
"Akhirnya aku diterima bekerja." batin Alena.
Setelah mendapat panggilan untuk wawancara, akhirnya dia lulus seleksi. Mulai besok Alena bekerja di restoran ternama yang sedang populer di kotanya.
*
*
Pagi ini adalah hari pertama Alena masuk kerja. Alena bekerja sebagai pelayan restoran.
"Aku harus segera berangkat, takutnya terlambat nanti!" lirihnya.
Alena berangkat menaiki bus. Jarak dari kos Alena ke tempat kerja nya butuh waktu sekitar 20 menit.
Sesampainya dia di restoran, Alena langsung mengganti bajunya dengan seragam kerja. Alena terlihat masih remaja ketika mengenakan seragam restorannya, hal itu membuat rekan kerjanya terutama laki-laki banyak yang menaruh hati. Tak terkecuali bos pemilik retoran tempat Alena bekerja.
"Apa kamu nyaman Al, pakai baju ini?" tanay Bos nya.
"Nyaman Pak," balas Alena.
"Ya sudah, kalau ada apa-apa kamu bilang sama saya ya," ujar Bos Alena.
"Iya Pak, terima kasih,"
Alena pun langsung bekerja dengan giat. Ini hari pertama jadi dia tidak boleh bermalas-malasan.
Ketika waktu jam makan siang kantor, restoran mulai ramai. Teman-teman Alena cukup kuwalahan karena ramainya pengunjung.
"Al, antar ini ke meja 12!" Ujar Angga sambil memberikan nampan berisi makanan.
"Iya Kak!" Alena segera pergi menuju meja pelanggan.
"Silahkan tuan," ucap Alena dengan sopan.
"Alena!" panggil Nico.
Alena yang merasa di panggil langsung mendongakkan kepalanya.
"Mas Nico!" Ucapnya sedikit gugup.
"Kamu bekerja disini?"
"Iya Mas, ini hari pertama aku kerja."
"O... pantesan, aku biasanya kesini tapi gak pernah lihat kamu."
"Iya Mas. Silahkan nikmati hidangannya," ucap Alena dan berlalu pergi.
"Tunggu Al!" panggil Nico.
"Ya Mas," balas Alena sambil membalikkan badannya.
"Bisa temani aku makan?" pinta Nico.
"Maaf Mas, ini hari pertama aku bekerja. Aku takut kalau Bos ku nanti marah."
"Kalau nanti setelah kamu selesai kerja apa bisa?"
"Aku usahain ya Mas," balas Alena. Sebenarnya dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Nico. Alena takut kalau nanti cinta yang selama ini dia pendam, akan muncul kembali. Tapi rasanya tidak enak juga, kalau tiba-tiba menolak ajaknnya.
"Haruskah aku menemaninya nanti? Atau aku cari alasan lain? Hah, hati iini sungguh merepotkan sekali!" batin Alena.
__ADS_1
Setelah kepergian Alena, hati Nico kembali berbunga-bunga. Akhirnya setelah sekian lama, dia bisa bertemu kembali dengan Alena.
"Kamu tambah cantik Al," gumam Nico.
Nico buru-buru menyelesaikan makannya dan segera kembali ke kantornya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Agar nanti saat jam pulang kerja Alena, dia bisa pergi dengannya.
*
*
Pukul 16.00 Alena pulang kerja. Karena sif Alena pagi, jadi dia bisa pulang sore hari.
"Aku pulang dulu Kak," pamit Alena kepada rekan kerja nya.
"Iya Al, hati-hati ya!" balas yang lain.
Alena hanya menganggukkan kepalanya. Dia segera keluar ruangan dan mencari bus. Belum sempat dia berjalan menuju halte, Alena sudah ada yang menunggu.
"Al!" panggil Nico.
Dengan spontan Alena menengok ke samping kanan.
"Mas Nico!" Balas Alena.
"Kamu sudah pulang?"
"Iya Mas, ini baru keluar."
"Jadikan?" tanya Nico pada Alena.
Alena pun menganggukkan kepalanya.
"Iya!"
Nico begitu antusias bisa pergi dengan Alena. Ini adalah kesempatan yang langka baginya. Dia akan bersikap sebaik mungkin nantinya.
"Mas, apa tidak apa-apa kamu jalan sama aku?" tanya Alena.
"Memangnya kenapa?"
"Apa orang-orang tidak akan mengenali kamu nantinya? Kalau nanti ada media bagaimana?"
"Aku sudah mempersiapkan ini," balas Nico sambil menunjukkan masker yang dia bawa.
"O ya sudah!"
"Kenapa? Apa kamu tidak suka jalan denganku?"
"Suka Mas," balas Alena singkat.
Bukan tidak suka, melainkan dia membatasi interaksinya dengan Nico. Karena itu membahayakan jantung dan hatinya.
Nico mengajak Alena pergi nonton film.
"Kamu mau nonton apa Al?" Tanya Nico.
"Terserah kamu saja Mas."
Nico akhirnya memilih film horor. Dia suka film bernuansa horor. Sebenarnya Alena tidak suka film horor, karena itu akan terbawa hingga dia tidur nanti. Bahkan bisa Alena hingga kedalam mimpi. Tapi Nico sudah membeli tiketnya, jadi dia hanya pasrah saja.
Alena dan Nico duduk berjajar di bangku tengah. Saat film dimulai Alena biasa saja, karena tidak begitu menakutkan menurutnya. Tetapi saat dipertengahan tiba-tiba muncul hantu dan menatapkan wajahnya kamera. Hal itu membuat seluru penonton ketakutan, kecuali Nico.
__ADS_1
Alena yang kaget dengan spontan langsung memeluk lengan Nico. Dia menyembunyikan wajahnya dibalik lengan kekar milik Nico.
Nico dengan senang hati menerima hal itu. Itu adalah kesempatan yang bagus untuknya. Di ayunkan tangannya mengusap kepala Alena. Nico mencoba menenangkan Alena agar tidak ketakutan.
"Enggak usah takut Al, ada aku disini," ujar Nico sambil berbisik di telingan Alena.
Bisikan itu membuat Alena sedikit merinding. Pasalnya Nico sengaja menempelkan bibirnya di telingan Alena.
"Iy....iya Mas," balas Alena. Dia langsung memperbaiki posisi duduknya.
Alena kembali serius menontor film lagi. Namun hal seperti tadi terulang lagi, dan itu sukses membuat Alena memeluk Nico.
"Aku takut!" ucap Alena.
"Sssssttttt.... gak usah takut. Kan tadi sudah aku bilang, ada aku disini."
"He'em. Mas, bisakah kita menyudahi ini? Nanti aku pasti gak bisa tidur kalau terus lihat film hantu."
"Baiklah, ayo kita keluar," ujar Nico sambil menuntun Alena keluar ruangan.
"Haaah....!" terdengar helaan nafas Alena ketika berada di luar.
"Kamu takut ya?" tanya Nico.
"Iya Mas, kadang bisa sampai kebawa mimpi!" jawab Alena.
"Aku temani deh kalau gitu,"
"Temani apanya Mas?"
"Tidurnya! Katanya takut dan bisa kebawa mimpi juga. Jadi aku temani tidur saja biar gak takut," jawab Nico dengan santainya.
mendengar jawaban Nico, Alena langsung memukul lengan Nico dengan tasnya.
"Dasar mesum!"
"Aduh Al, sakit Al! Sudah Al, sakit!" teriak Nico sambil berlari. Mereka berdua kejar-kejaran seperti anak kecil.
Nico begitu bahagia bisa tertawa bersama dengan Alena. Sudah lama dia tidak memperlihatkan senyumnya setelah kepergian Alena.
"Mudah-mudahan ini awal yang baik untuk bisa bersama dengan mu Al," gumam Nico.
Setelah puas jalan dengan Alena, Nico mengantar Alena pulang ke kosannya.
"Kamu tinggal disini?" tanya Nico.
"Iya Mas, ini sudah lebih dari cukup!" balas Alena.
"Tempat apa ini Al, untuk tinggal berdua saja ini tidak cukup!" batin Nico
Nico kaget setelah mengetahui tempat tinggal Alena yang sekarang. Pasalnya kos Alena hanya cukup untuk 1 orang saja. Belum lagi kos ini tidak layak huni karena cukup kumuh dan tak terawat. Tapi jika Nico memberikan tempat tinggal untuk Alena, pasti dia akan menolaknya.
"Terima kasih Mas, sudah mengajakku jalan-jalan," ucap Alena.
"Sama-sama, apa kamu tidak ingin mengajakku masuk melihat-lihat tempat tinggal kamu sekarang?" tanya Nico.
"Enggak Mas, kita bukan siapa-siapa. Gak enak sama yang lain!" balas Alena.
Nico sedikit kecewa dengan jawaban Alena. Padahal dia berharap Alena akan menawarinya untuk masuk.
Interaksi antara Alena dan Nico tak lepas dari sepasang mata yang memperhatikannya sejak tadi.
__ADS_1