Istri Untuk Sean

Istri Untuk Sean
Alasan Gloria


__ADS_3

Setelah puas berjalan-jalan, Claire kembali ke hotel karena sudah sore hari. Dia harus bersiap untuk menghadiri pesta malam nanti. "Wild, terima kasih karena sudah mengantarku."


"Iyaaa." Wild tersenyum lalu mengusap pucuk kepala Claire dengan lembut tanpa bisa dihindari oleh Claire, "masuklah."


Claire mengangguk sambil tersenyum paksa. Gerakan tiba-tiba Wild saat mengusap rambutnya, membuat Claire sedikit canggung. Dia lalu berbalik dan berjalan menuju ke loby hotel, tapi baru beberapa langkah, Claire berhenti dan berbalik. "Wild," panggil Claire saat melihatnya sudah melangkah pergi.


Wild menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Claire. "Terima kasih karena sudah memberikan kenangan indah selama aku bersamamu. Aku harap kau bisa melepasku dan tidak terjebak selamanya dengan masa lalu kita." Claire tersenyum lalu berbalik meninggalkan Wild yang nampak berdiri mematung sambil memandangi kepergiannya.


Claire, jangan berterima kasih dulu karena perjuanganku belum selesai. Aku baru saja memulainya. Aku akan menciptakan kenangan yang lebih indah lagi, jika kau sudah kembali padaku.


Wild kemudian berbalik dan meninggalkan hotel tersebut.


******


Ibu Sean menghampiri kamar Claire setelah dia selesai bersiap. Acara sebentar lagi di mulai, maka dari itu, Ibu Sean segera mengajak Claire untuk turun ke bawah setelah Claire selesai mematut diri.


Malam ini, Claire mengenakan gaun tanpa lengan berwarna putih gading dengan tali tipis yang menggantung di kedua sisi bahunya. Penampilannya sangat anggun dan cantik. Aura wanita berkelas, tidak bisa dipisahkan darinya, meskipun dia hanya mengenakan gaun yang simpel dan tidak terlalu banyak detail.


"Claire, kau cantik sekali. Orang yang melihatmu pertama kali, pasti tidak menyangka kalau kau berasal dari desa. Kau terlihat seperti berasal dari keluarga kaya," ucap Ibu Sean sambil berjalan masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka.


Saat menyadari ucapannya salahnya, ibu Sean langsung meminta maaf. "Maaf Claire. Ibu tidak bermaksud menyinggung dan menghina dirimu karena berasal dari desa."


Claire tersenyum lembut karena tidak merasa tersinggung sama sekali dengan ucapan ibu mertuanya. "Tidak apa-apa, Ibu. Aku mengerti maksudmu."


Setibanya di tempat pesta, Claire berjalan berdampingan dengan ibu mertuanya. Sebelum menyapa tuan rumah, ibu Sean lebih dulu mengajaknya untuk bertemu dengan beberapa kenalannya. Dengan bangga memperkenalkan Claire sebagai menantunya.


Dia sudah tidak memperdulikan ucapan anaknya yang mengatakan untuk tetap merahasiakan pernikahannya. Setelah mengobrol selama beberapa saat, ibu Sean kemudian menemui pemilik acara itu. "Jeremy, kenalkan ini menantuku." Ibu Sean mengarahkan pandangannya pada Claire sambil tersenyum hangat.


Baik Tuan Jeremy maupun Claire, sama-sama terlihat terkejut, tapi dengan cepat Claire menyapa dengan sopan dan membungkuk sejenak. "Tuan Jeremy, kenalkan namaku, Claire."

__ADS_1


Melihat Claire memperkenalkan diri dan bersikap formal padanya, Tuan Jeremy nampak terlihat bingung untuk sesaat kemudian berkata, "Yaa, senang bertemu denganmu, Claire."


Tuan Jeremy bukanlah orang bodoh, dia mengerti kalau Claire sedang menyembunyikan sesuatu dengan berpura-pura tidak mengenalnya.


"Jadi, Sean sudah menikah? Kenapa aku tidak mendengar berita apapun selama ini?" Tuan Jeremy bertanya pada ibu Sean dengan wajah heran.


Ibu Sean tersenyum canggung. Hubungan antara dua keluarga sangat baik. Dia merasa tidak enak karena tidak bisa memberitahukan apapun pada keluarga tuan Jeremy.


"Iyaa sudah. Maaf tidak bisa mengundangmu. Kami tidak mengadakan acara apapun. Sean sedang sibuk, jadi belum sempat untuk mempersiapkan pesta dan belum bisa memberitahukan pada publik."


Tuan Jeremy manggut-manggut tanda mengerti, Kemudian dia menoleh pada Claire. "Sean sangat beruntung memiliki istri sepertimu."


"Terima kasih atas pujiannya, Tuan Jeremy," ucap Claire dengan sopan.


Ketika Ibu Sean sedang mengobrol dengan tuan Jeremy, Claire berpamitan untuk pergi ke toilet, tapi belum sampai di toilet seseorang menariknya. "Claire, kita harus bicara." Wanita itu menarik Claire keluar dari tempat pesta.


"Gloria, apa yang kau lakukan di sini?" Claire nampak terkejut saat melihat ada Gloria di ada pesta yang sama dengannya.


"Claire, apa kau tahu di mana Wild saat ini? Dia pergi meninggalkan rumah 2 bulan lalu dan bilang ingin mencarimu. Apakah kau sudah bertemu dengannya?"


Claire mengerutkan keningnya. Dia baru saja bertemu dengan Wild tadi siang, tapi kenapa Gloria justru bertanya mengenai keberadaan Wild padanya? Padahal Wild juga ada di kota L saat ini.


Mungkinkah Wild datang kesini tanpa sepengetahuan Gloria?


"Aku tidak tahu di mana dia. Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengannya," jawan Claire dengan acuh tak acuh.


"Claire, tidak mungkin kau tidak tahu di mana keberadaan Wild. Kau pasti berbohong padaku, kan?"


Dahulu, dia sangat dekat dengan Gloria, tapi kini semua sudah berubah. Yang awalnya dekat bagai saudara berubah menjadi musuh dalam sekejap.

__ADS_1


"Aku tidak berbohong padamu. Aku memang tidak tahu di mana dia sekarang. Lagi pula, aku bukan kekasihnya lagi. Kau yang sudah menghancurkan hubungan kami," jawab Claire dengan ketus.


Gloria tidak bisa membalas sikap ketus Claire padanya karena yang dikatalannya memang benar. "Aku minta maaf, Claire. Aku terpaksa melakukannya. Anakku butuh seorang ayah, Claire. Tolonglah mengerti," ucap Gloria dengan wajah bersalah.


Claire melirik sekilas pada perut Gloria yang sudah terlihat membesar. "Tapi anak itu bukan anak Wild. Untuk apa dia bertanggung jawab atas apa yang tidak pernah dia lakukan? Kau seharusnya meminta ayah dari bayi yang ada di dalam perutmu untuk bertanggung jawab dan bukannya malah merusak hubunganku dengan Wild dengan cara menjebaknya."


Air mata Gloria mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku tahu, aku salah Claire, tapi aku tidak tahu di mana keberadaan bayi dalam kandunganku ini. Saat itu, aku mabuk di bar dan ketika terbangun aku sudah berada di dalam hotel. Pria itu meninggalkanku begitu saja dan meningglakan benihnya di dalam rahimku, Claire. Aku juga tidak menyangka kalau aku akan hamil karena kami hanya melakukannya malam itu saja."


Claire nampak membuang pandangan ke samping dengan wajah tidak acuh. "Aku sangat bingung saat aku tahu kalau aku sedang hamil. Yang ada dipikiranku saat itu adalah mencari ayah pengganti untuk anakku."


Claire kemudian menoleh pada Gloria dengan wajah kesal dan marah. "Gloria, tidak seharusnya kau menjebak Wild. Kau harusnya bertanggung jawab atas apa yang sudah kau perbuat, bukan justru menghancurkan kehidupan orang lain demi menyelamatkan dirimu," ujar Claire.


"Selama ini, Wild kurang baik apa padamu? Saat kita kuliah di luar negeri, dia selalu melindungimu sama seperti melindungiku. Dia selalu menjagamu dari pria yang beniat buruk padamu. Jika kau mengalami kesulitan dalam apapun itu, dia selalu membantumu. Dia juga selalu mengajakmu keluar negeri bersama kami karena merasa kasihan padaku yang tidak memiliki teman selain aku dan Gretta. Disaat perusahaan ayahmu hampir bangkrut, dia membantu ayahmu hingga perusahaan ayahmu kembali bediri lagi. Disaat perusahaan ayahmu kekurangan dana, Wild juga yang membantu mengatasi krisis keuangan di dalam perusahaan ayahmu. Banyak sekali kebaikan yang dia lakukan padamu dan keluargamu yang tidak bisa aku sebutkan semuanya satu persatu."


Air mata Gloria seketika tumpah. "Aku tahu, aku salah. Aku juga menyesalinya, Claire. Hanya dia yang terpikirkan olehku saat itu."


"Kau adalah wanita terkejam yang pernah aku kenal, Gloria. Semua kebaikan Wild padamu, kau balas dengan menghancurkan hidupnya. Kau sungguh tidak memiliki hati. Bagaimana bisa kau menghancurkan hidup pria sebaik Wild?"


Gloria langsung terduduk dengan lemas di lantai. "Aku terpaksa, Claire. Anak ini butuh seorang ayah dan aku juga mencintai Wild dari dulu. Dia adalah pria yang cocok untuk menolongku."


Bukannya iba, Claire justru bertambah kesal mendengar ucapan Gloria. "Aku hanya ingin memintanya menikahiku sampai anakku lahir, Claire. Setelah itu, aku bisa menceraikannya. Seharusnya dia bisa melakukan itu untukku, bukan? Selama ini, dia selalu membantuku. Membantuku sekali lagi, pasti tidak sulit baginya, kan?" tanya Gloria sambil meraih tangan Claire.


Kemarahan Claire semakin menjadi setelah mendengar perkataan Gloria. Kepalanya terasa panas karena menahan amarahnya sedari tadi.


"Gloria, satu-satunya penyesalan terbesarku dalam hidupku adalah mengenalkan Wild padamu. Aku sungguh-sunguh menyesalinya. Seharusnya kau bersukur karena Wild tidak menghancurkan keluargamu setelah apa yang kau lakukan padanya. Lebih baik jangan mengganggunya lagi. Jangan pernah berani memintanya untuk bertanggung jawab dengan kehamilanmu."


Claire kemudian menatap ke bawah dengan sorot mata tajam. "Menjauhlah dari hidup Wild dan jalani hidupmu dengan tenang. Itu adalah pengampunan terakhirku padamu untuk bayi yang ada di kandunganmu. Jangan pernah tampakkan wajahmu di depan Wild ataupun diriku lagi, jika tidak, aku akan menghancurkanmu sampai ke titik terendah hingga kau tidak bisa bangkit lagi."


Claire menarik tangannya yang dipegang oleh Gloria dengan kasar setelah itu berjalan masuk ke dalam pesta.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2