
Tengah malam, Claire terbangun dan melihat Sean tidur di sofa. Claire mengerutkan keningnya sesaat lalu menghampiri Sean. Dia mencoba untuk membangunkannya. "Sean, bangun. Kenapa kau tidur di sini?"
Sean membuka matanya ketika merasakan guncangan pada lengannya. "Kenapa tidur di sini?" Claire mengulang pertanyaannya lagi.
Sean bangun dari tidurnya lalu duduk dengan tegak. "Aku takut menggangumu. Lagi pula, kau belum bisa menerimaku. Aku hanya tidak mau kau merasa tidak nyaman."
Claire seketika merasa iba pada suaminya. Mungkinkah sikapnya sudah keterlaluan pada Sean? Sebenarnya, dia hanya berpura-pura belum menerimanya sepenuhnya, padahal dia sudah memaafkannya dan sudah bisa menerimanya.
"Tidurlah di tempat tidur, aku tidak merasa terganggu sedikitpun." Claire menarik tangan Sean dan mengajaknya ke tempat tidur.
"Tidak apa-apa, aku di sini saja. Kau tidurlah, sudah malam."
Sean membimbing istrinya kembali ke tempat tidur hingga istrinya berbaring. "Tidurlah. Jangan memikirkan apapun."
Setelah Claire menutup matanya, Sean kembali tidur di sofa. Setengah jam berlalu, Sean belum juga bisa memejamkan matanya. Pikiran terus tertuju pada masalah rumah tangganya. Akhirnya Sean berjalan menuju balkon kamar setelah mengambil sesuatu dari saku jaketnya.
Di luar balkon, Sean menyalakan rokok dan menghisapnya dengan pelan seraya menatap lurus ke depan dengan tatapan tak terbaca. Dia sedang berpikir keras mengenai langkah apa yang akan dia ambil jika Claire memang tidak ingin kembali padanya.
*****
Pagi harinya saat Sean terbangun, dia melihat Claire sudah berpenampilan rapi. "Kau mau ke mana?" Sean menatap Claire yang terlihat sedang memoles lipstik di bibirnya.
"Bertemu seseorang," jawab Claire tanpa menoleh pada suaminya.
"Siapa?"
"Bertemu dengan teman."
Jawaban tidak spesifik dari Claire membuat Sean curiga. "Apa aku boleh ikut denganmu?"
Claire akhirnya menoleh pada suaminya setelah selesai berdandan. "Tidak. Kau di sini saja."
Selesai mengatakan itu, Claire keluar dari kamarnya. Sean beranjak dari duduknya lalu meraih ponsel dan menghubungi seseorang. Setelah mematikan panggilan telponnya, Sean berjalan ke arah luar. Dia mengikuti mobil Claire dari belakang hingga mobilnya berhenti di sebuah cafe.
Dari luar cafe tersebut, Sean melihat Claire bertemu dengan Wild. Hati Sean seperti disayat ribuan pisau melihat istrinya bertemu dengan mantan kekasihnya. "Jadi ini alasannya kenapa kau tidak memperbolehkan aku ikut denganmu?" gumam Sean dalam hati.
Setengah jam mengawasi Claire dari luar, Sean akhirnya meninggalkan tempat itu.
*****
Malam harinya, Sean baru kembali ke rumah mertuanya pukul 10 malam. Claire terlihat sudah tertidur. Sean memutuskan untuk mandi, setelah itu berbaring di sebelah istrinya seraya menatap wajahnya dengan seksama.
"Kalau kau memang tidak bahagia denganku, maka, aku akan melepasmu. Aku tidak akan memaksamu lagi." Sean memberikan kecupan singkat di kening istrinya, "Meskipun begitu, aku akan tetap mencintaimu, Claire." Sean memeluk istrinya dengan hati-hati dengan perasaan campur aduk.
Tiba-tiba Claire membuka matanya saat merasakan dekapan suaminya. "Kau baru pulang?" tanyanya sambil mendongakkan kepala menatap suaminya.
Sean tersenyum seraya melepaskan pelukannya. "Iya, tidurlah kembali."
"Kau dari mana saja?"
"Aku bertemu dengan Nicko." Sean berdiri, "tidurlah, kita bicara lagi besok. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa?"
"Besok saja, sudah malam."
"Katakan saja sekarang, aku sudah tidak mengantuk."
Sean kembali duduk di tepi tempat tidur lalu berkata, "Besok saja."
Saat Sean akan bangun dari tidurnya, Claire menghentikan suaminya. "Tidur di sini saja. Tidak nyaman tidur di sofa." Claire seolah tahu kalau Sean akan kembali tidur di sofa.
"Apa kau tidak keberatan kalau aku tidur di sini?"
"Tidak."
__ADS_1
Sean merasa senang mendengarnya. Dia akhirnya berbaring di samping istrinya dan tanpa diduga, Claire langsung memeluk tubuh Sean. Gerakan tiba-tiba istrinya membuat Sean terkejut.
"Claire," panggil Sean lirih.
"Hhmmm," gumam Claire.
"Apa kau sudah tidak marah padaku?"
Claire mengangguk. "Apa itu artinya kau sudah memaafkan aku dan mau kembali lagi padaku?"
Claire kembali mengangguk. "Benarkah?" Sean mengurai pelukan istrinya lalu menatapnya dengan lekat, "apa kau yakin? Apa kau sudah sadar sepenuhnya?"
"Iyaaa, tapi aku belum sepenuhnya bisa menerimamu. Aku butuh waktu."
Meskipun begitu, Sean tetap merasa senang. "Terima kasih, Claire. Terima kasih karena sudah memberikan kesempatan untukku." Sean kembali memeluk istri.
"Aku mencintaimu, Claire. Sangat mencintaimu." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulut Sean tanpa ada rasa canggung sedikitpun.
Claire hanya diam, tapi tangannya memeluk erat tubuh suaminya dan itu membuat Sean merasa sangat senang. "Tadi pagi kau ke mana?"
"Ke cafe, bertemu dengan Wild."
"Kau masih mencintainya?"
Claire menggeleng. "Aku hanya ingin memintanya untuk berhenti berharap padaku dan memintanya untuk mencari wanita lain."
Sean mengurai pelukan istrinya lalu menatap matanya dengan lekat. "Aku pikir kau masih mencintainya."
"Aku hanya mencintaimu."
Hati Sean berbunga. Dia merasa sangat senang mendengarnya. "Aku juga mencintaimu, Claire."
Sean meraih dagu istrinya lalu menyatukan bibir mereka berdua. Tidak ada penolakan dari Claire. Mereka berdua justru memagut penuh gai-rah dan terburu-buru. Sepertinya, mereka ingin melanjutkan apa yang sempat tertunda kemarin. Ingin melepaskan kerinduan mereka yang sudah menggunung.
"Claire, aku menginginkanmu."
Claire hanya mengangguk dan mereka kembali memagut dengan liar sebelum Sean menyentuh istrinya. Tubuh Claire bahkan bergetar ketika suaminya berhasil memasukinya. "Apa sakit?" Sean menghentikan sejenak aktifitasnya ketika melihat Claire meringis.
"Sedikit."
"Maafkan aku, Sayang. Aku akan melakukannya dengan pelan."
Sean hampir hilang kendali akibat sudah lama tidak menyentuh istrinya. Awalnya dia melakukannya dengan pelan, tapi kemudian mempercepat temponya hingga membuat Claire mengerang dan mengeluarkan suara lenguhan terus-menerus. Dia memang sudah lama menahan has-ratnya, itu sebabnya dia hampir lupa diri.
Claire hanya bisa pasrah. Sejujurnya dia juga sudah lama menginginkan hal itu, tapi dia terlalu malu untuk mengatakannya. Sean akhirnya berhenti setelah tenaganya terkuras habis. Saat dia mengeluarkan semua benihnya untuk terakhir kalinya, dia berkata dengan penuh harap.
"Semoga kali ini benihku bisa tumbuh di rahimmu, Sayang."
Dalam hati Claire merasa senang, ternyata Sean ingin dia segera hamil anaknya. Dia sebenarnya tidak sabar untuk melihat reaksi Sean ketika dia tahu kalau dia sedang mengandung anaknya, tapi dia masih harus merahasiakannya untuk sementara waktu.
*******
Hari ini Sean berencana untuk kembali ke kota S, selain karena untuk urusan perkerjaan, dia juga ingin menemui Casandra. Dia tidak ingin masalah berlarut-larut. Dia juga takut kalau Casandra akan melakukan hal nekat lainnya.
Selesai sarapan, Sean langsung menyampaikan maksudnya pada mertuanya. "Ayah, Ibu, hari ini aku akan kembali ke kota S. Aku akan membawa Claire bersamaku."
Semua orang yang ada di ruang makan, termasuk Claire seketika menoleh pada Sean dengan wajah terkejut. "Aku tidak mau ikut, aku masih ingin di sini," tolak Claire cepat.
Dia sudah lama tidak bertemu dengan orang tuanya dan dia masih merindukan mereka jadi dia masih berat untuk meninggalkan orang tuanya..
Sean yang duduk bersebelahan dengan Claire langsung menoleh padanya. "Kau harus ikut denganku, Claire. Kau adalah istriku." Sean sengaja mengingatkan kembali status Claire agar dia tidak lupa kalau semalam, Claire sudah memberikan kesempatan untuknya.
"Claire, ikutlah pulang bersama suamimu. Selesaikan masalah kalian berdua dengan kepala dingin. Kalian masih terikat hubungan suami istri. Tidak baik hidup terpisah." Ayah Claire ikut menimpali ucapan Sean agar anaknya menuruti perkataan suaminya.
"Benar Claire, ke manapun suamimu pergi, kau harus ikut dengannya. Kau tidak bisa ditinggal di sini lebih lama lagi. Kau harus pulang ke rumah suamimu," sahut Ibu Claire.
__ADS_1
Orang tua Claire memang belum tahu kalau Claire sudah memberikan kesempatan pada Sean sehingga mereka masih berpikir kalau anaknya masih marah dan tidak ingin pulang bersama suaminya ke kota S.
Wajah Claire terlihat sedih mendengar perkataan orang tuanya. "Ayah, Ibu, aku masih merindukan kalian."
Sean memegang tangan Claire lalu berkata dengan lembut. "Kita akan ke sini lagi nanti. Aku akan menemanimu ketika aku memiliki waktu senggang."
Claire tidak menjawab, melainkan menatap ke arah kakek Sam seolah meminta bantuan padanya. "Sean, biarkan istrimu di sini selama beberapa hari lagi. Dia sudah lama tidak pulang. Kau bisa menjemputnya lagi nanti," tambah Kakek Sam.
Sean menarik tangannya lalu menatap ke arah kakeknya. "Dia harus ikut denganku, Kakek. Aku tidak bisa berjauhan lagi dengannya. Aku akan mengantarnya ke sini minggu depan."
Sebenarnya Sean tidak tega melihat wajah sedih Claire, hanya saja dia takut kalau Claire akan bertemu dengan Wild ketika dia kembali ke kota S. Dia tidak bisa meninggalkan Claire tanpa pengawasan darinya. Meninggalkannya sendiri di kota A, sama saja memberikan kesempatan pada Wild untuk bisa dekat dengan istrinya.
"Claire, dengarkan ibu. Kau harus ikut suamimu pulang. Ibu dan Ayah akan berkunjung ke sana jika Ayahmu sudah tidak sibuk," kata Ibu Claire lagi.
Claire dalam dilema, meskipun dia bilang pada Sean akan kembali padanya lagi, tapi dia belum mau pulang karena dia masih merindukan suasana rumahnya dan kota tempat kelahirannya.
"Claire, menurutlah. Aku berjanji, kita akan ke sini lagi minggu depan. Sekarang kau harus ikut pulang bersamaku." ucap Sean dengan wajah memohon. "segera kemasi barangmu. Kita akan berangkat siang ini."
Claire tidak punya pilihan selain mengikuti perkataan Sean. Siang harinya, mereka semua berangkat bandara. Jack dan kedua orang tua Claire ikut mengantar mereka sampai bandara. Ternyata di bandara sudah ada Nicko yang menunggu. Dia akan pulang bersama dengan Sean dan keluarganya mengggunakan jet pribadi Sean.
Setelah berada di udara, Sean meminta Claire untuk duduk di hadapannya, sementara kakek Sam dan Nicko berada di kursi belakang dan Kenz berada di belakang Nicko.
"Claire, katakan padaku, apa yang kau sukai dari temanku ini?"
Nicko datang dari arah belakang dan duduk di kursi sebelah Sean. Dia datang untuk memecah kehening antara Sean dan Claire. Sean dan Claire memang duduk berhadapan, tapi mereka tidak mengobrol sama sekali. Hanya sebelum lepas landas saja terdengar Sean beberapa kali bertanya pada Claire dan itupun hanya dijawab singkat oleh Claire.
Claire menoleh sekilas pada Sean sejenak lalu tersenyum cangggung pada Nicko. "Jangan mengganggunya," sela Sean cepat sebelum Claire membuka suaranya
Nicko mendengus dan menatap kesal pada sahabatnya. "Aku hanya penasaran. Bertanya pun tidak boleh," kata Nicko dengan wajah kesal
"Nicko, apa kau pernah tinggal negeri Paman Sam dulunya?" tanya Claire tiba-tiba.
Sean langsung melirik cepat pada Nicko lalu beralih menatap istrinya dengan wajah heran. "Tidak, kenapa?" tanya Nicko.
"Aku pernah melihatmu beberapa tahun lalu bersama dengan Mattew."
Sean dan Nicko melirik bersama ke arah Claire. "Kau mengenal Mattew?" tanya Sean dan Nicko secara bersamaan.
"Tentu saja aku kenal. Kami tinggal di apartemen yang sama saat aku tinggal di negeri Paman Sam," jawab Claire.
Claire memang tinggal di negeri Paman Sam saat menempuh pendidikan dokternya. Dia bahkan bekerja di rumah sakit ternama di sana.
"Jadi kau pernah tinggal di Park Avenue?" tanya Nicko dengan wajah terkejut.
"Ya."
"Di lantai berapa kau tinggal?" tanya Nicko lagi.
"Di lantai 15," jawab Claire.
Sean nampak berpikir dengan wajah datar setelah mendengar jawaban dari Claire. "Bagaimana kau bisa mengenal Mattew? Dan sedekat apa kau dengannya?" tanya Sean tiba-tiba.
Nicko melirik pada Sean dengan wajah menegang, dia merasakan firasat buruk saat melihat ekspesi dari wajah Sean. "Kami bertemu tidak sengaja. Awalnya sering bertemu di lift, lama-kelamaan kami dekat. Dekat sebagai teman."
Wajah Sean berubah menjadi dingin. "Erin, apa dia sering memanggilmu dengan nama itu? Sama seperti saat Wild ketika memanggilmu."
Nicko dan Claire menoleh bersamaan pada Sean. "Dari mana kau tahu?" tanya Claire dengan wajah terkejut.
"Jadi kau adalah gadis yang disukai oleh Mattew?" tanya Nicko dengan mata membelalak.
Sebelum menjawab, Claire lebih dulu melirik pada Sean yang sedang menampilkan wajah dinginnya. "Aku hanya berteman dengannya."
Setelah nama Mattew disebutkan, wajah Sean berubah menjadi dingin. Mattew adalah teman dekat Nicko dan Sean. Mattew memang pernah bercerita kalau dia menyukai gadis yang tinggal di apartemen sama dengannya dan dia mengenal Claire dengan nama Erin.
Bersambung...
__ADS_1