
Malam...
Aku up lagi ya malam ini, soalnya banyak permintaan up dari tadi.
Terima kasi buat teman-teman yang sudah mendukung karya ku 🥰🥰
*
*
"Kamu kemana saja sih sayang!" ucap Viona tiba-tiba.
"Ngapain kamu kesini Vi!" bentak Nico.
"Kamu kok gitu sih Nic! O...sepertinya sudah ada mainan baru kali ini!" seru Viona.
"Jaga ucapan mu!" bentak Nico.
"Lalu apa kalau bukan mainan baru?!"
"kalau tidak ada yang penting lebih baik kamu keluar saja! Aku sedang tidak ingin diganggu!" balas Nico.
"Kamu kenapa sih?! Tiba-tiba mengabaikan ku! Apa salah ku hah!"
"Gak ada yang salah! Sekarang kamu keluar dulu, aku masih ada kerjaan!"
Viona langsung pergi begitu saja dan membating pintu.
"Awas saja kamu Nico! Kalau sampai ada wanita lain, akan aku hancurkan dia!" ujar Viona.
Nico hari ini sedang tidak ingin diganggu, dia fokus dengan pekerjaannya. Nico juga ingin memperbaiki hubungannya dengan Alena. Nico ingin membangun rumah tangganya kembali. Namun dia tidak tahu bagaimana dengan keputusan Alena nantinya. Nico berharap Alena bisa memaafkannya dan mau membangun rumah tangganya kembali.
*
*
"Al kamu istirahat dulu, ini sudah waktunya makan siang," ucap Rendy.
"Sebentar lagi mas, nanggung kurang sedikit lagi!" balas Alena.
"Ya sudah, aku bantu!"
Rendy membantu Alena agar pekerjaannya cepat selesai. Alena mendapat jatah makan 1 kali disini. Jadi sayang kalau terlewatkan. Setelah selesai Alena segera pergi ke ruang ganti untuk makan dengan yang lain.
Sementara yang lain makan, Rendy menjaga di depan sendiri.
"Permisi,"
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Rendy.
"Apa Alena ada?"
"Ada, tapi dia masih istirahat. Tunggu 30 menit lagi kalau mau,"
__ADS_1
"Baiklah, tidak masalah!"
"Anda siapanya Alena?" tanya Rendy kembali.
"Saya pacar Alena,"
Rendy sedikit kaget. Dia pikir Alena belum memiliki pacar. Padahal Rendy sudah berharap banyak dengan Alena. Sayang sekali, Alena sudah menjadi milik orang lain.
"Padahal aku sudah berharap bisa bersama mu Al!" batinnya.
Rendy pun kebelakang memberitahu Alena kalau ada orang yang sedang mencarinya.
"Al, ada yang mencari kamu di depan!" ucap Rendy.
"Siapa mas?"
"Ah, aku lupa menanyakannya! Oh tunggu, katanya dia pacar kamu!" balas Rendy sambil menepuk dahinya.
"Pacar?Terima kasih ya mas," Alena masih berpikir keras.
Alena bergegas ke depan menemui orang itu.
"Pacar? Siapa pacar ku? Aku gak punya pacar!" batinnya. Sesampainya didepan Alena dikejutkan dengan kedatangan Sean.
"Sean!" seru Alena.
"Hai, bagaimana kabar kamu!" ucap Sean.
"Emm... filing aja sih!" balas Sean sambil tersenyum seperti tak punya dosa.
Alena tampak berpikir, "Kalau Sean bisa menemukan aku, berarti Nico juga bisa saja menemukan aku disini! Apa aku harus pindah tempat lagi?! Tapi aku sudah nyaman hidup disini! Eh... tunggu ya kalau Nico mencarinya, kalau tidak! Lagi pula buat apa dia mencariku! Kepedan sekali kamu ini Al!" batinnya terus bergelut dengan berbagai pertanyaan.
"Hei! Malah melamun!" bentak Sean sambil mengayunkan tangannya di depan wajah Alena.
"Enggak ngelamun kok!"
"La itu tadi apa!"
"Kamu sudah makan?"Tanya Alena mencoba mengalihkan topik.
"Belum, maunya makan bareng sama kamu saja,"
"Aku pulangnya sore, makan saja dulu dari pada nanti sakit!" balas Alena.
"Gak apa-apa kok, nunggu kamu saja!"
Dibalik interkasinya dengan Sean, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari tadi. Rendy cemburu melihat Alena dengan orang lain.
***
Tibalah waktunya Alena pulang. Dia sudah ditunggu oleh Sean didepan tempat kerjanya.
"Sudah pulang?" tanya Sean.
__ADS_1
"Sudah, ayo kita cari makan dulu!" Alena mengajak Sean pergi makan di dekat tempat kerjanya.
Sambil menunggu pesanan datang Alena menanyakan dari mana Sean tahu dia disini.
"Tahu dari mana aku disini?" tanya Alena lagi.
"Aku tanya-tanya sama orang yang ada di jalan! Aku nyari kamu sudah lama Al, tapi gak ketemu-ketemu. Terus aku coba berpikir mungkin kamu gak jauh dari sini. Jadi aku memutuskan menyusuri daerah sekitaran rumah kamu," jelas Sean.
"Ngapain nyari aku sampai segitunya!"
"Ya pengen aja sih. Aku nyari kamu ke tempat kerja gak ada waktu itu. Teman-teman kamu juga gak tau kamu kemana! Aku bingung harus cari kamu kemana lagi!"
"Buat apa kamu mencariku sampai segitunnya Mas, suami ku saja gak nyari aku. Dia bahkan tega menyakiti ku!" batin Alena.
"Al, setelah ini jangan pergi lagi ya?! Kalau pun kamu ingin pergi jangan lupa kasih tahu aku. Minimal kasih kabar kamu perginya kemana! Biar aku gak bingung nyari kamu! Biar aku bisa langsung menuju tempat kamu!" ujar Sean.
"Iya Mas, nanti aku kasih tahu aku pergi kemana saja," balas Alena sambil tersenyum.
Disela-sela makannya Sean selalu memperhatikan Alena. Dia teramat merindukannya.
"Kamu cantik Al! Nico saja yang kurang bersyukur memiliki kamu! Ya Tuhan, kalau boleh ijinkan aku untuk bisa memiliki Alena. Aku ingin bisa bersamanya, bahagian bersama, dan menua bersamanya selamanya," batin Sean. Dia terus memohon pada Tuhan agar Alena bisa menjadi miliknya kelak.
"Mas, apa kamu gak kerja?"
"Aku ambil cuti beberapa hari ini Al, sengaja buat cari kamu!" balas Nico.
"Ya Tuhan, andai saja laki-laki didepan ku ini adalah suami ku. Aku akan sangat bahagia sekali meski hidup serba pas-pasan. Sayangnya itu hanya angan-angan ku saja!" batin Alena.
Setelah mereka selesai makan, Sean mengantar Alena untuk pulang. Alena takut ibu nya khawatir nanti. Namun saat dia berjalan menuju ke mobil Sean, Alena hampir saja terjatuh jika tidak dipegang oleh Sean.
"Hati-hati Al," ucap Sean dengan tangan memegang pinggang Alena. Saling bertatap mata, menimbulkan rasa berbunga-bunga seperti anak remaja yang dimabuk cinta.
"Ma maaf Mas," ucap Alena sambil menarik diri dari pelukan Sean.
"Gak apa-apa kok!" balas Sean.
"Situasi apa lagi ini Tuhan!" batin Sean. Dia sedikit grogi dengan kejadian tadi. Pasalnya Sean menatap Alena dengan jarak begitu dekat. Dan hembusan nafas Alena membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Alena segera masuk kedalam mobil. "Pakai sabuk pengamanya Al, meski ini bukan kota tapi demi keselamatan juga!" ucap Sean.
"Iya Mas!" balas Alena sambil mencoba menarik sabuknya. Tetapi Alena tak bisa memakainya, dia tidak tau bagaimana caranya. Akhirnya dia lepas kembali sabuk pengaman tadi.
"Kenapa Al? Gak bisa pasangnya ya?!" tanya Sean.
"Iya Mas, aku gak pernah naik mobil beginian!" seru Alena.
Sean sedikit kaget mendengar penuturan Alena. "Bagaimana mungkin dia gak pernah naik mobil! Dirumahnya kan banyak mobil sport dan yang lainnya. Apa suaminya tidak pernah mengajaknya menaiki mobil?!" batin Sean.
"Sini Al aku bantu!"
Sean mencondongkan tubuhnya mendekati tubuh Alena. Deru nafasnya menjalas aneh di sekujur tubuh Sean.
"Sial, godaan apa lagi ini Tuhan?!" batin Sean.
__ADS_1