
Pukul 04.00 pagi Claire terbangun dari tidurnya. Dia menoleh ke belakang dan tidak melihat keberadaan Sean di tempat tidur. Claire memutuskan untuk bangun dan berjalan ke arah kamar mandi. Pada saat dia akan meraih handle pintu, pintu kamar mandi terbuka. Claire tertegun sesaat melihat Sean baru saja selesai mandi.
"Aku kira kau sudah berangkat," ucap Claire basa-basi.
Sean menatap wajah Claire sebentar kemudian berlalu tanpa membalas ucapan Claire. Melihat Sean pergi begitu saja, Claire menyusulnya. Dia berjalan mendahului Sean menuju walk-in closet untuk mengambilkan pakaian untuk suaminya dan membantu memakaikan kemejanya.
"Aku tidak mengijinkanmu untuk bertemu dengannya," ucap Sean sambil menunduk menatap Claire yang sedang mengancingkan kemejanya.
Claire hanya tersenyum sambil terus mengancingkan kemeja Sean. "Kau tidak dengar? Aku bilang, aku tidak mengijinkanmu menemuinya."
Claire mengangkat kepalanya lalu tersenyum pada Sean. "Aku mendengarnya." Selesai mengancingkan kemeja dan merapihkan pakaian suaminya, Claire membatu memakaikan dasi.
"Lalu kenapa kau masih melakukan ini?"
Sean mengira sikap baik Claire yang membantunya memakai pakaian dan dasi karena ingin membujuknya Sean agar memperbolehkannya bertemu dengan Wild.
"Ini adalah tugasku. Aku istrimu. Apa butuh alasan lain untuk melakukan semuanya?"
Sean terdiam sambil menatap lekat mata Claire. "Aku tidak akan pernah menemuinya," lanjut Claire lagi. Setelah itu, dia menarik tangan Sean dan memintanya untuk duduk di depan meja rias. "Aku akan mengeringkan rambutmu."
Sean masih diam, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari Claire. Sikap penurut istrinya membuat Sean merasa heran. "Hari ini tidak usah bekerja. Aku akan menghubungi Valery nanti. Datanglah ke kantorku siang ini."
Claire yang sedang mengeringkan rambut Sean dengan hairdryer seketika menatap Sean dari pantulan cermin. "Untuk apa?" tanya Claire sambil mematikan pengering rambutnya.
"Serah terima jabatan kepada Lea. Lea akan menggantikanmu menjadi sekertaris Valery dan kau menjadi sekertarisku."
Mata Claire melebar. Valery belum mengatakan apapun padanya mengenai kepindahannya ke kantor Sean. "Tapi pekerjaanku masih banyak yang belum aku selesaikan."
"Tidak masalah. Ini hanya serah jabatan secara simbolis. Aku akan memberikanmu waktu seminggu untuk menyelesaikannya. Berdiskusilah dengan Lea karena kalian akan bertukar posisi."
"Baiklah."
Sean lalu berdiri. "Hari ini bawakan aku makan siang. Aku ingin kau yang memasaknya sendiri."
Sekali lagi bola mata Claire membesar dengan kedua alis terangkat. "Kau tahu bukan kalau aku tidak bisa memasak?"
"Bibi Mey akan mengajarimu. Kau cukup ikuti saja apa yang dia ajarkan."
Claire berpikir sebentar. "Baiklah."
__ADS_1
"Mandilah. Aku menunggu di bawah."
Claire mengangguk lalu berjalan ke arah kamar mandi Setelah selesai dia turun ke bawah untuk sarapan bersama, kemudian dia mengantarkan Sean sampai ke depan pintu. "Sean, kau ingin dimasakkan makanan apa?"
"Apa saja."
"Baiklah," ucap Claire sambil mengangguk.
"Aku berangkat." Sean melangkah maju kemudian memberikan kecupan di kening Claire dan membuat Claire terkejut.
"Pagi-pagi sudah menampilkan kemesraan di depan orang. Membuatku iri saja." Felix datang dari arah belakang Claire.
"Ini hanya akting atau sungguhan?" lanjut Felix lagi sambil mendekati Claire dan Sean.
"Untuk apa aku berakting pada istriku sendiri," jawab Sean dengan malas.
Felix mengedikkan bahunya. "Mungkin karena ingin terlihat mesra di depan kakek agar dia tidak khawatir."
"Kau ingin tahu apakah ini akting atau bukan? Kalau begitu akan aku tunjukkan padamu. Kau bisa menilainya sendiri." Setelah itu, Sean langsung menunduk, meraih dagu Claire lalu menempelkan bibirnya dengan istrinya secara tiba-tiba.
Melihat itu, beberapa pengawal berbalik badan termasuk Kenz. Hanya Felix saja tidak. Dia justru mendengus dan menampilkan wajah kesalnya melihat pemandangan di depannya saat Sean mencium bibir Claire dan melu-matnya sebentar lalu menjauhkan diri dari istrinya.
Dengan wajah acuh tak acuh, Sean berkata, "Aku tidak peduli." Kemudian beralih menatap Claire, "masuklah."
Claire yang sedari tadi hanya menunduk untuk menyembunyikan wajah merahnya langsung mengangguk dan berjalan masuk ke dalam. Claire kemudian pergi menemui bibi Mey. "Bibi Mey, aku ingin bertanya. Apa makanan kesukaan Sean? Aku berencana untuk memasak untuknya."
Bibi Mey yang sedang mencuci buah, seketika menghentikan kegiatannya. "Ada beberapa makan yang tuan muda sukai, tapi sulit memasaknya. Indra perasa tuan muda sangat sensitif jadi sedikit sulit untuk membuat masakan untuknya yang sesuai seleranya."
Diantara semua pelayan, hanya Bibi Mey yang diijinkan untuk membuatkan makan untuk Sean. Sebenarnya bukan hanya memasak, tapi apapun yang berkaitan dengan Sean, hanya bibi Mey yang diperbolehkan untuk melakukannya.
"Lebih baik, bibi Mey saja yang membuatnya Nyonya Muda," usul Bibi Mey.
Claire berpikir sejenak. "Tapi Sean sendiri yang memintaku untuk memasak. Biasakah Bibi Mey mengajariku?"
"Baiklah."
Claire kemudian mengajak bibi Mey untuk pergi ke supermarket terdekat. Dia ingin memilih sendiri bahan makanan yang akan dia masak nantinya. Dia juga sekaligus ingin belajar memiliih bahan makanan yang bagus agar kedepannya dia bisa membelinya sendiri.
Selesai berbelanja, Claire dan bibi Mey pulang ke rumah. Saat memasuki ruangan tengah, mereka bertemu dengan ibu Sean. "Kalian dari mana?"
__ADS_1
"Dari supermarket Ibu. Aku ingin memasak makan siang untuk Sean," jawab Claire sambil tersenyum.
Ibu Sean nampak tertegun beberapa saat. "Ibu mau ke mana?" tanya Claire saat melihat ibu mertuanya nampak sangat rapi.
"Bertemu dengan teman ibu."
"Kakau begitu hati-hati di jalan Ibu."
Ibu Sean mengangguk kemudian pergi. Belakangan ini hubungan mereka menjadi lebih baik. Ibu Sean terlihat sudah mulai menerima Claire, meskipun belum sepenuhnya.
Claire berkutat selama hampir 3 jam lamanya di dapur bersama dengan bibi Mey. Beberapa kali di gagal dalam memasak dan mengulangnya kembali. "Nyonya Muda, jangan terlalu banyak memberikan bumbu pada makanan tuan muda. Tuan muda tidak suka dengan rasa makanan yang terlalu kuat."
"Baik, Bibi Mey."
Selesai memasak, Claire pergi ke kamarnya untuk mandi karena merasa tubuhnya sangat lengket. Claire kembali ke bawah setelah bersiap. "Bibi Mey, apakah semuanya sudah dimasukkan ke dalam wadah makanan?" tanya Claire setelah tiba di dapur bersih.
"Sudah Nyonya Muda. Sudah saya masukkan semuanya termasuk buah untuk tuan muda."
"Baiklah, aku pergi dulu. Jika kakek mencariku, bilang saja aku kantor Sean."
"Baik, Nyonya Muda."
Claire pergi dengan diantar oleh Paul. Dia menempuh perjalanan sektar satu jam lebih. Sesampainya di lantai paling atas, Claire bertanya lebih dulu pada sekertaris Sean. "Apa CEO Sean ada di dalam?"
"Ada. CEO Sean memintamu untuk lansung masuk saja," jawab Lea.
Claire mengangguk lalu berjalan ke arah ruangan Sean dan membuka pintunya. "Kau sudah datang. Masuklah sayang," ucap Sean ketika melihat kedatangan istrinya.
Claire mengerutkan keningnya mendengar panggilan Sean. Ini panggilan sayang pertamanya saat mereka berada di luar. "Apa aku mengganggumu?" tanya Claire ketika melihat seorang pria sedang duduk membelakanginya.
"Tidak. Kemarilah. Dia juga tamumu." Sean menepuk sofa kosong yang ada di sebelahnya.
Meskipun heran, Claire tetap melangkah ke arah Sean dan saat dia menoleh ke arah pria itu, dia terkejut saat melihat siapa yang sedang bersama dengan Sean. "Wild, sedang apa kau di sini?"
Bersambung ...
Kunjungi juga cerita Author lainnya yang sedang on going.
__ADS_1