
Sean ingin mengungkapkan segala isi hatinya kepada Alena. Tapi, sepertinya Alena menghindarinya jika membicarakan perihal perasaannya.
Pagi ini Sean pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Nico sekaligus menemui Alena.
"Ternyata masih peduli!" ucap Nico tiba-tiba, ketika tahu Sean memasuki ruangannya.
"Aku bukan orang yang nggak punya hati ya! Mending aku dari pada orang yang terbaring itu, dia bahkan lebih tega menyakiti hati wanita!" sarkas Sean.
"Pergi sana! Aku malas berdebat dengan orang songong seperti kamu!" balas Nico.
Sean langsung duduk tak menggubris omongan Nico.
"Alena kemana?" tanya Sean.
"Cari makan!" jawab Nico dengan sewot.
"Kebetulan kalau begitu! Ada hal yang mau aku bicarakan dengan kamu!" ucap Sean.
"Apa!"
"Aku ingin mengejar Alena!" ujar Sean.
"Maksud kamu mengejar?"
"Aku suka sama Alena! Aku cinta sama dia! Aku ingin dia menjadi istriku! Aku harap kamu bisa benar-benar melepaskan dia!" ujar Sean.
"Lalu, maksud kamu ngomong ini sama aku apa?!"
"Aku lihat, sepertinya kamu tidak ingin melepaskan Alena. Jadi aku memberitahu kamu bagaimana perasan ku padanya, agar kamu bisa mundur!"
"Aku nggak akan mundur! Aku akan mempertahankannya!"
"Bukankah kamu pernah menyakitinya?! Kenapa sekarang tidak ingin melepaskannya?!" tanya Sean.
"Aku mencintainya, maka dari itu ayo kita bersaing dengan sehat!" ajak Nico.
"Ok!! Kita lihat siapa yang akan dipilihnya!" balas Sean.
"Deal!!" ucap Nico sambil mengaka Sean untuk berjabat tangan tanda mereka menyetujui perjanjian itu.
Tiba-tiba pintu terbuka, memperlihatkan Alena sambil membawa dua kantong plastik di tangannya.
"Maaf, aku terlalu lama mas!" ujar Alena sambil meanuh kantong plastik itu di meja.
"Kamu dari mana Al?" tanya Sean.
"Beli makan mas, tapi ini tadi mampir beli baju buat ganti nanti." jawab Alena.
Alena dengan cekatan menyiapkan sarapan pagi itu. Dia membeli 3 bungkus nasi untuknya, Nico dan Sean. Alena tahu kalau Sean pasti akan kesini pagi ini, makanya dia sekalian membeli 3 bungkus nasi.
"Ayo kita makan dulu mas," ucap Alena pasa Sean dan Nico.
__ADS_1
"Ngapain kamu makan ini?! Harusnya kan makanan yang dari rumah sakit! Kenapa makan ini?!" tanya Sean dengan sewot.
"Katanya bosen mas, makanya aku tadi keluar cari warteg. Sudah jangan bertengkar terus, ayo kita makan!" balas Alena.
"Al, suapin ya?" pinta Nico.
"Nggak ada suap-suapan! Mulai sekarang kamu makan sendiri!" bentak Sean.
Alena yang tadinya akan membantu Nico, dia urungkan gara-gara Sean.
Dengan raut wajah yang masam, Nico akhirnya makan sendiri. Niatnya gagal gara-gara Sean.
"Enak saja main supa-suapan! Kamu pikir aku akan membiarkan kamu berduaan saja sama Alena! Heemm.... nehi nehi nehi ya! Tidak akan aku biarkan hal itu terjadi!! Batin Sean.
"Sial!! Ngapain dia kesini!! Mengganggu saja!! Awas saja nanti, pasti aku balas!" batin Nico.
Mereka bertiga menikmati makanan masing-masing. Sampai suara Sean memecah keheningan. "Habis ini aku antar kamu pulang Al! Kamu istirahat saja dirumah, biar aku yang gantian menjaga Nico!" ucap Sean.
"Enggak bisa! Alena tetap disini menemaniku!" sahut Nico dengan cepat.
"Kasian Alena Nic! Dia juga butuh istirahat!" balas Sean.
"Nggak apa-apa mas, biar aku disini saja. Nanti sekalian aku tanya dokter kapan mas Nico pulangnya," ucap Alena.
Nico yang mendengar jawaban Alena, senyum-senyum sendiri sambil mengejek Sean.
"Kamu tidak akan bisa mengalahkan ku!" batin Nico.
Setelah selesai dengan acara makanya, Alena pergi menemui suster yang berjaga di depan.
"Permisi suster, pasien atas nama Nico pulangnya kapan ya?" tanya Alena.
"Kalau itu, masih belum tahu nyonya. Mungkin nanti akan dijelaskan oleh dokter yang mengontrolnya." jawab suster.
"Oh.... baiklah kalau begitu, terima kasih sus," balas Alena dan segera kemabali ke ruangan Nico.
Sesampainya disana Sean langsung berpamitan. "Al, aku pergi dulu karena ada panggilan dari kantor." ucap Sean.
"Iya mas, biar aku yang menjaga disini." balas Alena.
Sean pun langsung pergi menuju ke kantornya
*
*
Pukul 10.00 pagi dokter datang memeriksa Nico. "Kondisi tuan Nico sudah mulai membaik dari pada kemarin, saya harap nyonya menjaganya dengan baik," ucap dokter.
"Baik dok," balas Alena.
"Harap nyonya menjaga tuan Nico jangan sampai minum-minum seperti kemarin. Jika terjadi sesuatu seperti kemarin, maka nyawa tuan dipertaruhkan." ucap dokter.
__ADS_1
"Baik dok!" balas Alena dengan tegas.
Dokter langsung pergi meninggalkan Alena dan Nico. Mendengar Nico sudah diperbolehkan pulang, Alena segera berkemas barang-barang milik Nico.
"Al!" panggil Nico.
"Ya mas,"
"Apa setelah ini kamu mau merawatku?" tanya Nico.
"Iya mas, aku akan membantu merawat kamu. Atau kamu mau aku carikan orang lain, jika tidak nyaman!" jawab Alena. Sebenarnya dia merasa bersalah atas tindakan Sean. Karena dirinya mereka berdua harus bertengkar. Sean pun tidak bisa selalu menjaga Nico setiap hari, karen ada pekerjaan yang tidak bisa dia tinggalkan. Makanya Alena ingin menebus hal itu untuk Nico.
"Enggak usah Al, kamu saja. Aku lebih tidak nyaman jika itu orang lain." ujar Nico.
Baru saja membaik hubungan Nico dengan Alena, tiba-tiba Viona datang dengan santainya langsung memeluk Nico.
"Sayang, katanya kamu sakit ya?! Kamu kok nggak bilang-bilang sih kalau sakit! Untung Sean tadi mau ngaku!" ucap Viona panjang lebar.
Alena yang melihat itu hanya diam tak merespon, dia terus melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai.
"Ternyata masih belum berubah! Sabar Al, sabar!" batin Alena.
Nico tentu saja tidak nyaman dengan perlakuan Viona, dia langsung mendorong tubuh Viona agar menjauh darinya.
"Kamu kok dorong aku sih! Kita sudah lama nggak ketemu lo Nic!" ucap Viona.
"Kita juga sudah lama putus dan tidak ada hubungan sama sekali!" sarkas Nico.
"Memangnya aku salah, kalau aku kangen kamu meski kita tidak ada hubungan?!"
"Salah besar!! Besar!! Besar!! Sekarang kamu pergi dari sini, aku nggak mau diganggu siapapun!!" balas Nico.
Viona dibuat malu oleh Nico, pasalnya disana masih ada Alena.
"Heh!! Kamu siapa!!" tanya Viona sambil menunjuk Alena.
Belum sempat Nick menjawab, sudah ada jawaban tersendiri dari Alena. "Saya pembantu tuan Nico nona!" ucap Alena.
"Ohh....! Pantesan! Sesuai saman gaya kamu!!" ujar Viona.
Nico yang mendengar itu ikut geram, Nico langsug mengusir Viona dari ruangannya.
"Hei wanita jal***!! Pergi kamu dari sini dan jangan pernah kamu menampakkan hidung kamu dihadapanku!!" ucap Nico.
"Kamu ini apa-apaan sih! Main usir-usir saja!" balas Viona sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Alena yang menahan emosi dari tadi, akhirnya ikut mengusir Viona.
"Maaf ya nyonya, lebih baik nyonya keluar dari sini dari pada kesehatan tuan Nico semakin memburuk karena keberadaan anda!" ucap Alena.
"Heh! Pembantu sialan, enak saja kamu mengusir saya! Suatu saat nanti saya yang akan memecat kamu!" balasnya dan langsung pergi begitu saja.
__ADS_1