
Sean melajukan mobilnya pelan-pelan, hal itu memicu amarah Alena.
"Mas! Bisa cepetan gak!" ucap Alena dengan kesal.
"Ini sudah cepet Al," balas Sean.
"Kamu kira aku anak-anak Mas?! Cepetin gak!"
"Iya Al," jawab Sean lesu. Tapi masih tetal pelan, dia melajukan mobil nya dengan kecepatan standart.
Melihat hal itu Alena tak tinggal diam. Dia langsung menjambak rambut Sean tanpa aba-aba.
"Al, sakit Al! Lepasin Al, ini sakit!" teriak Sean.
"Cepet gak!"
"Iya, Iya!" Sean langsung tancap gas.
"Yang nyakitin siapa yang di aniaya siapa, nasib-nasib!" gerutu Sean.
Alena mendengar hal itu langsung melepas tangannya dari rambut Sean.
"Maaf! Habisnya kamu nyebelin!" lirih Alena.
"Nyebelin tapi ngangenin tauk!" balas Sean.
Alena hanya diam tak ingin menanggapinya.
Sesampainya dirumah sakit, Nico langsung di bawa ke ruang UGD untuk mendapat perawatan. Alena dan Sean menunggu di depan pintu.
"Maaf, tadi aku jambak rambut kamu Mas," ucap Alena.
"Iya gak papa,"
"Bukan aku membelanya, tapi kalau ada apa-apa, nanti kamu juga yang repot Mas."
"Kamu khawatir sama aku ya?!" tanya Sean sengan wajah berbinar.
"Enggak!" balas Alena.
Sedetik itu juga hilang sudah wajah ceria Sean.
"Keluarga tuan Nico!" suara suster memanggil.
"Iya sus, saya istrinya!"
"Tuan Nico akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Mohon segera ke bagian administrasi!" ujar suster.
"Baik sus!" balas Alena.
"Dari mana aku dapat untuk biaya rumah sakit," lirih Alena.
Sean yang berada disamping Alena pun mendengarnya.
__ADS_1
"Biar aku saja yang urus, kamu jangan pikirkan lagi," ucap Sean.
"Tapi Mas, aku sudah banyak merepotkan kamu!"
"Sudah gak usah dipikirin, kamu duduk saja dengan tenang disini," balas Sean sambil menggiring Alena untuk duduk kembali.
Sean langsung pergi ke ruang administrasi untuk melunasi biaya perawatan Nico.
Setelah selesai, Nico langsung dibawa ke ruang rawat inap. Alena terus menemani Nico disampingnya.
Sean yang baru saja kembali, melihat Alena duduk de samping Nico merasa cemburu.
"Setiap hari dia menyakiti mu Al, bahkan tega menduakan kamu. Tapi kamu masih setia disisi nya?! Sungguh beruntung kelak laki-laki yang menemani kamu!" batin Sean.
"Al," panggil Sean saat memasuki ruangan.
"Sudah Mas?" tanya Alena
"Sudah Al, kamu jangan khawatir soal biaya," balas Sean sambil mendudukkan dirinya di sofa ruangan.
"Berapa biayanya Mas, nanti biar aku ganti!"
"Yang seharusnya ganti bukan kamu Al! Tapi si kutu kupret ini!" geram Sean sambil menunjuk Nico.
"Sabar Mas," balas Alena.
"Awas saja, kalau bangun nanti masih bikin ulah! Aku bikin perhitungan sama dia!" ucap Nico menggebu-gebu.
"Sudah dong Mas, jangan marah-marah terus! Nanti cepet tua!" ucap Alena sambil menenangkan Sean.
"Kamu sudah sadar Mas?" tanya Alena.
"Al aku mohon sama kamu, jangan tinggalin aku ya," ucap Nico.
"Gak usah ngomong aneh-aneh! Sekarang yang paling penting pulihkan duku kesehatan kamu! Baru nanti kita bicara baik-baik!" balas Alena.
"Al, aku keluar dulu!" pamit Sean. Dia tidak mau mengganggu Alena dan Nico berbicara.
Sean keluar ruangan dan mencari makan untuk Alena dan dirinya. Sedari tadi perut mereka berdua belum terisi makanan sama sekali.
"Al, aku pengen membahagiakan kamu. Aku tulus mencintai kamu Al. Aku akan memperbaiki diriku! Terserah apapun hukuman kamu untukku aku akan menerimanya, asal jangan meminta kita berpisah Al! Aku gak bisa hidup tanpa kamu!"
"Mas, kamu harus sembuh dulu baru kita bahas ini!" balas Alena.
"Gak Al, aku maunya sekarang," ucap Nico halus.
"Kalau kamu ingin aku hidup bahagia, maka lepaskan aku! Biarkan aku hidup dengan piliha ku sendiri dan kamu bisa hidup dengan pilihanmu sendiri! Dengan begitu kita bisa saling bahagia dengan cara masing-masing!"
"Tapi Al, aku ingin hidup bersamamu! Memiliki anak dengan kamu, menua bersama kamu selamanya!" ujar Nico.
"Maaf Mas, itu sudah terlambat! Jika kamu bisa berubah sebelum aku pergi dari rumah, mungkin aku masih bisa bertahan. Sayangnya itu hanya angan-anganku saja. Dan sekarang aku sudah memiliki kehidupan baru, jadi aku harap kamu bisa mengerti dan menerimanya!" balas Alena.
Nico hanya bisa meneteskan air matanya, dia begitu malu dengan Alena. Semua ini karena ulahnya sendiri. Kalau saja dia bisa menerima Alena sebagai istrinya dengan baik, mungkin sekarang dia sudah memiliki anak dengan Alena.
__ADS_1
Sekarang hanya tinggal penyesalan yang dia rasakan. Entah bagaimana nasibnya nanti jika dia benar-benar bercerai dengan Alena nantinya.
"Jika itu keputusan kamu, aku akan mengabulkannya Al! Asal kamu bisa hidup bahagia dengan pilihanmu aku ikhlas," ucap Nico tiba-tiba.
"Beneran Mas?!" tanya Alena dengan berbinar.
"Tapi ada syaratnya!"
"Syarat? Apa?"
"Kamu harus merawatku sampai sembuh. Kita juga harus menjelaskan semuanya kepada Papa dan Mama. Papa dan Mama ada dirumah, mereka menunggu kamu pulang sejak lama,"
"Benarka Papa dan Mama pulang kesini?!"
"Iya,"
"Baiklah, tapi setelah kamu sembuh kita langsung bercerai. Aku gak mau kamu mengulurnya!"
"Iya Al,"
Nico menyadari semua kesalahannya. Dia akan menata hidupnya kembali setelah ini. Entah dia sanggup atau tidak untuk menanda tangani surat perceraian itu nantinya.
"Sesungguhnya aku tidak rela kamu pergi Al, tapi jika semua itu bisa membuat kamu bahagia aku akan merelakannya!" batin Nico.
Sean yang baru saja kembali setelah mencari makan malam, tak sengaja mendengar perbincangan mereka berdua.
"Benarkah Nico akan menceraikan Alena?! Kalau memang benar, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," batin Sean.
Meski dihatinya merasa senang jika Alena berpisah, namun di lain sisi dia ikut sedih karena nasib Alena. Dia juga tidak mau menjadi orang yang egois .
"Jika suatu hari aku bisa mendapatkan hatimu, aku janji akan selalu membahagiakan kamu Al. Aku akan menjaga hati ini hanya untuk mu. Kita akan hidup bahagia dengan anak dan cucu kita kelak." batin Sean sebelum memasuki ruangan.
"Maaf menggangu, Ayo kita makan dulu Al. Dari tadi kamu belum makan!" ujar Sean.
"Makanan untukku mana!" tanya Nico.
"Beli sendiri!" bentak Sean.
"Sudah jangan mulai! Kepalaku sudah pusing mendengan ocehan kalian!" bentak Alena.
Mereka berduapun diam tidak ada yang berani menjawab.
"Biar makananku untuk nya saja Mas, aku masih kenyang!" ucap Alena.
Sean jadi tambah jengkel dengan Nico. Alena seharian belum makan, malah memberikan makannnya untuk Suami gak jelasnya itu.
"Kita makan berdua saja Al, aku tahu kamu juga belum makan seharian!" balas Sean.
"Enggak usah, bias Alena makan dengan ku saja!" balas Nico.
Akhirnya Alena meraih makanan milik Nico dan Sean. Alena membagi makanan itu menjadi 3 bagian.
"Dengan begini adil kan!" seru Alena.
__ADS_1
"Yah...gagal deh sepiring berdua!" seru Sean.