Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Kejutan Tidak Terduga dari Claire


__ADS_3

Hari keempat, Claire mengajak Sean untuk berjalan di sekitar pantai di sore hari. "Sean, bagaimana kalau kita lomba lari?"


Sean terlihat mengerutkan keningnya dengan wajah aneh. "Siapa yang bisa mencapai pohon itu lebih dulu, dia akan menjadi pemenangnya dan yang kalah harus menuruti permintaan dari pemenang. Bagaimana?" tanya Claire lagi.


Sean menggelengkan kepalanya tanda menolak ajakan Claire. Baginya, itu adalah permainan anak-anak. "Ayoolah. Tidak ada orang di sini. Kau tidak perlu malu," ucap Claire lagi seolah tahu apa yang ada dipikiran Sean.


Setelah didesak oleh Claire terus-menerus, Sean akhirnya mengalah dan mengikuti kemauan istrinya. "Ingat ya, batasnya sampai pohon itu," ucap Claire lagi sebelum mereka berlari.


Sean hanya mengangguk. "Baiklah, setelah aku hitungan ketiga, baru boleh lari," jelas Claire lagi.


Sean kembali mengangguk. Setelah Claire memberikan aba-aba dan mereka pun berlari. Sean terlihat sudah jauh di depan Claire, tapi saat Sean akan mencapai finish, Claire tiba-tiba berteriak. "Sean, tolong aku. Kakiku sakit."


Sean berhenti lalu menoleh pada Claire yang sudah terduduk di pasir sambil memegang pergelangan kaki kanannya, melihat itu Sean langsung berlari mendekati istrinya. "Kau kenapa?" Sean berjongkok di depan Claire dengan wajah cemas.


"Kakiku terkilir." Claire terlihat meringis, menahan sakit.


"Kita kembali saja. Aku akan menggendongmu."


Claire dengan cepat menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Hanya sakit sedikit. Tolong ambilkan saja topiku di sana. Aku ingin duduk bersantai di sini."


Sean lalu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Claire. "Yang itu?" tanya Sean sambil menunjuk topi putih yang tergeletak di tempat mereka tadi berdiri, sebelum berlari.


"Iyaaa. Benar."


Sean berdiri lalu berkata, "Baiklah. Tunggu di sini."


"Iyaaa."


Claire tersenyum misterius saat melihat Sean berbalik dan berjalan ke arah yang dia tunjuk tadi. Saat Sean berhasil mengambil topinya, dia terkejut saat melihat Claire sudah berada di bawah pohon dengan senyum lebarnya. Pohon itu sebagai tanda garis finis perlombaan mereka.


"Sean, aku menang dan kau kalah."


Sean terdiam beberapa saat kemudian tersenyum miring ketika menyadari kalau dia sudah dibodohi oleh Claire. "Kau pura-pura sakit tadi?" Sean berjalan cepat ke arah Claire sambil memegang topi di tangan kirinya.


"Kau saja yang bodoh. Bisa-bisanya tertipu olehku." Claire menampilkan wajah acuh tak acuhnya ketika Sean sudah berada di depannya.


Bodoh?


Hanya Claire satu-satunya orang yang berani mengatakannya bodoh dan ini kedua kalinya dia mengatakan itu padanya.


"Beraninya kau mengerjaiku." Sean mendekati Claire lalu menangkap tubuhnya dari belakang kemudian menggelitiknya hingga Claire terbaring di pasir.


"Maafkan aku. Aku tidak akan mengulanginya lagi." Claire terus tetawa karena tidak bisa menahan rasa geli pada tubuhnya ketika Sean tidak hentinya menggelitik tubuhnya.


"Sean, tolong berhenti. Aku minta maaf."

__ADS_1


Sean akhirnya berhenti setelah Claire meminta ampun beberapa kali. Sean mengatur napasnya yang tersengal-sengal sambil menatap Claire yang ada di bawahnya. "Jangan berani mengerjaiku lagi."


Wajah Claire memerah dan napasnya juga tidak beraturan. "Iyaa, aku janji."


Claire mengalungkan tangannya pada leher Sean lalu melu-mat bibirnya dengan lembut sambil memejamkan matanya. Sean awalnya hanya diam, kemudian mengambil kendali dan mulai mence-cap dan menye-sap bibir istrinya dengan rakus.


Saat merasakan napas suaminya mulai panas, Claire melepaskan pagutan mereka dan mendorong tubuh suaminya dengan lembut. "Kau sudah kalah. Kau harus menuruti permintaanku."


Sean kira Claire sudah melupakan permainan bodoh itu, nyatanya Claire masih mengingatnya. "Baiklah. Apa yang kau inginkan?"


"Gendongku dari belakang sambil menelusuri pantai ini."


Sean berpikir sebentar lalu bangkit, setelah itu berjongkok di samping Claire. "Baiklah. Ayo naik."


Claire adalah orang pertama yang digendong oleh Sean dengan cara seperti itu ketika mereka masih kecil. Saat itu, setelah menolong Claire, Sean menggedong Claire di punggungnya. Itulah sebabnya Claire ingin mengulang masa itu lagi.


Setelah naik ke punggung Sean, Claire meminta Sean menyusuri pantai. Mereka terlihat bahagia, meskipun Sean tidak banyak bicara, tapi dia terlihat beberapa kali tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Claire.


"Sean, ayo coba berjalan ke sana. Aku ingin merasakan ombak mengenai kakiku."


Sean mengangguk lalu menggedong Claire mendekati gelombang kecil yang ada di pinggir pantai lalu menurunkannya dengan hati-hati. "Airnya dingin," ucap Claire sambil tersenyum ketika kakinya terkena air.


"Sean, gendong aku lagi."


Sean kembali menggedong Claire lalu menulusi pantai sambil memadangi pemandangan sekitar. Claire terlihat sangat senang. Dia kemudian menempelkan wajahnya di punggung Sean.


Sean hanya diam sambil menoleh ke belakang sebentar, setelah itu kembali berjalan. Setelah berada cukup jauh, Sean kembali ke vila dan ternyata Claire sudah tertidur di punggungnya.


******


Malam harinya, Sean dan Claire duduk di luar vila sambil memandang bintang di langit. "Sean, besok adalah hari terakhir kita di sini. Aku ingin menghabiskan malam ini lebih lama denganmu."


Sean menoleh pada Claire lalu berkata, "Kenapa berbicara seolah-olah tidak akan bertemu lagi denganku?"


Claire tersenyum. "Bukan begitu. Setelah kita kembali, kau akan sibuk dengan urusan pekerjaan. Kau pasti akan mengabaikan aku," ucap Claire dengan suara rendah.


"Aku tidak akan mengabaikanmu."


Claire menoleh pada Sean dan menatapnya dengan seksama.


"Tunggu di sini." Sean masuk ke dalam kamar lalu kembali membawa selimut, "di luar dingin."


Sean membungkus tubuh Claire dengan selimut tebal setelah itu kembali ke tempat duduknya, tapi baru saja dia duduk, Claire justru berdiri dan tiba-tiba duduk di pangkuannya lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua.


"Begini lebih baik," ucap Claire sambil menyandarkan tubuhnya pada dada Sean dan meletakkan kepalanya di bahu suaminya.

__ADS_1


Sean tidak bicara, dia membenahi selimutnya lalu memeluk tubuh Claire dari belakang. "Besok kau ingin ke mana?" tanya Sean setelah terdiam beberapa saat serwya menatap ke depan.


"Aku ingin di kamar saja, menghabiskan waktu berdua denganmu."


"Baiklah."


Setelah duduk di luar selama 2 jam, mereka akhirnya masuk ke dalam kamar. Karena merasa kedinginan, mereka akhirnya berendam air hangat berdua selama setengah jam dan keluar setelahnya. Claire terlihat memakai bathrobe, sementara Sean hanya mengenakan celana rumah dan bertanjang dada.


"Aku lelah sekali hari ini." Claire merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan malas.


"Ganti baju dulu baru tidur?" Sean mendekati tempat tidur lalu duduk di samping Claire.


"Aku tidak mau. Aku mau memakai ini saja."


Sean tidak bicara lagi dan ikut berbaring di samping istrinya. Baru saja dia berbaring, Claire sudah memeluk tubuhnya dengan erat.


"Ada apa?" tanya Sean sambil menunduk menatap Claire yang sudah membenamkan wajah di dadanya.


"Sean, apa kau suka anak kecil?"


Sean mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Claire, meskipun dia heran dengan pertanyaan Claire, tapi dia tetap menjawab pertanyaan istrinya. "Suka."


"Kalau disuruh memilih antara anak dan aku, siapa yang akan kau pilih?"


Kerutan di dahi Sean semakin jelas setelah mendengar pertanyaan aneh dari Claire. "Dua-duanya," jawab Sean setelah terdiam beberapa saat.


"Aku ingin mengandung anakmu, tapi ternyata aku belum hamil juga, padahal aku sangat menginginkannya."


Sean menjauhkan tubuhnya dari Claire kemudian mengangkat dagunya agar mereka bisa bertatapan. "Kalau begitu kita buat sekarang."


Sean langsung memposisikan diri di atas tubuh Claire lalu menatapnya dengan lekat. "Aku juga ingin kau segera hamil." Selesai mengatakan itu, Sean menyatukan bibir mereka berdua dengan cepat.


Claire tidak menolak, dia justru terlihat lebih agresif dari biasanya. Dia memangut bibir Sean dengan penuh gairah. Mereka berdua memagut dalam waktu yang lama hingga napas keduanya memburu. Sean segera mengakhiri pagutannya setelah tubuh mereka sudah polos dan selanjutnya Sean segera melakukan penyatuan.


Kini, yang terdengar di dalam kamar itu hanya suara lenguhan dan suara lain yang menggambarkan panasnya pergulatan mereka malam itu. Setelah Sean melepaskan semua benihnya di rahim istrinya, dia mengecup kening Claire lalu mengatur napasnya sambil memandang wajah istrinya yang sudah dipenuhi keringat.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" tanya Sean heran.


Claire tersenyum, mengulurkan telapak tangannya ke wajah Sean lalu membelai wajahnya dengan lembut sambil tersenyum.


"Kau sangat tampan, Sean. Akan aku simpan gambaran wajah ini dalam ingatanku. Mungkin saja aku akan merindukannya nanti saat aku sudah tidak bisa melihatnya secara langsung."


"Jangan bicara yang tidak-tidak. Kau bisa melihat wajahku kapanpun kau mau."


"Sean, ayo bercerai."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2