
Ramon sudah mempersiapkan banyak untuk pernikahannnya dalam waktu singkat. Dia berencana mengundang banyak media, tapi di cegah oleh Alena. Alena merasa tidak nyaman dengan adanya media. Dia juga ingin menjaga perasaan Nico meski sudah berpisah.
"Lebih baik pernikahannya sederhana saja. Tidak usah mengundang banyak media," ujar Alena kepada Ramon.
"Kalau mengundang teman-teman bisnis boleh? Ini adalah hal pertama bagiku?" Ramon mencoba bernego dengan Alena.
"Boleh, asalkan tidak di masukkan media masa. Aku tidak terbiasa dengan hal itu," jelas Alena.
"Baiklah, kalau begitu besok kita menikah. Semua undangan sudah aku sebarkan. Setelah ini kita pergi ke butik."
"Kalau begitu papa sama mama juga akan bersiap."
"Bersiap untuk apa ma?" tanya Alena dan Ramon bersamaan.
"Untuk mencoba baju juga, lah. Masak kalian saja yang mencoba baju pengantin!" dengan gaya sewotnya mama menjawab.
Mereka semua akhirnya tertawa bersama.
*****
Tiba saatnya Alena menikah dengan Ramon. Sean yang mendapat kabar jatuh untuk ke dua kali nya. Hati yang dia jaga selama ini patah untuk kesekian kalinya. Tapi semua itu dia ikhlas kan demi kebahagiaan Alena. Selama Alena mencintai sahabatnya dan Ramon juga bisa menjaga dan mencintai Alena, Sean akan merelakannya.
"Terima kasih sudah datang," ucap Ramon sambil memeluk Sean.
"Sama-sama, semoga setelah ini kalian hidup bahagia dan segera memiliki tambahan momongan."
Ada rasa sesak di dalam dada Sean, kala mengucapkannya. Seharusnya dia juga bisa bahagai seperti Alena dan Ramon. Kali ini dia akan melepas nama Alena dari hatinya. Sean akan mencari cinta sejatinya pada wanita lain.
"Semoga kamu bisa bahagia, Al. Aku ikut senang akhirnya kamu bisa menemukan seseorang yang mencintai mu dengan tulus," ucap Sean sambil menggenggam tangan Alena.
Belum juga Alena membalas ucapan Sean, Ramon langsung memotonganya. "Jangan lama-lama kalau megang tangan istri ku. Nanti kamu nggak mau lepas." sambil melepas genggaman Sean pada Alena.
__ADS_1
Mereka bertiga pun tertawa bahagia.
"Apa kamu bahagia?" tanya Alena pada Leo.
"Iya ma, Leo senang bisa melihat mama bahagia. Leo juga senang Papa Ramon bisa menjadi papa yang baik untuk Leo," ujar Leo.
"Terima kasih sayang, kamu sudah mau menerima Papa Ramon," ucap Alena sambil mencium pucuk kepala Leo.
*****
Resepsi telah usai. Leo yang awalnya ingin tidur dengan Alena, di hadang oleh kakek dan neneknya.
"Cucu ganteng nenek, jangan ganggu papa sama mama, ya. Kasian mama pasti capek seharian berdiri di pesta. Leo kasihan nggak sama mama?" mama Ramon mencoba membujuk Leo.
"Kasihan nek," jawabnya.
"Kalau kasihan, Leo tidur sama nenek saja, ya. Biar nggak mengganggu mama. Biarkan mama Leo istirahat, bagaiamana?" bujuk nenek.
"Kenapa kita kesini mas?" tanya Alena yang tidak tahu kalau dia akan bulan madu di hotel.
"Mama sama papa sudah menyiapkan hotel untuk bulan madu kita," jelas Ramon dengan senyum indah.
"Bulan madu?" cicit Alena mulai gugup. Sudah lama Alena tidak melakukan kewajiban sebagai istri. Dia takut akan kaku dan tidak bisa memuaskan suaminya.
"Jangan gugup, kamu yang lebih tahu segalanya. Bahkan aku saja belum pernah merasakan itu," ucap Ramon sambil menggenggam tangan istrinya dan jangan lupakan mata elangnya menuju ke arah mana. Hahahahahah.
"Ngomong apa sih kamu, mas!" dengan sewot Alena melepas genggaman Ramon.
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di sebuah hotel pinggir pantai yang sangat indah. Dengan kamar yang menghadap ke arah pantai dan dinding yang tebuat dari kaca, yang dapat menembus pandang siapa saja yang melihatnya.
Saat memasuki kamar Alena sangat terkejut."Wah, sangat indah," ucap Alena yang kagum dengan pemandangannya.
__ADS_1
"Kamu suka?" tanya Ramon yang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Suka," jawabnya dengan senyum mengembang.
"Malam ini akan menjadi malam bersejarah bagiku. Ini adalah yang pertama untukku," jelas Ramon.
"Tapi kamu bukan yang pertama untukku, mas. Aku takut kamu kecewa," balas Alena dengan sedih.
"Sssttt... jangan bicara begitu. Aku memilihmu bukan karena yang pertama atau yang ke dua. Aku mencintai semua yang ada pada diri mu. Kita akan saling melengkapi satu sama lain. Apa pun masa lalu kamu, aku menerima itu semua. Yang terpenting adalah masa saat ini. Jadi kamu harus tetap percaya diri, ok?"
Alena hanya menganggukkan kepalanya.
"Boleh aku meminta hak ku sebagai suami kamu?" bisik Ramon di telingan Alena.
"Nggak boleh!" dengan spontan Alena menjawab.
"Masak nggak boleh sih, kita sudah sah , lo. Boleh ya, coba deh kamu pegang ini," ucap Ramon sambil mengarahkan ke arah yang tidak seharusnya. Hahahahhahahhaa
"Keras kan? Masak kamu tega membiarkannya berdiri tegak. Capek tau, berdiri terus nggak ada yang ngajak main." Dengan nada manja yang di buat-buat oleh Ramon.
Alena yang mendengarnya menjadi geli sendiri. Apalagi saat di pegangnya tadi terasa begitu besar dan.....
(pikir saja sendiri, author lama-lama geli sendiri. Hahahahaha)
Tanpa menunggu persetujuan Alena dengan gerakan cepat Ramon menarik Alena ke atas kasur king sizenya
#######
Buat teman-teman setia semua, terima kasih sudah menunggu update cerita ku setiap hari ya. Dan saat ini author ada cerita baru lagi yang berjudul "Janda Semakin Didepan"
Mohon dukungannya. Jangan lupa untuk like dan komen ya. Aku tunggu😘
__ADS_1