
Claire bergerak pelan ketika baru saja membuka matanya. Tubuhnya terasa remuk setelah melakukan aktifitas yang menguras keringat semalam. Sean tidak memberikan ampun padanya, meskipun dia sudah beberapa kali memintanya. Pada akhirnya, Claire menyerah dan membiarkan Sean menguasai dirinya hingga Sean berhenti sendiri.
Entah apa yang merasukinya, Sean tidak mau melepaskan Claire dengan mudah. Sean bahkan tidak memberikannya kesempatan untuk menjelaskan mengenai Wild. Setiap dia akan berbicara, Sean membungkam mulutnya dengan bibirnya. Padahal sebenarnya Sean hanya takut mendapatkan penolakan darinya dan tidak ingin mendengar Claire menyebut pria lain saat mereka melakukan hal paling intim semalam.
Entah sadar atau tidak, diakhir permainannya, Sean meminta Claire untuk tidak pergi kemudian menarik tubuh Clare dan memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang lalu memenjamkan matanya setelah merasa mengantuk.
Pagi ini, Claire terbangun karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Dia menoleh pada jam dinding yang ada di kamarnya, waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Dia baru saja tidur sebentar. Semalam, Claire menjemput Sean pukul 11 malam dan tiba di rumah pukul 12 malam lewat.
Setelah melihat jam, Claire membalik tubuhnya ke samping kiri, Sean masih tertidur. Wajahnya terlihat pucat dan kantung matanya terlihat jelas. Claire menduga kalau Sean tidak tidur dengn baik selama beberapa hari ini.
Saat sedang memandang wajah Sean dengan seksama, tangan kokoh Sean terulur meraih pinggang Claire kemudian menarik tubuhnya ke dalam pelukannya. Secara spontan, Claire mengangkat kepala dan menatap suaminya seksama.
Ternyata mata Sean masih tertutup, mungkin Sean melakukannya tanpa sadar. Claire termenung sesaat kemudian dia berniat untuk melepaskan diri dari suaminya, tetapi baru saja dia akan bergerak, Sean mempererat pelukannya.
"Tidurlah, aku masih mengantuk," ucap Sean tanpa membuka matanya. Suara seraknya terdengar menggelitik indra pendengaran Claire saat Sean berbicara tepat di telinganya.
Claire berpikir sejenak kemudian mengangguk, dia juga masih lelah jadi dia memutuskan untuk mengikuti perkataan suaminya. Membawa Sean dari club sampai tiba di kamar mereka membutuhkan tenaga yang besar. Belum lagi aktitas semalam menguras banyak tenaga sehingga membuatnya sangat lelah.
Claire akhirnya memejamkan matanya kembali sambil membenamkan wajahnya di dada suaminya. Setelah tidak ada lagi gerakan dari Claire, Sean membuka matanya. Dia menunduk sejenak lalu kembali memejamkan matanya saat melihat Claire sudah tertidur.
Ketika Claire membuka matanya, Sean sudah tidak ada di kamar mereka. Karena Claire tidak mau terlambat datang ke kantor, dia akhir langsung ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke kantor. Saat dia dalam perjalanan menuju kantor, seseorang menelpon dirinya.
"Baik Kakek, nanti akan aku sampaikan pada Sean." Selesai berbicara dengan kakek Sam, Claire mengakhiri panggilan telponnya.
Setibanya di kantor, Claire pergi ke ruangan Valery dan ternyata atasannya tidak ada. Dia kemudian mengecek ponselnya dan ternyata ada pesan dari Valery yang mengatakan dia sedang ada urusan. Valery memintanya untuk menghandle pekerjannya untuk sementara.
Di tempat lain, Valery berjalan keluar saat pintu lift terbuka. "Selamat pagi, Direktur Valery. Silahkan masuk, Anda sudah ditunggu di dalam," ucap Lea ketika melihat kedatangan Valery.
Valery hanya mengangguk lalu berjalan ke arah ruangan besar, kemudian membuka pintunya. "Ada kepetingan apa sehingga CEO Sean memanggilku ke sini?" tanya Valery sambil berjalan masuk ke dalam ruangan Sean.
Melihat kedatangan Valery, Sean berdiri dan menghampirinya. "Duduklah."
Valery duduk di hadapan Sean setelah meletakkan tas di sampingnya. "Aku ingin menarik sekretarismu ke sini." Tanpa basa-basi, Sean langsung mengutarakan maksud memanggil Valery ke kantornya.
Valery mengerutkan kening sejenak, kemudian berkata, "Kenapa harus bertanya? Bukankah kau terbiasa melakukan apapun tanpa persetujuan orang lain? Perusahaan ini milikmu, kau terlalu sopan padaku, CEO Sean," ucap Valery dengan nada sarkas.
Sean nampak tidak terpengaruh sedikitpun dengan sindiran Valery. "Lama-kelamaan, aku merasa kau seperti Felix," ucap Sean dengan wajah datarnya.
Valery menumpukkn kaki kirinya di atas kaki kanannya lalu memicingkan mata pada Sean. "Sean, beritahu aku, siapa Claire sebenarnya? Aku tidak pernah melihatmu begitu perduli dengan wanita, selain Casandra."
Sean terdiam sesaat, wajahnya nampak tenang, tapi ada sedikit emosi yang ditangkap oleh Valery dalam sorot matanya. "Istriku."
__ADS_1
Meskipun terkejut, Valery nampak biasa saja setelah mendengar pengakuan Sean. "Ternyata gosip itu benar, bahwa kau sudah menikah."
"Ya."
"Pantas saja kau sangat menjaganya. Aku memang bertanya-tanya, hubungan apa yang kau miliki dengannya sampai kau menyuruhku untuk mengawasinya setiap saat."
Sean hanya diam. "Tidak ada yang ingin kau jelaskan padaku?" tanya Valery lagi.
"Tidak ada."
Valery nampak kesal, tapi Sean terlihat tidak peduli. "Lalu bagaimana dengan Casandra?"
"Hubungan kami sudah berakhir," jawab Sean dengan wajah dingin.
"Itu anggapanmu saja, tapi tidak dengan Casandra," ucap Valery dengan wajah kesal, "tadinya aku tidak ingin memberitamu hal ini, tapi karena situasinya sudah berbeda, maka akan aku katakan padamu sekarang."
Valery menjeda ucapannya sejenak, "Casandra akan kembali bulan depan. Dia memintaku untuk merahasiakannya darimu karena ingin memberikan kejutan untukmu, tapi sepertinya kau yang akan memberikan kejutan besar padanya."
Raut wajah Sean berubah, tapi masih saja tidak bisa dibaca oleh Valery. "Jangan katakan apapun padanya, aku akan menemuinya sebelum dia kembali ke sini."
"Baiklah. Aku tidak akan ikut campur."
Setelah kepergian Valery, Sean berjalan ke arah dinding kaca dan menatap pemandangan kota yang ada di luar. Tangannya mengambil sesuatu dari saku celana, membuka bungkusnya lalu mengambil satu batang rokok kemudian membakarnya.
"Ada apa?"
"Sean, kakek meminta kita untuk datang ke kediaman utama sore ini." Orang yang menelpon Sean adalah Claire.
Sean terdiam sesaat kemudian berkata, "Aku akan menjemputmu."
"Tidak perlu. Aku sedang dalam perjalanan ke sana, kita bertemu di sana saja," tolak Claire dengan cepat.
"Baiklah."
******
Setibanya di kediaman utama, Sean langsung disambut oleh bibi Mey. "Selamat datang, Tuan Muda."
Sean mengangguk. "Di mana istriku?" tanya Sean sambil terus melangkah masuk.
"Nyonya muda sedang berada di taman belakang bersama dengan nyonya."
__ADS_1
Sean mengerutkan keningnya lalu menghentikan langkah dan menoleh pada bibi Mey. "Apa yang mereka lakukan di belakang?"
"Nyonya muda dan nyonya sedang mengobrol."
Setelah mendengar itu, Sean membelokkan langkahnya menuju halaman belakang. Sebelum dia sampai di halaman belakang, Sean bertemu dengan kakeknya.
"Dasar bocah tengik, suami tidak tahu diri!" Kakek Sam mengarahkan tongkatnya pada cucunya dan langsung dihindari oleh Sean.
"Kakek, ada apa denganmu?" Sean berusaha menghidar saat kakeknya kembali mengarahkan tongkat padanya. Terlihat sekali kalau kakek Sam ingin memukul Sean dengan tongkatnya.
Kake Sam berhenti karena merasa lelah mengerjar Sean yang sedari tadi terus menghindari pukulannya. "Kau pikir kakek tidak tahu kalau kau tidak pulang ke apartemenmu selama beberapa hari? Dengan teganya kau meninggalkan istrimu sendiri dan justru mabuk di club. Dasar tidak berguna!"
Sean terlihat terkejut. "Apa Claire mengadu pada Kakek?"
Kakek Sam kembali mengarahkan tongkatnya pada cucunya. "Kau seharusnya meminta maaf pada istrimu, bukannya menuduh istrimu yang tidak-tidak. Claire bahkan menutupi kesalahanmu saat kakek bertanya padanya."
Sean baru mengerti, bukan Claire yang mengadu, tapi orang lain. Sean kemudian menatap kakeknya dengan malas. "Kakek berhenti memata-mataiku, aku bukan anak kecil lagi."
Kakek Sam kembali mengacungkan tongkatnya ke arah wajah Sean dengan wajah marah. "Lalu kenapa kau masih bermain-main? Sekilan lama menikah, kenapa Claire belum juga hamil? Apa ada masalah denganmu? Jangan-jangan kau impo...."
Sean langsung memotong ucapan kakeknya dengan cepat. "Kakek, aku normal dan tidak ada masalah denganku. Semuanya tidak bisa instan Kakek, aku juga sedang berusaha."
Kakek Sean menampilkan wajah masamnya lalu mencibir. "Bagaimana istrimu bisa hamil kalau kau saja jarang pulang. Mulai sekarang kau harus tinggal di sini bersama dengan istrimu. Dalam sebulan, Claire harus hamil, jika tidak, kakek akan me...."
"Menikahkan Claire dengan Felix?" tebak Sean dengan wajah dingin.
Kakek Sam terdiam. "Dengar Kakek... Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Claire adalah istriku. Aku akan membuat Claire hamil secepatnya jadi jangan pernah ikut campur lagi masalah rumah tanggaku."
Setelah mengatakan itu, Sean pergi dengan wajah kesal. Kakek Sean tersenyum penuh arti setelah kepergian cucunya. Sean terlihat masuk ke dalam kamarnya lalu berjalan ke arah kamar mandi dengan perasaan kesal. Ketika dia selesai mandi, sudah ada Claire di dalam kamar.
"Sean, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," ucap Claire saat melihat Sean baru saja keluar kamar mandi.
"Apa?" Sean berjalan acuh tak acuh menuju tempat tidur sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Claire terihat ragu-ragu saat akan membuka mulutnya. "Mengenai semalam... aku...."
Sean menunggu kelanjutannya selama beberapa detik, tapi Claire tidak kunjung menyelesaikan ucapannya, Sean kemudian berkata, "Mengenai semalam, aku tarik ucapanku."
Mata Claire membulat. "Maksudmu?"
"Perkataanku yang semalam yang mengatakan akan melepasmu setelah kau lahirkan anak untukku, aku tarik kembali," ucap Sean dengan wajah serius.
__ADS_1
Claire mengerutkan keningnya. "Aku tidak akan melepaskanmu, meskipun kau sudah melahirkan anak untukku. Aku tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, selamanya kau harus tetap menjadi istriku, menjadi Nyonya Sean Alexander Louris. Sampai kapan pun namaku belakangku akan tersemat di belakang namamu."
Bersambung ....