Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Truth Or Dare


__ADS_3

Claire kemudian menoleh pada Helena dan tersenyum penuh arti padanya tanpa melepas tangannya dari leher Sean. Senyuman Claire seperti menunjukkan kalau dia adalah pemenangnya.


Claire bisa melihat tatapan berapi-api dari Helena saat dia menatapnya. Dengan wajah acuh tak acuh, Claire mengalihkan pandangannya ke samping dan melihat para orang tuan juga sedang menatap ke arah mereka berdua dan seketika itu juga dia tersadar. Dia baru ingat kalau selain mereka, masih ada para orang tua.


Claire menarik pandangannya kemudian menunduk sambil merutuki kebodohannya. "Kenapa? Kau baru sadar kalau tingkah konyolmu itu sudah dilihat oleh semua orang?" Suara Sean terdengar seperti sedang mengejeknya.


Claire mengangkat kepalanya dan bertatapan dengan mata hitam Sean. Dia bahkan lupa bahwa tangannya masih berada di leher suaminya karena telalu malu ketika mengingat apa yang sudah dia lakukan tadi pada Sean.


"Maaf." Claire menurunkan tangannya lalu berniat untuk menjauhkan diri dari Sean, tapi ternyata pinggangnya ditahan olehnya, "Sean, lepaskan aku." Claire menatap bola mata Sean sambil meletakkan kedua tangannya di dada Sean untuk menjauhkan tubuhnya darinya.


Wajah Sean terlihat datar. Tidak ada gejolak apapun di wajahnya seolah kejadian tadi tidak mengganggunya sama sekali. "Kau sudah memanfaatkan aku untuk kepentinganmu dan setelah tujuanmu tercapai, kau langsung ingin menjauhiku. Claire, kau pikir aku ini apa?"


Claire akui kalau dirinya memang memanfaatkan Sean untuk membalas Helena, tapi setelah dipikir-pikir, dia tidak melakukan kesalahan apapun. "Kau adalah suamiku. Tidak ada salahnya jika aku menciummu. Beda cerita kalau aku mencium pria lain."


Sean melingkari pinggang Claire dengan satu tangan kemudian merapatkan tubuh mereka berdua lalu mendekatkan wajahnya di telinga Claire. "Jangan pernah berani mencobanya pada pria lain," bisik Sean dengan suara berat.


Tatapan mereka kembali bertemu kembali setelah Sean menjauhkan wajahnya dari Claire. "Hey, sampai kapan kalian akan bermesraan di sana! Apa kalian ingin membuat daging barbeque menjadi rasa obat!" teriak Aletha dengan wajah kesal.


Claire dan Sean seketika tersadar. Claire lalu berbalik dan melihat semua daging yang sedang di panggang sudah menghitam. "Bagaimana ini Sean, semuanya gosong."


Sean kemudian melepaskan tangannya dari Claire lalu berdiri di sampingnya. "Tidak apa-apa. Buang saja. Masih ada yang lain," ucap Sean.


Dengan panik Claire menyentuh daging yang sudah hitam dengan tangannya. "Aaww, panas." Claire memasukkan jari tangannya ke dalam mulutnya karena merasakan tangannya terbakar.


"Hati-hati, Claire," ucap Sean spontan.


Karena panik melihat asap hitam keluar darialat pemanggang, tangan satunya tanpa sadar terulur untuk membuang daging yang sudah menghitam, tapi dihentikan oleh Sean dengan menangkap pergelangan tangannya.


"Bukankah sudah aku bilang untuk hati-hati! Apa kau ingin membakar jari tanganmu yang satunya juga?" ujar Sean dengan nada tinggi.


"Maaf. Aku hanya refleks," ucap Claire dengan wajah bersalah.


Sean melepaskan tangan Claire lalu berkata, "Menyingkirlah. Biar aku yang mengurusnya."


Claire akhirnya menggeser tubuhnya ke samping kanan dan digantikan oleh Sean. Dari kejauhan terlihat seseorang terlihat sedang berjalan ke arah mereka berdua.


"Sean, biar aku yang melakukannya. Kau obati saja tangan Claire," ucap Felix ketika sudah berada di depan mereka.


"Aku tidak apa-apa," ucap Claire.

__ADS_1


Sean nampaknya tidak mendengarkan perkataan Claire. "Ikut aku." Sean menarik Claire masuk ke dalam rumah dan kembali lagi halaman belakang setelah mengobati lukanya.


"Duduk saja di sini." Sean menyuruh Claire untuk duduk di sampingnya tanpa memperdulikan tatapan kesal Helena dan Aletha pada Claire.


"Claire, bagaimana tanganmu?" Tuan Sam menghampiri Claire dengan wajah khawatir.


"Aku tidak apa-apa, Kakek. Kakek tidak perlu cemas," jawab Claire sambil tersenyum pada tuan Sam.


"Bagus kalau begitu." Tuan Sam kemudian kembali lagi ke kursinya yang semula.


Aletha dan Helena tidak hentinya menatap jijik pada Claire. Mereka menganggap kalau dia sengaja mencari perhatian pada Sean dan tuan Sam.


"Memanggang begitu saja tidak bisa. Malang sekali nasib Kakak Sean memiliki istri sepertimu," cibir Aletha tanpa segan.


Karena malas berdebat dengan Aletha, Claire memilih untuk tidak menanggapinya. "Aletha, lebih baik kau bantu kakakmu," ucap Sean dengan wajah datar.


Aletha langsung menampilkan wajah cemberutnya. "Aku tidak mau. Nanti kuku aku bisa rusak. Ada begitu banyak pelayan di rumah ini. Lebih baik suruh mereka yang melakukannya."


Aletha lalu berdiri dan berjalan masuk ke kediaman utama untuk memanggil bibi Mey. Dan kembali lagi bersamanya. Setelah bibi Mey datang, Felix kembali ke tempat duduknya.


"Bagaimana kalau kita melakukan permainan," usul Aletha ketika mereka sedang menikmati makanan mereka.


"Permainan truth or dare," jawab Aletha antusias.


"Itu ide bagus," kata Helen cepat.


Permainan itu memang sering kali dimainkan saat ada acara perkumpulan, pekemahan atau acara keakraban lainnya.


Dengan wajah acuh tak acuh, Sean berkata, "Aku tidak mau ikut. Ini adalah permainan anak kecil." Menurutnya permainan itu sangat konyol dan dia tidak pernah melakukannya seumur hidupnya.


"Aku setuju," sahut Felix, "Claire, bagaimana denganmu? Apa kau mau ikut?"


Claire berpikir sejenak. Dia sebenarnya juga tidak terlalu suka permainan itu karena dia pernah dikerjai oleh temannya saat dia masih sekolah dulu ketika memainkan permainan itu, tapi karena tidak enak dengan yang lainnya, terpaksa dia menyetujuinya.


"Baiklah. Aku ikut," jawab Claire.


Felix kemudian menatap Sean yang berada di depannya. "Sean, ikutlah. Ini hanya permainan untuk sekedar bersenang-senang."


"Iya Kak, ikut saja. Tidak seru jika kau tidak ikut," desak Aletha.

__ADS_1


"Benar Sean. Akan lebih seru jika kau ikut. Dari pada kau hanya diam, lebih baik ikut bermain bersama kami," bujuk Helena dengan lembut.


Claire merasa muak mendengar nada bicara Helena yang terkesan dibuat-buat.


"Baiklah."


Felix mulai menjelaskan aturan mainnya pada semuanya. "Kita akan memutar botol itu secara bergantian. Kepada siapapun botol ini mengarah, orang tersebut harus memilih truth or dare, tapi di sini aku akan mengubah permainannya. Semua akan dimulai dengan pertanyaan lebih dulu dari siputar botol baru kemudian memilih truth or Dare. Setelah pertanyaan dibacakan, orang yang ditunjuk oleh botol, bisa memilih menjawab dengan jujur pertanyaan itu atau tidak. Jika memilih tidak, maka dia harus menghabiskan satu gelas minuman beralkohol yang sudah disiapkam. Jika seandainya saat memutar botol dan mengenai diri sendiri, dia harus memutarnya lagi hingga mengenai orang lain. Bagaimana apa kalian mengerti?"


"Mengerti," jawab mereka serempak.


Sebenarnya, Claire tidak setuju, bagaimana pun dia tidak kuat minum. Jika dia memilih tantangan dari pada kejujuran, dia pasti akan mabuk malam ini.


Permainan akan digilir sesuai urutan tempat duduk. Putaran pertama dilakukan oleh Helena dan botol tersebut mengarah pada Felix. "Pertanyaannya adalah apakah ada gadis yang kau sukai saat ini? Jika ada, bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya."


Felix berpikir sejenak. "Aku pilih truth," jawabnya.


"Baiklah," ucap Helena kemudian.


"Ada wanita yang sedang aku sukai saat ini. Pertama kali melihatnya, dia sedang duduk di halte dengan keadaan basah kuyup, hatiku tanpa sadar tersentuh. Ketika aku melihat mata hazelnya, jantungku langsung berdebar kencang dan saat itu juga aku merasa tertarik padanya."


Setelah Felix selesai bicara, ada perasaan familiar ketika Claire mendengar perkataannya.


"Baiklah, selanjutnya giliranku." Aletha memutar botol dan ternyata kembali mengarah kepada Felix. "Pertanyaannya adalah sebutkan ciri-ciri wanita yang kau sukai itu?"


"Aku pilih truth," jawab Felix cepat.


"Baiklah."


"Rambutnya pirang kecoklatan, bibirnya tipis, hidungnya mancung, kulitnya putih, dan bola matanya berwarna hazel," ucap Felix.


Mendengar itu, Claire menunduk sambil berpikir. "Kenapa aku merasa ciri-ciri yang disebutkan oleh Felix mirip denganku?"


Saat Claire mengangkat kepalanya, semua mata sedang tertuju padanya, termasuk Sean. Seketika itu juga, dia merasa seperti jadi tersangka.


"Sekarang giliranku." Sean memegang botol kemudian memutarnya dan sialnya lagi botol itu kembali mengarah pada Felix.


Sean menatap Felix dengan wajah serius lalu berkata, "Aku ingin tahu siapa nama wanita yang kau sukai itu?"


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2