Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Kepergian Alena


__ADS_3

Pagi - pagi Alean sudah berada di sebuah pedesaan yang jauh dari keramaian kota. Dia pergi pukul 04.00 pagi, sebelum Nico terbangun.


"Lebih baik aku cari rumah makan dulu," gumam Alena. Dia sudah mulai kelaparan.


Tetapi hingga berjalan lebih dari 1 kilo dia belum menemukan rumah sama sekali. Alena merasa sangat kelelahan, karena sudah berjalan sekitar 2 jam untuk masuk ke desa tersebut.


Kerena kelelahan, Alena pun duduk di pinggiran jalan. Sambil meminum sisa air nya tadi.


"Kalau saja aku bisa seberuntung Viona, bisa di cintai dan di sayangi mas Nico. Sayangnya aku hanya perusak hubungan orang!" lirihnya.


Saat dia melamun, terlintas sebuah mobil pik-up dan berhenti didepannya.


"Mau kemana neng?" tanya pak sopir.


"Mau ke desa disana pak," jawab Alena.


"Mau ikut saya? Saya kasih tumpangan, kebetulan rumah saya juga daerah sana," ujar pak sopir.


"Boleh pak," balas Alena.


Alena di bantu pak sopir tadi menaikkan koper nya. Dia beruntung bisa bertemu dangan pak sopir ini.


"Udah neng?" tanya pak sopir.


"Sudah pak," balas Alena. Mereka pun pergi menuju desa yang dituju Alena.


"Nama nya siapa neng?"


"Alena pak, bapak siapa?" tanya balik Alena.


"Saya Budi neng," balas Pak Budi.


"Terima kasih pak, kalau tidak bertemu bapak tadi mungkin saya akan bermalam di jalan,"


"Disini agak susah mencari angkutan umum neng. Hanya hari tertentu ada beberala angkutan yang akan pergi ke kota." jelas Pak Budi.


"Pantesan saya dari tadi nungguin gak ada yang lewat pak,"


"Neng Alena mau ke rumah siapa?" tanya Pak Budi.


"Rencananya saya mau memcari rumah di daerah sana pak. Dulu saya pernah tinggal disana waktu masih kecil, tapi itu waktu masih usia 6 tahun. Setelah itu orang tua saya mengajak pindah ke kota agar lebih dekat dengan tempat kerja ayah saya. Tapi itu hanya sebentar saja, sebelum kedua orang tua saya meninggal karena kecelakaan," jelas Alena.

__ADS_1


"Oo.. Kalau begitu tinggal saja dengan saya. Di rumah hanya ada saya dan istri saya saja, saya tidak memiliki anak. Jadi bapak hanya tinggal berdua," ujar pak Budi.


"Nanti merepotkan bapak," balas Alena.


"Gak neng, sesama manusia harus saling tolong menolong,"


"Baiklah pak, sambil saya mencari tempat tinggal lain, saya sementara tinggal di bapak saja kalau begitu."


Mereka pun akhirnya sampai di rumah pak Budi.


"Bu, bu, kesini bantu bapak!" panggil pak Budi pada istrinya.


"Biarkan saya saja pak, saya bisa kok!" Alena.


Bu Ani berlari tergopoh - gopoh, "Ada apa pak?"


"Sini bu, bantu bapak bawa ini!" sambil menunjuk tas Alena. Pak Budi yang membawa kopernya.


Mereka bertiga memasuki rumah Bu Ani. Alena kagum dengan rumah pak Budi, masih asri dan bersih. Meski di pedesaan disini sangat terawat.


"Neng disini kamarnya. Sekarang neng Alena istirahat saja, ibu buatkan makan siang dulu, nanti ibu bangunkan," ujar Bu Ani.


"Terima kasih banyak ya bu," balas Alena.


****


Saat akan pergi ke kamar mandi, tak sengaja dia melihat sebuah surat yang berada di atas meja rias Alena.


Nico penuh dengan amarah saat mengetahui Alena pergi meninggalkan rumah. Dia sangat murka, seluruh barang - barang yang ada disebelahnya hancur tak bersisa.


Dia mengerahkan seluruh anak buahnya untuk mencari Alena. Bahkan pekerjaan Nico banyak yang terbengkalai. Dia tak tahu harung bilang apa jika orang tuanya berkunjung kerumahnya kelak.


"Kemana kamu Al?!" gumamnya, sambil melajukan mobilnya menyusuri jalan. Seluruh bandara dan pelabuhan juga menjadi saran anak buahnya untuk menemukan Alena.


"Sudah ada kabar?!" tanya Nico pada kaki tangannya.


"Maaf bos, masih belum ada tanda - tanda keberadaannya!" balas anak buahnya.


"Sialan! Cepat cari sampai ketemu!" ucap nya sambil mematika sambungan.


Hingga 1 minggu Nic masih belum.bisa menemukan Alena. Dia sudah frustasi akibat ditinggal Alena. Ada yang hilang di sabgian hatinya, namun dia juga tak tahu apa itu.

__ADS_1


Bahkan Viona dia abaikan samapi saat ini. Yang awalnya dia akan menunggu di apartnya, dia urungkan. Dia juga tidak memberi kabar kepada Viona.


Viona semakin kalamg kabut karena Nico tidak dapat di hubungi. Bahkan di kantor agenci nya, dia juga tidak melihat Nico sama sekali.


"Kemana dia? Apa ada masalah dengannya?" tanya nya dalam hati.


Viona terus mencoba mencari Nico tapi tak menemukannya. Nomornya juga tidak aktif. Dia semakin bingung karena sudah waktunya untuk berbelanja, tapi Nico tidak ada kabar sama sekali.


"Sialan kamu Nico! Awas saja kalau sampai kamu dengan wanita lain, akan aku hancurkan dia!" gerutunya.


****


Nico yang sekarang sudah bukan lagi Nico yang dulu. Dia sudah tidak merawat dirinya dengan baik. Bahkan dagunya banyak di tumbuhi bulu - bulu halus. Dia lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk mabuk - mabukan.


"Al, kamu dimana? Aku merindukan mu Al. Jangan menyiksa ku seperti ini!" gerutunya yang setengah sadar. Dia minum di rumahnya seorang diri.


Enatah dia sudah sadar atau belum, yanh jelas kondisinya saat ini cukup buruk. Seluruh pekerjaan kantornya dia selesaikan dirumah. Waktunya hanya habis untuk mencari Alena saja.


*****


Saat ini sudah genap 1 bulan Alena pergi dari rumah. Dia hidup di desa yang cukup melimpah akan hasil buminya.


"Alena, ibu mau ke ladang antar makanan bapak. Nanti kalau kamu bosan, menyusul saja ya!" ujar Ibu Ani.


"Baik bu," Alena pun melanjutkan membereskan rumah Ibu Ani.


Alena tidak diperbolehkan pergi dari rumah itu oleh Ibu Ani. Dia sudah di anggap seperti anak sendiri oleh suami istri itu.


"Alena senang bu, pak sekarang ada yang merawat Alena seperti anak kandung sendiri," gumamnya sambil menyapu halaman.


Alena juga sering pergi ke pasar dengan Bu Ani. Dia banyak membantu tetangga sekitar juga. Bahkan banyak tetangga yang ingin menjodohkan Alena dengan anaknya.


Namun ada salah satu tetangga yang menyukai Alena. Dia diam - diam sering memperhatikan Alena. Dia juga sering membantu Alena ketika Alena kesulitan mengerjakan sesuatu.


Berbeda dengan Alena, dia tidak ingin berbungan asmara lagi dengan siapa pun. Dia akan fokus untuk memperbaiki diri saat ini dan menenangkan pikirannya.


****


Di saat Nico mulai gila, ada laki - laki lain yang juga kebingungan mencari Alena beberapa bulan ini. Dia sering pergi ke tempat kerja Alena namun hasilnya nihil.


Menurut teman - temannya Alena tidak bilang apa - apa, dia langsung berhenti saat itu juga dan tidak pamit kepada yang lain.

__ADS_1


Sean menduga Nico lah penyebabnya. Dia akan mencari Nico untuk berganya keberadaan Alena.


__ADS_2