Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Rencana Berlibur


__ADS_3

Saat baru saja akan tidur, ponsel Claire berbunyi. Dia langsung meraih ponselnya karena mengira yang menelpon adalah Sean. Ketika melihat nomor tidak di kenal, Claire tidak langsung mengangkatnya melainkan berpikir sebentar setelah itu baru dia menjawabnya.


Heniiing, tidak ada suara sama sekali dari sebrang sana. "Halo." Claire akhirnya membuka suara, tapi masih tidak ada suara. Dia kemudian melirik sekilas jam pada ponselnya, pukul 10 malam.


"Halo. Siapa di sana? Kenapa diam saja?" tanya Claire lagi.


Sayup-sayup Claire mendengar suara dari sebrang sana. Tidak jelas suara apa karena suaranya sangat kecil. Claire menajamkan pendengarnya dan beberapa detik kemudian, dia mendengar suara lenguhan dari seorang wanita.


Suaranya wanita itu terdengar serak dan sangat seksi. Kemudian disusul oleh suara lenguhan seorang pria dan suara-suara lainnya mulai terdengar di telinga Claire. Kali ini, dia mendengar suara itu wanita itu mengerang dan menyebutkan nama seorang pria dalam lenguhannya dan pria itu pun menyahut. Suara pria itu sangat kecil sehingga Claire tidak bisa mengenali suara pria itu.


Tubuh Claire langsung menengang, jantungnya seolah berhenti sesaat dan setelah merasa dadanya seperti terhantam batu besar ketika mendengar nama seorang pria keluar dari lenguhan wanita itu. Dia jelas sangat tahu apa yang pria dan wanita itu sedang lakukan saat ini.


Dia tidak bicara lagi, melainkan, menajamkan pendengarannya untuk mendengar suara pria itu, tapi lenguhan pria itu tidak terdengar lagi. Hanya suara wanita itu saja yang terdengar. Claire, tidak bisa memastikan suara pria itu, suara siapa. Tidak lama kemudian, Claire mematikan panggilan tersebut dengan perasaan campur aduk.


********


"Trrriiiinggg."


Sebuah pesan masuk ke ponsel Claire saat dia baru saja selesai mandi. Claire kemudian berjalan ke meja rias dengan cepat dan mengambil ponselnya. Dia berharap pesan itu berasal dari Sean. Sudah seminggu berlalu semenjak kepergiannya, Sean belum juga bisa dihubungi. Ponselnya masih tidak aktif. Sean juga tidak pernah memberikan kabar sama sekali padanya.


Claire langsung membuka pesan yang baru saja masuk. Sebuah pesan gambar berasal dari nomor tidak dikenal, tapi ternyata nomor itu adalah nomor yang menelponnya 3 hari yang lalu ketika dia akan tidur. Claire langsung mematung setelah melihat foto yang baru saja dia lihat di layar ponselnya.


"Trriiiiinngggg."


Ada pesan masuk lagi dari nomor yang sama. Kali ini adalah pesan teks. Claire membacanya pesan itu pelan-pelan dan wajahnya menegang setelah membaca pesan tersebut dan tanpa sengaja dia menjatuhkan ponselnya. Claire terlihat sangat terkejut melihat foto itu, terlebih lagi, setelah membaca kata-kata yang dikirimkan oleh orang itu.


Setelah termenung selama 10 menit, Claire akhirnya menunduk dan mengambil ponselnya. Setelah menenangkan diri, Claire akhirnya menghubungi seseorang, tapi tidak bisa. Ponselnya tidak aktif. Claire kemudian menghubungi orang lain.


"Kak, aku butuh bantuanmu. Tolong urus sesuatu untukku," ucap Claire setelah telpon tersambung.


"Tolong kemari setelah urusanmu di sana selesai," ucap Claire lagi.


"Baiklah. Aku akan menunggu." Claire lalu mematikan panggilan telponnya.


Setelah meletakkan ponselnya di meja rias, Claire berjalan menuju lemari dan berganti pakaian dengan cepat, setelah itu dia turun ke bawah untuk makan malam bersama.


"Claire, apakah belum ada kabar juga kapan Sean akan pulang?" Kakek Sean bertanya setelah mereka selesai makan malam.


"Belum Kakek. Sean belum mengabariku," jawab Claire lembut.


Kakek Sam langsung menggerutu. "Anak itu selalu saja membuat orang khawatir. Bekerja juga tidak tahu waktu." Kakek Sam terlihat sangat kesal pada cucu tertuanya, "Felix, setelah Sean pulang, handle sementara pekerjaannya. Biarkan dia berlibur selama beberapa hari bersama dengan Claire. Bocah tengik itu, taunya hanya bekerja saja. Tidak pernah memikirkan istrinya."


"Kakek, kenapa harus aku? Biarkan Kenz yang menghandle pekerjaan Sean. Aku sedang banyak pekerjaan Kakek," protes Felix.

__ADS_1


"Hanya sebentar. Tidak akan lama. Lagi pula, Kenz sudah sibuk menghandle pekerjaan Sean selama seminggu ini. Kasihan dia jika harus kembali menghandle pekerjaan Sean."


Mendengar itu, Felix hanya bisa pasrah. "Baiklah." Felix lalu menoleh pada Claire, "Bawakan aku hadiah setelah kalian selesai berlibur nanti."


Claire tersenyum kaku. "Kau sudah memiliki semuanya, Felix. Apalagi yang kau inginkan?"


"Pendamping hidup, aku butuh pendamping hidup, Claire. Kau sudah diambil oleh Sean, jadi aku harus mencari yang lain."


Ibu Sean melirik pada Felix sejenak kemudian berkata, "Felix, ibumu sudah mengenalkanmu dengan beberapa wanita, tapi kau sendiri yang tidak mau."


Felix kemudian tersenyum masam. "Bibi, mereka itu bukan tipeku. Aku tidak suka dengan gadis manja. Aku suka wanita seperti, Claire."


"Tidak baik bersaing dengan sepupumu sendiri. Claire sudah menjadi istri Sean. Carilah yang lain," ucap Ibu Sean lagi dengan lembut.


"Aku tidak pernah bilang akan merebutnya, Bibi. Aku hanya masih tidak rela saja karena Kakek membatalkan perjodohanku dengan Claire."


Kakek Sam terlihat menghela napas panjangnya  "Maafkan Kakek, Felix. Kakek yang salah. Seharusnya kakek berunding dulu denganmu."


Melihat raut wajah penyesalan dari kakeknya, Felix lansung berkata, "Kalau begitu carikan aku wanita yang baik. Aku yakin Kakek pasti bisa menemukan wanita yang cocok untukku."


Sebenarnya Felix tidak serius dengan perkataanya. Dia hanya tidak ingin kakeknya merasa bersalah padanya sehingga dia mengatakan itu.


Selesai makam malam, Claire kembali ke kamarnya. Beberapa hari ini, dia merasa tidak bersemangat. Setiap selesai makan malam, dia akan langsung kembali ke kamar dan tidur tidak lama setelahnya.


*******


Pria itu lalu melingkarkan tangan kanannya ke perut Claire dan memeluknya dari belakang. "Claire, aku sudah pulang." Pria itu adalah Sean. Dia baru saja sampai di kediaman utama.


Sean terlihat membenamkan wajahnya di ceruk leher Claire sambil menghirup aroma tubuh istrinya. Saat merasakan dekapan seseorang dan rasa menggelitik di belakang telinganya, Claire mulai membuka setengah matanya lalu berbalik menghadap Sean.


"Kenapa kau baru pulang?" tanya Claire sambil memeluk tubuh Sean dari depan dengan mata yang kembali tertutup.


"Kau merindukan aku?"


"Hhhmmm," gumam Claire setengah sadar.


Sean terlihat terkejut mendengar jawaban dari Claire. "Aku juga merindukanmu." Detik kemudian Sean melu*mat bibir istrinya dengan cepat dan bisa ditebak apa yang selanjutnya mereka lakukan hingga dini hari.


******


Ketika terbangun di pagi hari, Claire bisa melihat wajah lelah suaminya yang masih terlelap. Dia memandang wajah Sean selama beberapa saat, kemudian tangannya terulur memegang wajah suaminya. Claire memang sangat menyukai wajah Sean saat tidur. Tidak ada wajah datar dan tatapan sedingin es, seperti biasa yang ditampilkan olehnya.


Saat sedang memadangi wajah suaminya, tiba-tiba Sean membuka matanya. "Kenapa kau memandangiku seperti itu?" tanya Sean dengan suara seraknya.

__ADS_1


Claire langsung menarik tangannya dari wajah Sean lalu tersenyum padanya. "Aku hanya ingin menatap wajah suamiku. Apa tidak boleh?"


Sean menatap lekat mata hazel Claire tanpa mengatakan apapun. "Bangunlah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," lanjut Claire lagi saat melihat Sean masih diam sambil menatapnya.


Sean mengabaikan ucapan istrinya dan justru melingkarkan tangannya di pinggang Claire, menariknya tubuhnya ke arahnya hingga Claire berada di dalam dekapannya.


"Aku masih lelah. Temani aku tidur sebentar lagi." Sean kembali memejamkan matanya dan mempererat pelukannya.


Claire lalu mendongakkan kepalanya berusaha untuk menatap wajah suaminya. "Sean, apa tidak ada yang ingin kau katakan padaku mengenai kepergianmu ke luar negeri?"


"Tidak ada."


"Katakan saja, apapun itu. Aku akan mendengarkan dengan sabar. Aku ingin tahu apa yang kau lalukan di negara K hingga kau tidak bisa dihubungi sama sekali."


Sean kembali membuka matanya. "Aku ke negara K untuk bertemu seseorang. Ada urusan pekerjaan di sana."


"Hanya itu saja?"


"Yaa."


Deeeggg .... Sean berbohong ....


"Apa kau yakin tidak ada yang ingin kau beritahukan padaku?" tanya Claire lagi, "tentang apa saja."


Sean mengerutkan kening sebentar lalu ekspresi wajahnya kembali seperti biasa lagi. "Tidak ada."


Claire menutup matanya sejenak lalu menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan. "Sean, apa kau pernah menghianatiku atau berselingkuh di belakangku?"


Sean mengerutkan kening sebentar kemudian menunduk dan bertemu pandang dengan Claire. "Tidak pernah."


"Benarkah?"


Sean menatap Claire dengan sangat yakin. "Ya."


"Kau tidak berbohong?" tanya Claire lagi seolah dia belum percaya dengan ucapan suaminya.


"Tidak, aku tidak berbohong."


Claire lalu menjauhkan tubuhnya dari Sean dengan meletakkan kedua tangannya di dada suaminya lalu tersenyum manis. "Sean, ayo kita pergi berlibur selama 5 hari ke tempat yang indah. Hanya kita berdua. Anggap saja sebagai bulan madu kita."


Pupil mata Sean melebar saat mendengar ajakan Claire.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2