Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Keinginan Sean


__ADS_3

Sean membuka pintu mobil setelah mobilnya terparkir di halaman depan kediaman utama. Baru saja dia akan melangkah masuk, sebuah mobil berhenti tepat di belakang mobilnya. Sean menoleh ketika pintu depan mobil terbuka dan menampilkan senyum sumringah Felix dan kemudian disusul dengan Claire keluar dari mobil Felix.


Setelah Felix tinggal di kediaman utama, setiap pulang bekerja, Claire selalu pulang bersamanya, sementara di pagi hari, Sean yang akan mengantarkannya.


"Sean, kau sudah pulang juga." Felix melemparkan kunci mobilnya pada penjaga yang ada di depan, menyuruhnya untuk memarkirkan mobilnya, sementara mobil yang dikendarai Sean, dibawa pulang oleh Kenz.


Sean mendengus dingin mendengar sapaan sepupunya. "Melihatmu tersenyum bodoh membuat moodku hancur seketika," ucap Sean ketika melihat Felix tersenyum lebar sambil berjalan ke arahnya bersama dengan Claire.


Felix terlihat santak menanggapi kata-kata pedas Sean. "Kebetulan sekali kita bertemu," ucap Felix basa-basi.


Mendengar itu, Sean mendesis. "Bertemu denganmu setiap saat di rumah, itu bukan kebetulan, Felix." Sean menanggapi Felix dengan dingin.


Felix tidak tersinggung sedikitpun dengan kata-kata Sean yang tajam. Baginya, itu sudah biasa, tapi bagi orang yang baru mengenalnya pasti akan tertekan, sama seperti dengan Claire dulu. Sekarang, Claire sudah bisa sedikit memahami Sean.


"Benar juga." Felix tersenyum sambil mengusap tengkuknya, "aku terkadang lupa kalau kita tinggal di tempat yang sama sekarang. Aku sangat senang bisa tinggal di sini karena mengingatkanku pada masa kecil kita. Saat-saat kita bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama."


"Simpan saja memory indah masa kecilmu itu untuk dirimu sendiri. Aku tidak memiliki waktu untuk bernotalgia denganmu," ucap Sean dengan dingin.


Felix masih tersenyum. Selain Nicko, Felix salah satu orang yang sangat memahami Sean. Terkadang, kata-kata yang keluar dari mulutnya, berbeda dengan apa yang dihatinya. Dari dulu, Sean memang begitu, tidak bisa mengeskpresikan perasaannya dengan bebas dan benar.


Felix terkekeh melihat ekspresi dingin wajah Sean. "Aku tahu kau pasti juga merindukan masa-masa itu, hanya saja kau malu mengakuinya."


"Cukup basa-basinya." Sean menoleh pada istrinya, "masuklah lebih dulu. Aku ingin berbicara dengan Felix."


Claire mengangguk dan berjalan masuk lebih dulu. "Mencintai istri sepupu sendiri, bukanlah hal baik, Felix." Sean membuka mulutnya saat melihat Felix masih memadang kepergian Claire.


Felix beralih menatap Sean lalu tersenyum miring. "Menyembunyikan pernikahan dan mengabaikan istri sah demi wanita lain juga tidak baik, Sean."


Rahang Sean perlahan mengetat, ekspresinya semakin dingin. "Tutup mulutmu jika kau tidak tahu apa-apa tentangku."


Felix mencibir. "Justru karena aku sangat memahamimu, maka dari itu aku bisa mengatakan itu."


"Jangan ikut campur urusanku." Sean meraih ponsel di saku jasnya ketika mendengar ada panggilan masuk. "Baiklah. Aku akan menemuimu nanti." Sean mematikan telpon lalu memasukkan kembali ke dalam saku jas nya.


Selesai menelpon Sean menatap Felix. "Kenapa kau belum juga menandatangi dokumen pemindahan Claire ke perusahaan induk?"

__ADS_1


Felix mengetukkan sepatu kulit sebelah kanan ke lantai beberapa kali sebelum menjawab pertanyaan Sean. "Akan aku tanda tangani minggu depan setelah semua perkerjaannya beres. Lagi pula, belum ada orang yang bisa menggantikan posisinya saat ini"


"Itu bukan alasan yang bisa aku terima. Aku mau dalam 3 hari kau tanda tangani dokumennya. Jika tidak, aku akan menarinya tanpa persetujuanmu."


Felix tahu, kalau Sean bisa melakukannya tanpa persetujuan. Selama ini juga selalu begitu. Dia terbiasa melakun dengan caranya sendiri dan tanpa berdiskusi dulu dengannya. Semua keputusan sudah dia buat kemudian, Felix baru tahu.


Sean masuk ke dalam kamarnya dan dia melihat Claire baru saja mandi. "Sean, aku ingin bicara denganmu sebentar."


Sean melangkah masuk sambil melepaskan jasnya. "Apa?"


"Aku ingin meminta ijin padamu untuk bertemu dengan Wild. Ada yang ingin aku bicarakan dengannya."


Gerakan Sean langsung terhenti saat dia sedang membuka kancing kemejanya. "Aku tidak menginjinkanmu bertemu dengannya." Sean langsung berjalan ke arah kamar mandi setelah melepaskan kemejanya dan menutup pintu dengan keras.


Claire hanya bisa menghela napas. Sudah berapa hari ini Wild selalu menghubunginya. Dia bahkan mengatakan akan menemuinya di kediaman keluarga Louris jika dia tidak mau bertemu dengannya sebentar. Wild tidak akan berhenti mengganggunya, sebelum dirinya mau menemui Wild.


Selesai makan malam, Claire mencoba untuk berbicara dengan Sean lagi. Dia masih belum tenang sebelum bertemu dengan Wild. "Sudah aku bilang, aku tidak mau kau bertemu lagi dengan mantan kekasihmu itu." Sean menolak dengan tegas permintaan Claire.


" Tapi Sean, Wild tidak mau pul ..."


"Sekali tidak, tetap tidak. Jika kau berani menemuinya tanpa sepegetahuanku, aku akan mengurungmu di sini dan tidak memperbolehkanmu untuk pergi ke mana-mana, termasuk pergi bekerja." Sean lalu berjalan keluar dari kamar setelah pintu kamar dibanting.


"Bertengkar dengan istrimu?" Felix datang dari arah belakang lalu duduk di samping Sean.


"Bukan urusanmu," jawab Sean dengan ketus. Sean mengabaikan Felix yang sedang duduk di sebelahnya.


"Katakan padaku, siapa tahu aku bisa membantumu." Felix merubah posisi duduknya menghadap Sean.


Melihat Sean hanya diam, Felix tidak bertanya lagi. Dia juga diam sambil ikut minum bersamanya. Setelah lama terdiam, Sen membuka suaranya. "Felix, apa kau pernah melihat Claire bertemu dengan seorang pria di kantormu?"


Felix yang baru saja akan meneguk minuman yang ada di gelas, seketika meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja. "Tidak, tapi ada pria yang selalu mengawasinya setiap hari. Aku sudah pernah menyelidiki pria itu dan ternyata mantan kekasih Claire."


"Apa kau yakin Claire tidak pernah bertemu ataupun pergi diam-diam dengannya?"


"Tentu saja. Ada Valery yang selalu berada di dekat Claire."

__ADS_1


Selesai minum, Sean kembali ke kamarnya. Dia berjalan masuk dengan langkah pelan sambil memijat pelipisnya. "Sean, kau dari mana?" Claire yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Sean saat melihatnya berjalan tidak seimbang.


"Aku tidak akan membiarkanmu menemui pria br*ngsek itu." Sean maju dua langkah kemudian memeluk Claire dengan erat.


Claire terdiam selama beberapa detik kemudian mendorong tubuh Sean dengan pelan saat mencium aroma minuman beralkohol. "Sean, kau mabuk. Ayo berbaring." Claire membantu memapah Sean ke arah tempat tidur.


Setelah tiba di samping tempat tidur, Sean justru mendorong Claire hingga dia terjatuh tempat tidur. Sebelum sempat bangun, Sean lebih dulu mengungkung Claire di bawah tubuhnya.


"Claire, sebenarnya apa maumu? Kau selalu bersikap acuh tak acuh padaku. Padahal, kau lebih dulu mendekatiku, memasuki kehidupanku, mengobrak-abrik hatiku dan mengacaukan hidupku. Setelah kau melakukan itu semua padaku, kau masih bisa hidup dengan nyaman tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kau pikir aku tidak bisa merasakan sakit? Hidup denganku, tapi mencintai pria lain. Claire, sebenarnya kau punya hati, tidak?"


Claire mengerutkan keningnya sesaat sambil berpikir maksud dari perkataan suaminya. "Sean, aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi aku tidak pernah bermaksud mengacaukan hidupmu. Aku juga tidak pernah mengabaikanmu. Kau sendiri yang memberi jarak diantara kita."


"Kau selalu menyakitiku."


Claire menghela napas karena masih tidak mengerti apa yang sebenarnya dimaksud oleh Sean. "Aku minta maaf kalau aku pernah menyakitimu."


Mata Sean mulai meredup. "Jangan pernah berani menemui mantan kekasihmu, jika tidak aku akan mematahkan kakimu."


Claire sedikit terkejut mendengar ancaman suaminya. "Sean, kau sedang mabuk, lebih baik kau tidur."


"Claire, aku tidak mau kau menemuinya. Aku tidak suka. Memikirkannya juga tidak boleh. Kau itu milikku. Hanya milikku."


Saat ini yang terpenting menuruti apa yang diinginkan suaminya, meskipun dia mengatakan dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya. "Baiklah, aku tidak akan menemuinya. Tidurlah."


Sean mengabaikan ucapan Claire. "Tidak bisakah kau mencintaiku dan melupakannya?"


Claire menatap lekat mata Sean dengan wajah bingung. "Jangan mencintainya, Claire. Hatiku sakit. Kau pasti tidak tahu itu."


Claire menghembuskan napas pelan. Sean sedang mabuk, Claire tahu kalau kata-kata Sean saat ini hanya karena pengaruh alkohol dan bukan dari hatinya. "Aku tidak mencintainya lagi, Sean. Tidurlah."


"Kalau begitu, buktikan padaku jika kau tidak mencintainya. Jauhi dia dan jangan pernah temui dia lagi."


"Aku sudah melakukannya, sebelum kau memintanya." Claire berusaha untuk bangun, tapi satu tangan Sean menahan tubuhnya.


"Bagus. Kalau begitu, kau harus mengandung anakku secepatnya."

__ADS_1


Detik kemudian, Sean sudah melu*mat bibir Claire seraya membuka pakaiannya. Malam itu, Claire hanya membiarkan Sean menguasai tubuhnya hingga dia lelah dan tertidur dipelukan Sean. Untuk kesekian kalinya, Sean menebar benihnya di dalam rahim istrinya.


Bersambung...


__ADS_2