Istri Yang Tak Diakui

Istri Yang Tak Diakui
Ganti Sean


__ADS_3

Mata itu diam, menilik setiap gerakan dua anak manusia yang sedang berjalan bersama. Antara otak, hati, dan bahasa tubuhnya banya yang tidak sesuai. Antara menerima, cemburu, dan amarah menghasut menjadi satu.


Sean terbakar api cemburu, ketika melihat Alena bersama kembali dengan Nico. Rencana dia akan mengajak Alena makan malam bersama, tetapi dia urungkan karena melihat Alena pulang bersama laki-laki yang pernah singgah dihatinya.


"Kenapa kamu bersama dengannya Al?! Aku cemburu Al, aku cemburu!" batin Sean.


"Enatah apa jadinya, jika suatu hari nanti aku tidak bersama dengan mu Al! Aku takut membayangkannya. Melihatmu seperti ini saja membuatku begitu sakit, apalagi jika kita tidak bisa bersama," batin Sean.


"Kamu tidak boleh bahagia dengan orang lain Al! Kamu harus bahagia hanya dengan ku saja. Senyummu, tawamu, sedih mu, dan tangismu hanya boleh dengan ku saja Al!" lirih Sean.


Setelah mengantar Alena, Nico langsung pergi. Dia harus segera kembali untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah.


Melihat Nico pergi, Sean langsung menghampiri Alena.


"Al," panggil Sean dengan lembut.


Merasa ada yang memanggil, Alena langsung menengok ke belakang.


"Mas Sean!" seru Alena.


"Kamu baru pulang?"


"Iya Mas, mas sendiri dari mana?" tanya balik Alena.


"Aku dari rumah saja, mau kesini ajak kamu makan bareng."


"Mas belum makan?" tanya Alena.


"Belum! rencananya tadi mau ajak kamu makan di luar, jadi aku tidak makan dulu."


"Aku sudah makan malam sih Mas, bagaimana kalau Mas makan disini saja?! Aku masakin sesuatu yang ada di dapur. Itu kalau mau!"


Demi apa Alena mau memasak untukknya! Tentu dengan senang hati Sean akan menyetujuinya.


"Aku mau kok! Kata siapa kau gak mau!" jawab Sean.


Alena mempersilahkan Sean duduk di sofa.


"Tunggu sebentar ya Mas!"


"He'em," balas Sean. Sambil menunggu Alena memasak, Sean melihat-lihat foto yang di pajang di meja Alena.


Ada salah satu foto Alena di dalam bingkai yang kecil, dan Sean mengambilnya. Dilepasnya bingkai itu dan fotonya dia ambil kemudian dimasukkan kedalam dompetnya.


"Aku minta satu ya Al," lirih Sean saat mengambil foto Alena.


Beberapa menit kemudian Alena menghidangkan mi instan dengan banyak sayuran dan telur orak-arik di atasnya.


"Maaf Mas, disini hanya ada mi instan saja ternyata. Kalau Mas gak mau, ya aku makan sendiri saja!" ucap Alena.


"Heeeiii.... siapa yang bilang gak mau! Sini aku sudah kelaparan!" jawab Sean.


Sean pun meraih mangkuk yang dibawa Alena.


"Mas makan dulu saja, aku mau ganti baju dulu."


"Iya!"


Alena tidak hanya mengganti baju saja, tetapi dia juga mandi. Karena sejak pulang kerja dia belum mandi. Setelah selesai, dia menghampiri Sean.


"Sudah selesai Mas?"

__ADS_1


"Sudah Al,"


"Habis!"


"Iya Al, aku sudah kelaparan dari tadi. Jadi aku habiskan sendiri deh!"


"Iya Mas, aku malah senang kalau habis" balas Alena. Dia sangat senang Sean menghabiskan makanannya meski hanya mi instan saja.


****


Alena dan Sean duduk di teras depan kos. Cahaya bulan yang menyinari bumi, menambah suasana semakin hangat.


"Al," panggil Sean lembut.


"Hem," jawabnya.


"Apa kamu tidak ingin menikah lagi?" tanya Sean.


"Masih belum tahu Mas, Alena masih trauma. Memangnya kenapa Mas?"


"Gak apa-apa sih, pengen tahu saja,"


"Mas Sean sendiri gak pengen nikah apa!"


"Pengan sih Al, tapi calonnya belum siap kayaknya!"


"Memang calonnya siapa Mas?!"


"Kamu!" jawab Sean cepat.


Alena diam tak menjawab. Dia bingung harus berkata apa.


"Biasa saja!" balas Alena sewot.


Sean tidak menyangka akan memakan masakan Alena. Dia juga tidak menyangka kalau bisa duduk berdua di tempat kos Alena.


"Padahal aku tadi sudah cemburu buta Al, eh.... malah kamu ganti dengan makan malam yang sangat spesial meski hanya mi instan saja." batin Sean di sela-sela berguranya.


*


*


Pagi-pagi Alena sudah berada ditempat kerjanya. Dia masuk pagi dan harus membantu untuk menyiapkan pesanan untuk acara makan rapat perusahaan.


"Al, kamu siapin kotaknya biar cepat!" ucap Kak Sofi koki di tempat kerjanya.


"Baik Kak!" selagi menyiapkan masakan, Alena membantu menata kotak makanan.


Setelah semua selesai, teman Alena yang akan menganyarkannya. Belum juga berangkat, ternyata pihak pemesan sudah datang duluan.


"Ada yang bisa dibantu tuan?" tanya pelayan.


"Saya mau ambil pesanan makanan," balas Nico.


"Oh.... sebentar tuan, ini petugas kami akan berangkat mengantarnya kesana."


"Tidak usah repot-repot, saya sudah membawa mobil untuk mengambilnya,"


"oh....baiklah! Akan saya siapkan kalau begitu. Mohon tuan tunggu sebentar!"


Nico pun menganggukkan kepalanya. Sambil menunggu pesanannya di masukkan kedalam mobil, dia melihat kanan kiri mencari Alena. Tapi sepertinya dia tidak ada.

__ADS_1


"Apa dia libur hari ini? Mau menghubunginya juga tidak bisa, aku tidak ada nomor phonselnya! Huufffhh....!" lirih Nico.


Berbeda dilain tempat, Alena dan temannya saling bergurau memindah kotak makanan yang cukup banyak.


"Orang yang cukup baik, mau mengambil pesanannya sendiri. Kebanyakan minta diantar dan gak sabaran!" gerutu teman Alena yang melayani Nico.


"Benarkah? Biasanya mereka minta diantar secepatnya!" balas Alena.


"Iya bener, tapi dia model yang terkenal kok yang kesini. Tampan dan gagah!" ujarnya lagi sambil tersenyum.


"Model? Terkenal? Siapa?"


"Nico!"


"Hah!"


"Kenapa Al?"


"Eng enggak kok! Ayo cepetan!" ucap Alena.


Alena harus bergegas menyelesaikannya, sebelum bertemu dengan Nico.


Sayangnya Nico sudah meminta ijin kepada atasannya untuk mengajak Alena yang membantu mengantar ke kantornya.


"Al, bantu pak Nico mengantar ini ya!" ucap Bos Alena.


"Iya pak,"


"Kenapa harus aku lagi!" batin Alena.


"Sudah semua kan?" tanya Bos Alena.


"Sudah Pak!" jawab Alena.


"Ya sudah, ayo kita jalan sekarang!" ajak Sean.


Mereka berdua langsung berangkat menuju kantor Alena.


"Terima kasih sudah banyak memesan makanan di restoran kami," ucap Alena.


"Sama-sama. Ini semua aku lakukan buat kamu Al," ujar Nico.


"Aku? Kenapa?" tanya Alena.


"Aku mau kamu tetap bisa bekerja disana. Kalau tempat kamu rame kan banyak dapat bonus juga,"


"Terima kasih ya,"


"Iya," balas Nico sambil menganggukkan kepalanya. Nico terus melirik Alena sambil mengemudikan mobil.


"Alena sungguh cantik! Keman saja aku selama ini! Sepertinya aku harus memeriksakan mata ku mulai hari ini!" batin Nico disela-sela lirikannya kepada Alena.


Sesampainya di kantor agency Nico, Alena segera menurunkan kotak makannnya. Alena juga dibantu oleh staf yang ada disana, termasuk dengan Sean. Karena rapat kali ini adalah pembahasan tentang pameran brand baju ternama. Jadi semua artis dan model diwajibkan hadir pada rapat kali ini.


Sean yang melihat Alena membawa kotak makanan, langsung mengambil alih.


"Biar aku saja Al, ini berat!" ucap Sean.


"Terima kasih Mas," balas Alena.


Jangan lupakan manusia satu ini yang memperhatikan gerak-gerik Sean dari tadi. Dia ikut geram dengan kedekatan Alena dan Sean.

__ADS_1


__ADS_2