Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Tersiksa


__ADS_3

Sudah 5 hari ini Sean merasakan mual dan muntah di pagi hari. Itu sebabnya dia hanya bisa berbaring di kamar setiap pagi dan akan berangkat ke kantor pada siang harinya. Setiap pagi dia akan sarapan di kamar bersama dengan Claire dan akan makan bersama dengan keluarganya pada malam hari.


Seperti malam ini, setelah selesai mandi, dia mengajak Claire turun ke bawah untuk makan malam. Saat makanan dihidangkan, ada salah satu hidangan yang tidak disukai oleh Sean yang berada di atas meja makan.


"Bibi Mey, singkirkan ikan ini dari meja, aku tidak suka baunya."


Semua yang ada di ruangan itu seketika menoleh pada Sean dengan wajah terkejut, pasalnya, ikan tersebut adalah salah satu ikan kesukaanya.


"Sean, ada apa denganmu? Bukankah kau sangat menyukai ikan ini?" ujar Felix dengan wajah heran.


"Itu dulu. Sekarang tidak suka lagi." Sean menoleh ke belakang. "Bibi Mey, jangan pernah menyajikan ikan ini lagi di hadapanku," ucap Sean dengan wajah marah.


"Baik, Tuan Muda." Bibi Mey melangkah maju untuk mengangkat olahan kita yang dimaksud oleh Sean.


"Kenapa tiba-tiba tidak suka?" Ibu Sean menatap anaknya dengan wajah heran.


"Aku tidak suka baunya, membuatku mual." Jawaban Sean membuat semua orang yang ada di meja makan saling bertukar pandang.


"Kau seperti orang hamil saja," celetuk Felix dengan wajah acuh tak acuh.


Semua orang yang ada di meja makan kembali saling melirik. Claire bahkan menelan salivanya setelah mendengar celetukan Felix. Di rumah itu, yang tahu Claire sedang hamil hanya kakeknya saja. Claire berencana memberitahukan kabar bahagia itu beberapa hari lagi setelah memeriksakan kandungannya bersama kakek Sam.


"Jangan bicara omong kosong. Bila didengar orang lain, kau mungkin akan dikatakan gila nanti."


Dengan wajah acuhnya, Sean mulai menyendokkan nasi dan lauk ke dalam piringnya. Selesai makan, Sean kembali memanggil bibi Mey ke ruang kerjanya.


"Ada apa, Tuan Muda?"


Sean yang sedang sibuk dengan urusan kerjanya, seketika mengangkat kepalanya, menatap ke arah bibi Mey ketika bibi Mey memasuki ruangannya.


"Sedang apa istriku?"


"Nyonya muda sedang berada di kamarnya."


Sean manggut-manggut lalu berkata, "Bibi Mey tolong buatkan aku manisan buah."


Bibi Mey nampak bingung mendengar permintaan Sean. "Sekarang, Tuan Muda?" tanya Bibi Mey.


"Ya, aku ingin memakannya sekarang."


"Tapi manisan buah harus di simpan selama beberapa waktu baru bisa dinikmati, Tuan Muda."


Sean nampak berpikir sebentar. "Bagaimana kalau saya belikan saja di luar. Saya tahu di mana tempat manisan buah yang enak."


Sean menggeleng lalu berdiri. "Tidak perlu. Berikan saja alamatnya, aku akan pergi ke sana sendiri."

__ADS_1


Setelah diberikan alamat oleh bibi Mey, Sean berjalan menuju kamarnya. Dia ingin mengajak Claire untuk membeli manisan buah bersama-sama. Baru saja membuka pintu, dia melihat istrinya baru saja selesai mandi. Sean terdiam beberapa saat ketika melihat penampilan istrinya yang sangat seksi menurutnya.


Piyama tidur satin tipis dan pendek yang melekat di tubuhnya memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah dan sedikit berisi. Sean menghampiri istrinya yang baru saja duduk di depan meja rias.


"Sean, jangan menggangguku," ucap Claire ketika Sean memeluknya dari belakang.


"Claire, kau bilang akan memberikan satu kesempatan lagi untukku, bukan?" Sean mulai memberikan kecupan singkat leher istrinya saat Claire sedang mengoleskan krim di wajahnya.


"Iyaa, lalu kenapa?" tanya Claire tanpa menoleh pada suaminya.


"Bisakah kau menerimaku sepenuhnya malam ini?"


Sean kembali memberikan kecupan pada leher istrinya, sementara tangannya terulur melepaskan tali kimono berbahan satin yang dikenakan istrinya.


"Bukankah kita sudah pernah melakukannya di rumahku?"


Meskipun sudah berbaikan, mereka tidak pernah melakukan hubungan suami istri setelah Claire kembali ke rumah Sean lagi. Terakhir mereka melakukannya saat masih berada di rumah Claire, itu pun hanya satu malam, meskipun saat itu Sean melakukannya berkali-kali, tapi tetap saja hubungan mereka tidak seperti dulu. Claire terlihat masih berhati-hati pada Sean, meskipun sebenarnya dia sudah tahu kalau Sean tidak bersalah.


"Iyaa, tapi itu sudah lama, Claire."


Sean melepaskan kimono satin milik istrinya lalu mulai mengecup bahu istrinya yang membuat Claire merasakan gelenyar aneh ketika tangan Sean menyentuh tubuh bagian depannya dan terus memberikan sentuh lembut di bahunya menggunakan bibirnya.


"Sean, aku bukannya tidak mau, tapi...." Claire menghentikan ucapannya ketika tangan Sean mulai masuk ke dalam pakaian tidurnya.


"Aku tidak bisa menahannya lagi, Claire. Aku mohon jangan tolak aku, aku bisa gila nanti."


"Bolehkah, aku melakukannya?" Sean meminta ijin lebih dulu sebelum memulainya.


Claire terlihat ragu untuk beberapa saat. "Baiklah, tapi pelan-pelan."


Meskipun tidak tahu maksud dari perkataan istrinya, Sean tetap mengangguk lalu menyatukan bibir mereka berdua dan melu-matnya dengan tergesa-gesa. Kali ini, Claire langsung membalas ciumam suaminya dengan tempo yang cukup cepat guna mengimbangi permainan bibir suaminya.


Keduanya terlihat masih menikmati dan masih enggan untuk menghentikannya. Ciuman mereka semakin lama semakin memanas dan bergai-rah. Claire bahkan tidak sadar kapan Sean menanggal semua pakaian mereka.


"Claire, malam ini, tolong jangan hentikan aku, karena aku sudah lama menahannya."


"Iyaa, lakukanlah semaumu. Aku juga menginginkanmu, Sean."


Sean tersenyum bahagia, setelah itu, dia langsung melakukan penyatuan dengan hati-hati sesuai permintaan istrinya. Sean seperti tidak mengenal lelah. Dia terus memacu tubuh istrinya tanpa henti.


"Kau sungguh membuatku gila, Claire."


Selanjutnya hanya suara-suara lengu-han yang terdengar di dalam kamar itu hingga menjelang dini hari. Setelah selesai melakukannya, Sean memeluk tubuh polos istrinya dari belakang.


"Aku sangat menginginkan anak darimu, Sayang. Aku ingin kau segera mengandung anakku."

__ADS_1


******


Pagi harinya, seperti biasanya, Sean kembali merasa mual dan muntah. Dia masih berbaring di tempat tidur karena merasa tubuhnya sangat lemas. Selain karena muntah, tubuhnya juga lemas setelah melalukan olahraga malam yang menghabiskan waktu sangat lama.


"Aku akan membuat teh jahe untukmu. Tunggu di sini."


Baru saja akan melangkah, Sean membuka mulutnya. "Minta bibi Mey membeli mangga muda, strawbery dan finger lime."


"Sean, finger lime sangat sulit di cari di sini. Bagaimana kalau ganti yang lain?" tawar Claire.


Buah yang tergolong mahal itu, hanya bisa di temukan di negara asalnya atau negara tertentu. Kalaupun di negara M ada dijual, sangat sulit mencari dan harganya sangat mahal. Bisa mencapai 200-300 dolar per-kilonya.


"Baiklah, ganti saja dengan buah wampee. Aku akan menyuruh orang untuk membeli buah finger lime di luar negeri."


Claire menghela napas. "Baiklah, apa ada yang ingin kau makan lagi?" tanya Claire sebelum dia keluar dari kamar.


"Minta bibi Mey buatkan aku mie rebus yang pedas."


"Bukankah kau tidak suka makan mie dan makanan pedas?"


"Aku ingin memakan itu, rasanya air liurku akan menetes hanya dengan membayangkannya."


"Baiklah, kau tunggu di sini. Beristirahatlah dulu."


Setelah kepergian Claire, Sean meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Aku akan ke kantor siang nanti," ucap Sean setelah panggilan telponnya sudah terhubung.


"Apa Casandra sudah kembali ke negaranya?"


Terdengar jawaban dari sana. "Aku tidak mau besok. Suruh orang membawanya hari ini juga, jika dia menolak, bawa dia dengan paksa. Aku tidak mau dia membuat kekacauan lagi."


Setelah mendengar jawaban dari sebrang sana, Sean mematikan telponnya. "Sebenarnya ada apa denganku? Dokter bilang aku tidak apa-apa, tapi kenapa aku merasa lemas dan mual di pagi hari? Mual ini benar-benar menyiksaku."


Siang harinya, setelah merasa tubuhnya kembali segar, Sean bersiap untuk pergi ke kantor. "Sean, hari ini bisakah kau pulang cepat?" tanya Claire sambil menghampiri Sean yang sedang mengancingkan kemejanya.


"Kenapa?" tanya Sean sambil menatap Claire yang sudah berdiri di depannya.


"Ada hal penting yang ingin aku beritahukan padamu." Claire membantu Sean mengancing kemeja suaminya.


"Apa?" tanya Sean dengan cepat.


"Pulanglah cepat jika ingin tahu."


"Baiklah."


Claire berencana ingin memberitahukan tentang kehamilannya pada Sean malam nanti. Hari ini dia berencana untuk ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya karena ingin memberikan kejutan pada suaminya dengan menunjukkan hasil USG kehamilannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2