenahi selimut untuk menutupi tubuh istrinya.
Dia memandang lagi wajah cantik istrinya, setelah itu, dia meraih bantal dan berjalan ke arah sofa untuk tidur di sana. Sean sengaja berbaring ke arah kanan agar bisa melihat istrinya dari tempatnya tidur. Tidak lama kemudian, dia ikut tertidur.
Pukul 2 pagi, Claire tiba-tiba terbangun karena merasa haus. Saat dia akan meraih gelas yang di atas nakas, matanya menangkap sosok pria sedang tertidur di atas sofa. Claire terlihat terkejut saat melihat Sean ada di kamarnya. Dia kemudian turun dari tempat tidur setelah meneguk air minumnya.
Claire berjalan ke arah sofa dan berhenti tepat di samping Sean. Melihat ada Sean di kamarnya, mata Claire seketika berkaca-kaca. Semenjak dia hamil, dia memang lebih sensitif dan mudah sekali terbawa suasana. Tiba-tiba muncul perasaan ingin sekali tidur di pelukan suaminya, tapi dia mengusir pikiran itu dengan cepat.
Akhirnya, dia hanya diam sambil menatap wajah lelah Sean. Tanpa dia sadari, tangannya terulur ke wajah Sean. Wajahnya masih setampan seperti terakhir kali melihatnya, hanya terlihat tubuhnya lebih kurus. Aroma tubuhnya juga masih sama.
Ketika tangannya menyentuh wajah suaminya, mata Sean langsung terbuka dan tatapan mereka bertemu selama 3 detik. Merasa tertangkap basah, Claire langsung menarik tangannya sambil berdiri lalu berbalik.
"Ayah, memintaku untuk tidur di sini." Sean menjelaskan lebih dulu agar Claire tidak salah paham padanya. Sean lalu bangun dari tidurnya dan duduk menatap punggung istrinya.
Melihat Claire hanya diam, Sean lalu berdiri. "Jika kau tidak suka aku tidur di sini, aku akan keluar," ucap Sean lagi.
"Terserah kau saja."
Claire lalu melangkah ke tempat tidur dan kembali berbaring miring ke arah kiri kemudian menarik selimut dan segera memejamkan matanya, mengabaikan Sean yang masih berdiri sambil menatapnya. Sean terlihat masih berdiri di tempatnya sambil berpikir selama beberapa detik.
Jawaban dari Claire membuat Sean bingung, apakah dia boleh tetap di kamar itu atau tidak, tapi ketika melihat sikap dingin dan acuh tak acuh Claire padanya, Sean akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamar Claire. Karena dia tidak tahu ada di mana kamar tamu yang kosong, Sean akhirnya tidur di sofa luar yang ada di lantai 2.
Setelah mendengar suara pintu kamarnya tertutup, Claire kembali membuka matanya dan menoleh ke arah sofa. Sean ternyata memilih keluar. Seketika raut wajah berubah menjadi sedih. Rasanya dia ingin menyusul suaminya dan memintanya untuk tidur di kamarnya, tapi keinginan itu hanya dia pendam saja.
Dia lalu mengusap lembut perutnya yang masih rata dengan raut wajah sedih. "Sayang, ada ayah di sini. Apa ayahmu akan senang kalau dia tahu tentang keberadaanmu?"
__ADS_1
Bersambung....