
Dengan tangan yang bergetar Alena menjawab pertanyaan Nico.
"Aku, aku hanya ingin menenangkan diri!" jawab Alena dengan tangan bergetar.
Nico yang mengetahui itu Alena, langsung memeluknya tanpa aba-aba.
"Aku sangat merindukanmu Al. Aku gila karena kamu. Aku sangat mencintai mu, Al!" ucap Alena.
"Tolong lepaskan aku!" ucap Alena.
"Nggak Al, kali ini aku nggak akan melepaskan kamu!" balas Nico.
"Lepasin aku mas! Aku benci kamu!" teriak Alena sambil mendorong tubuh Nico.
Ramon yang melihat Alena tiba-tiba di peluk oleh Nico mulai emosi. Dia langsung menghampiri Nico dan melayangkan bogem mentah di pipi Nico.
"Jangan menyentuhnya!" dengan lantang Ramon melarang Nico memeluk Alena.
"Siapa kamu, seenaknya saja melarang ku, hah!"
"Dia suami ku mas!" ucap Alena.
Mereka berdua begitu kaget. Nico kaget karena Alena sudah menikah lagi dan Ramon kaget karena Alena tiba-tiba bilang dia suaminya. Ramon sangat senang kalau memang ucapan Alena benar adanya.
"Ini benar Al?! Dia benar suami kamu?! Aku nggak percaya Al! Nggak mungkin kamu ninggalin aku! Nggak, nggak mungkin!" teriak Nico.
"Alena benar, aku memang suami nya. Jadi aku harap kamu segera pergi dari sini!" bentak Ramon.
"Nggak! Aku nggak percaya! Kamu pasti bohong kan, Al?! Jawab aku Al!" sambil mengguncang bahu Alena, Nico terus mendesaknya.
"Maaf mas, dia memang suamiku!" Alena tetap bersikukuh.
"Mama!" tiba-tiba Leo menghampiri Alena. Alena sudah takut kalau Leo memanggil Ramon dengan sebutan paman.
"Mama kenapa? Om ini siapa ma?" tanya Leo.
__ADS_1
Nico terus memperhatikan Leo.
"Dia sangat mirip denganku. Apa dia benar-benar anakku?" batin Leo.
"Apa dia anakku Al?" tanya Nico.
"Bukan! Ayo kita pergi mas!" dengan menggandeng tangan Ramon dan Leo Alena menarik mereka berdua.
Bukan Nico naamnya jika tidak bisa memaksa Alena mengaku.
"Tunggu Al! Kalau kamu tidak mau mengaku, maka anak ini akan aku bawa pergi untuk tes DNA!" ancam Nico.
Mendengar hal itu, Alena langsung berhenti dan berbalik.
"Kangan pernah menyentuh dia!" bentak Alena.
"Kenapa?! Apa kamu takut, kalau dia memang benar anakku?!" Nico sedikit emosi.
Perlahan-lahan Nico bisa mempengaruhi Alena. Misinya kali ini, dia harus bisa membuat Alena dan anaknya kembali padanya. Nico tidak akan membiarkan Alena lepas darinya lagi.
"Jangan kira aku takut dengan kamu mas! Selama ini kamu kemana saja?! Kalau kamu memang laki-laki yang baik, kamu tidak akan tergoda oleh wanita lain! Tapi, sayangnya penilaianku terhadap kamu salah besar! Kamu sama saja dengan laki-laki di dunia ini yang suka berganti pasangan! Aku benci kamu mas, aku benci!" dengan penuh emosi Alena mengungkapkan semua isi hati nya.
Tanpa sadar, Ramon langsung menyahut pembicaraan antara Alena dan Nico. "Tidak semua laki-laki seperti itu Alena. Aku bisa buktikan, kalau cinta ku begitu besar melebihi apapun! Dalam prinsipku seumur hidupku hanya ada 1 wanita saja, tidak ada yang lain sampai kapan pun! Akan aku buktikan ucapanku." ucap Ramon dengan menggebu-gebu. Ramon sedikit tersinggung dengan ucapan Alena. Karena dia tidak pernah memainkan hati wanita. Sekalipun Ramon sedikit bejat dalam dunia gelap, tetapi dia tidak pernah bercocok tanam sana-sini. Dia hanya akan memberika miliknya untuk 1 wanita saja, yaitu istrinya kelak.
"Aku juga tidak akan menyakiti hati mu Alena. Selama ini, aku selalu menunggumu. Hingga detik ini aku masih setia menunggu kamu membalas perasaanku!" tiba-tiba Sean datang dan mengungkapkan perasaannya.
Alena begitu terkejut dengan kedatangam Nico. Sekarang lebih terkejut lagi dengan kehadiran Sean. Lebih parahnya lagi mereka semua saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.
"Tuhan.... ujian apalagi ini. Bagaimana bisa Engkau mempertemukan kami semua dalam waktu bersamaan. Bagaimana aku harus mengatasinya?! Haruskan aku melarikan diri lagi?! Atau aku memukul kepala meraka satu persatu?! Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang?!" dalam hati Alena terus mengeluh.
"Untuk apa kalian semua disini! Dia istriku, samapai kapan pun Alena tetap istriku! Dan untuk kamu jika Alena memang benar istri kamu, ceraikan dia saat ini juga. Sampai mati, aku tidak akan melepaskan wanita yang aku cintai!" ungkap Nico.
"Mas kita sudah berpisah! Aku sudah tidak mau melanjutkan hubungan kita! Leo memang anak kamu mas, darah daging kamu. Tapi kita tidak akan bersama selamanya. Hati ku sudah mati! Aku sudah tidak ada rasa cinta sedikit saja untuk kamu!" seluruh keluh kesah Alena akhirnya keluar juga.
"Leo ayo kita pulang nak," ajak Alena dan langsung menggandeng tangan Leo. Anak kecil itu masih bingung dengan pertengkaran mama nya dan ke 3 laki-laki yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apakah om ini papa ku ma?" Leo bertanya.
"Iya sayang, ini papa. Ini papa Leo, nak. Pulang sama papa ya?" ucap Nico.
"Aku nggak mau sama papa. Papa selalu membuat mama ku menangis dan sedih. Leo benci papa!" Leo langsung berlari memeluk Alena.
Ramon langsung memeluk Alena dan mengajaknya untuk pergi memasuki mobil. Tetapi sayang, Sean lebih dulu mencegahnya.
"Biarkan dia pulang denganku. Aku lebih mengenalnya dari pada kamu." ucap Sean serius. Sean tahu kalau Ramon bukanlah suami Alena.
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri." potong Alena. Alena langsung mengge dong Leo dan meninggalkan mereka bertiga.
Nico yang melihat Alena pergi, langsung menyusulnya. Dia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bisa bersama dengan anaknya.
Nico mengikuti taxi Alena menuju rumahnya.
"Aku tidak akan menyerah Al. Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa berkumpul kembali seperti dulu." gumam Nico.
Ramon dan Sean saling bertatap-tatapan. Mereka masih bingung bagaimana bisa mereka berdua mengenal wanita yang sama dan mencintai wanita yang sama.
"Sejak kapan kamu memgenal Alena?!" Ramon bertanya pada Sean.
"Sudah lama, sebelum kamu mengenalnya." jawab Sean.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu mencintainya?"
"Mana aku tahu, kalau kamu mencintai Alena yang sama!"
Ramon mulai ragu dengan perasaanya. Di sisi lain dia sangat mencintai Alena, karena hanya Alena lah yang mampu menggetarkan hatinya selama ini. Tidak ada wanita yang menolaknya selama ini selain Alena. Itu menunjukkan bahwa Alena bukanlah wanita matre atau wanita yang gila dengan popularitas. Dia adalah wanita baik-baik yang layak menjadi ibu dari anaknya kelak.
Tapi di sisi lainnya, Ramon tidak mungkin menyakiti perasaan sahabatnya itu. Apalagi Sean yang lebih mengenalnya dulu.
"Aku pulang dulu, tenangkan pikiran mu. Besok kita bicara lagi!"
"Aku harap, kamu bisa melepaskannya." ucap Sean
__ADS_1