
"Selamat malam semua." Felix datang dengan wajah sumringah.
Semua orang yang berada di ruangan makan seketika menoleh ke arah Felix. "Akhirnya kau datang." Kakek Sam tersenyum senang saat melihat cucu keduanya.
Melihat kedatangan Felix, wajah Sean langsung masam. "Iyaaa Kakek." Felix duduk di sebrang Sean kemudian menoleh pada bibi Mey yang sedang berdiri di belakang sebelah kanannya, "Bibi Mey, tolong bawa koper dan semua barangku ke kamarku."
Bibi Mey membungkuk. "Baik, Tuan Muda." Bibi Mey segera meninggalkan ruangan makan bersama dengan beberapa pelayan untuk membawa semua barang Felix ke kamarnya.
Sean nampak acuh tak acuh awalnya, tapi setelah mendengar ucapan Felix, dahi Sean berkerut, meskipun hanya sebentar. "Untuk apa kau membawa semua barangmu ke sini?" tanya Sean kemudian.
Felix tersenyum lebar, menampilkan semua deretan gigi putihnya. "Mulai sekarang aku akan tinggal di sini." Felix kemudian menoleh pada kakeknya, "benar, kan, Kakek?"
Semua orang seketika menatap ke arah kakek Sam, termasuk Sean. "Benar. Mulai sekarang dia akan tinggal di sini juga. Sama seperti Claire dan Sean," jawab Kakek Sam.
Sean mendengus dingin lalu beralih menatap Felix. "Untuk apa kau tinggal di sini? Bukankah seharusnya kau tinggal di kediaman ayahmu?"
Senyum di wajah Felix menghilang dan tergantikan dengan wajah acuh tak acuh. "Kau jangan lupa, Sean. Aku juga cucu dikeluarga ini, jadi aku berhak untuk tinggal di sini."
Felix melipat kedua siku tangannya, meletakkan di atas meja, kemudian memajukan tubuhnya ke depan lalu berbicara pada Sean. "Kenapa aku merasa kalau kau tidak suka kalau aku tinggal di sini? Kenapa? Merasa terancam?" Felix menyunggingkan senyum sinisnya pada Sean.
Claire dan ibu Sean nampak hanya diam dan tidak mau ikut campur. Mendengar perkataan Felix, Sean tersenyum miring. "Felix, kau terlalu percaya diri. Aku sama sekali tidak peduli denganmu."
Karena tidak mau suasana menjadi canggung, Kakek Sean kemudian menyela. "Sean, meskipun kau penerus keluarga Louris, tapi Felix adalah bagian dari keluarga ini. Dia juga berhak tinggal di sini."
Sean mendesis dengan raut wajah mengejek. "Kakek, niatmu sudah terbaca olehku. Felix tinggal di sini, kau pasti yang sudah mengaturnya, kan?"
Felix tidak terlihat acuh tak acuh dan tidak menghiraukan ketidaksukaan Sean padanya. "Sean, kau terlalu banyak berpikir. Aku memang sudah lama ingin pindah ke sini untuk menemani Kakek. Hanya saja... baru sekarang keinginanku terwujud. Tidak disangka, disaat aku pindah, kau juga pindah."
"Sudahlah. Lebih baik kita mulai acara makan malamnya. Kita bisa lanjutkan mengobrol setelah selesai makan malam," sela Ibu Sean.
Selesai makan mereka berkumpul di ruangan keluarga. Momen seperti ini jarang sekali terjadi. Terkadang jika ada acara, pasti salah satu dari Felix dan Sean tidak ada dikarenakan kesibukan mereka masing-masing.
"Felix, Aletha sudah lama tidak ke sini. Kenapa kau tidak mengajaknya sekalian?" Kakek Sam membuka suaranya ketika baru saja menyesap teh hangatnya.
Felix meletakkan ponselnya yang sedari tadi dia pegang di atas meja. "Dia sibuk Kakek. Belakangan ini, dia sering pergi bersama dengan teman-temannya ataupun Helena."
Kakek Sam manggut-manggut. "Sean, rumormu dan Helena semakin kencang. Kau tidak pernah menepis kabar miring yang menerpamu. Terakhir kali kau tertangkap kamera mengunjungi apartemennya di malam hari dan pulang pada dini hari dan itupun kau tidak pernah melakukan klarifikasi. Sebenarnya ada hubungan apa kau dengannya?"
__ADS_1
Karena Claire, sedang tidak ada, maka dari itu, kakek Sam berani bertanya seperti itu pada cucunya. "Kakek, sejauh mana lagi kau memata-mataiku?" tanya Sean dengan wajah malas.
Felix hanya tersenyum melihat kekesalan Sean pada kakeknya. "Itu karena kau membuatku khawatir. Apa kakek pernah ikut campur urusanmu ketika kau belum menikah? Tidak pernah, bukan? Sekarang berbeda Sean, kau sudah menikah dan tidak sendiri lagi. Pria dan wanita berada dalam satu tempat di malam hari tanpa adanya ikatan. Kau ingin membuat malu keluarga?"
Sean terlihat acuh tak acuh dan duduk dengan malas. Ucapan Kakeknya tidak terlalu digubris olehnya. "Aku hanya berkunjung. Terjadi sesuatu dengannya jadi aku ke sana."
Felix yang tadinya tidak niat aku campur masalah Sean, akhirnya tidak tahan untuk ikut berbicara. "Kakek, Sean mencintai Helena. Claire dan Sean tidak saling mencintai, wajar saja kalau hubungan mereka tidak baik. Kakek juga sudah tahu bagaimana kedekatan Sean dengan Helena selama ini, tapi masih saja memaksa untuk menikahkan Sean dengan Claire."
Mendengar itu, Sean seketika beralih menatap pada Felix. "Dari caramu bicara, sepertinya kau masih tidak rela Claire menikah denganku," ucap Sean dengan tatapan dingin, "jangan bilang kalau kau masih mengharapakannya?"
Felix tersenyum miring. "Kalau iya, apa kau mau melepasnya?"
Sean mendesis mendengar itu. "Simpan saja impianmu itu. Claire, selamanya akan menjadi istriku. Dia sudah menjadi milikku, milik Sean Alexander Louris, kau sudah tidak memiliki kesempatan untuk mendekatinya." Dengan sorot mata mencibir, Sean berkata lagi, "kau sudah kalah, Felix Anthonio."
"Kau kira ini permainan? Dasar bocah tengik!" tegur Kakek dengan wajah kesal.
Sean nampak acuh tak acuh melihat kemarahan kakeknya. "Kakek, tenangkan dirimu, jangan marah-marah. Tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Felix menenangkan.
Kakek Sam membuang napas dengan kasar lalu berkata, "Kate, antarkan aku ke kamar. Darah tinggiku bisa kumat jika terus berada di dekatnya."
"Baik Ayah." Kate berdiri lalu membawa kakek Sam ke kamarnya.
Felix berdecih mendengar itu. Dia tahu kalau Sean sedang berusaha menujukkan kepemilikan Claire di depannya. "Sedang ada di dapur, Tuan Muda."
Sean berdiri lalu berjalan ke arah dapur. Ini pertama kalinya dia memasuki dapur sejak dia dewasa. Melihat istrinya sedang berdiri membelakanginya, Sean berjalan mendekati Claire, berdiri di belakangnya kemudian mendekatkan wajah pada istrinya.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
Karena terkejut, Claire langsung menoleh pada ke kiri dengan cepat dan tanpa sengaja dia mencium pipi Sean karena wajahnya tepat berada sebelah kiri. "Sean, kenapa kau berdiri di belakangku? Kau membuatku terkejut."
Sean menjauhkan tubuhnya dari Claire kemudian berdiri tegak sambil memasukkan salah satu tangan ke dalam sakunya. "Itu salahmu karena kau melamun sampai kau tidak sadar aku berada di belakangmu."
"Aku sedang fokus membuatkan minuman gingseng untukmu," jawab Claire dengan wajah yang masih sedikit kesal.
Mendengar itu, dahi Sean mengerut. "Gingseng merah?" ulang Sean.
Claire berbalik setelah selesai membuatkan minuman untuk Sean. "Kakek menyuruhku untuk membuatkanmu minuman itu."
__ADS_1
Sean terdiam beberapa saat kemudian berkata, "Sepertinya Nyonya Sean sudah menjadi istri yang penurut, jadi apakah malam ini kita akan melakukannya lagi?"
Wajah Claire memerah mendengar perkataan suaminya, dia menunduk sebentar menyembunyikan wajahnya. "Ini keinginan Kakek. Dia memintaku untuk membuatkanmu gingseng merah."
Sean mengangkat wajah Claire dengan menjepit dagunya. "Kalau begitu, bagaimana kalau kita...." Sean menunduk lalu perlahan mendekatkan wajahnya pada Claire. Saat hidung mereka sudah bersentuhan, suara seorang pria datang dari arah belakang.
"Kalian sedang apa?"
Sean berhenti ketika bibir mereka akan menempel. Dia melepaskan jari tangannya dari dagu Claire, menarik dirinya, setelah itu menoleh ke belakang dengan wajah kesal.
"Kenapa kau kemari?"
Felix berjalan maju kemudian berdiri di depan meja panjang yang ada di dapur seraya meletakkan kedua tangannya di atas meja. "Aku haus," jawab Felix enteng.
Dia mengabaikan wajah kesal sepupunya dan beralih menatap Claire. "Claire apa itu?" tunjuk Felix pada teko kaca bening dan gelas yang ada di belakangnya.
Claire menoleh ke belakang lalu berkata, "Ginseng merah. Kakek memintaku untuk membuatkan minuman ini untuk Sean."
"Kenapa kakek memintamu untuk membuatkannya?" tanya Felix dengan heran.
"Kau memang bodoh. Tentu saja untuk menambah vitalitas dan staminaku agar saat kami melaku ...." Belum sempat Sean menyelesaikan ucapannya, Claire sudah lebih dulu membungkam mulutnya.
"Jangan dengarkan dia. Banyak manfaat jika mengkonsumsi gingseng merah," sela Claire buru-buru.
Sean melepaskan tangan Claire yang sedang membekap mulutnya dengan wajah kesal. "Pergilah. Jangan mengganggu kami."
Felix mengabaikan ucapan Sean dan berkata pada Claire, "Coba aku lihat. Aku penasaran dengan minuman itu," pinta Felix.
Claire membalik tubuhnya, mengambil gelas yang yang sudah terisi kemudian melangkah maju dan berdiri di sebarang Felix.
"Seperti ini." Claire mengulurkan tangannya pada Felix.
Dengan cepat, Felix memegang tangan Claire dan mengarahkan gelas itu ke mulutnya. "Ternyata enak. Aku suka minuman ini, terlebih lagi minum dari tanganmu." Felix tersenyum penuh arti pada Claire kemudian beralih pada Sean sambil mengerlingkan matanya.
Claire tediam dengan wajah terkejut dan tidak menyadari kalau tatapan Sean menjadi tajam.
"Aku sudah tidak haus lagi. Kalau begitu aku pergi dulu."
__ADS_1
Setelah kepergian Felix, Sean berkata dengan dingin. "Jangan pernah dekat-dekat dengan Felix lagi. Aku tidak suka." Sean melangkah, tapi berhenti setelah beberapa langkah lalu menoleh pada Claire, "buang saja ginseng merah itu. Aku sudah tidak berminat meminumnya."
Bersambung...