
Claire berpikir dengan cepat. "Gretta, maaf. Aku harus pergi. Wild tidak boleh menemukanku."
"Claire, tunggu." Gretta memegang lengan Claire saat dia akan melangkah.
Dengan wajah panik Clalire menoleh. "Ada apa?" tanya Claire sambil menoleh pada Gretta.
"Berikan nomor ponselmu padaku. Kau harus menceritakan padaku, apa yang sebenernya terjadi padamu. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahamanmu dengan Wild. Masalah Gloria, aku akan menceritakannya padamu. Ada hal yang harus kau tahu."
Karena tidak memiliki waktu lagi, Claire akhirnya mengambil ponselnya, tapi belum sempat dia memberikan nomor ponsel barunya pada Gretta, seseorang sudah memegang pundaknya. Tubuh Claire menegang sesaat kemudian menoleh ke belakang dan melihat Helena dan Aletha sedang menatap ke arahnya, seketika itu juga dia menghela napas. Dia mengira kalau itu adalah Wild.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Helena.
"Tidak ada urusannya denganmu," jawab Claire dengan ketus.
Aletha mendesis dengan wajah acuh tak acuh. "Aku yakin dia sedang menghabiskan uang kakakku di sini. Apa lagi yang bisa dilakukan oleh orang miskin seperti dia selain memanfaatkan suaminya yang kaya. Lihat saja apa yang dia pegang."
Aletha mengarahkan wajahnya pada tangan Claire yang sedang memegang tas belanja dengan merek luar negeri yang sangat terkenal.
Helena mengikuti arah pandangn Aletha kemudian mencibir. "Benar juga. Dari itik rupa menjadi cinderela. Dongeng itu ternyata benar-benar nyata. Aku kira itu hanya dongeng untuk anak kecil. Dia sungguh memanfaatkan kesempatan yang ada."
Gretta, yang juga berasal dari keluarga merasa kesal meliha sikap angkuh Aletha dan Helena yang secara terang-terang menghina sahabatnya. "Hey, Nona. Siapa yang kau sebut miskin? Apa kau tidak tahu siapa dia?" tanya Gretta dengan wajah geram.
Alteha dan Helena seketika mengalihkan pandangannya dari Claire ke wanita yang berdiri di sebelah Claire. "Gretta, sudahlah. Lebih baik kita pergi." Claire lebih dulu menyela sebelum Gretta mengungkapkan identitasnya yang asli.
"Yaa, lebih kalian pergi. Di sini bukan tempat yang pantas kalian datangi. Orang miskin seperti kalian lebih bagus berdiam diri di rumah. Jangan bertingkah seperti Nona dari keluarga kaya. Jangan mempermalukan diri sendiri," sahut Helena sebelum Claie menarik tangan Gretta.
Mendegar itu, Gretta melepaskan tangan Claire kemudian berjalan mendekati Helena. "Sepertinya kau belum tahu siapa aku." Gretta menatap Helena dari atas ke bawah, kemudian berkata, "Barang yang melekat di tubuhmu, bahkan lebih murah dari harga barang yang aku pakai saat tidur dan kau masih ingin menyombongkan dirimu? Aku yakin kau bukan dari kalangan kami. Kau hanya orang yang memiliki cukup uang, tetapi tidak berasal keluarga kaya yang sesungguhnya. Di lingkaran kami, tidak ada yang merendahkan orang lain demi menyombongkan diri sepertimu. Kau hanyalah orang kaya biasa, jadi jangan menyombongkan dirimu padaku dan Claire, jika tidak ingin mempermalukan diri," ujar Gretta dengan wajah angkuh.
Memang jika dibandingkan dengan Gretta, Helena berada jauh di bawahnya. Keluarga Wild dan Gretta berada diurutan pertama di kota A sebagai orang terkaya, sementara Claire berada diurutan kedua. Bahkan jika dibandingkan dengan Claire saja, Helena bukan apa-apa. Seperti yang dikatakan oleh Gretta, kalau Helena hanya orang kaya biasa.
Namanya bisa dikenal karena dia merupakan model papan atas yang kariernya sedang berada di puncak. Kariernya pun bisa seperti sekarang atas dukungan dari Sean. Tanpa Sean, dia hanya model biasa pada awalnya. Seanlah yang membuat nama Helena di kenal di berbagai negara.
Wajah Helena memerah mendengar hinaan Gretta. Dia tidak bisa berkata-kata setelah mendapatkan serangan dari Gretta.
"Mulutmu sangat besar. Beraninya menghina kak Helena. Aku bahkan tidak mengenal dirimu. Jika kau memang kaya seperti yang kau katakan pada kami, sekarang beritau aku dari keluarga mana kau berasal?"
"Gretta, sudahlah. Lebih baik kita pergi." Sebelum Gretta membongkar identitasnya, Claire langsung menarik tangan Gretta pergi dari sana.
Gretta yang belum pernah mendapatkan hinaan seperti merasa kesal. "Claire, kenapa kau diam saja saat dia menghinamu?"
__ADS_1
Claire terus menarik tangan Gretta menajauh dari sana. "Mereka tidak tahu siapa aku. Aku menyembunyikan identitasku," jawab Claire.
Gretta seketika menghetikkan langkahnya. "Kenapa?" tanya Gretta dengan wajah heran.
"Aku akan menceritakannya nanti. Sekarang aku harus pergi sebelum Wild menemukanku." Claire lalu mengambil ponselnya lalu memencet nomor di layar ponselnya.
"Itu nomor ponselku yang baru. Aku akan menghubungimu lagi nanti, tapi aku mohon jangan sampai Wild tahu tentang keberadaanku dan nomor ponselku."
"Baiklah."
Claire segera pergi dari mall tersebut sebelum Wild datang. Saat Claire berjalan ke arah pintu keluar, ada sosok pria yang melihatnya.
Claire, akhirnya aku menemukanmu.
Pria itu berjalan cepat untuk mengejar Claire, tetapi dia terlambat, Claire sudah menaiki mobil.
Pria itu terus menatap ke arah mobil yang dinaiki Claire. Setelah mobil itu jauh, pria itu meriah ponselnya lalu mengetikkan sesuatu kemudian mengirim pesan pada seseorang, setelah itu dia menghubungi orang tersebut. "Lacak segera pelat nomor mobil itu."
********
Claire turun dari mobil ketika dia tiba di depan gedung tempat acara perusahaannya digelar. Dia tetap memilih untuk pergi, meskipun Sean melarangnya. Dia sempat mengirimkan pesan pada Sean bahwa dirinya menghadiri acara tahunan kantornya, tetapi tidak ada balasan darinya semenjak sore tadi hingga dia tiba di tempat acara.
"Claire, sedang apa kau di sini?"
Claire menoleh dan melihat Felix sedang berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Penampilan Felix malam ini terlihat sangat tampan. Jika dilihat dengan seksama, wajahnya Felix dan Sean terlihat ada kemiripan. Hanya saja garis wajah Sean lebih tegas dan dingin, sementara Felix lebih ceria dan mudah tersenyum.
"Aku sedang mencari temanku."
"Mana Sean, kenapa kau datang sendiri?" tanya Felix sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Aku tidak mengajaknya."
Felix mengerutkan kening. "Claire, apa Sean tidak memberitahumu kalau dia akan menghadiri pesta ini? Dia diundang khusus karena dia adalah CEO dari perusahaan induk. Aku kira dia akan mengajakmu datang kemari."
Mata Claire membesar, Sean bahkan tidak mengatakan mengenai hal itu. Belum hilang keterkejutannya, beberapa wanita nampak histeris saat melihat kedatangan seseorang.
"Itu CEO Sean."
"Dia tampan sekali."
__ADS_1
"Benar, sangat tampan."
"Sudah kuduga kalau dia akan datang dengan Helena."
"Mereka memang sangat cocok. Aku rasa Helena yang akan menjadi Nyonya Sean nantinya."
"Iyaa, aku dengar CEO Sean sudah melemar Helena. Lihat cincin selalu dipake Helena. Itu adalah cincin pemberian CEO Sean saat Helena berulang tahun."
"Helena memang gadis paling beruntung."
"Iyaa, aku sangat iri dengannya."
Suara-suara dari orang yang berada di dekat Claire terdengar jelas di telinganya. Claire menoleh ke kanan saat melihat dua orang sedang berjalan membela kerumunan orang dan sedang berjalan ke arahnya dan Felix.
Pandangan Claire dan Sean bertemu untuk sesaat kemudian tatapan Claire beralih pada Helena yang sedang mengaitkan tangannya pada lengan Sean. Wajar saja kalau banyak yang salah paham pada mereka. Helena menempel sangat dekat dengan Sean disetiap kesempatan yang ada.
Claire menatap ke bawah, menutupi ekspresi wajah menertawakan diri sendiri.
Jadi alasanmu melarangku untuk datang ke sini adalah karena Helena? Kau takut aku akan mengganggumu dan mengacaukan acaranya dengan kehadiranku.
"Nona Claire, ternyata kau di sini?" Helena menyapa Claire sambil tersenyum lebar.
Claire mengangkat kepalanya lalu tersenyum pada Helena.
Nona?
Helena bahkan tahu kalau dia adalah istri Sean, tetapi dia masih memanggilnya Nona. Sean juga tidak membenarkan panggilan Helena padanya. Itu berarti Sean memang tidak menganggap dia istrinya.
Claire kembali menertawakan dirinya. Pernikahan itu memang terjadi atas paksaan. Lalu apa lagi yang dia harapkan dari Sean?
"Tentu saja aku di sini. Ini adalah acara kantorku. Bukankah seharusnya aku yang bertanya? Untuk apa Nona Helena datang kemari?"
Sean nampak hanya diam dengan wajah dinginnya. "Aku ke sini untuk mendampingi Sean sebagai teman wanitanya."
Helena menjawab dengan wajah bangga sambil menoleh sejenak pada Sean kemudian mempererat pengangan tangannya pada Sean tanpa merasa malu sedikitpun.
Claire manggut-manggut sambil tersenyum sinis. "Fungsimu ternyata itu, tapi sayang sekali Nona Helena, kau hanya bisa menjadi teman wanitanya dan tidak bisa menjadi istrinya."
Bersambung....
__ADS_1