Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Draft


__ADS_3

"Ngomong apa sih kamu, mas. Lagi pula kita bukan suami istri beneran. Nggak mungkin kan tinggal 1 rumah," jawab Alena.


"Mungkin saja kalau aku mau. Jaman sekarang banyak yang tinggal 1 rumah tanpa ikatan. Tapi aku nggak mau itu terjadi sama kamu. Aku ingin menjaga kamu sebaik mungkin,"


Alena hanya diam tak menjawab.


"Sudah sekarang kamu tidur. Kamar kamu ada di depan sini, kalau butuh sesuatu kamu bisa nyari aku ke atas."


"Baik mas. Nanti kalau mam sama papa tanya kenapa kita tidak 1 kamar gimana mas?" tanya balik Alena.


"Biar aku yang memikirkannya. Mereka juga nggak akan tahu kalau kamu tidur disini. Mereka nggak pernah cek satu persatu setiap ruangan. Atau kamu mau tidur di kamar ku?" Ramon tanya balik sambil tersenyum jahil


"Seperti nya kamu sakit mas!" balasnya sambil berjalan menuju kamarnya.


****


Ramon yang tidak bisa tidur karena keberadaan Alena. Beberapa kali dia mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Sepertinya aku salah menyuruhnya menginap di sini. Aku jadi ingin menyusulnya saja. Sial otak mesumku mulai bereaksi!" lirihnya sambil memegangi kepalanya.


Akhirnya Ramon pura-pura mengambil minum kebawah. Di lihatnya pintu kamar Alena masih tertutup.


"Apa dia sudah tidur? Apa begitu pulasnya dia tidur? Apa dia tidak memikirkan aku? Hah, aku bisa gila sendiri kalau begini," gumamnya sambil menuang air minum.


Namun beberapa menit kemudian terdengar suara pintu terbuka. Ramon langsung keluar dapur untuk melihat siapa gerangan.


Di lihatnya Alena dengan mata sedikit terpejam sambil berjalan.


"Bagaimana bisa kamu berjalan sambil memejamkan mata, Al. Nanti kalau kamu jatuh bagaimana?" gumam Ramon di balik persembunyiannya.


Alena terus berjalan menuju dapur, di benar-benar kehausan. Biasanya kalau di rumah, Alena akan membawa air minum ke dalam kamar. Jadi ketika dia haus tinggal minum saja.


Alena langsung mengambil air minum di meja dan meneguknya. Terlihat begitu menggoda saat dia meminum dengan tetesan air yang mengenai lehernya.

__ADS_1


"Ahhh.... segarnya," ucap Alena yang tidak menyadari kalau ada Ramon yang bersembunyi.


Setelah minum Alena langsung kembali ke kamarnya.


Jangan di tanya soal Ramon. Dia menahan mati-matian benda yang bergerak tanpa aba-aba di bawah sana. Saat menyaksikan Alena minum sambil mengeluarkan suara desa*** tiba-tiba saja makhluk hidup tanpa tulang itu bergerak, padahal tidak menerima perintah. Tapi dia sangat lincah pergegakannya. Membuat Ramon tak kuat menahan anu nya.


Akhirnya di berlari ke atas dan memasuki kamar mandi untuk berperang dengan kembarannya. Hahahahahahhaha.....


"Saharusnya aku tidak melihatnya tadi. Repot kan jadinya!" gumam Ramon sambil bekerja keras.


Wkwkkwkwkwkw,author pengen ketawa.


*****


Sinar mentari pagi menembus masuk kedalam ruangan yang gelap.


"Oooaaaammmm.....!" terdengar suara Alena yang mulai terbangun.


"Waduh! Aku kesiangan!" seru Alena sambil melihat jam di phonselnya.


Setelah selesai mandi, Alena langsung berlari ke arah dapur. Tapi di lihatnya Mama Ramon sedang memasak bersama maid lain dan ada Leo juga.


"Maafkan aku ma, aku bangun kesiangan," ucap Alena tiba-tiba.


"Tidak apa-apa sayang, apa tidur mu nyenyak? Apa kamu sudah membuatkan adik untuk cucu ku?" tanya Mama Ramon dengan santainya, meski pun ada maid di sana.


"Hah, adik? Em...itu belum" lirih Alena.


"Nanti kamu buatkan ya, segera! Biar tambah rame."


"I iya ma," dengan senyum kikuk."


"Jangan menyudutkannya ma, kasihan Alena. Nanti aku buatkan lagi cucu yang banyak buat mama," ucap Ramon yang baru saja memasuki dapur. Dia tahu kalau mama nya terus mendesqk Alena untuk memiliki anak lagi.

__ADS_1


"Ya, begitu lebih baik. Biar aku tidak kesepian." jawab mama dengan santai.


"Sudah, jangan dengarkan mama. Ayo kita makan saja," ucap Ramon sambil meraih pinggang Alena.


"Kapan lagi bisa seperti ini. Mumpung ada kesempatan bisa memeluknya," batin Ramon saat tangan kekarnya meraih pinggang Alena.


Ramon menarik kursi untuk Alena. Di susul oleh papa nya yang baru saja turun bersama Leo.


"Mama tadi malam tidur di mana?" tanya Leo.


Dengan sedikit gugup Alena menjawab. "Di kamar sayang,"


"Bersana papa," lanjut Ramon.


"Halah, alasan. Kalian kira mata ku ini buta!" batin papa Ramon tersenyum.


"Akan ku buat kalian bulan madu, baru tahu rasa!" batin mama Ramon sambil melirik suaminya.


"Setelah ini kalian mau kemana?" papa Ramon bertanya.


"Pulang pa. Aku ada pekerjaan luar kota dan Alena harus mengurus toko rotinya, jadi kita harus pulang."


"Mau papa sama mama antar?" tanya mama.


"Nggak usah ma!" jawab Ramon dan Alena bersamaan.


"Kalian ini kenapa? Kompak sekali!" dengan sewot mama nya menjawab.


"Nggak usah ma, nanti mama capek. Di rumah saja sama papa, ya. Biar aku yang antar nanti langsung berangkat kerja."


Akhirnya perdebatan pun berakhir, Ramon pulang mengantar Alena dan Leo setelah itu pergi bekerja.


****

__ADS_1


Keheningan tercipta saat mereka kembali ke rumah. Ada rasa sedikit gugup pada diri Alena. Sebenarnya dia masih memikirkan ucapan Ramon waktu itu. Dia masih takut untuk menjalin rumah tangga lagi. Tapi di lain sisi, hatinya mulai luluh oleh Ramon.


"Haruskah aku menerimnya? Atau aku menolaknya? Sepertinya dia begitu tulus dan keluarganya menerima ku. Akan aku pertimbangkan lagi nanti." batin Alena.


__ADS_2