
Sepulang les, Leo meminta pergi bermain di taman bersama mama nya. Dia sudah lama tidak bermain di sana dengan teman-temannya. Nico sebenarnya ingin mengatar Alena. Tapi karena ada hal mendadak yang tidak bisa dia tinggalkan, akhirnya Alena pergi sendiri. Ini adalah kesempatan Alena untuk minta pendata Leo tentang rencananya. Kalau ada Nico, mungkin akan mendapat hasutan dari papa nya.
Alena membawa Leo memasuki taman. Dia membiarkan Leo berlari kesana-kemari. Hingga rasa lelah menyerangnya, Leo menghampiri mama nya.
"Ma, aku capek," ucap Leo sambil meneguk minuman yang biasa dia bawa saat sekolah maupun les.
"Istirahat dulu sayang, nanti lanjut lagi mainnya," balas Alena halus.
"Emm... Leo boleh mama meminta pendapat kamu?" Alena bertanya pada Leo.
"Boleh ma, apa?"
"Kalau Leo mempunyai papa baru mau?" tanya Alena hati-hati.
"Memangnya kenapa dengan Papa Nico, ma?"
"Em... papa sama mama sudah tidak ada kecocokan lagi sayang. Jadi akan sulit untuk bersatu. Kalau Leo keberatan memiliki papa baru, mama nggak apa-apa. Yang penting Leo bisa bahagia mama sudah senang. Mama hanya ingin meminta pendapat kamu saja," ucap Alena dengan lembut.
"Papa Nico suka bikin nangis mama terus ya? Kalau begitu jangan, ma. Aku nggak mau kalau mama sedih lagi. Apa papa baru Leo, om yang kemarin itu?"
"Bagaimana kamu tahu?"
“Leo pernah dengar kalau Om itu suka sama mama. Aku dengar nya dari kakek dan nenek waktu kita bermain."
“Leo nggak marah?”
“Enggak, Leo nggak marah. Kenapa harus marah? Kalau itu bisa membuat mama bahagia Leo mau punya papa baru,” jawab Leo dengan tegas.
“Tapi ada syaratnya,” ucap Leo lagi.
“Syarat? Apa?” tanya Alena.
“Om itu tidak boleh membuat mama menangis lagi seperti dulu. Kalau sampai Om itu membuat mama menangis, Leo akan membawa pergi mama sejauh-jauhnya dan nggak akan bertemu dengan siap-siapa lagi.” Ujar Leo.
Alena sangat terharu dengan jawaban anaknya. Di usianya yang masih anak-anak, dia bisa memikirkan kebahagiaan orang tuanya dan menjaga dirinya.
“Mama sangat beruntung punya kamu sayang,” ucap Alena sambil memeluk Leo.
“Aku sayang mama,” balas Leo sambil membalas pelukan Alena.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
Setelah puas bermain, Alena mengajak Leo untuk pulang. “Ayo kita pulang, sebentar lagi langit akan gelap,” ucap Alena.
“Ayo ma, Leo juga sudah lapar.” sambil memegangi perutnya.
“Ok! Nanti mama masakkan makanan kesukaan kamu,” balasnya sambil menggandeng tangan Leo.
Sesampainya di rumah Alena langsung mememasak untuk makan malam. Melihat rumah yang sepi sepertinya Nico belum kembali. Alena terus melanjutkan memasaknya. Setelah selesai, Alena menata semua di meja makan. Saat Leo dan Alena asik menikmati makannya, tiba-tiba Nico dating dan ikut gabung dengan mereka.
“Papa boleh ikut makan?” tanya Nico pada Leo.
“Tentu pa, papa boleh ikut makan bareng kita,”jawab Leo.
“Iya Al, besok aku sudah harus kembali. Makanya aku tadi menyelesaikan beberapa hal di sini. Apa kamu sudah tanya pendapat Leo?”
“Sudah mas, Leo setuju saja asal dia tidak membuatku menangis. Kalau dia membuatku menangis, Leo akan membawa ku pergi jauh,” ucap Alena.
“Leo anak yang baik. Dia bisa menjaga kamu di mana pun kamu berada. Maafkan aku selama ini selalu membuat kamu menangis, mungkin ini balasan Tuhan karena selama ini aku menyia-nyia kan mu. Selama menjadi suami kamu, banyak kesalahan yang aku lakukan. Aku sadar banyak kesalahan yang sudah aku perbuat sama kamu, aku minta maaf. Setelah ini, aku harap kamu bisa hidup bahagia dengan siapa pun pilihan kamu,” dengan sendu Nico berucap.
“Iya mas, maafkan aku juga karena tidak bisa menjadi istri yang baik buat kamu. Aku juga tidak bisa membahagiakan kamu. Semoga kamu bisa menemukan seseorang yang dapat mengerti kamu dan menyayangi kamu sepenuhnya.”
Suasana makan malam itu menjadi lebih sendu dari biasanya. Saling meminta maaf meskipun terlambat, tidak memutuskan tali kekeluargaan di antara mereka. Adanya anak kecil yang menjadi penghubung mereka walau harus hidup terpisah, tak memudarkan kasih sayang satu sama lain. Meski kasih sayang itu dengan bentuk yang berbeda.
\*\*\*\*\*
__ADS_1
Pagi-pagi Nico sudah siap dengan setelan jas nya dan beberapa koper yang sudah dia kemas semalam. Nico harus segera kembali ke negara asal Karena bisnis yang tidak bisa dia tinggal lama-lama.
“Kamu sudah siap mas?” tanya Alena yang melihat Nico sudah rapi. Rencananya Alena dan Leo akan mengantar Nico menuju bandara. Kebetulan hari ini adalah tanggal Leo libur sekolah, jadi bisa ikut mengantar kepergian papanya.
“Sudah, Leo mana?”
“Sebentar lagi turun,”
“Aku masukkan kopernya dulu kalau gitu,” ucap Nico.
“Iya mas, aku panggil Leo dulu.” Sambil berjalan menuju kamar Leo.
Sesampainya di sana, Alena melihat Leo menangis.
“Kenapa sayang, sudah cakep kok nangis?” Alena mencoba bertanya pada Leo.
“Apa papa tidak akan kembali lagi kesini?” tanya Leo.
“Tentu papa akan kembali lagi kesini. Tapi ini kan ada pekerjaan yang harus papa selesaikan dulu, jadi papa harus pulang. Nanti kalau papa libur kerja pasti kesini lagi,” ujar Alena.
“Benarkah? Papa masih boleh kesini meski Leo nanti punya papa baru?” tiba-tiba lolos begitu saja dari mulut kecil Leo.
“Apa Leo takut kalau punya papa baru, Leo tidak bisa bertemu lagi sama Papa Nico?” tanya Alena menyelidik.
“Iya,” jawab Leo sambil menganggukkan kepalanya.
“Sayang, mama kasih tahu ya. Walaupun nanti Leo punya papa baru, Papa Nico tetap papa nya Leo. Papa Nico juga bisa bermain kesini lagi, atau kalau Leo mau ikut papa juga nggak apa-apa. Tapi itu nanti kalau Leo sudah besar dan bisa mandiri. Kalau sekarang, biar Papa Nico kerja dulu cari uang yang banyak biar bisa kesini lagi main sama Leo. Mama atau papa baru Leo tidak akan melarang Leo bertemu sama Papa Nico. Jadi jangan takut kalau nggak bisa ketemu lagi sama Papa Nico,” jelas Alena.
Nica yang mendengar semua ucapan antara ibu dna anak itu ikut terharu. Dia meneteskan air mata bahagianya. “Ternyata aku yang selama ini kurang bersyukur Tuhan,” lirih nya.
__ADS_1