
"Halo," Alena mencoba menghubungi seseorang yang tak sengaja dia tabrak kemarin.
"Ya, ada yang bisa di bantu?!" Ramon memjawab dengan suara baritonnya.
"Maaf tuan, ini saya Alena. Orang yang tidak sengaja menabrak tuan kemarin. Hari ini apa tuan ada waktu? Saya ingin mengembalikan jas milik tuan, sudah saya cuci bersih." Alena menjelaskan.
"Hari ini aku ada miting dengan orang penting, bagaimana kalau besok siang kamu antar ke kantorku saja!" Ucap Ramon. Kebetulan Ramon sedang berada di luar, jadi dia tidak bisa menemui Alena.
"Baiklah, besok akan saya antar. Maaf, karena sudah mengotori jas tuan," dengan nada menyesal Alena meminta maaf.
"Tidak masalah, aku senang kamu sudah mau bertanggung jawab." Ramon pun mengakhiri panggilannya.
Setelah mematika sambungannya, Alena langsung mengemas jas milik Ramon.
"Ini pasti mahal sekali harganya. Beruntung orang nya tidak marah-marah." gerutu Alena.
****
"Sial! Kalau saja hari ini aku tidak ada janji, aku pasti bisa bertemu dengannya!" ucap Ramon dengan sedikit emosi.
"Tunggu! Dia yang menghubungiku?! Berarti aku ada nomor phonsel nya! Ah.... kenapa kamu menjadi bodoh bersamaan Ramon?!" gumamnya lagi.
Ramon langsung menyimpan nomer Alena dengan nama yang meinarik, yaitu "Ibu dari anakku".
"Dengan begini, aku bisa menghubunginya sewaktu-waktu!" gumamnya.
*
*
*
Dengan semangat pagi Ramon sudah terlihat rapi dan sangat wangi. Dia bangun pagi-pagi sekali hanya untuk berlama-lama mandi.
"Kamu memang sangat sempurna!" gumamnya di depan cermin.
Ramon sudah berada di kantor pagi-pagi. Dia teramat senang, karena akan bertemu dengan Alena. Wanita incarannya yang membuatnya jatuh hati.
"Tumben kamu sudah di kantor pagi-pagi buta!" ucap Sean.
"Jangan mengganggu ku! Kamu sendiri kenapa disini! Bukannya semalam kamu pergi dengan para ******, hah?!" tanya Ramon.
"Tidak! Aku hanya membantunya mencari taxi. Setelah itu aku pergi ke hotel tempat ku menginap sebelumnya. Aku bukan laki-laki yang mudah tergoda dengan wanita. Tidak seperti seseorang!" ujar Sean.
"Sialan kamu! Kamu pikir aku laki-laki gampangan!" pagi-pagi buta Sean dan Ramon saling berdebat.
"Kenapa kamu ada disini?" tanya Ramon pada Sean.
"Pagi-pagi tadi aku mau ke apart kamu. Tapi aku pikir kamu pasti sudah berada di kantor, ya aku langsung kesini saja. Aku mau ajak kamu sarapan bersama, mau?" Sean balik bertanya.
__ADS_1
"Makan saja sendiri, aku sudah kenyang!" balas Ramon cuek.
"Ayolah, aku kesini dengan uang pas-pasan. Makanya mau numpang makan dengan mu!"
"Bawa ini!" Ramon langsung memberikan black card nya kepada Sean.
"Kamu memang paling mengerti!" Sean langsung pergi dari sana.
"Dari dulu tetap saja tidak berubah!" gerutu Ramon.
Bukan tidak ada uang, tetapi Sean lebih suka memghabiskan uang Ramon dari dulu. Apalagi Ramon adalah sahabat yang paling mengerti Sean. Sean bukan terlahir dari keluarga serba berkecukupan dan tidak kekurangan kasih sayang. Tapi dia ingin punya kakak yang bisa menyayanginya, makanya perbedaan usia Ramon dan Sean lah yang menjadikan mereka seperti kaka adik.
****
Matahari sudah mulai terik, tetapi Alena belum ada tanda-tanda akan datang ke kantor Ramon.
"Kenapa dia lama sekali! Apa dia lupa? Apa dia sibuk? Kalau aku tahu rumahnya, pasti sudah aku serbu sekarang!" ucap Ramon yang menunggu dengan gelisah.
Beberapa menit kemudian ada panggilan masuk dari "Ibu dari anakku" dengan cepat Ramon mengambil phonselnya.
"Ya, halo!" jawab Ramon dengan mentralkan kegugupannya.
"Saya sudah berada di depan gedung tuan, tapi saya bingung masjknya dari mana ini?!" dengan polosnya Alena bertanya.
Dalam hati Ramon, dia menahan tawa yang luar biasa. "Bagaiamana bisa ada wanita sepolos dia! Pasti lucu sekali ekspreinya yang kebingungan!" batin Ramon.
"Baiklah, terima kasih!" Alena menutup kembali panggilannya.
Alena berjalan menuju scurity yang berjaga. Rupanya Ramon sudah memerintahkan bagian resepsionis untuk mengantar Alena.
Sebelum Alena bertanya, scurity sudah menjemputnya dan mengantar Alena ke bagian resepsionis.
"Dengan nona Alena?" tanya petugas resepsionis.
"Iya benar,"
"Mari ikut saya!" petugas resepsionis pun mengantar Alena langsung ke ruang Ramon.
"Permisi pak, ada nona Alena!"
"Masuk!" Ramon sudah mempersiapkan dirinya agar terlihat tampan dan mempesona di mata Alena.
Alena segera memasuki ruangan Ramon.
"Silahkan duduk nona!" perintah Ramon.
"Jangan terlalu formal tuan, panggil saja saya Alena." ucapnya.
"Kalau begitu jangan panggil aku tuan! Panggil aku Ramon saja, begitu akan terlihat lebih akrab."
__ADS_1
"Baiklah. Ini jas milik tuan, sudah saya cuci dengan bersih. Maaf jas mahal andah kotor karena saya."
"Tidak masalah, aku masih punya banyak jas di rumah."
Alena pun segera memberikan paperbag yang dia bawa dari rumah. Tanpa sengaja Ramon memegang jari-jari Alena. Desiran hangat di hati Ramon mampu membuatnya tersenyum.
"Begitu halus jari-jarinya," batin Ramon.
" Maaf," ucap Alena seraya menarik tangannya.
"Apa kamu sudah makan siang?" tanya Ramon.
"Belum, mungkin sebentar lagi. Saya pamit undur diri dulu, karena harus menjemput putra saya di sekolah." ucap Alena.
"Pu putra?" Ramon bertanya-tanya.
"Iya, saya sudah mempunyai seorang putra. Sekarang dia sudah memasuki usia 5 tahun." Alena menjelaskan.
"Aku pikir kamu masih gadis dan belum menikah," ujar Ramon yang masih syok dengan pengakuan Alena.
"Kenapa sekalinya jatuh cinta dengan istri orang? Sudah punya anak pula! Ramon, Ramon nasib kamu sunggu tragis!" batin Ramon.
"Aku sudah lama menikah dan mempunyai seorang putra."
"Lalu suami kamu berkeja dimana?" tanya Ramon.
"Aku sudah berpisah lama dengannya. Aku juga sudah tidak mendengar kabar tentangnya." ujar Alena.
Bagaikan mendapat lampu hijau tanpa harus berperang. Tadinya Ramon berpikir kalau dia akan gagal sebelum berperang. Nyatanya Tuhan memberikan petunjuk untuk terus maju.
"Oh, maafkan aku yang banyak bertanya." sesal Ramon.
"Tidak masalah, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Alena.
Belum sempat dia beranjak dari tempatnya berdiri, Ramon sudah menawarkan untuk mengantarnya menjemput anak Alena.
"Biar aku antar, kebetulan aku juga belum makan siang. Nanti kita makan bersama-sama, bagaiaman?" tawar Ramon.
"Jangan, nanti akan merepotkan kamu!" seru Alena.
"Aku tidak perna merasa di repotkan. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena kamu udah mau mencuci jas kesayanganku." elak Ramon.
Setelah menimang-nimang, akhirnya Alena menyetujuinya.
Mereka berdua berangkat menuju sekolah Leo. Saat berjalan melewati para pegawai Ramon, Alena banyak menjadi pusat perhatian. Selain karena cantik dan bertubuh langsing, baru kali ini juga bosnya mengajak seorang wanita yang sangat cantik.
"Apakah dia kekasih bos kita? Jika benar, aku akan sangat senang. Mereka berdua sangat cocok!" celetuk pegawai Ramon.
"Bos pintar memilih gadis ternyata!" dan banyak lagi obrolan para pegawai Ramon.
__ADS_1