
Felix menghampiri Claire dan Gretta ketika mereka semuanya sudah berada di depan pintu utama. "Kau sudah mau pulang?" Felix menatap ke arah Gretta setelah berdiri di depannya.
Gretta menoleh sejenak pada Claire yang terlihat tersenyum padanya kemudian dia beralih menatap Felix. "Iyaa, aku takut kakakku mencariku."
Felix menoleh pada Claire lalu berkata, "Biar aku saja yang mengantarnya."
Claire mengangguk. "Maaf merepotkanmu."
"Tidak masalah." Felix tersenyum pada Claire kemudian menoleh pada Gretta. "Ikut aku. Itu mobilku." Felix menujuk mobil sportnya yang berwarna merah lalu berjalan ke arah mobilnya.
Karena sedang libur bekerja, Felix jadi bisa mengantar Gretta. Dia sengaja menawarkan diri untuk mengantarnya karena dia masih merasa bersalah dengan Gretta atas insiden yang terjadi semalam. Tadinya, Sean sudah menyuruh supir untuk mengantar Gretta ke hotel tempatnya menginap, tapi karena sudah ada Felix yang menawarkan diri untuk mengantar Gretta, Claire jadi merasa lega.
Sebenarnya, Claire ingin mengantar Gretta sampai ke hotelnya, hanya saja Sean melarangnya karena tidak mau kalau Claire bertemu dengan Wild. Claire akhirnya hanya bisa menelan kekecewaannya. Sean sendiri sedang berada di ruang kerjanya bersama dengan Kenz.
"Claire, lain kali kalau aku ke kota A lagi, aku akan menghubungimu," ucap Gretta seraya menoleh pada sahabatnya.
"Iyaa, hati-hati di jalan. Sampaikan salamku pada Wild."
Setelah berpamitan dengan Claire, Gretta berjalan ke arah mobil Felix yang terlihat pintu sebelahnya sudah terbuka. Baru saja Gretta duduk di kursi depan, Aletha datang menghampiri mobil kakaknya. "Kak, kau mau ke mana?"
"Mengantar Gretta kembali ke hotelnya," jawab Felix.
"Kak, aku mau ikut denganmu."
"Aletha, kau lihat sendiri mobilku bagaimana. Kau tidak bisa ikut dengan kami."
Mobil sport milik Felix hanya memiliki satu kursi kemudi dan satu kursi penumpang.
"Aku akan membawa mobilku sendiri dan mengikutimu dari belakang."
Tidak mau berdebat, Felix berkata dengan wajah acuh tak acuh. "Terserah kau saja."
Felix menaikkan kaca mobilnya dengan wajah malas. Sebenarnya dia merasa heran kenapa Aletha ingin mengikutinya, tapi karena males bertanya, Felix hanya membiarkan adiknya mengikutinya.
Setibanya di hotel, Felix dan Aletha kemudian mengantarkan Gretta sampai di depan kamarnya. Sebenarnya Gretta meminta untuk diantarkan sampai lobi hotel, hanya saja Felix bersikeras untuk mengantarnya sampai di depan kamarnya.
__ADS_1
Baru saja tiba di depan pintu kamar Gretta, pintu kamar sebelah terbuka dan ternyata Wild dan Helena yang keluar. Mereka bertiga seketika menoleh dengan wajah terkejut ke arah Wild dan Helena.
"Helena sedang apa kau di sini?" Felix berjalan menghampiri Helena yang terlihat sangat terkejut ketika melihat keberadaan Aletha dan Felix di sana.
"Aku... kami sedang...."
Felix menarik tangan Helena ke arahnya dan Helena sempat meringis menahan sakit karena pergelangan kakinya masih sakit. "Kakimu kenapa?" Felix bertanya saat melihat kaki Helena terlihat pinjang.
"Tidak apa-apa," jawab Helena sambil tersenyum paksa.
"Apa yang kau lalukan di sini dengan pria ini?" tanya Felix seraya menatap ke arah Wild dengan wajah tidak suka.
Wild hanya diam dengan wajah datarnya. Dia tidak berniat untuk menjelaskan apapun pada Felix karena menurutnya itu tidak perlu.
"Kak Helena, kau bilang tidak mengenalnya, tapi kenapa sekarang kau keluar dari kamar hotel ini bersamanya?"
Aletha terlihat menatap curiga sekaligus kesal pada Helena. Dia sudah menyukai Wild dari awal melihatnya dan Helena pun tahu hal itu, tapi Helena masih bersamanya.
"Nanti akan aku jelaskan," jawab Helena seraya menatap Felix dan Aletha secara bergantian.
Felix tentu saja mengenal Wild. Felix pernah menyelidikinya karena dia terlihat beberapa kali mengikuti Claire. Hanya saja, Felix tidak tahu kalau Gretta adalah adik sepupu Wild.
"Gretta, sudahlah. Kembali ke kamarmu sekarang. Kita akan pulang hari ini juga. Ayah dan ibumu menelponku tadi," ucap Wild seraya menoleh pada adik sepupunya.
Gretta tidak berani membantah dan hanya bisa berjalan ke arah kamarnya. "Jangan coba-coba dekati adikku. Jauhi dia. Aku tidak suka adikku berhubungan dengan keluarga Louris," ucap Wild seraya menatap Felix dengan wajah dinginnya.
Felix tersenyum miring mendengar ucapan Wild. "Bagaimana kalau aku tidak mau?" tantang Felix dengan arogan.
Wild memasukkan satu tangannya ke dalam saku sambil menatap Felix dengan wajah datarnya. "Silahkan saja coba dekati adikku, maka, kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan padamu."
Felix menatap ke bawah sejenak kemudian menatap Wild dengan senyum mengejek. "Tuan Jeferson, sepertinya kebencianmu pada Sean sudah mendarah daging, sampai-sampai kau juga membenciku, padahal, aku tidak memiliki salah apapun padamu."
"Sepertinya kau salah paham. Aku tidak membencimu. Hanya saja, aku tidak mau keluargaku terlibat dengan keluarga Louris."
Felix menatap Wild dengan seksama selama beberapa saat, setelah itu menoleh pada adiknya dan Helena. "Ayo, kita pulang."
__ADS_1
********
Setelah selesai makan malam, Sean dan Claire kembali ke kamarnya. Sean menuju tempat tidur, sementara Claire berjalan ke arah ruang ganti dan keluar tidak lama setelahnya.
"Sayang, kenapa kau memakai baju tipis itu lagi? Kau sengaja memancingku atau kau ingin menyiksaku?" tanya Sean ketika melihat istrinya kembali memakai lingeri berwarna hitam.
"Belakangan ini aku suka merasa gerah jadi aku merasa nyaman sekali kalau memakai baju seperti ini."
Claire berjalan ke arah tempat tidur dengan wajah acuh tak acuh. Semenjak perutnya membesar Claire memang menyukai baju yang longgar dan tipis. Dia tidak tahu kalau suaminya selalu berusaha menahan diri setiap dia memakai baju tipis seperti itu.
Sean meletakkan ponselnya setelah melihat Claire duduk bersandar di kepala tempat tidur. "Sayang, apa kau tidak kasihan padaku?" Sean tidur di pangkuan istrinya sambil menatapnya dengan wajah iba.
"Kasihan kenapa?" Claire berpura-pura tidak tahu, padahal, dia tahu apa maksud suaminya.
Sean memiring tubuhnya menghadap perut istrinya lalu berkata, "Kau sama saja menyiksaku, Sayang. Kau tahu sendiri, aku tidak bisa melihatmu memakai pakaian seperti ini," ucap Sean seraya menyingkap pakaian istirnya sehingga memperlihatkan perut besarnya.
Claire mengulum senyumnya mendengar keluhan suaminya. Dia kemudian membelai kepala rambut suaminya dengan lembut lalu berkata, "Ini keinginan anakmu. Dia tidak suka aku memakai pakaian tebal."
Sean bangun dari tidurnya dan tengkurap di depan perut istrinya lalu memberikan kecupan bertubi-tubi hingga Claire merasa geli. "Kau pasti merindukan ayah, bukan? Bagaimana kalau ayah menengokmu?" Sean berbicara di depan perut istrinya seraya mengelusnya. Selesai bicara, perut Claire bergerak.
"Lihat, Sayang. Dia menendang. Itu artinya dia memang merindukan ayahnya." Sean mendongakkan kepala dengan senyum lebarnya.
"Itu hanya kebetulan."
Sean menatap perut istrinya kembali. "Sayang, kau merindukan ayah, bukan? Apa kau setuju kalau ayah menengokmu?"
Perut Claire kembali bergerak. "Lihat, dia menendang lagi." Sean tersenyum sangat lebar setelah itu dia bangkit dan duduk di dekat istrinya.
"Aku janji akan melakukannya dengan pelan agar tidak menyakiti anak kita."
Claire menghela napas dengan wajah pasrah melihat wajah iba suaminya. "Baiklah, tapi hati-hati."
Senyum Sean langsung mengembang dan saat itu juga dia langsung membaringkan istrinya.
Bersambung....
__ADS_1