
"kamu semakin tampan saja tuan." rayu wanita itu dengan gaya sensualnya.
"Menyingkirlah dari hadapan ku! Atau aku lepar ke luar!" ujar Ramon.
Ramon paling tidak suka dengan wanita yang terlebih dulu menggodanya atau menyukainya. Dia lebih tertantang dengan wanita yang cuek atau begitu membencinya. Karena wanita seperti itu memiliki pesona tersendiri di mata Ramon.
Wanita itu langsung pergi meninggalkan Ramon.
"Apa kamu mabuk?! Sampai menyuruhku kesini!" ucap Ramon saat memasuki ruang vvip.
"Sedikit, tapi aku masih sadar. Kemarilah, ayo kita minum sedikit." ajak Sean.
"Kamu jangan gila disini. Besok masih banyak pekerjaan yang harus kamu lakukan!" Ramon memarahi Sean.
"Sudah, sekarang ayo kita pulang!" Ramon langsung menyeret Sean menuju mobilnya.
Ramon mengajak Sean pulang ke apartnya. Dia langsung menidurkan Sean di kamar tamu. Saat Ramon akan pergi meninggalkan Sean, tanpa sengaja dia mendengar Sean mengigau.
"Alena, kamu dimana? Sudah lama aku mencari mu, Al. Aku sangat merindukan mu sayang," Sean terus merancau.
"Alena?! Merindukanmu?! Sayang?! Aleana siapa yang dia maksud? Kenapa namanya sama? Apa Alena yang sama dengan Alena ku? Semoga saja tidak, aku tidak bisa berebut wanita dengan sahabat ku sendiri." gumamnya.
Ramon langsung menuju kamarnya dan membersihkan diri.
"Hari ini tidak membuatku lelah. Aku terlalu bersemangat!" gumamnya.
Setelah selesai merebersihkan diri Ramon langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur king size nya.
"Besok aku harus cuti kalau Alena mau pergi ke pantai. Aku enggak mau kesenanganku di ganggu." lirih Ramon.
*
*
*
"Sayang, cepat bangun sudah waktunya sekolah!" teriak Alena membangunkan Leo.
Mendengar suara merdu mama Alena, Leo langsung terbangun dan duduk tegak.
"Iya mama," dengan suara seraknya Leo menjawab.
Leo langsung beranjak ke kamar mandi dan segera berganti baju sekolah. Setelah selesai Leo menuruni tangga menuju meja makan.
"Mama!" panggil Leo.
"Cepat makan, sudah siang!" perintah Alena.
"Sayang, kamu mau pergi ke pantai?" Alena bertanya di sela-sela sarapannya.
"Mau ma! Aku belum pernah bermain ke pantai. Kapan kita berangkat?"
"Besok ketika kamu libur sekolah."
"Hore....!" Leo begitu senang.
"Ya sudah, sskarang habiskan makanan kamu. Setelah itu kita berangkat sekolah."
Setelah selesai, Alena langsung mengantar Leo pergi ke sekolah.
__ADS_1
"Jadi kapan kita akan pergi ke pantai ma?" Leo bertanya lagi pada Alena.
"Nanti kalau Leo libur sekolah ya,"
"Ok mama, Leo masuk dulu ya."
Setelah mengantar Leo, Alena langsung pergi ke toko roti. Sudah beberapa hari Alena belum kesana.
****
"Hai Al, hari ini kita menerima pesanan untuk pesta ulang tahun." ujar Popy.
"Kalau begitu aku bantu! Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu."
Alena sibuk seharian untuk menyelesaikan pesanannya. Dia tidak sempat mengecek phonselnya.
Di lain tempat ada seseorang yang seharian menunggu pesan dari Alena. Rasa rindu yang menggebu membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Banyak pegawai yang terkena amarahnya.
"Kerja begitu saja tidak bisa! Perbaiki lagi!" bentak Ramon pada bawahannya.
Karyawan itu langsung pergi meninggalkan Ramon.
"Begitu saja tidak bisa!" gerutu Ramon.
"Kenapa aku hari ini rasanya seperti akan gila?! Banyak masalah dan tidak bersemangat!" gumamnya.
Beberapa menit kemudian phonselnya berdering. Dengan cepat Ramon mengambilnya. Di lihatnya "Ibu dari anakku"
"Ya Al,"
"Apa aku mengganggu mu?"
"Oh, Leo mau." ucap Alena.
"Mau? Mau apanya Al?" Ramon balik bertanya.
"Mau pergi kepantainya. Apa tidak jadi saja, sepertinya kamu begitu sibuk."
"Tidak, tidak Al! Aku tidak sibuk, ini aku sudah pulang. Kapan kita berangkat?" tanya Ramon dengan antusias.
"Besok bagaimana? Kebetulan besok Leo libur sekolah."
"Baiklah, besok aku jemput ke rumah kamu."
"Ok." Alena langsung mematikan panggilnnya.
Setelah panggilan berakhir. Ramon langung kegirangan seperti anak kecil, bahkan dia juga berjoget.
"Akhirnya aku bisa dekat dengan Alena."
Ramon langsung pulang setelah menerima panggilan Alena. Dengan wajah berseri-seri Ramon melewati banyak karyawannya. Senyumnya yang lebar membuat para karyawan semua bingung.
"Tadi marah-marah nggak jelas! Sekarang senyum-senyum nggak jelas juga!" ucap salah satu karyawannya.
Ramon segera pulang dan mempersiapkan semuanya, agar besok bisa tepat waktu menjemput Alena.
*
*
__ADS_1
*
Pagi-pagi Alena sudah berdandan rapi, Leo juga demikan. Mereka sudah siap semua, tinggal menunggu kedatangan Ramon saja.
"Ma, kapan kita akan berangkat?" tanya Leo.
"Tunggu paman sebentar ya,"
"Paman? Paman siapa ma?" Leo terus bertanya.
"Paman yang kemarin ikut menjemput kamu sekolah sayang," balas Alena dengan halus.
"Eh, seperti itu mobil paman!" Alena segera berlari melihat kedepan.
"Iya sayang, ayo cepat kemari!" Alena segera mengajak Leo keluar.
"Kamu sudah siap?" tanya Ramon.
"Sudah!"
Mereka bergegas menaiki mobil. Leo tampak begitu senang, apalagi Ramon. Ramon yang lebih antusias melebihi Leo.
Mereka menuju pantainterdekat dari kota Paris. Rencananya mereka akan berkemah disana nantinya.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 2 jam, akhirnya mereka sampai di Pantai Etretat. Ramon langsung mengeluarkan barang-barang milik Alena dan Leo.
Terlihat seperti seorang papa yang baik, Ramon selalu menjaga Alena dan Leo. Ramon selalu memanjakan Leo seperti anaknya sendiri.
"Tunggu disini sebentar, biar aku yang membawa peralatan kemah ini kesana!" tunjuk Ramon pada salah satu tempat untuk berkemah.
Leo tak mau kalah dengan Ramon, dia membatu Ramon seperti seorang anak yang kompak dengan papa nya.
"Aku juga anak membantu paman!" seru Leo tiba-tiba.
"Ok boy, bantu paman ya!"
"Siap paman!" dengan antusias yang tinggi Leo membantu Ramon.
Dengan cekatan Ramon memasang tenda dengan Leo. Karena hari semakin terik tendanya harus segera selesai. Alena hanya melihat dari kejauhan sambil sesekali mengambil gambar mereka berdua.
"Seandainya papa kamu ada disini, mungkin kamu akan lebih bahagia nak,"lirih Alena sambil meneteskan air mata.
Leo yang melihat Alena sedih, langsung menghampiri mama nya.
"Mama kenapa sedih? Apa mama teringat papa? Jangan bersedih lagi, ada Leo yang sayang mama." ujar nya yang ikut meneteskan air mata dan memeluk mama nya.
"Tidak sayang, mata mama hanya kelilipan saja. Sudah bantu paman membuat tenda ya?!" Alena menyuruh Leo untuk pergi agar tidak ikut sedih.
"Jangan bersedih lagi ma, nanti Leo juga ikut sedih." balas Leo.
Ramon menyadai kalau ibu dan anak itu sedang menangis, tetapi dia tidak ingin mendekatinya karena takut merusak momen ibu dan anak itu.
"Setelah ini jangan menangis lagi ya, aku akan membuat kalian berdua terus tertawa bahagia selamanya." gumam Ramon.
Saat Leo kembali membantu Ramon, Alena di kagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya.
"Alena?!"
Dengan raut wajah terkejut Alena langsung berdiri.
__ADS_1
"Kenapa kamu disini?!"