Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Ungkapan Isi Hati


__ADS_3

Banyak pesan yang masuk, namun di abaikan oleh Alena.


"Kenapa pesan ku tidak pernah dia balas?!" gumam pengirim pesan.


*


*


*


Hari ini adalah hari Alena bertemu dengan orang tua Ramon. Dia sangat gugup, karena ini pertama kali dalam hidupnya untuk berkenalan dengan orang tua laki-laki ada di sisi hatinya.


"Kamu sudah siap?" tanya Ramon pada Leo.


Raspon Leo hanya menganggukkan kepala.


"Iya mas, ayo berangkat!" ajak Alena.


Leo yang awalnya di suruh duduk di depan malah memilih duduk di belakang. Dia lebih nyaman berada di belakang dari pada berjajar dengan Ramon.


Mobil pun melesan membelah jalan raya yang cukup padat. Ramon melihat Alena yang duduk dengan gelisah. "Apa kamu gugup?" Ramon bertanya pada Alena.


"Sedikit, mas." balas Alena.


Tiba-tiba tangan Ramon menggenggam tangan Alena. "Tidak usah gugup, orang tua ku sangat baik kepada siapa pun. Mereka tidak akan menyakitimu. Apalagi kamu adalah istriku, ibu dari anakku. Tidak mungkin mereka akan menerkam kamu," ucap Ramon dengan lembut.


"Yah... ini orang, jantung sudah deg degan dari tadi. Malah tangan ku sekarang dia pegang. Bisa-bisa jantung ku copot dari tempatnya kalau begini terus. Deg degannya ini bukan karena ketemu sama orang tua kamu! Tapi karena dekat-dekat sama kamu, apalagi posisi seperti ini! Peka sedikit kenapa!Baru kali ini aku bisa senerves ini," batin Alena.


Setelah beberapa menit, Alena dan Ramon sampai di kediaman orang tua Ramon. Leo yang berada di belakang ternyata tertidur pulas.


"Dia tidur mas," ucap Alena.


"Biarkan saja, nanti aku yang gendong dia. Sekarang kita masuk dulu," ujar Ramon sambil menggenggam tangan Alena.


"Aku tak pernah sedekat ini dengan laki-laki, selain mas Nico. Bahkan dengan Sean dulu tak seperti ini." batin Alena.

__ADS_1


"Dimana cucu ku!" tiba-tiba muncullah papa Ramon dari arah dapur.


"Pa, ini Alena. Dan Leo dia ketiduran di mobil."


"Kalian ini, anak tidur sendirian di biarkan saja!" bentak papa Ramon sambil berjalan menuju mobil Ramon.


"Hai cucu kakek, pules bener tidur nya," lirihnya takut Leo terbangun.


Papa Ramon langsung mengangkat Leo masuk ke dalam rumah. Kakek menidurkannya di kamar pribadinya. Dia menjaganya sambil mengusap rambut Leo.


"Kamu terlalu tamapan nak," ucap kakek.


***


"Kalian duduk dulu, sambil menunggu papa kamu kalian makanlah ini," ucap mama Ramon sambil menyuguhkan kue buatnnya.


"Terima kasih," Alena berucap.


Papa Ramon sangat senang akan kedatangan Alena dan Leo, meski pun sebenarnya mereka tahu kalau Ramon dan Alena tidak benar-benar menjadi suami istri. Tapi siapa tahu, jika suatu hari itu akan benar-benar terjadi.


Papa dan mama Ramon ingin segera memiliki seorang cucu dari nya. Untuk membuat suasana rumah menjadi ramai. Semejak kepergian Ramon dari rumah dan membeli apart sendiri, rumah utama menjadi sepi.


"Kenapa papa kamu belum turun juga?" tanya mamanya.


"Mungkin tertidur," jawabnya sambil mengangkat kedua bahunya.


"Yang benar saja, jam berapa ini?" sambil mengomel mama Ramon menuju kamarnya.


Dilihatnya pemandangan yang begitu indah, saat tangan kanan suaminya memeluk calon cucu yang dia tunggu-tunggu. Suaminya ikut membenamkan matanya bersama Leo. Dia begitu menikmati momen berdua dengan Leo.


Meskipun Leo bukan cucu kandungnya, tapi orang tua Ramon akan menyayangi seperti cucu kandungnya sendiri. Mereka semua daei keluarga kaya raya, tapi mereka tidak pernah memandang status apapun itu. Yang terpenting bagi mereka adalah kebahagiaan anaknya.


"Ssttt...." sambil menempelkan jari telunjuknya ke mulut, mama Ramon memberi instruksi agar tidak ramai.


"Jangan berisik, papa kalian tidur sama cucu kesayangannya," ucap mama Ramon.

__ADS_1


Alena sempat tertegun dengan penuturan mama Ramon. Bagaimana bisa mereka menyayangi Leo, padahal Leo bukan cucu kandungnya. Bahkan mereka juga baru bertemu hari ini.


"Terima kasih Tuhan, Engkau mengirimkan orang-orang yang baik kepada ku," batin Alena.


Mama , Ramon dan Alena membiarkan mereka berdua tidur dengan nyenyak. Sambil memunggu Leo dan papa nya bangun, Ramon mengajak Alena keliling rumahnya yang begitu megah.


"Kalian keliling rumah saja, kamu beri tahu setiap sudut rumah kita sama istri kamu. Ajak dia bersantai di belakang, mama mau buat kue dulu. Nanti kita makan bersama-sama," ujar mama sabil berjalan menuju dapur.


"Biar Alena bantu ma, Alena juga bisa bikin kue." tawar Alena.


"Sstttt.... kamu nggak usah ngerjain apa-apa. Biar mama saja kamu jangan capek-capek biar nanti Leo cepet punya adik," balas mama Ramon. Hal itu sukses membuat Alena dan Ramon kaget dan saling memandang satu sama lain.


"Begitulah sandiwara. Kalau kamu pemainnya, maka mama kamu ini sutradara nya. Hehehehehe...!" batin mama Ramon.


"Segera buatkan adik untuk Leo. Biar ada temannya bermain ya. Lagi pula rumah ini terlalu besar untuk kita berdua saja. Nanti kalian tinggal di sini saja, biar rumahnya rame," ujar mama Ramon lagi sambil tersenyum hangat yang ada maksudnya.


"Mama ini mgomong apa. Leo kan masih kecil, kasian nanti kalau kurang kasih sayang dari kami karena fokus pada adiknya," jawab Ramon.


"Ya nggak masalah dong, kan ada mama sama papa bisa bantu kalian juga." skakmat sudah.


"Mampus kamu Ramon, mama kerjain kamu. Salah sendiri pakai sandiwara, sekalian saja mama nikahkan kalian hari ini. Pokoknya kalian berdua tidak akan lolos dari mama. Suatu hari nanti kalian akan saling mencintai, semoga saja," batin mama Ramon.


"Sudah kalian bersantai saja di taman belakang. Nanti kalau sudah siap mama panggil."


"Ok, ayo kita jalan!" ajak Ramon.


Mereka berdua berjalan menyusuri setiap sudut rumah Ramon. Alena sangat kagum dengan bangunan dan juga taman kecil milik mama nya.


"Bagus ya, udaranya juga sejuk," ujar Alena.


"Kamu suka?" tanya Ramon.


"Iya, aku suka,"


"Aku juga suka, suka kamu," balas Ramon.

__ADS_1


Alena langsung menengok Ramon. Dengan penuh tanda tanya dia memandangi Ramon, tanda meminta penjelasan.


__ADS_2