Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
setuju


__ADS_3

Alena, Leo dan Nico kini sudah berada di bandara. Mereka akan melepas kepergian Nico. Berat bagi Leo karena hanya sebentar saja bertemu dengan papa nya.


"Leo nggak boleh nakal ya? Leo harus bisa jaga mama dan harus nurut apa kata mama," ucap Nico.


"Iya pa. Papa hati-hati ya di sana. Jangan lama-lama balik kesini nya. Nanti Leo kangen," balas nya dengan manja.


"Iya, papa bakal balik lagi." sambil mencium pipi Leo.


"Hati-hati ya mas," ucap Alena.


"Kamu juga. Jaga diri baik-baik ya. Boleh aku memeluk mu?" pinta Nico.


Alena pun menganggukkan kepala tanda setuju.


"Ya sudah, pesawatnya sudah mau terbang jauh..." ucap Nico seraya melepas pelukannya dari Alena dan Leo.


"Hati-hati pa," ucap Leo sambil melambaikan tangannya.


****


Setelah kepergian Nico, Alena kembali menjalani aktifitas seperti biasanya. Dia harus segera kembali ke toko rotinya.


Sesampainya di sana, Alena dan Leo di sambut oleh Popy.


"Hai boy, kamu tambah cakep saja!" ujar Popy sambil mengusap rambut Leo.


"Iya dong tante,"


"Tadi ada yang nyari kesini," ucap Popy tiba-tiba pada Alena.


"Siapa?"


"Laki-laki pokoknya,"


"Iya, namanya siapa? Kan ada nama nya," tanya Alena lagi.


"Aku lupa nggak tanya. Tapi mereka ganteng banget...! Buat aku 1 dong!" ujar Popy.


"Kamu kata mereka itu barang! Namanya saja nggak tahu!" dengan jutek Alena menjawab.


"Ramon!" jawab Popy.


"Sean!" jawab Popy lagi.


"Mereka berdua kemari?" tanya Alena.


"Iya, tapi nggak barengan. Boleh dong salah satu buat aku," goda Popy.

__ADS_1


"Sepertinya kamu sudah gila!" ucap Alena sambil berjalan menuju ruang ganti.


"Ya enggak lah! Siapa yang mau nolak gadun tampan dan tajir. Kamu kali yang buta, nggak bisa lihat laki-laki tampan dan kaya!" ujar Popy.


"Gadun, gadun! Mereka masih muda tahu, dan belum ada yang menikah! Lagian juga ngapain kamu kepo tentang mereka berdua. Mending bikin roti saja, dari pada dengerin omongan kamu yang nggak jelas!" balas Alena panjang lebar.


Akhirnya mereka berdua bergelut dengan dunia pertepungan. Popy dan Alena sama-sama pintar membuat roti apa saja. Saat Alena serius membuat roti tiba-tiba Leo datang menghampiri.


"Ma," Leo memanggil mama nya yang sedang membuat roti.


"Ada apa sayang?" Alena balik bertanya .


"Di depan ada om," jawab Leo.


"Om? Siapa namanya?" giliran Popy bertanya.


"Leo tidak tanya tante, lupa."


Dengan segera Alena menemuinya.


"Mas," panggil Alena.


"Ternyata benar kamu ada disini."


"Mas nyari aku?"


"Boleh, kebetulan aku juga belum makan. Aku ajak Leo boleh?" tanya Alena.


"Tentu saja boleh," balas Ramon dengan antusias.


Alena langsung mencuci tangannya dan menyerahkan urusan roti pada Popy.


"Kamu yang melanjutkan, ya?"


"Mau kemana memangnya?" Popy balik bertanya.


"Aku mau makan siang dulu sama Leo. Sama...." ucap Alena menggantung.


"Sama siapa lagi?" desak Popy.


"Em.... papa baru Leo!" jawab Alena sambil berlari ke depan.


"Ya, ya, ya, semoga sukses nyari papa barunya!" gerutu Popy.


*****


Ramon mengajak Alena makan siang di resto yang sedikit jauh dari rumahnya. Supaya bisa lebih lama jalan dengan Alena.

__ADS_1


"Kamu mau apa?" Ramon bertanya pada Leo.


"Aku mau spagety saja om," dengan halus Leo menjawab.


"Aku juga sama mas," ucap Alena.


Ramon memesan 3 spagety dan beberapa menu lainnya.


Sambil menunggu pesanan datang, Alena mencoba membuka suara agar suasana nya tidak kaku.


"Kamu nggak kerja mas?"


"Kerja, tapi ini tadi ada pekerjaan di luar jadi sekalian saja aku ajak kamu makan siang."


Hanya itu saja jawaban Ramon. Suasana pun kembali hening. Ramon sengaja tidak banyak bicara untuk memancing Alena.


Hal itu sukses membuat Alena merasa begitu kaku dan terasa begitu asing. Ramon yang biasanya berlaku romantis dan penuh perhatian, tiba-tiba hilang begitu saja.


"Mas,"


"Hem," jawab Ramon singkat.


"Aku mau," ucap Alena ambigu.


"Aku mau apa?"


"Ya, aku mau." ucap Alena lagi.


"Aku mau apa, Al? Yang jelas dong kalau minta sesuatu," Ramon sengaja memancing Alena agar mau berbicara terlebih dahulu.


"Aku mau menikah sama kamu." ujar Alena dengan menutup kedua wajahnya menggunakan tangan. Ada perasaan sedikit malu saat mengatakannya.


"Apa! Aku nggak dengar, disini terlalu berisik!" nada Ramon sedikit tinggi agar Alena mengeraskan suaranya juga.


"Aku mau menikah sama kamu!" teriak Alena.


Tentu saja hal itu banyak mengundang perhatian dari seluruh pengunjung. Riuh nya suara sana sini yang mendengar pernyataan Alena membuat Alena menjadi malu.


"Kamu sih, nyuruh aku lebih keras lagi. Kan jadi malu!" gerutu Alena.


Dengan senyum mengembang Ramon menggenggam tangan Alena.


"Berarti kamu mau menerima ku menjadi papa sambung untuk Leo?" ucap Ramon.


"Iya," balasnya sambil menganggukkan kepala.


"Leo mau menerima sebagai papa Leo?"

__ADS_1


__ADS_2