Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Draft


__ADS_3

Ramon dan Alena sampai di rumah utama. Mereka di larang tinggal di apart. Karena rumahnya akan terasa sepi.


"Mas, bagaiaman dengan toko roti, ku? Sudah lama aku cuti," tanya Alena sambil merapikan dasi suaminya yang akan berangkat ke kantor.


"Aku sudah mengurusnya. Di sana ada Sean yang membantu Popy. Biarkan saja mereka berdua yang menjalankan."


"Sean?" cicit Alena.


"Iya, Sean. Kenapa? Kamu kaget ya, kalau Sean mau membantu."


"Enggak! Ngapain kaget, biasa saja." Alena sedikit gugup dengan pertanyaan Ramon. Karena setahu Alena, Sean menyukainya. Itu akan membuatnya sedikit canggung jika mereka bertemu.


"Apa kalian ada sesuatu yang di sembunyikan?" selidik Ramon.


"Enggak ada. Hanya saja, dia pernah menyatakan cinta pada ku. Akan terasa canggung bila bertemu nanti."


"Benarkah? Lalu apa jawaban kamu? Apa kamu menerima nya?" sebenarnya Ramon sudah tahu. Tetapi dia ingin Alena sendiri yang jujur pada nya.


"Enggak. Aku menganggapnya seperti kakak ku sendiri. Tapi dia beranggapan lebih pada ku. Sudah dua kali dia menyatakan perasaannya." Alena menhelaskan semua pada Ramon agar tidak terjadi salah paham.


"Syukurlah," balas Ramon.


"Syukurlah? Memangnya kenapa?" Alena bertanya.

__ADS_1


"Karena kalau kamu menerimanya, kita tidak akan bertemu seperti ini." Ramon langsung memeluk Alena sambil mencium pucuk kepala nya.


"Aku sangat mencintai kamu sayang. Begitu besar rasa cintaku, sampai-sampai aku tidak ingin lergi bekerja. Akan aku masukkan ke dalam saku celana ku dan aku simpan di dalam laci meja kerja ku."


"Kenapa harus di masukkan saku dan laci? Memangnya aku iki boneka, yang bisa di bawa kemana-mana," balas Alena dengan penuh tanda tanya.


"Karena kalau tidak aku simpan dalam saku, akan banyak laki-laki yang memandang, mu. Bahkan mereka juga menggoda, mu. Aku tidak mau kamu menjadi pusat perhatain laki-laki lain."Ramon mulai mengeluarkan jurus rayuan maut nya.


Alena langsung tersipu malu mendengar rayuan Ramon. "Jangan ngegombal, Mas. Itu tidak mempan untukku."


"Tidak mempan tapi pipinya kok merah," goda Ramon sambil menoel pipi Alena.


"Sudah, Mas. Nanti kesiangan, ini sudah selesai," ucap Alena setelah membenahi dasi Ramon.


"Ada apa?" tanya Alena.


Tak ada jawaban dari Ramon, dia hanya diam dan memandang wajah cantik istrinya itu. Beberapa derik kemudian, meluncurlah bibir Ramon ke bibir Alena.


Mereka saling berpagutan satu sama lain. Alena begitu terbuai dengan sentuhan Ramon. Tak pernah dia rasanya kasih sayang seperti yang Ramon berikan pada nya sebelumnya.


"Sudah, Mas. Nanti kamu terlambat." Alena melepas pagutan mereka.


"Sayang sekali, padahal sangat nikmat," ucap Ramon sambil mengedipkan mata.

__ADS_1


"Aku berangkat dulu, ya. Nanti siang kamu ke kantor, kita makan siang bersama. Jangan lupa ajak Leo."


Alena langsung mencium tangan Ramon. "Hati-hati ya, Mas."


Saat Ramon keluar dari kamarnya, tepat di depan kamar ada ke dua orang tuanya.


"Ya beginilah Ma kalau pengantin baru, lamaaa ... sekali kalau mau berangkat kerja. Beda kalau masih sendiri dulu, jangankan makan di rumah. Tidur saja hampir nggak pernah di rumah. Selalu di apart nya tuh, Ma. Kalau sekarang, sebentar-sebentar pulang. Sebentar lagi, balik lagi ada yang ketinggalan. Selalu ada alasan," ucap Papa Ramon yang sudah di depan pintu sejak tadi.


"Pap ngomong apa, sih. Sudah, ayo kita berangkat." Ramon langsung turun menuju mobil nya. Dia akan ke kantor bersama dengan Papa nya.


******


Di tengah perjalanan Ramon membuka suara. "Pa," panggil Ramon sambil mengemudikan mobil.


"Apa," jawab Papa nya yang berada di samping Ramon.


"Yang Papa bilang mau jodohin aku sama kolega papa, apa bener?" tanya Ramon yang penasaran.


"Tidak! Papa tahu kamu paling tidak suka hal begituan. Lebih baik menunggu pilihan kamu saja. Memangnya kenapa?" tanya balik Papa nya.


"Ya, nggak apa-apa sih. Tapi kalau benar, itu akan sangat mengganggu kinerja ku. Aku nggak mau ada gangguan dari mana pun dalam rumah tangga ku. Kalau aku sudah bisa di pastikan jujur dan nggak akan menghianati Alena. Tapi nama nya perempuan kalau sudah cemburu mengalahkan barongsai marah nya," ujar Ramon menjelaskan pada Papa nya. Dia khawatir wanita yang di jodohkan dengannya akan masuk ke dalam rumah tangga nya jika dia tidak bisa menerima kekalahannya.


"Tenang saja, Papa hanya bercanda. Waktu itu ide Mama kamu sebenarnya dan Papa nggak setuju. Terus Mama bilang kalau itu hanya untuk membohngi kamu agar segera mencari istri. Jadi nya Papa mengikuti skenario Mama kamu saja," jelas Papa Ramon.

__ADS_1


__ADS_2