
Alena segera di bawa ke rumah sakit. Dengan kecepatan tinggi sopir keluarga Ramon mendadak menjadi joki balapan. Tanpa menghiraukan mereka yang di belakang, pak sopir melaju sekencang-kencangnya atas perintah Papa nya Ramon.
"Apa kamu begitu dendam padaku?" ujar Papa Ramon penuh penekanan sambil berpegangan dengan kencang.
"Bukankah tadi Tuan menyuruh saya untuk membawa Nona Alena ke rumah sakit secepatnya? Kalau perlu ngebut sekalian." Pak sopir mencoba mengingatkan.
“Tapi tidak dengan cara seperti ini. Kalau begini bisa terbang ke akhirat semua kita!” Papa Ramon terus menggerutu dengan sang sopir.
Setelah perdebatan panjang akhirnya mereka sampai di rumah sakit milik keluarga Ramon. Petugas sudah siap di depan pintu dengan semua peralatannya.
“Cepat kalian tangani menantu ku. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak di inginkan!” ucap Papa Ramon dengan gugup.
Mereka semua begitu cekatan. Alena segera di masukkan ke ruang pemeriksaan. Ada beberapa dokter yang sudah siaga di dalam. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan, akhirnya mereka mengetahui penyebab Alena jatuh pingsan.
“Bagaimana kondisinya?” tanya Mama Ramon dengan meremas jari-jarinya. Dirinya begitu khawatir jika ada apa-apa dengan Alena. Tidak lupa Leo cucu kesayangannya dia peluk erat.
“Selamat, Tuan. Nona Alena telah mengandung, usia kandungannya sudah menginjak tiga minggu. Saya harap Nona Alena tidak melakukan aktifitas berat dulu, karena masih awal dan harus banyak beristirahat.” Dokter menjelaskan pada ke dua orang tua Ramon.
Betapa bahagia nya mereka mendengar berita Alena mengandung Ramon junior. Tapi tidak untuk Leo, dirinya takut kalau kedua orang tua dan kakek nenenya akan mengabaikannya nanti.
“Kenapa kamu murung sayang?” tanya Neneknya dengan halus. Mama Ramon sudah menebak apa yang ada dalam pikiran Leo. Tapi dia ingin memastikan sendiri tentang pendapatnya itu.
“Leo takut nanti di abaikan sama Papa dan Mama, Nek. Leo tidak mau itu. Leo sayang sama Papa, Mama, Nenek dan Kakek.” Sambil meneteskan air mata Leo mengungkapkan isi hatinya.
“Sayang, itu semua tidak akan terjadi. Kami semua menyayangi Leo. Semua itu tidak akan berubah meski nanti ada adik Leo yang lahir di dunia ini, kasih sayang kami akan tetap sama. Jangan berpikir yang berlebihan nanti Leo sakit,” ucap Kakek Leo sambil memeluk tubuh mungil Leo.
__ADS_1
“Benarkah? Apakah Kakek, Nenek juga tetap menyayangi ku seperti saat ini? Apakah nanti kita tetap bisa bermain bersama-sama seperti dulu?” Leo memberondong pertanyaan pada Kakek dan Neneknya.
“Tentu saja,” balas Kakek dan Nenek bersamaan.
“Hore!” teriak Leo sambil melompat-lompat.
“Lalu kapan menantu ku akan sadar?” tanya Papa Ramon.
“Sebentar lagi akan sadar. Ini karena tubuhnya yang kelelahan, jadinya Nona merasa nyaman terbaring,” jelas Dokter.
“Baiklah. Terima kasih atas bantuannya,” ucap Mama Ramon sambil menjabat tangan Dokter.
“Sama-sama. Jangan sungkan Tuan, kami semua akan melakukan yang terbaik.”
Alena akan di pindahkan ke ruang rawat inap VVIP sambil menunggu dia siuman.
Mama Ramon terus menghubungi anak nya. Tapi belum juga ada jawaban.
"Kemana sih anak ini! Apa dia lupa kalau punya phonsel?" gerutu Mama nya.
Hingga panggilan ke 10 Ramon baru menjawabnya.
"Ya, Ma? Ada apa?" tanya Ramon di sebrang sana dengan santainya. Ramon masih ada rapat dengan clientnya dan masih lama selesainya.
"Kemana saja kamu, hah! Istri masuk rumah sakit malah diam saja!" bentak Mama nya dengan menggebu-gebu.
__ADS_1
"Istri ku masuk rumah sakit? Istri yang mana, Ma?" Ramon balik bertanya dengan entengnya tanpa beban. Otaknya sedang tidak singkro, makanya dia sedikit ngelantur. Banyaknya tekanan pekerjaan membuatnya menjadi sedikit stres.
"Dasar anak bodoh! Memang istrimu ada berapa, hah?! Ada sepuluh, seratus, dua ratus? Sepertinya otakmu sedang tidak beres!" umpat Mama Ramon.
"Tunggu! Istri ku masuk rumah sakit?! Alena masuk rumah sakit?!" Ramon mulai panik begitu dirinya sadar.
"Iya! Dasar anak bodoh!" teriak Mama nya dan langsung mematikan sambungan telpon nya.
"Apa dia sedang tidak waras? Istri mana lagi? Apa jangan-jangan dia menikah lagi? Kalau sampai iya, akan aku bunuh dia!" gerutunya sambil memukul phonsel nya.
*******
Di lain tempat, Ramon yang mendengar istrinya masuk rumah sakit langsung pergi begitu saja. Dia tidak menghiraukan teriakan para client yang sudah menunggu lama.
"Lanjutkan presentasinya. Aku harus pergi sekarang." Ramon menitip pesan pada sekertaris nya agar melanjutkan presentasinya.
"Baik, Tuan. Semoga tidak terjadi apa-apa dengan Nona," ucap sekertarisnya yang ikut prihatin.
Ramon berlari menuju parkiran mobilnya. Dengan kecepatan penuh dia menuju rumah sakit yang di beritahukan Mama nya melalui pesan teks.
"Semoga tidak terjadi apa-apa, Tuhan. Apa dia kuwalahan karena semalam? Bukankah itu terlambat? Biasanya dia baik-baik saja meski kita melakukan hingga pagi," gumam Ramon masih pensaran dengan sakitnya Alena.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Oh ya, teman-teman ini ada cerita menarik. Author mau rekomendasi novel Terpaksa Transmigrasi dengan cerita yang sangat keren. Mohon dukungannya juga ya.🥰🥰🥰
__ADS_1