
Suasana nampak hening selama beberapa saat setelah semua orang berkumpul di ruang makan. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan lebih dulu setelah kejadian heboh yang terjadi di salah satu kamar tamu di kediaman utama.
Gretta yang duduk bersebelahan denga Felix hanya bisa menundukkan wajahnya karena merasa malu, sementara Felix sendiri hanya menampilkan wajah datarnya.
"Ehheem." Suara dehaman Kakek Sam memecah keheningan di ruang makan itu.
"Nona, Jeferson. Maafkan atas kelancangan dan sikap tidak sopan cucuku tadi. Aku sebagai kakek dari Felix meminta maaf dengan tulus atas apa yang sudah terjadi denganmu."
Gretta mengangkat kepalanya dan tersenyum canggung pada kakek Sam. "Iyaa, Tuan Sam. Aku juga minta maaf karena sudah membuat keributan di keluarga ini. Aku hanya terkejut saat dia tiba-tiba muncul di kamarku."
Felix seketika menoleh pada Gretta lalu berkata, "Nona, sepertinya kau salah. Ini bukan kamarmu, tapi kamar adikku. Aku ke sana untuk mengambil barang milik adikku dan bukan untuk mengintipmu seperti yang kau tuduhkan tadi."
Gretta seketika terdiam. Ternyata dia sudah salah paham terhadap pria di sebelahnya itu.
"Kau yang salah. Kau memasuki kamar itu tanpa mengetuk terlebih dahulu," sela Kakek Sam.
Felix menoleh dengan wajah kesal pada Kakeknya. "Kakek, mana aku tahu kalau ada orang di sana. Kamar itu biasa di tempati Aletha dan aku pikir tidak ada siapapun di sana."
Claire yang merasa bersalah karena sudah menempatkan Gretta di kamar Aletha ikut membuka suaranya. "Maafkan aku, Felix. Aku yang menyuruhnya menempati kamar itu. Aku tidak tahu kalau kamar itu selalu ditempati Aletha."
Sean menoleh pada istrinya lalu menggenggam tangannya. "Sayang, kenapa kau meminta maaf. Ini bulan salahmu. Kau bebas menggunakan kamar manapun di rumah ini semaumu. Kediaman ini juga milikmu." Sean kemudian melirik tajam pada sepupunya, "Felix, itu memang salahmu. Meskipun tidak ada orang di sana, setidaknya kau harus mengetuk pintu sebelum masuk. Sepertinya kau sudah lupa dengan didikan keluarga Louris."
Felix berdecak kesal mendengar ucapan Sean. "Jangan ikut campur. Kau hanya membuatku kesal."
"Sudah... sudaah. Tidak ada yang perlu di ributkan lagi. Semuanya hanya salahpaham." Kakek Sam menoleh pada Gretta, "Meskipun begitu, keluarga Louris akan tetap bertanggung kawab dengan insiden ini, Nona Jeferson. Kami tidak akan merugikanmu."
Felix dan Gretta menoleh dengan cepat ke arah tuan Sam. "Apa maksud Kakek?" Felix bertanya dengan dahi berkerut.
"Kau harus menikahinya."
"Apa??" Gretta dengan cepat menyahut, "Tuan Sam. Ini semua tidak perlu. Tidak terjadi apa-apa dengan kami. Aku tidak merasa dirugikan sama sekali."
"Benar Kakek. Kami hanya... tadi aku juga tidak sengaja melihat tubuhnya...."
"Felix, jadilah pria jantan. Jangan mempermalukan keluarga Louris. Mana kami tahu kalian melakukan apa sebelum kami datang. Kau jangan lari dari tanggung jawabmu seperti itu," ujar Sean dengan senyum miringnya.
Felix semakin kesal karena Sean memperkeruh suasana.
"Kami berdua sungguh tidak melakukan apa-apa jadi tidak perlu bertanggung jawab padaku," timpal Gretta.
"Nona, Jeferson. Kau tidak perlu merasa terbebani. Kami akan menemui keluargamu dalam waktu dekat untuk membicarakan hal ini. Sekali lagi aku meminta maaf," ucap Kakek Sam dengan wajah bersalah.
"Ayah, apa tidak sebaiknya bicarakan dengan Meriana lebih dulu. Bagaimana jika dia tidak setuju?" Ibu Sean ikut menimpali karena ayah mertuanya terlihat serius dengan ucapannya.
Kakek Sam berpikir sejenak lalu berkata, "Begini saja, Nona Jeferson, aku akan berbicara dengan orang tua Felix lebih dulu. Nanti aku akan mengabarimu lagi."
Claire hanya bisa menatap iba pada sahabatnya tanpa bisa berbuat apa-apa. Dia tidak menyangka kalau akan ada kejadian seperti itu. Dia jadi merasa tidak enak karena dialah yang sudah memaksa Gretta untuk menginap di kediamannya.
__ADS_1
*******
Selesai makan, semua orang kembali dengan kesibukan masing-masing. Sean dan Felix berada di ruangan kerja, sementara Claire dan Gretta berada di ruangan keluarga.
"Gretta, maafkan aku." Claire memegang bahu Gretta yang sedang menatap ke bawah dengan wajah lesu.
"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak mengajakmu ke sini," lanjut Claire lagi dengan wajah bersalah.
"Sudahlah, Claire. Ini bukan salahmu." Gretta berusaha untuk tersenyum agar Claire tidak merasa bersalah lagi.
"Aku akan meminta Sean untuk bicara pada Kakek agar tidak memperpanjang masah ini. Kau tenang saja."
Dari arah kiri terdengar suara hentakkan high heels yang cukup keras. Claire dan Gretta seketika menoleh ke asal suara dan ternyata itu adalah Aletha.
"Di mana, Kak Felix? Aku mencarinya di kamar, tapi dia tidak ada."
Seperti biasa, Aletha selalu berbicara dengan angkuh pada Claire setelah melirik sekilas pada Gretta.
"Aletha, panggil aku dengan benar. Bukankah kau wanita berpendidikan? Seharusnya kau tahu sopan santun, apalagi kau berasal dari keluarga terhormat."
Aletha mendungus dengan wajah kesal. "Kakak ipar, di mana kak Felix?" ulang Aletha lagi. Kali ini, dia berbicara dengan lembut meskipun wajahnya menunjukkan kekesalan.
"Ada di ruang kerja."
Tanpa mengucapkan terima kasih, Aletha melenggang pergi, tapi baru saja tiga langkah, Aletha berbalik lalu duduk di sofa single yang kosong. "Claire, Helena bilang kau mengenal Wild. Benarkah kau mantan kekasihnya?"
"Iyaa."
Aletha mendekatkan wajahnya ke arah Claire dengan wajah antusias. "Katakan padaku, wanita seperti apa yang dia sukai?"
Pertanyaan konyol Aletha membuat Gretta ingin tertawa. Pertanyaan seperti itu tentu saja tidak perlu dijawab. Cukup melihat kepribadian Claire seharusnya Aletha sudah tahu itu.
"Aku tidak tahu, Aletha," jawab Claire dengan acuh tak acuh.
Aletha menaikkan salah satu sudut bibir atasnya dengan wajah tidak percaya. "Apakah dia sudah memiliki kekasih?" Aletha kembali bertanya karena masih penasaran dengan pria yang disukainya itu.
Claire melirik sekilas pada Gretta lalu menghela napasnya. "Aku tidak tahu, Aletha. Aku sudah tidak berkomunikasi lagi dengannya. Dia hanya masa laluku."
Sean saja sudah menghapus dan memblokir nomor ponsel Wild di ponselnya, bagaimana bisa dia berkomunikasi lagi.
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan, Wild?" tanya Claire dengan tatapan menyelidik.
Wajah Aletha nampak memerah dan Claire sudah tahu artinya meskipun Aletha tidak memberitahunya. "Aku menyukainya. Aku ingin menjadikannya kekasihku."
"Apa?" Yang terkejut bukan Claire melainkan Gretta.
Pandangan Aletha seketika menoleh pada Gretta. "Aku sepertinya pernah melihatmu," ucap Aletha seraya memicingkan matanya pada Gretta. Dia terlihat sedang mengingat di mana pernah melihat wanita itu.
__ADS_1
"Kau melihatnya saat aku bertemu dengannya dulu di salah satu mall di kota ini," sahut Claire dengan cepat.
Mulut Aletha terbuka lebar setelah berhasil mengingatnya. "Benar juga. Aku baru ingat." Aletha lalu memasang wajah angkuhnya. "Bukankah kau yang pernah menghinaku dulu? Kenapa kau bisa di sini? Siapa yang menginjinkanmu masuk ke sini?"
Gretta mulai terlihat kesal melihat sikap angkuh Aletha. "Aletha, dia adalah tamuku. Jaga sikapmu!" ujar Claire dengan tatapan tajam, "apa kau tidak tahu kalau Gretta adalah adik Wild. Pria yang kau sukai."
Mata Aletha membesar dan mulutnya juga terbuka lebar. "Apa? Kau adiknya Wild?"
"Benar, aku memang adiknya. Kenapa? Ini membujukku agar membantumu mendapatkan kakakku?" ujar Gretta tidak kalah angkuh.
"Aletha, kau sudah datang?"
Felix baru saja keluar dari ruangan kerja dan ketika akan kembali ke kamarnya, dia mendengar suara adiknya dari ruang keluarga, itu sebabnya dia berjalan ke sana.
"Kak, mana barangku?" Aletha segera menghampiri kakaknya sambil menengadahkan tangannya ke arah Felix.
"Ada di kamarku. Aku letakkan di atas meja. Ambil saja." Felix melirik sekilas pada adiknya lalu beralih menatap Gretta, "aku ingin berbicara denganmu sebentar."
Aletha dan Claire menoleh ke arah Gretta yang nampak heran.
"Kau ingin bicara denganku?" tunjuk Gretta pada dirinya sendiri.
"Hhhmm," gumam Felix sambil mengangguk, "ikut aku." Felix berjalan lebih dulu menuju balkon yang ada di dekat ruang keluarga disusul oleh Gretta di belakang.
"Claire, ada apa dengan mereka? Semenjak kapan kakakku akrab dengan temanmu itu?" tanya Aletha seraya memandang kepergian kakaknya dan Gretta.
"Tanyakan saja pada kakakmu. Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka."
Di balkon luar, Gretta dan Felix nampak sama-sama terdiam selama beberapa saat seraya menatap lurus ke depan. "Gretta, apa kau mau menikah denganku?" Felix bertanya seraya memutar sedikit tubuhnya ke arah Gretta.
"Menikah denganmu?" Gretta menoleh pada Felix dengan wajah terkejut.
"Jika kau tidak mau. Aku akan bicara pada kakek untuk membatalkan niatnya untuk menemui keluargamu."
Gretta beralih menatap lurus ke depan saat matanya tidak sengaja bertatapan dengan iris Felix.
"Aku harus tahu dulu, apa yang kau inginkan. Meskipun kejadian tadi tidak sengaja dan aku juga tidak menyentuhmu sama sekali, tapi aku tidak mau kau berpikir kalau aku pria tidak bermoral. Aku bukanlah pria breng-sek yang lari dari tanggung jawabku, Gretta. Aku bersedia menikahimu jika memang kau merasa dirugikan olehku," lanjut Felix lagi dengan wajah serius.
Ada perasaan lain saat Gretta mendengar ucapan Felix. Meskipun dia baru bertemu dengan Felix satu kali, tapi Gretta merasa kalau Felix adalah pria yang baik, walaupun dia sempat salah paham awalnya.
"Felix, aku tidak akan mengikatmu hanya karena kejadian tidak sengaja tadi. Anggap saja aku sedang sial. Kau tidak perlu menikahiku."
Felix terdiam selama beberapa saat lalu menatap Gretta dengan tatapan tidak terbaca. "Apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya Felix lagi.
Gretta mengangguk dengan yakin. "Iyaa. Aku tidak mau kau menikahiku karena terpaksa."
Bersambung....
__ADS_1