
Setibanya di tempat persembunyian Claire dan Jack, kakek Sam meminta beberapa pengawal untuk berjaga di depan rumah itu. Hanya Paul dan kakek Sam yang masuk. Dia ruangan tamu, Claire sudah menunggu bersama dengan Jack.
"Tuan Besar," sapa Jack sambil membungkuk.
Tuan Sam mengangguk. "Kakek," sapa Claire. Dia bermaksud berdiri, tetapi langsung dicegah oleh kakek Sam. "Duduk saja, tidak perlu berdiri. Jangan sampai lelah."
Claire mengangguk. "Iya, Kakek." Claire bisa mengerti kalau kakek Sam pasti khawatir dengan bayi dalam perutnya.
Kakek Sam kemudian duduk di sofa single di samping Claire. "Kalian keluarlah dulu. Aku ingin berbicara dengan cucu menantuku."
Jack dan Paul mengangguk lalu pergi dari ruangan tamu.
"Kakek, maafkan aku." Tiba-tiba pergi tanpa berpamitan lebih dulu pada kakek Sam membuat Claire merasa bersalah.
"Kakek tidak marah. Ini salahnya karena sudah mengabaikanmu, apalagi dia diam-diam menemui wanita lain. Aku tidak akan membenarkan kesalahannya yang itu, tapi untuk masalah kehamilan Casandra, kakek meragukan itu. Kakek mengenal Sean dengan sangat baik. Dia tidak mungkin berselingkuh," ucap Kakek Sam dengan lembut.
Sejak hari pertama Claire menghilang, kakek Sam sudah bisa menebak kalau cucunya pasti sudah melakukan kesalahan pada Claire sampai dia tiba-tiba pergi, tapi dia menyangka kalau permasalahannya sebesar itu.
"Kakek tidak bermaksud ikut campur masalahmu dengan Sean, tapi biarkan dia menjelaskannya lebih dulu. Kakek akan membantu untuk menyelidiki masalah ini juga. Kakek tidak akan berpihak padanya, meskipun dia cucu kakek. Jika dia memang dia terbukti bersalah, kakek serahkan semua padamu. Jika kau ingin berpisah dengannya, kakek akan mendukungmu, tapi jika dia tidak bersalah, bisakah kau memberikannya kesempatan sekali lagi?"
Claire sedari tadi masih diam sambil berpikir. "Kakek, di hati Sean, masih ada wanita lain. Dia tidak mencintaiku."
"Tapi yang kakek lihat, Sean justru sangat mencintaimu. Sean memang tidak mengerti cara menunjukkan rasa cintanya pada seseorang. Dia terkesan acuh tak acuh dan dingin, padahal sebenarnya tidak. Sikap itu juga yang dulu membuat Casandra berselingkuh. Dia merasa kalau Sean tidak mencintainya dan tidak peduli padanya sehingga dia mencari pelarian."
Dulu, saat Sean menjalani hubungan dengan Casandra, Sean memang sangat sibuk dengan pekerjaannya. Waktu untuk Casandra hanya sedikit. Casandra sering mengeluhkan itu. Dia tidak suka dengan sikap Sean yang terkesan tidak peduli dan acuh tak acuh padanya.
Padahal, Casandra menyukai pria romantis yang bisa memanjakannya dan memberikan perhatian lebih padanya. Maka dari itu, Casandra tidak tahan menjalani hubungan dengan Sean dan memilih untuk berselingkuh dengan pria yang lebih perhatian dari Sean.
"Kalau dia tidak mencintaimu, dia tidak mungkin mencarimu tanpa memperdulikan dirinya sendiri," lanjut Kakek Sean lagi.
Claire masih terdiam. Perasaannya menjadi bimbang. Kenangan indah yang sudah dia lalui bersama dengan Sean kembali terlintas di benaknya.
"Pikirkan juga bagaimana anakmu nanti. Meskipun kau tidak ingin kembali pada Sean, tapi kau juga tidak bisa membawa pergi anak ini tanpa sepengetahuan Sean. Dia berhak tahu tentang anak ini. Bagaimana pun anak dalam perutmu adalah darah daging Sean, penerus keluarga Louris. Kalaupun pernikahan kalian tidak bisa diselamatkan, anak ini tetap cucu pertama di keluarga kami."
Claire kembali merenung. "Temui dia sekali saja. Biarkan dia jelaskan semuanya. Setelah itu, terserah padamu," ucap Kakek Sam dengan bijak.
Setelah berpikir selama bebarapa saat, Claire akhirnya setuju. "Baiklah, Kakek, tapi jika dia terbukti bersalah, aku tidak mau kembali lagi padanya."
Kakek Sam akhirnya bisa merasa lega. Dia baru bisa tersenyum setelah mendengar jawaban dari Claire. "Kakek setuju. Terima kasih karena sudah mau memberikan kesempatan bocah tengik itu untuk menjelaskan semuanya."
Claire mengangguk pelan. "Iyaa, Kakek."
Kakek Sean akhirnya bisa bisa tenang. "Anak ini, akan kakek rahasiakan untuk sementara dari Sean. Kau bisa menemuinya tanpa merasa cemas dengan anakmu. Untuk sementara, tinggal lah di rumah orang tuamu sampai Sean bisa menemukanmu di sana. Bairkan dia berusaha keras mencarimu. Anggap saja ini sebagai hukuman baginya karena sudah mengabaikanmu waktu itu."
__ADS_1
"Bagaimana dengan ayahku?"
"Tenang saja. Kakek akan berbicara dengan ayahmu. Kau tidak perlu khawatir. Kakek akan mengatarmu pulang."
********
Nicko memandang Sean yang terlihat sedang berdiri di balkon kamar apartemennya. Sudah beberapa hari ini, dia tinggal di apartemen yang pernah dia tinggali dengan Claire. Alasan dia kembali tinggal di sana lagi adalah untuk mengobati rasa rindunya pada Claire.
Di apartemen itulah, Claire banyak menghabiskan waktunya. Aroma Claire di apartemen itu saja masih bisa Sean rasakan sampai saat ini. Selama tinggal di apartemennya, setiap malam, setelah mencari Claire, dia akan berdiri di balkon kamar sambil melihat pemandangan kota di depannya.
Hanya memandangnya tanpa melakukan apa-apa. Biasanya, saat sedang sendiri, satu persatu kenangannya bersama Claire kembali muncul di benaknya dan memunculkan rasa penyesalan teramat dalam baginya. Belakang ini, Sean lebih banyak diam dan menyendiri.
Urusan perusahaan sudah dia alihkan pada Kenz, jadi untuk sementara waktu Sean tidak bekerja. Pagi hari sampai sore hari, dia akan mencari Claire. Pada malam harinya, dia akan menghabiskan waktu di kamar. Jika tidak bisa tidur, dia akan minum sampai mabuk dan tertidur hingga keesokan harinya.
Begitu seterusnya. Sama seperti malam ini, Sean masih menikmati kesendiriannya di balkon kamarnya. Terkadang Nicko merasa kasihan melihat hidup Sean yang jadi berantakan semenjak kepergian Claire.
Penampilan Sean terlihat seperti tidak terurus, berbeda sekali dengan dulu. Bahkan berat badannya menyusut drastis. Matanya nampak cekung dan hitam. Rambutnya pun mulai panjang.
"Sean," panggil Nicko sambil menghampiri Sean dan berdiri di sampingnya.
"Kau tidak perlu menemaniku. Aku sudah terbiasa sendiri," ucap Sean tanpa menoleh pada Nicko.
Dia tahu kalau tujuan Nicko datang ke apartemennya adalah untuk menghiburnya. Nicko memang sering mengunjunginya di apartemen untuk sekedar mengajaknya mengobrol.
"Kau belum juga menemukan petunjuk keberadaan istrimu?" tanya Nicko sambil menyesap minuman kaleng yang ada di tangannya.
Nicko berpikir sejenak. Dia merasa ada sesuatu yang aneh. Selama ini, belum pernah ada yang bisa lolos dari pencarian keluarga Louris, tapi kali ini, Claire berhasil pergi sebelum Sean sempat menemukannya.
"Sean, aku rasa ada orang yang membantu, Claire selama ini. Dengan kemampuan keluargamu, tidak mungkin dia bisa lolos dengan mudah."
Sean berpikir sambil menatap lurus ke depan. "Mungkin saja ayahnya atau Wild yang membantu, Claire," tebak Sean.
"Tapi bukankah kau sudah mengawasi Wild dan tidak menemukan keterlibatannya dengan kepergian istrimu?"
"Iyaa, tapi aku masih curiga dengannya, sebab itu, aku masih mengawasinya."
"Sean," panggil Nicko.
Sean melirik sekilas pada Nicko lalu berkata, "Apa?"
"Casandra, sudah kembali. Dia ada di negara ini," ungkap Nicko.
Karena sibuk mencari keberadaan Claire, Sean jadi melupakan biang keladi dari masalah rumah tangganya. Dia bahkan belum tahu apa saja yang sudah Casandra lakukan pada Claire untuk membuat mereka bercerai.
__ADS_1
Wajah kalut Sean seketika berubah menjadi dingin. "Sepertinya dia mengabaikan peringatanku waktu itu."
"Biarkan Helena yang mengurus Casandra untuk sementara waktu. Kau fokus saja mencari istrimu."
Helena dan Casandra tidak akur sedari dulu. Casandra berhasil membuat Sean menjauhinya Helena dengan fitnahnya. Helena, mengenal Sean sedari kecil, maka dari itu, mereka sangat dekat. Berbeda dengan Casandra, dia baru mengenal Sean saat mereka sama-sama kuliah di luar negeri.
Kedekatan Helena dan Sean, membuat Casandra iri dan akhirnya mencari segala cara untuk menjauhkan Sean dari Helena. Sebab itu, Helena sangat membenci Casandra. Rasa benci pada Claire tidak sebesar pada Casandra, meskipun Claire berhasil menikahi Sean, tapi Claire tidak pernah mencari masalah dengannya, itu sebabnya rasa benci pada Claire tidak sebesar pada Casandra.
"Iyaaa. Aku akan mengurusnya nanti. Untuk saat ini, yang terpenting adalah segera menemukan istriku."
Tiba-tiba ponsel Sean berbunyi. Dengan sigap, dia langsung mengangkat telponnya. "Halo," jawab Sean.
"Benarkah?" tanya Sean dengan mata berbinar dan wajah senang.
"Apa? Kakekku?"
"Baiklah. Kau awasi terus di sana. Jangan sampai dia menghilang. Aku akan segera ke sana." Sean langsung mematikan ponselnya.
"Ada apa?" tanya Nicko dengan dahi berkerut.
"Claire, kembali ke rumah orang tuanya bersama dengan kakekku," jawab Sean cepat.
"Kenapa Claire bisa bersama dengan kakekmu?"
"Aku tidak tahu," jawab Sean sambil menatap ke bawah dengan wajah lesu.
"Lalu kenapa kau terlihat tidak senang? Bukankah kau seharusnya senang karena sudah berhasil menemukannya?"
"Aku takut dia tidak mau menemuiku," jawab Sean dengan suara rendah.
Mendadak dia merasa tidak percaya diri. Melihat Claire berusaha dengan keras menghindarinya, Sean jadi berpikir kalau Claire pasti sangat membencinya hingga tidak mau melihatnya lagi.
"Sean, biarkan dia tenang dulu. Jangan temui dia sekarang. Temui dia besok saja. Dia baru kembali, pasti dia tidak mau bertemu dengan siapa pun saat ini. Lebik baik kau cari cara agar istrimu mau menerimamu lagi, jika dia masih tetap tidak mau memaafkanmu."
Wajah Sean berubah menjadi mendung. Dia kemudian mengangkat kepalanya menoleh pada sahabatnya. "Nicko, tolong beritahu aku, bagaimana caranya untuk meluluhkan hatinya agar dia mau menerimaku kembali? Selain minta maaf, apalagi yang harus aku lakukan untuk mendapatkan hatinya?" tanya Sean.
Nicko menghela napas karena tidak habis pikir dengan pertanyaan bodoh yang diajukan oleh Sean. "Pikirkan saja bagaimana caranya kau meluluhkan hati Casandra dulu. Pikirkan hal apa yang kau lakukan untuknya untuk mendapatkan hatinya."
"Aku tidak ingat," jawab Sean dengan wajah datar dan dingin.
Nicko menatap tidak percaya pada Sean dengan wajah mencibir. "Aku sungguh tidak ingat," ulang Sean dengan wajah serius.
"Kenanganku bersama Casandra, aku sudah tidak mengingatnya. Tidak ada satu pun kenangan yang aku ingat tentangnya. Saat ini, hanya ada kenangan Claire yang ada di dalam benakku."
__ADS_1
Nicko terlihat sangat terkejut saat mendengar penuturan Sean.
Bersambung...