
"Mas apa ini?!" Alena terkejut dengan pemberitaan di media.
"Baru-baru ini telah beredar berita bahwa artis papan atas yang bernama Nico telah memiliki seorang kekasih. Dari berita itu disebutkan bahwa kekasihnya saat ini sedang mengandung buah cinta mereka. Kemunculannya yang tiba-tiba, setelah vacum beberapa bulan begitu membuat heboh jagat raya. Pasalnya Nico yang sekarang tampil bersama dengan sang kekasih. Berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, saat bersama artis cantik Viona. Dia menyembunyikan status nya saat itu. Kali ini, dia begitu terang-terangan. Lalu siapakah wanita yang beruntung bisa merebut hati si beruang kutub itu? Akankah hubungan ini bisa bertahan lama?" Alena langsung mematikan televisi.
Alena memandangi Nico dari atas hingga kebawah. Menunggu jawaban dari Nico.
"Mas!" Alena memanggilnya lagi.
"Apa sih sayang,"
"Sayang, sayang, itu berita apa maksudnya?!" dengan jengkel Alena bertanya kembali.
"Ya.... nggak ada maksudnya."
"Bagaimana bisa! Aku nggak hamil anak kamu mas! Bisa-bisanya diberitakan hamil!" geram Alena.
"Nggak usah didengerin sayang, itu kan hanya media saja yang membesar-besarkannya" balas Nico dengan senyum-senyum sendiri.
"Boro-boro hamil, waktu jadi istrinya saja nggak pernah tidur bareng! Enak saja main hamil-hamil!" gerutu Alena yang masih bisa didengar oleh Nico.
Nico tersenyum mendengar ucapan Alena. "Sebentar lagi kamu juga akan merasakan adik kecilku! Tunggu saja sayang. Kalau sekarang aku serang, bisa-bisa kamu melarikan diri lagi! Lebih baik menunggu sampai kita sah!" batin Nico.
"O.... jadi kamu mau aku hamilin nih," goda Nico.
Alena langsung memukul kepala Nico dengan keras.
"Masih belum hilang saja otak mesum kamu!" bentak Alena.
"Ya nggak gitu juga sayang, aku juga ingin punya anak dari kamu," ucap Nico.
Alena hanya diam tak menjawab. Antara senang dan sedih, perasaannya campur aduk.
"Terus dari mana berita itu berasal? Apa kamu yang memberitahu media?" Alena bertanya pada Nico.
"Mungkin saat di kantor, waktu aku di hadang oleh Viona. Kamu baru saja dari toilet, dan Viona mencoba merayuku. Disana banyak karyawan yang lain, dan mereka tahu kalau kita bertengkar. Saat itu lah aku bilang jangan mengganggu ibu dari anak-anakku. Mungkin yang mereka pikirkan kalau kamu sedang mengandung anakku." Nico menjelaskan panjang lebar.
Alena langsung membulatkan matanya, begitu mendengar penjelasan Nico.
"Jelas saja mas, mereka berpikir kalau aku mengandung, harusnya kamu itu bilang kalau aku ini calon ibu dari anak kamu. Calon mas, calon!" geram Alena.
__ADS_1
"Berarti kamu sudah siap dong menjadi istti ku?! Ibu dari anak-anakku! Buah cinta kita!" ucap Nico dengan tersenyum jahil.
"Kok bisa! Aku gak bilang gitu kok!"
"La itu tadi apa? Calon ibu dari anak-anakku! calon mas, calon!" ejek Nico.
Alena yang merasa terjebak oleh omongannya sendiri, hanya bisa menyesalinya. Mulutnya yang segarusnya diam, malah memberi lampu hijau akibat ulahnya yang tebawa emosi.
"Ngapain sih aku pakai emosi segala?! Beritanya juga nggak benar! Mereka nggak tahu aku kan? Kenapa harus ribut segala." lirihnya.
"Sudah lah sayang, nggak usah kamu pikirkan. Yang penting kita nggak ada masalah apa-apa. Kita jalani saja kehidupan kita seperti biasa." ujar Nico.
Alena termenung memikirkan ucapan Nico.
"Ya sudah, aku mau masak untuk makan malam kita!" ujar Alena.
"Mau akau bantu?" tanya Nico.
"Nggak usah mas istirahat saja. Biar cepat sembuh. Biar aku cepat pulang." ucap Alena.
Nico yang mendengar Alena ingin segera pulang, merasa tidak senang. Dia akan memakai berbagai macam cara, agar Alena tetap disisi nya.
Dengan cekatan Alena menyiapkan masakan untuk Nico.
"Kamu tidak akan bisa pergi Al! Aku akan menahanmu disini selamanya!" batin Nico bermonolog.
*
*
*
Disisi lain Sean yang terbaring di kasur king size nya, tidak bisa tidur. Dia terus memikirkan Alena.
"Apa benar dia mengandung anak Nico? Aku harus menanyakannya langsung besok! Aku nggak rela dia mempunyai anak dari Alena. Alena harus menjadi milikku!" gumamnya.
****
Entah terobsesi atau memang mencintai Alena, Sean selalu memimpikan Alena setiap malam. Di dalam mimpinya dia hidup bersama dengan Alena. Bahagia, bisa membina rumah tangga dengannya. Sayangnya ketika dering beker nyaring di telinga, mimpi itu buyar tak bersisa.
__ADS_1
Bahkan Sean pernah bermimpi melakukan hubungan yang begitu intim dengan Alena. Sampai celana nya terasa basah oleh caiaran.
"Sial! Semua ini, hanya kamu yang bisa melakukannya Al!" lirih Sean dengan memegangi juniornya.
****
Malam pun tiba. Alena dan Nico sama-sama memasuki kamar masing-masing.
"Besok aku harus pergi dari sini, mas Nico kan sudah mulai membaik. Nggak pantas kalau aku terlalu lama disini." gumam Alena sebelum memejamkan matanya.
Nico yang kesana kemari nggak bisa tidur karena memikirkan Alena. Dia memikirkan berbgaia macam cara agar Alena tidak sampai pergi dari rumahnya.
"Alasan apalagi yang harus aku katakan, agar dia tetap tinggal!" Nico masih berpikir keras. Dini hari Nico baru bisa tertidur.
Pagi-pagi Alena sudah rapi dengan baju kerjanya. Sudah lama dia ijin cuti, untuk menemani Nico. Tak lupa Alena memasak untuk sarapan Nico dan dirinya.
"Mas makan dulu!" Alena berteriak memanggil Nico.
Lama tidak ada jawaban, Alena menyusul Nico ke kamarnya.
"Mas, sudah siang ayo kita sarapan!" ucap Alena, tapi tak ada tanggapan dari dalam. Dengan terpaksa Alena membuka pintu kamar Nico yang tidak terkunci.
Terlihat Nico tidur dengan pulasnya. Alena tidak tega untuk membangunkannya. Dia selimuti tubuh meringkuk Nico agar lebih hangat.
Alena kembali menuruni tangga dan makan sendiri. Setelah selesai dia meninggalkan semua memo untuk Nico.
"Mas aku pergi kerja dulu, jangan lupa makan. Itu aku sudah masak buat kamu." isi surat Alena.
Pukul 10.00 Nico baru saja terbangun. Dengan setengah sadar Nico berjalan turun kebawah. Saat melewati kamar Alena dia mencoba memanggilnya.
"Alena, Al!" panggil Nico di depan kamar Alena.
Tidak ada jawaban dari dalam, Nico langsung membuka pintu tanpa permisi. Di edarkan swluruh pandangannya ke sudut kamar namun nihil. Alena tidak berada disana. Hal itu membuat Nico panik bukan kepalang.
"Alena! Al! Kenapa kamu pergi Al! Kamu tega ninggalin aku lagi! Alena....!" Nico histeris di kamar Alena. Sambil duduk di ranjang Alena, Nico menangis tersedu-sedu.
"Kalau tahu kamu akan pergi, lebih baik aku tidak tidur tadi malam Al. Agar aku bisa mencegah kamu." ucap Nico disela-sela isak tangisnya.
Dengan gontai dia menuruni tangga menuju dapur. Saat melewati meja makan, dia melihat sepirin nasi goreng di meja dan 1 gelas susu yang sudah di siapkan Alena. Tak lupa sebuah memo yang diselipkan di bawah gelas susu.
__ADS_1
Nico masih belum menyadari memo dari Alena. Dia terus menangisi nasi goreng yang ada didepannya seperti orang gila.
"Kalau saja nasi ini tidak bisa membusuk, sudah pasti aku akan menyimpannya di dalam kotak yang indah Al," lirihnya.