Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Titik Temu


__ADS_3

Nico melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Nico sadar, bahwa dia satu mobil dengan orang tuanya. Makanya dia melajukan mobilnya perlahan.


Tak dipungkiri hati Nico cemburu, mendengar perkataan Sean tadi. Dia tidak akan pernah melepas Alena.


"Apa sih Al menariknya diri kamu?! Sampai-sampai Sean juga menyukai mu?!" gumamnya.


"Menantu kita mengang the best ya Pa?! Banyak yang mengantri meski sudah memiliki suami!" ujar Mama Nico.


"Iya Ma! Gak kayak orang satu ini! Di kasih berlian malah memilih bongkahan batu bata yang sudah hancur!" balas Papa Nico.


"Kok bisa bongkahan batu bata yang sudah hancur sih Pa?!" balas Mama Nico sambil menyenggol lengan suaminya.


"Iya dong Ma! Kalau bongkahan batu besar kan masih bisa dipakai untuk pondasi rumah, masih bermanfaat! La kalau bongkahan batu bata yang sudah hancur, sudah tak berbentuk tidak bisa dipakai lagi kan Ma! Barangnya kurang bagus!" sindir Papa Nico sambil mengedipkan mata ke arah istrinya.


Orang tua Nico kompak untuk terus memojokkan anaknya. Mereka geram lantaran kebodohan Nico.


"Iya, iya, iya, Nico tau kalau salah!" balas Nico sewot.


Papa dan Mama Nico saling melirik satu sama lain. Mereka senyum-senyum dibelakang Nico.


"Kamu ini Pa, anak kesusahan kok malah disindir melulu sih!" ujar Mama Nico.


"Ya habisnya, saking cerdasnya itu anak sampai bikin Papa gemes tau Ma!" balas Papa Nico.


Orang tua Nico kompak tertawa dalam hati. Mereka tak habis pikir dengan kelakuan Nico, bisa-bisanya menyakiti anak orang.


"Atau jangan-jangan kamu diguna-guna ya sama wanita yang gak jelas itu!" celetuk Mama Nico secara tiba-tiba.


"Apa sih Ma! Ya gak mungkin lah, jaman sekarang mana ada begituan Ma! Mama ini ada-ada saja!" balas Nico tak mau kalah.


"Hei, mana tahu kamu diguna-guna atau tidak! Siapa tau saja memang iya! Dia mempengaruhi kamu hanya untuk menguras harta benda kamu! Hanya untuk menghabiskan uang kamu! Dia pakai belanja dan huru hara gak jelas gitu, mana tahu kamu! Yang kamu tahu hanya dia cantik dan menarik hati kamu!" ucap Mama Nico panjang lebar.


"Apa Papa dulu juga diguna-guna Mama?!" tanya Nico dengan polosnya.


"Dasar anak durhaka!" balas Mama Nico sambil mendaratkan sepatunya di kepala Nico.


Disela-sela pencariannya, Papa Nico mendapat panggilan dari bawahannya.


"Bagaimana?" tanya Papa Nico.


"Sebelumnya ada wanita yang kebingungan mencari sebuah alamat, dan wajahnya mirim dengan yang difoto. Saya masih mencari informasi kemana arah perginya!" balas bawahan Papa Nico.


"Baik! Segera kabari jika ada informasi baru!"


"Baik Bos!" Sambungan pun berkahir.


"Bagaimana Pa?" tanya Mama.


"Kita akan segera menemukannya!" balas Papa.


Mama Nico yang mendengar pun semakin senang.


"Aku akan segera bertemu dengannya!" ujar Mama Nico dengan antusias.


Nico yang mendengarkan pun ikut senang. Dia akan segera bertemu dengan Alena. Dia akan berlutut di kaki Alena agar mau memaafkannya.


"Al tunggu aku!" batin Nico.


*

__ADS_1


*


Tak kalah senangnya dengan Nico, Sean juga mulai menemukan jejak Alena. Dia menyusuri setiap daerah yang kemungkinan besar ada Alena disana.


"Al, aku sangat merindukan kamu! Aku ingin segera bertemu dengan mu!"gumam Sean.


Berbeda dengan Nico, Sean langsung turun ke desa-desa dan bertanya kepada warga setempat.


Awalnya banyak yang tidak tahu. Namun setelah Sean menunjukan foto Alena, ada salah satu warga yang mengenalinya. Dia tunjukkan arah Alena berjalan.


Sean pun melanjutkan perjalanannya menuju arah yang tunjukkan oleh warga tadi.


"Aku harus bisa menemukan mu terlebih dahulu Al, sebelum di dahului oleh Nico!" terangnya lagi.


*


*


"Makan dulu Al, nanti lanjut lagi!" teriak ibu Alena di tepi Ladang.


"Baik bu!" balas Alena sambil berlari mendekati ibunya.


"Nanti kamu disuruh ke rumah Rendy Al, katanya masih ada lowongan disana!" ucap Ibu.


"Baik Bu, nanti Alena kesana setelah pulang dari ladang," jawab Alena.


 


Sore harinya Alena pergi ke rumah Rendy.


"Permisi," ucap Alena.


"Iya Mas," jawab Alena.


"Sini Al, masuk dulu!"


Alena duduk bersebrangan dengan Rendy.


"Apa kamu tidak keberatan kerja di tempat kumuh begitu? Disana banyak debu dan kotor Al,"


"Gak masalah kok, yang penting aku masih bisa bekerja,"


"kalau gaji, aku gak bisa memberi gaji besar seperti dikota. Disini sedikit berbeda dengan disana,"


"Iya gakpaap kok, berapa pun aku gak masalah!"


"Ya sudah kalau begitu, besok kamu mulai kerja jam 7 dan pulangnya jam 5. Karena disini sepi jadi kita tutup jam 5, untuk menghindari hal-hal yang tidak di nginkan," ujar Rendy.


"Baik Mas, bajunya bagaimana?" tanya Alena.


"Bebas Al, gak ada baju khusus!"


"Ok Mas, kalau begitu aku pamit dulu ya! Terima kasih sudah mau menerima kerja saya disini,"


"Sama-sama Al! Mau aku antar pulang?"


"Tidak usah Mas, aku pulang sendiri saja!" balas Alena segera pergi dari sana.


"Ternyata benar kata ibu Al, kamu cantik dan baik!" gumam Rendy.

__ADS_1


*


*


Pagi-pagi Alena sudah rapi dengan celana jeans dan hem lengan panjangnya yang dilipat sampai siku.


"Cantiknya anak ibu!"


"Ibu, bagus gak bu?" tanya Alena.


"Bagus, terlihat rapi!"


"Ya sudah bu, Alena berangkat kerja dulu kalau begitu. Takut terlambat!" ucap Alena sambil berpamitan dan mencium tangan ibunya.


"Hati-hati ya Al!"


"Ya bu!" balas Alena sambil menganggukkan kepala.


 


Rendy sudah berdandan rapi dan wangi. Dia ingin menyambut Alena bekerja dengan kesan yang baik.


"Tumben kamu rapi sekali Ren!?" tanya Mama Rendy.


"Gak tuh Ma! Biasa saja!"


"Gak biasanya kamu rapi dan wangi gini. Biasanya juga cuma cuci muka, terus berangkat ke toko!" ujar Mamanya.


"Ya kan sekali -kali terlihat OK Ma,"


"Pasti ada sesuatu ini!" Mama Rendy curiga.


Rendy tak menggubris ucapan Mamanya. Dia langsung berangkat begitu saja.


Sesampainya di depan toko, dia melihat Alena yang sudah berdiri di depan pintu.


"Sudah dari tadi Al?" tanyanya.


"Belum Mas, baru saja datang,"


Rendy membuka swalayannya dengan segera. Alena mulai menyapu lantainya. Rendy hanya memperhatikan setiap gerak Alena. Dia sudah terkena pesona Alena yang tiada duanya.


"Cantik, putih, rajin, dan baik pula, sudah cocok buat jadi ibu dari anak-anakku!" lirihnya.


"Oooo... Ini yang membuat perjaka Mama bangun pagi-pagi dan sudah wangi!" seru Mama Rendy sambil menepuk bahu Rendy dari belakang.


"Mama! Pelan-pelan kenapa! Nanti dia dengar!" ujar Rendy.


Anak dan ibu itu terus bergelut dengan pemikiran mereka masing-masing.


*


*


Hari ini Nico memasuki kantornya. Sudah lama dia mengambil cuti nya. Namun suasana hati Nico yang semula baik-baik saja, rusak karena Viona menerobos masuk keruang kerjanya.


"Kamu kemana saja sih sayang!" ucap Viona tiba-tiba.


"Ngapain kamu kesini Vi!" bentak Nico.

__ADS_1


"Kamu kok gitu sih Nic! O...sepertinya sudah ada mainan baru kali ini!" seru Viona.


__ADS_2