
Gretta dan Wild berjalan dengan cepat masuk ke dalam rumah sakit setelah turun dari mobilnya. Wajah terlihat sedikit panik. Setelah bertanya pada petugas rumah sakit, Gretta dan Wild langsung menuju ruangan bersalin di mana Claire berada. Di sana semuanya masih setia menunggu di ruang bersalin.
Terlihat ibu Sean dan kakek Sam masih duduk menunggu dengan cemas, sementara Kenz dan Felix berdiri di dekat pintu. Gretta dan Wild kemudian mendekat ke ruang bersalin dan menyapa kakek Sam dan ibu Sean dengan sopan lalu mendekati Felix.
"Bagaimana keadaan Claire?" tanya Wild pada Felix yang sedang memunggunginya.
Felix menoleh, kemudian berbalik setelah melihat siapa yang sedang bertanya padanya. Sebelum berbicara, Felix melirik sebentar pada Gretta lalu beralih menatap Wild kembali. "Dia masih di dalam."
Felix tersenyum tipis seraya menatap Wild dengan wajah mengejek. "Tuan Wild Jeferson, tidak aku duga kau datang begitu cepat ke sini setelah Claire masuk rumah sakit. Sepertinya kau masih belum bisa melupakan mantan kekasihmu itu. Kau seharusnya sadar, saat ini dia sedang berjuang melahirkan anak Sean, penerus keluarga Louris. Kau sudah tidak memiliki tempat di hatinya."
Mendengar nada sinis dari Felix, Wild menampilkan wajah datarnya. "Tuan Felix, sepertinya kau salah paham padaku. Aku ke sini bukan sebagai mantan kekasihnya, tetapi sebagai temannya. Aku sudah melepasnya dan tidak pernah berniat untuk merebutnya kembali."
Melihat Felix salah paham pada kakak sepupunya, Gretta akhirnya angkat bicara. "Felix, kau salah paham. Aku yang mengajak kakakku ke sini."
Felix beralih menatap Gretta kemudian berkata, "Sejak kapan kau di kota S?"
Gretta menunduk ke bawah ketika Felix menatapnya dengan lekat. "Dua hari yang lalu."
"Kenapa tidak menemuiku jika kau sudah 2 hari di sini?" tanya Felix, masih dengan menatap Gretta dengan lekat.
Tiba-tiba Wild menarik Gretta ke arahnya. "Untuk apa adikku menemuimu? Di antara kalian berdua, tidak alasan untuk saling menyapa apalagi bertemu," ucap Wild dengan dingin.
Felix tersenyum miring kemudian menatap ke arah Wild. "Kalau sikapmu seperti ini, tidak akan ada pria yang berani mendekati adikmu. Aku hanya ingin berteman dengannya, memangnya tidak boleh?"
"Tidak. Cari saja gadis lain."
Gretta hanya bisa diam dan tidak berani mengeluarkan suara apapun. Tiba-tiba dari dalam terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang. "Ooeeeek."
Semua orang langsung menoleh ke arah pintu dengan wajah senang. Suara tangis bayi itu terdengar terus menerus dari dalam ruang bersalin. "Ooeeeeeek."
Felix tersenyum seraya menatap ke arah pintu. "Akhirnya lahir juga penerus keluarga Louris. Kehadirannya sudah ditunggu oleh banyak orang."
Wild terdiam lalu menoleh pada Gretta. "Aku ke kantin dulu, kau tunggu di sini saja."
Gretta mengangguk, setelah itu menatap kepergian kakak sepupunya. "Sepertinya kakakmu sangat kecewa. Ini adalah akhir dari kisah cintanya. Berikan dia waktu untuk menenangkan dirinya."
Gretta seketika menoleh pada Felix. "Aku tahu, ini pasti sulit untuknya. Hubungan mereka sudah terjalin sangat lama dan Claire adalah pacar pertama sekaligus cinta pertamanya. Pasti tidak mudah baginya untuk menerima semua ini."
"Lalu kenapa kau tidak pernah menghubungiku sekalipun semenjak kepulanganmu ke kota A? Apa Wild melarangmu dekat denganku?" Felix langsung mengubah topik pembicaraan mereka secara tiba-tiba.
__ADS_1
"Tidak. kakakku tidak pernah melarangku. Bukankah kau sedang sibuk dengan wanita lain?" Jantung Gretta berdebar tidak karuan hanya dengan bertatapan dengan mata hitam Felix.
"Maksudmu?" Dahi Felix mengerut karena merasa heran.
"Aku tidak sengaja melihatmu kemarin malam bertemu dengan seorang wanita di restoran tempatku menginap."
Kerutan di dahi Felix seketika menghilang setelah mendengar ucapan Gretta. "Ternyata kau menginap di sana." Felix tersenyum, "seharusnya kemarin malam kau mendatangiku."
Gretta mengalihkan pandangannya ke samping. "Aku tidak mau mengganggumu."
Felix tersenyum tipis seraya memasukkan tangan ke saku celananya. "Aku datang ke sana untuk kencan buta. Ibuku yang mengaturnya. Aku sama sekali tidak menyukainya."
"Aku tidak bertanya," ucap Gretta dengan suara pelan.
Felix tersenyum tipis, membungkuk lalu berbisik di telinga Gretta. "Aku hanya ingin kau tahu agar kau tidak salah paham padaku." Wajah Gretta seketika memerah dikarenakan jarak tubuh mereka sangat dekat.
********
Setelah Claire di pindahkan ke kamar perawatan. Semua orang baru bisa menemuinya. Claire nampak sedang berbaring di tempat tidur dengan wajah lelah dan sedikit pucat namun nampak terlihat sangat bahagia.
"Ayah, lihatlah cucuku. Wajahnya sangat cantik, bukan?" ujar Ibu Sean seraya menatap gemas pada bayi yang berada di dalam gendongannya.
Wajah anak Sean memang sangat mirip dengannya. Claire hanya mewariskan kulit putih susu pada anaknya, lainnya, diambil dari Sean. Hanya dengan melihat wajahnya saja, orang akan tahu kalau bayi itu adalah anak Sean.
"Sayang, terima kasih karena sudah melahirkan anak yang sangat cantik untukku. Aku sangat bahagia dengan kelahiran anak pertama kita," ucap Sean seraya mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali.
Claire tersenyum pada Sean yang sedang duduk di samping ranjangnya. "Iyaa. Aku juga sangat bahagia. Ternyata keinginanmu untuk memiliki anak pertama perempuan benar-benar terwujud."
Mereka memang sengaja meminta Dokter untuk merahasiakan jenis kelamin anak pertama mereka. Tadinya, mereka memang ingin segera tahu jenis kelamin anak mereka, tetapi setelah berpikir ulang, mereka akhirnya sepakat untuk mengetahui jenis kelamin anak mereka setelah lahir.
"Iyaaa, aku sangat senang. Dia sangat menggemaskan, Sayang, sama sepertimu. Selanjutnya, aku ingin memiliki anak laki-laki."
Claire menghela napas mendengar keinginan suaminya. "Itu kita pikiran nanti saja, aku baru melahirkan, Sean."
"Iyaa, Sayang, aku tahu. Aku hanya memberitahumu saja," ucap Sean sambil tersenyum lembut pada istrinya.
"Sean, di mana Gretta? Ibu bilang tadi dia datang ke sini."
"Dia sedang bersama dengan Felix, nanti dia akan ke sini," jawab Sean.
__ADS_1
Gretta sengaja tidak langsung masuk karena takut mengganggu Claire yang sedang beristirahat. Alasan lainnya juga karena Felix langsung membawanya pergi setelah Claire di pindahkan ke ruang perawatan.
Ibu Sean terlihat menghampiri Claire dan Sean yang sedang berbincang. "Sean, apa kau sudah menyiapkan nama untuk anakmu?" tanya Ibu Sean seraya menatap ke arah cucunya yang sedang terlelap di gendongannya.
"Sudah Ibu, aku akan memberikannya nama Valencia Alexander Louris."
"Nama yang cantik, secantik wajahnya," ucap Ibu Sean dengan wajah senang. Ibu Sean seketika teringat sesuatu, "oh yaa, Claire, ayah dan ibumu sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin mereka akan tiba sore nanti," ucap Ibu Sean seraya menatap Claire.
"Iyaa, Ibu." Melihat anaknya tertidur di gendongan mertuanya, Claire berkata, "Ibu, letakkan saja di box jika dia sudah tertidur, Ibu bisa pegal nanti jika terus menggendongnya."
"Tidak apa-apa. Ibu tidak pegal sama sekali. Ibu masih ingin menggendongnya. Dia sangat menggemaskan.
"Tentu saja sangat menggemaskan, dia anakku, Ibu," sahut Sean dengan bangga.
Ibu Sean mendengus, tapi kemudian tersenyum. Dia akui kalau perkataan Sean benar adanya. "Itukah sebabnya kau mewariskan semua wajahmu padanya? Kau takut dia tidak mau mengakuimu sebagai ayahnya, ya?" gurau Ibunya.
"Ibu, itu tandanya aku sangat menyanyangi istriku. Maka dari itu, anakku mirip sekali denganku. Aku ingin semua anakku nanti mirip denganku, jadi Claire akan selalu ingat padaku setiap saat."
Claire mengulum senyumnya, sementara Ibu Sean mencibir. "Kasihan Claire kalau seperti itu. Dia yang mengandung, tapi semua anak kalian mirip denganmu. Tentu saja itu tidak adil untuknya."
Sean nampak santai mendengar ucapan ibunya. "Aku hanya ingin agar Claire selalu ingat denganku, Ibu. Aku tidak mau dia berpaling dariku." Sean menoleh pada istrinya, "kau tidak keberatan kan kalau anak kita yang lainnya nanti mirip denganku juga?"
Claire tertawa kecil mendengar penuturan suaminya. Bagaimana mungkin dia bisa seyakin itu kalau semua anak mereka nantinya akan mewarisi wajahnya. "Iyaa. Aku tidak keberatan. Aku akan senang kalau semua anak kita mirip denganmu. Itu tandanya kau begitu menyayangiku, kan?"
Sean menampilkan senyum tipisnya. "Tepat sekali, kau memang pintar, Sayang. Pasti menyenangkan kalau kita memiliki banyak anak yang lucu dan menggemaskan."
Ibu Sean ikut menimpali. "Iyaa, selama ini keluarga kita ingin memiliki banyak anak, tapi sulit. Ibu juga berharap kalian memiliki banyak anak agar rumah kita ramai, tapi untuk sekarang, kita fokus saja pada baby Valencia."
"Ibu tenang saja. Aku akan memberikan semua hal terbaik untuk anakku. Akan kubuat dia menjadi anak paling bahagia di dunia ini."
......END......
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Terima kasih kepada readers yang sudah membaca dan mendukung karya Author "Istri Untuk Sean"
Jika suka dengan cerita ini, mohon bantu berikan bintang 5 Yaa..
Jika tidak suka, cukup abaikan saja. Terima kasih sekali lagi.
__ADS_1