Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Kabar Buruk


__ADS_3

Alena merasa malu berbicara dengan Nico. Sebelumnya dia tidak pernah jatuh cinta. Sekalinya jatuh cinta, malah disia-siakan. Kali ini Alena ingin menunjukkan kepada Nico, jika dia menaruh hati padanya. Tetapi tidak terburu-buru, dia kan menunggu respon Nico terlebih dahulu.


***


Pagi-pagi Alena sudah berangkat bekerja. Hari ini begitu padat dan sibuk. Banyaknya pesanan dan pelanggan yang datang, membuat Alena kuwalahan.


Hingga malam hari, Alena terlihat begitu sibuk.


"Kamu istirahat dulu Al!" ucap bos Alena.


"Sebentar lagi selesai pak. Nanti sekalian pulang," jawab Alena.


"Ya sudah, saya tinggal dulu kalau begitu." seraya pergi dari sana.


Beberapa menit kemudian pekerjaan Alena sudah selesai.


"Akhirnya aku bisa pulang!" seru Alena.


Alena berjalan menuju halte bis didekat tempatnya bekerja. Belum juga dia sampai di halte, tiba-tiba ada seseorang yang datang dengan mengendarai motor memukul kepala Alena. Alena langsung jatuh tersungkur ke tanah.


Tidak banyak orang yang mengetahui kejadiannya. Beberapa orang yang melihat Alena tersungkur langsung berlarian menolongnya.


Alena langsung dibawa Ambulan menuju rumah sakit terdekat, namun tas Alena tertinggal di jalan.


Alena langsung mendapatkan penanganan dari dokter. Dia dimasukkan langsung ke ruang operasi.


"Cepat hubungi keluarganya!" perintah dokter.


"Pasien tidak ada identitasnya dok!"


"Waduh bagaimana ini?!" dokter mulai lebingungan. Karena Alena harus segera di operasi akibat pukulan benda tumpul. Darah Alena yang terus mengalir, membuatnya mulai kebahisan darah.


"Coba tanyakan ke petugas yang datang membawanya!" titah sang dokter.


Dengan sigap perawat tadi berlari mencari petugas yang membawa Alena. Saat dia melewati resepsionis, perawat tadi diberitahukan bahwa Alena langsung dilakukan tindakan saja. Karena sebentar lagi keluarganya akan datang.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, perawat tadi langsung kembali menemui dokter.


"Tapi kita perlu tanda tangan keluarganya, jika sesuatu tertjadi!" ucap dokter.


"Saya yang akan menandatanganinya!"


Mata dokter langsung tertuju pada seseorang yang sangat gagah dan tamapan. Bahkan perawat tadi sampai tidak berkedip sama sekali.


"Mana berkasnya?! Saya yang akan bertanggung jawab! Tolong selamatkan dia, lakukan yang terbaik!"


"Baik pak!" balas dokter.


Operasi pun berjalan sesuai dengan rencana. Tetapi ada beberapa kendala, stok darah yang sama dengan Alena kosong. Dokter sudah menyampaikan kepada pihak keluarga, untuk membantu mencarikan.


"Siapa saja, yang memiliki darah sama bisa langsung menemui saya. Saya akan usahakan juga stok di rumah sakit lain!" sambil berjalan, dokter menjelaskan.


Belum jauh dokter itu pergi, sudah dikejutkan dengan pernyataan orang gagah tadi.


"Ambil punya saya!" dengan menyodorkan tangannya, dia memerintah dokter itu mengambil darah miliknya.


***


Setelah semua selesai, Alena dipindahkan ke ruang ICU untuk sementara waktu hingga kondisinya membaik.


"Aku harap kamu segera sadar!" dengan berderai air mata dia setia menunggu Alena.


Dengan sabar, dia selalu setia menemani Alena. Meski pun tidak boleh berlama-lama disampingnya, dia tidak pernah beranjak sedikitpun dari tempat duduknya.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu Al! Maaf!"


*


*


*

__ADS_1


"Bagaimana? Apa beres semua?!" seseorang telah melakukan panghilan dengan palaku pemukulan Alena.


"Beres semua bos! Tidak ada jejak yang tertinggal!"


"Bagaimana dengan saksi mata!"


"Tidak ada yang melihatnya bos!" jawabnya.


"Bagus! Sisanya sudah saya transfer! Segera pergi dari sini dan jangan sampai tertangkap!" titahnya. Sambungan langsung terputus.


"Hidup kamu tidak akan tenang sayang! Selamanya kamu akan menderita!" dengan tertawa dia berucap.


"Aku tidak akan tinggal diam! Kamu yang telah mengusik hidupku, maka kamu juga yang harus bertanggung jawab!" ujarnya sambil tertawa sumbang.


***


Sean masih setia menunggu didepan ruang ICU. Dia kaget mendengar kabar bahwa Alena mengalami kecelakaan. Tetapi setelah mendengar pernyataan dokter tadi, Sean mencoba berpikir keras siapa orang yang tega melukai Alena.


"Apa salah kamu Al? Sampai orang tega menyakiti kamu! Tidak cukupkah penderitaan kamu selama ini?!" lirih Sean.


"Kalau saja aku tadi menjemput kamu, mungkin ini tidak akan pernah terjadi Al! Aku bodoh, membiarkan kamu sendirian!" begitulah penyesalan Sean.


***


"Dok kapan Alena akan sadar?! Sudah berhari-hari dia tidak sadarkan diri! Bahkan sampai hari ini dia tidak menunjukkan kemajuan sama sekali!" Sean mencoba bertanya kepada dokter.


"Berdoa saja tuan, semoga Tuhan memberikan kesembuhan untuk nona Alena. Karena lukanya cukup parah dan kondisinya setiap hari menurun, jadi proses penyembuhannya sedikit lamabat. Saya harap tuan bisa bersabar menghadapi cobaan ini!" jawab dokter.


***


Di lain tempat, dalang di balik penyerangan Alena memerintahkan orang bayaran untuk mengawasi perkembangan Alena.


"Terus Awasi dia! Sekecil apapun perkembangannya laporkan padaku!"


"Baik bos! Saya permisi dulu!" pamitnya.

__ADS_1


"Beruntung masih ada orang yang mau menolong kamu! Sehingga sampai detik ini kamu masih bisa bernafas! Tapi jangan berharap hari selanjutnya akan lolos, aku kan terus mengejarmu hingga kamu pergi kesurga!"


__ADS_2