
Akhirnya Ramon menyudahi acara peperangannya. Alena butuh istirahat dan makan.
"Ayo kita makan malam di luar, sambil jalan-jalan," ajak Ramon pada Alena.
"Aku capek mas, pengen tidur saja di sini."
"Kalau kita di sini lagi, bisa-bisa kamu tambah capek 2 kali, sayang. Mana bisa aku menahan diri setiap melihat kamu. Apalagi kalau lihat kamu tidur dengan baju yang kurang bahan, tanpa aba-aba dia langsung berdiri sendiri," jelas Ramon.
"Iya, iya, kita makan di luar." Alena menanggapinya dengan tertawa.
****
Berbeda dengan Leo yang selalu bertanya kapan mama dan papa nya akan pulang. Kakek dan nenek nya sampai kuwalahan membuat alasan. Saking frustasinya mereka mengajak Leo liburan juga. Demi mengalihkan perhatian Leo. Dengan begini Leo akan cepat memiliki adik lagi.
Seperti saat ini Leo sedang asik bermain pasir pantai bersama kakek dan anak seusianya. Leo juga pergi bermain ke taman hiburan lainnya. Orang tua Ramon sangat memanjakan cucu kesayangannya itu.
"Kek, nanti kita beli es krim ya?" pinta Leo pada Kakek nya.
"Oho, cucu kakek mau es krim?" Kakek balik bertanya.
"Iya, Kek. Pasti enak bermai pasir sambil makan es krim." Leo sudah membayangkannya.
"Tunggu disini sebentar, Kakek belikan."
Papa Ramon bergegas pergi untuk membeli es krim. Leo dan Nenek nya menunggu di pinggiran pantai.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian terdengar suara nyanyian ciri khas penjual es krim. Leo dan Nenek terkejut ternyata Kakek nya membawa penjual es krim beserta truk nya.
"Apa Nenek salah lihat?" tanya Nenek pada Leo sambil mengucek matanya.
"Sepertinya tidak, Nek. Leo juga melihatnya."
Saat truk es krim sudah berhenti di depan Leo, keluarlah Kakek dari dalam nya.
"Ini, Kakek sudah belikan kamu es krim. Tinggal kamu pilih yang rasa apa," begitu senang nya Kakek membelikan Leo es krim dengan truk nya sekalian.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan, Kek?" tanya Leo masih bingung, sambil menggaruk kepalanya.
"Tentu saja tidak. Kakek pikir dari pada lama mengantri, lebih baik Kakek beli saja semuanya sekalian. Biar kamu juga puas makan es krim nya."
Nenek pun hanya bisa menepuk dahi nya. "Betapa bodohnya suami ku ini. Lalu truk sebesar ini mau kita pakai untuk apa? Tidak sekalian saja kamu beli restoran es krim nya!" ucap Nenek sedikit emosi dengan ketangkangkasan suaminya.
"Wah ... manusia 1 ini memang ajaib. Sepertinya uang mu tidak akan pernah habis setelah ini!" ucap Mama Ramon dengan penuh penekanan.
"Tentu tidak akan pernah habis. Bahkan untuk menghidupi 10 istri aku masih sanggup," jawab Papa Ramon dengan santainya.
Sontak saja istrinya langsung memukul kepala nya. "Kalau kamu berani, akan aku potong habis burung yang sebesar sosis itu!"
Leo hanya geleng-geleng kepala melihat Kakek dan Nenek nya bertengkar.
"Seperti anak kecil saja," ucap Leo spontan.
__ADS_1
"Siapa yang seperti anak kecil!" teriak Mama dan Papa Ramon bersamaan.
"Kakek dan Nenek!" jawab Leo sambil menunjukkan deretan gigi putihnya dan segera berlari sebelum diri nya di gelitik oleh Kakek dan Nenek nya.
Mereka begitu bahagia dengan kedatangan Leo. Leo telah memberi warna dalam kehidupan mereka.
******
Sudah 1 minggu Alena dan Ramon bulan madu. Hari ini mereka akan puang ke rumah utama milik Ramon. Karena Leo sudah berkali-kali bertanya tentang Mama nya, akhirnya Nenek Leo memberitahukan pada Ramon.
"Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Leo," ucap Alena.
"Sama, aku juga nggak sabar pengen cepat malam lagi."
"Kenapa malam?" Alena bertanya sambil mengerutkan dahi nya.
"Ya biar cepat anu anu," ucap nya tanpa dosa.
"Mulai mesum!" balas Alena.
"Ya nggak masalah dong, kan sama istri sendiri. Kalau sama orang lain boleh?" sambil menoel dagu Alena.
"Awas saja kalau kamu berani! Aku potong habis itu burung kamu! Tak bersisa!" tangan Alena sambil memperagakan memotong burung.
"Ok, ok, kita damai! Pulang." Ramon langsung menggiring Alena pulang.
__ADS_1
"Di balik lemah lembutnya,ternyata dia lebih menyeramkan!" batin Ramon.