
Sesampainya di resepsionis, Ramon langsung mencari istrinya.
"Di mana istri saya?" tanya Ramon pada petugas yang berjaga.
"Istri?" cicitnya. Pasalnya mereka masih bingung.
"Iya, istri saya kesini! Dia mengantar makan siang untuk saya!" bentak Ramon sedikit emosi. Diri sangat marah mengetahui istri nya di suruh menunggu dan tidak di antar ke ruangannya, malah di suruh menunggu di depan.
"Tidak ada istri bapak. Yang ada anak sekolahan yang kesini," jelas petugas.
"Anak sekolahan kepela kamu! Dia istri saya!" emosi Ramon meluap-luap.
"Istri!" teriak dua petugas yang berjaga.
"Saya suruh menunggu di ruang tunggu , Pak. Maaf kan saya," jawab petugas dengan menundukkan kepalanya.
Ramon langsung berlari menghampiri Alena. Bak di drama korea mereka menjadi tontonan banyak pegawai.
Setelah melihat istri nya, Ramon langsung memeluk nya erat.
"Apa kamu menunggu lama? Maaf kan aku, aku tidak tahu kalau kamu sudah datang," ucap Ramon sambil mencium pucuk kepala Alena.
"Mas, malu. Banyak yang lihat kita," ucap Alena sambil mendorong dada bidang suaminya.
"Biarkan saja. Yang penting kamu baik-baik saja. Biarkan mereka iri," jawab Ramon semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Lebay."
Ramon langsung menuntuk Alena menuju ruangannya. Sebelum itu dia memberitahu seluruh pegawainya bahwa Alena adalah istri nya.
"Perhatian semua nya!" Ramon berteriak.
"Mulai hari ini, perhatikan baik-baik wajah istri saya. Jangan sampai kesalahan seperti tadi terulang lagi. Kalau sampai terulang, akan aku pecat saat itu juga! Mengerti kalian?!" ucap Ramon dengan sedikit emosi.
"Mengerti, Pak!" jawab mereka serempak. Begitu melihat wajah bos yang kebakaran jenggot, mereka langsung takut semua. Mereka tidak menyangka wajah imut ala anak sekolahan itu adalah istri bos nya.
Ramon langsung menggiring Alena ke ruangannya.
"Maafkan aku, sayang." Ramon memeluk erat Alena saat memasuki ruangan.
"Sudah, Mas. Ayo makan, nanti keburu dingin."
"Suapin," rengek Ramon dengan manja.
"Kenapa jadi manja? Biasanya juga makan sendiri," ucap Alena bergurau. Dia malah senang kalau Ramon mode bucin.
"Nggak mau. Aku mau nya kamu yang suapin pokok nya."
Dengan telaten Alena menyuapi Ramon hingga habis.
Ramon pun melanjutkan pekerjaannya. Saat sedang serius menatap layar laptopnya, pandangannya teralihkan pada Alena yang memandang ke luar jendela ruangannya. Terkena cahaya matahari dengan kulit putih nya dan leher jenjang, membuat Ramon tidak bisa fokus bekerja.
__ADS_1
Berkali-kali dirinya menelan ludah dan mengalihkan pandangannya, agar tidak terjadi hal-hal yang di inginkannya.
"Al," panggil Ramon dengan halus.
"Iya, Mas." sambil menengok ke arah suaminya.
"Bisa nggak kamu duduk di sofa?" tanya Ramon.
"Kenapa memangnya?"
"Kamu menghalangi cahaya yang masuk kesini." Ramon berbohong pada Alena.
Segera Alena menjauh dari sana. Dia berjalan menuju arah suaminya yang serius memandangi laptop.
Tanpa aba-aba, Alena langsung duduk di langkuan Ramon.
"Apa seperti ini yang kamu minta, Mas," ujar Alena sambil mengedipkan satu matanya dengan bergaya sensual.
"Sayang, kalau seperti ini aku nggak bisa konsentrasi. Pekerjaan ku masih banyak, nanti nggak akan selesai."
"Di lanjutkan saja di rumah, kan bisa." Tangan Alena mulai menjalar kemana-mana, membuat Ramon berhenti sejenak.
Tanpa Alena duga, Ramon langsung menggendong Alena menuju ruang pribadi nya di balik tatanan rak buku.
"Mau kemana, Mas?" tanya Alena pura-pura tidak tahu.
__ADS_1
"Mau bikin adik untuk Leo," ujarnya sambil menutup kembali pintunya dengan 1 kaki.
Alena di tidurkannya di ranjang