
Melihat Sean mengabaikannya, Nicko kembali berkata, "Kau bilang dulu ingin memberikan pelajaran pada istrimu karena sudah mempermainkanmu. Kalau kau hanya ingin membuatnya pergi dari hidupmu dan mengakhiri pernikahan kalian, ada banyak cara yang bisa kau lakukan. Tidak perlu sampai melibatkan dirimu. Kau hanya menyiksa dirimu sendiri dengan melakukan itu. Kau ingin menyakitinya karena dia sudah mempermainkan perasaanmu, tapi lihat sekarang, kau menyakitinya atau dia menyakitimu?"
Sean terdiam dengan raut wajah tidak terbaca. "Sean, aku tahu dirimu lebih dari siapapun. Aku mengenalmu sejak kita masih kecil. Apa yang kau rasakan sedikit-banyaknya aku bisa tahu. Apa yang kau dapat dengan menyiksa dirimu sendiri? Kau bilang akan membuatnya pergi, tapi kau tidak mau melepasnya. Sebenarnya masalahanya ada pada dirimu sendiri. Coba pikirkan bagaimana perasaanmu padanya, jika kau mencintainya, pertahankan rumah tanggamu dan perbaiki hubungan kalian berdua selagi masih bisa. Kau ingin seperti ini sampai kapan? Apa kau ingin menunggu sampai dia benar-benar pergi baru menyesal?"
"Dia tidak mencintaiku. Dia masih mencintai mantan kekasihnya," ucap Sean tiba-tiba.
Nicko menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa frustasi melihat kebodohan sahabatnya. "Tidak penting bagaimana perasaanya padamu. Jika kau mencintainya, maka buat dia mencintaimu. Kau sudah mendapatkan separuh dirinya, tinggal bagaimana kau bisa meluluhkan hatinya. Selama ini tidak ada yang bisa menolak pesonamu. Kenapa kau jadi tidak percaya diri begini hanya karena satu wanita yang tidak menyukaimu. Sean, saat ini dia tidak mencintaimu, bukan berarti nanti tidak bisa jatuh hati padamu, kan?"
Sean nampak berpikir beberapa detik kemudian menuangkan kembali isi botol ke dalam gelasnya. "Minuman tidak akan menyelesaikan permasalahanmu Sean, justru akan menambah masalah baru. Sebenarnya, aku ingin sekali berbicara dengan istrimu, tapi kau melarangku untuk bertemu dengannya. Aku hanya ingin mengenal dirinya lebih dalam lagi agar aku tahu bagaimana kepribadian serta perasaannya padamu."
"Jangan melakukan hal yang tidak perlu."
Nicko menghela napas. "Sean, aku hanya ingin membantumu. Jika kau tidak ingin aku ikut campur, maka selesaikan masalahmu sebelum terlambat. Menghindarinya, tidak akan menyelesaikan apa-apa. Sebenarnya, apa sulitnya untuk mengungkapkan perasaanmu dan berbicara dari hati ke hati dengan istrimu?"
"Masalahnya tidak sesederhana itu, Nicko."
"Aku tahu, jika tidak rumit, maka bukan masalah namanya," ucap Nicko dengan ketus, "jika tidak, lepaskan saja dia."
"Tidak bisa. Kakek tidak akan setuju."
Nicko mencibir. "Sean, kakekmu hanya memberikan pilihan padamu. Dia tidak bisa memaksamu terus menerus. Kau bukanlah orang yang bisa dikendalikan oleh kakekmu, Sean. Kau bisa memutuskan apa yang terbaik untuk hidupmu. Aku tahu kau tidak sebodoh itu untuk bisa menuruti apa yang kakekmu minta."
Sean meletakkan gelas lalu melirik dengan malas pada Nicko. "Kau sedang memujiku atau sedang mengejekku?"
Nicko tersenyum. "Tidak keduanya. Terkadang aku pikir kau juga bodoh."
"Tutup mulutmu."
"Aku tidak mau." Nicko kemudian mendekatkan tubuhnya pada sahabatnya, "Sean, aku sangat penasaran satu hal. Sebenarnya aku sudah tahu jawaban, tapi aku ingin mendengarnya dari mulutmu sendiri." Sean melirik malas pada Nicko. "Dari awal bertemu, kau sudah mencintainya, kan?"
Sean menarik pandangannya dari Nicko dengan malas. "Tutup mulutmu dan habiskan saja minuman ini." Sean memberikan gelas yang sudah terisi minuman pada Nicko dengan wajah kesal.
Melihat Sean tidak menyangkal perkatannya, Nicko tersenyum penuh arti padanya. "Sudah kuduga. Dasar bodoh! Percuma saja memiliki wajah tampan kalau hal begini saja kau tidak bisa mengatasinya."
Selanjutnya, Nicko sudah tidak banyak bicara lagi dan hanya menemani Sean minum hingga keduanya mabuk.
"Kenz, antarkan aku pulang. Aku tidak bisa menyetir karena mabuk," ucap Nicko sambil berdiri.
Kenz berbicara sambil menoleh pada bosnya. "Lalu bagaimana, Tuan Muda?"
__ADS_1
Nicko meraih jas dan ponselnya. "Panggil istrinya. Suruh dia menjemput ke sini."
"Tapi ...." Kenz takut Sean marah jika dia meminta istrinya untuk datang.
Dengan wajah malas Nicko berkata, "Mereka butuh waktu untuk saling memahami. Berikan mereka ruang agar mereka bisa menyelesaikan masalah mereka. Percaya padaku. Tidak akan terjadi apa-apa dengan mereka. Masalah tidak akan selesai jika Sean terus menghindarinya."
Kenz nampak berpikir sejenak. "Baiklah." Kemudian dia meriah ponselnya dan menghubungi Claire.
"Bagaimana?" tanya Nicko setelah melihat Kenz mengakhiri panggilan telponnya.
"Nyonya muda akan datang menjemput Tuan Muda ke sini."
"Bagus," ucap Nicko sambil tersenyum, "sekarang antarkan aku pulang."
"Tapi, nyonya muda belum tiba. Bagaimana kalau gadis-gadis itu kembali lagi setelah kita pergi?"
"Tidak perlu khawatir. Mereka tidak akan berani melewati batas. Terkadang, kecemburuan dibutuhkan dalam sebuah hubungan untuk menguji perasaan seseorang atau untuk memperkuat suatu hubungan." Nicko tersenyum penuh arti pada Kenz lalu berjalan keluar.
******
Setibanya di depan club malam yang diberitahukan oleh Kenz, Claire melangkah dengan cepat. Saat berada di dalam club, Claire meminta pada pegawai club yang sedang berdiri di pintu masuk ruangan khusus VIP untuk mengantarkannya ke ruangan Sean.
"Siapa kau? Kenapa kau masuk sini?" tanya seorang wanita yang memakai baju merah.
"Menyingkir dari suamiku!" ucap Claire dengan marah.
Wanita-wanita itu terlihat tertawa mendengar ucapan Claire. "Kau pasti mabuk. Aku tahu dia tampan dan banyak yang ingin menjadikannya sebagai suami, tapi sayang, CEO Sean belum menikah, jadi jangan membual di sini dan segeralah pergi." Wanita itu kemudian menyentuh dada Sean sambil tersenyum mengejek pada Claire seolah sedang menantangnya.
Karena mereka tidak ada yang mau menyingkir, Claire melangkah maju. "Berani sekali kau menyentuh suamiku dengan tangan kotormu!" Selesai mengatakan itu Claire menarik wanita itu dengan paksa.
"Hey, apa yang kau lakukan?" pekik wanita itu setelah berhasil ditarik oleh Claire.
Claire tidak memperdulikan teriakan wanita lainnya saat dia berhasil menjauhkan dari Sean. "Sudah aku bilang, menyingkir dari suamiku. Jangan pernah berani menyentuhnya lagi, jika tidak, kalian akan merasakan akibatnya."
"Sepertinya kita harus memberikan dia pelajaran," ucap salah satu wanita yang ada di ruangan itu ketika melihat sikap arogan Claire.
"Benar, ayo kita seret dia keluar dari sini." Setelah mengatakan itu, beberapa wanita maju dan menarik Claire.
"Berani sekali kalian mengeroyokku," ucap Claire dengan marah.
__ADS_1
Sebelum wanita-wanita itu berhasil menarik keluar Claire dari ruangan itu. Dia lebih dulu menarik dan mendorong mereka semua hingga terjatuh. "Aaawww. Dasar wanita gilaa!!" umpat salah satu gadis yang sudah terjatuh.
Setelah 4 gadis terjatuh, seorang yang tidak ikut menarik Claire maju dan hendak menyerangnya. Dengan sigap Claire mengunci tangan wanita itu lalu memelintirnya. "Aawww sakit. lepaskan tanganku!" pekik gadis itu sambil meringis.
"Jangan pernah berani menyentuh suamiku lagi, jika tidak, aku akan mematahkan tanganmu."
"Kau ... beraninya ...."
Belum selesai dia gadis itu berbicara, Claire kembali memelintir tangan gadis itu. "Baik ... baik ... Aku mengerti. Lepaskan tanganku. Aku tidak akan mengganggunya lagi."
Claire melepaskan tangan gadis itu lalu mendorongnya dengan kuat sampai dia hampir terjatuh. "Aku peringatkan sekali lagi pada kalian. Jauhi suamiku dan jangan pernah berani menyentuhnya," ucap Claire dengan lantang.
"Dan ingat satu lagi, ingat baik-baik. Aku adalah Nyonya Sean. Namaku Claire, Claire Alexander Louris. Istri sah dari Sean Alexander Louris. Lain kali, jika aku melihat kalian berani menyentuh atau menggoda suamiku lagi. Akan kupastikan kalian tidak akan bisa bekerja di sini lagi. Tidak hanya di sini, tapi di semua tempat. Ingat itu!"
Semua saling memandang. Ketika mendengar kesungguhan dalam ucapan Claire, mereka mulai percaya, jadi mereka memutuskan untuk segera meninggalkan ruangan itu. Setelah semuanya pergi, Claire berbalik lalu menunduk untuk menyadarkan suaminya.
"Sean bangun. Ayo kita pulang." Sean nampak sudah mabuk, maka dari itu, dia hanya bergumam tidak jelas saat dibangunkan oleh Claire.
"Sean, ayo bangun." Claire kembali membangunkan Sean beberapa kali hingga matanya terbuka. "Sean, apa kau bisa berjalan? Ayo kita pulang."
Claire duduk disamping suaminya lalu melingkarkan tangannya di pinggang Sean setelah itu tangan kanan suaminya diletakkan di bahu kanannya sambil dia pegangi.
"Istriku. Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggumu." Sean menatap Claire sesaat kemudian tersenyum bodoh.
Claire hanya menghela napas. "Ayo kita pulang."
"Pulang?" ulang Sean dengan wajah linglung dengan mata setengah tertutup. "Aku tidak punya rumah."
Mendengar ucapan konyol Sean, Claire kembali menghela napas. "Bagaimana bisa kau tidak punya rumah? Kau adalah penerus keluarga Louris. Kau memiliki semua yang diinginkan orang lain."
Claire berdiri dengan susah payah lalu berjalan sambil memapah Sean. "Tidak, kau salah. Ada yang aku tidak punya. Cinta. Aku tidak memilikinya."
"Sean, berhenti bicara omong kosong. Orang lain akan berpikir kau gila nanti."
Claire datang menggunakan taksi, maka dari itu, dia juga pulang menggunakan taksi. Dengan susah payah, Claire berhasil membawa Sean sampai di kamar mereka. Setelah Sean dibaringkan di tempat tidur, Claire berniat untuk ke kamar mandi untuk mengambil handuk kecil untuk menyeka wajah suaminya, tapi baru saja dia berbalik, tangannya sudah ditarik oleh Sean hingga tubuhnya menimpa tubuh suaminya.
Mata Sean terbuka dan mereka bertatapan sejenak. "Claire, Lahirkan anak untukku. Sebelum itu terjadi, jangan harap kau bisa pergi dariku dan kembali pada mantan kekasihmu. Berikan aku keturunan, setelah itu aku akan melepaskanmu. Jika kau tidak bisa memberikannya, maka jangan harap bisa lepas dariku. Selamanya kau harus menjadi istriku."
Setelah mengatakan itu, Sean membalik tubuh Claire hingga berada di bawahnya.
__ADS_1
Bersambung...