
Nico menggempur Alena semalam suntuk. Tidak ada kata lelah untuk Nico, apalagi tentang hal-hal yang intim. Nico begitu terkejut mengetahui fakta, bahwa Alena masih gadis.
"Apa ini, dia masih gadis?! Aku dulu pernah menuduhnya seorang ******! Maafkan aku Al, ternyata kamu menjaga dirimu dengan baik!" batin Nico di sela-sela kehiatan panasnya.
"Berarti aku adalah orang pertama yang memilikimu seutuhnya?! Aku merasa berdosa kepada mu Al, bahkan aku sudah sering kali bermain wanita."
***
Sinar pagi menyusup kedalam celah mata Alena. Dia begitu terganggu dengan tangan kekar yang melintang diatas perutnya.
Tatapan mata Alena tertuju pada hidung mancung laki-laki yang kini sah menjadi suaminya. Rahang yang tegas di tumbuhi bulu-bulu halus, otot yang kekar, dan perut yang seperti seorang atlet membuat Alena tidak bisa menglihkan pandangannya.
"Jangan pernah menyakiti ku lagi mas! Atau suatu hari nanti kamu akan menyesal!" batin Alena.
"Sudah puas melihatnya! Aku memang sangat tampan, makanya mata mu tidak bisa berpaling dari tadi!" suara bariton itu membuyarkan lamunan Alena.
"Aku mandi dulu mas!" Alena langsung beranjak menuju kamar mandi. Saat akan menuruni tempat tidur Alena mengeluh kesakitan.
"Kenapa perih sekali!" seru Alena.
Nico yang sudah paham akan hal-hal itu, langsung bangun dan menggendong Alena ke kamar mandi. Dengan senang hati Nico memandikan Alena.
Sebenarnya Alena menolak mandi bersama dengan Nico, tetapi bukan ,Nico namanya kalau tidak bisa membuat Alena pasrah.
Setelah selesai Nico langsung bergegas memasak untuk istrinya tercinta. Begitulah keseharian Nico selama menikah dengan Alena. Hampir setiap hari Nico meminta jatah kepada Alena.
*
*
__ADS_1
*
3 bulan telah berlalu, pernikahan Alena dan Nico semakin hari semakin mesra. Nico yang menjadi budak cinta Alena tak pernah melepas Alena kemanapun dia pergi.
Sampai suatu hari saat Nico berada di kantornya. Ada seorang wanita dengan bodi yang cukup menggoda iman siapa saja yang melihatnya tiba-tiba memasuki ruangan Nico tanpa permisi.
Dengan tidak sopannya dia duduk di atas pangkuan Nico.
"Apa kamu sudah melupakan ku?! Apa kamu tidak merindukan ku, hem?!" Dona bertanya kepada Nico dengan gaya sensualnya.
"Pergi dari depanku! Atau aku akan menyeretmu!" bentak Nico.
Bukan Dona namanya jika dia men
yerah begitu saja. Dona adalah salah satu mantan kekasih Nico waktu sebelum bersama Viona. Setiap harinya Nico selalu meminta hibingan selayaknya suami istri kepada Dona. Dia juga begitu royal kepada Dona. Karena suatu hal mereka berdua mengakhiri hubungannya. Namun entah karena angin apa tiba-tiba Dona datang kembali di kehidupan Nico.
Sengan gerakan cepat Nico membalas Dona. Nico begitu menikmati setiap belaian Dona. Dia memang pandai tentang hal memuaskan pasangan, tak salah jika Nico bisa jatuh hati kepada Dona.
****
Di lain tempat, Alena yang sudah selesai memasak telah siap pergi ke kantor Nico. Rencananya dia akan memberi kejutan untuk Nico. Sudah lama dia tidak mengunjungi kantor suaminya.
Alena menaiki taxi untuk menuju ke kantor Nico. Dia begitu antusias untuk bertemu suamianya yang bucin akut. Alena begitu bahagia bisa bersama Nico kembali.
Sementara itu Nico dan Dona sedang asik bermain di ruang pribadinya. Nico terlalu larut dalam permainan Dona. Dia lupa akan keberadaan Alena. Terdengar suara yang sensual memenuhi seluruh ruangan , membuat Nico semakin memuncak. Dia terus bermain dengan Dona tanpa ampun.
***
Alena yang sampai di depan gedung megah milik Nico langsung masuk menuju ruangan Nico. Seluruh pegawai memberi hormat kepadanya karena dia tahu kalau Alena adalah istri bosnya.
__ADS_1
Saat akan membuka pintu dia memanggil nama Nico tapi tak ada jawaban. Alena langsung masuk kedalan ruangan. Terdengan samar-samar suara de***** wanita di ruang pribadi milik Nico.
Tanpa pikir panjang Alena langsung medobrak pintu ruang pribadi Nico. Sontak saja jantung Alena berhenti sejenak melihat kejadian yang panas didepan matanya.
Dona yang berada diatas Nico sambil menggerakkan pinggulnya pun juga kaget tiba-tiba pintu terbuka. Nico dan Dona yang sama-sama dalam kabut gair** tak bisa menahan nafsu mereka. Melihat Nico tanpa sehelai benang dan begitu menikmati setiap permainan Dona, membuatnya begitu murka. Alena tak menyangka Nico yang selama ini memperlakukan dirinya bagaikan seorang ratu ternyata hanya tipu muslihat belaka. Nico yang sekarang tetaplah Nico yang dulu, suka menjajah setiap goa yang mau melayaninya.
"Aku nggak menyangka ternyata kamu tetap sama seperti dulu!" marah Alena kepada Nico.
Nico yang melihat Alena langsung mendorong Dona dari atasnya. Belum juga tuntas pergulatan mereka, Alena sudah datang melihatnya secara langsung. Tak pernah terpikirkan dalam benak Alena, bahwa Nico akan menghianatinya untuk kedua kalinya.
"Sayang ini bukan seperti yang kamu lihat! Dia yang datang menggoda ku! Aku berani sumpah!" Nico mencoba membela diri.
Dona yang dasarnya adalah wanita ******, tentu saja tidak akan membiarkan Nico lolos begitu saja. Dia malah dengan santainya menempelkan tubuhnya ke Nico dan memegang j***** Nico didepan mata Alena.
"Kalian sangat menjijikkan! Cukup sampai disini pernikahan kita mas! Begitu bodohnya aku masih percaya kata-kata busukmu yang akan merubah semua sifat kamu! Ternyata kamu memang iblis berwujud manusia!" bentak Alena sambil menampar pipi Nico dan Dona. Dengan gerakan cepat Alena juga menjambak rambut Dona dan Nico lalu dia benturkan bersamaan.
"Pembalasanku tidak akan pernah berhenti disini saja! Kamu nantikan saja kejutan dariku!" Ancam Alena. Dia langsung pergi meninggalakn dua sejoli yang haus akan belaian itu.
Dengan cepat Nico memakai bajunya dan mengejar Alena. Para pegawai bingung dengan adegan saling kejar-kejaran di kantornya.
Alena langsung memberhantikan taxi didepannya. Nico lupa tidak membawa kunci mobilnya, akhirnya berbalik mengambil didalam ruangannya. Saat melihat kotak makanan dari Alena, tidak sengaja dia melihat sebuah kotak kecil. Dia buka kotak itu, begitu kagetnya dia saat yang dia lihat adalah alat tes kehamilan.
"Alena hamil! Dia hamil anakku!" cicitnya pelan.
"Apa yang sudah aku lakukan Tuhan! Alena telah hamil anakku! Dan aku sudah menyakitinya untuk kesekian kalinya! Maafkan aku Al, maaf!" lirihnya.
Dia langsung mengejar Alena kerumahnya. Dengan kecepatan penuh Nico mengemudikan mobil seperti orang kesetanan. Tapi sayang, Alena sudah tidak ada disana. Baju-bajunya dan barang-barang Alena juga sudah tidak ada. Alena pergi meninggalkan rumah itu dengan meninggalkan sepucuk surat untuk suami laknatnya.
"Tunggu surat perceraian kita!" hanya itu pesan Alena.
__ADS_1